Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Makanan manis



"Wow, banyak sekali donat ini?"


Moa terkejut saat membuka paper food milik gadis cantik itu, terdapat lima buah donat dalam satu kantung.


"Hoho... Disini masih ada lagi loh!" Gadis itu tertawa senang dan menenteng paper food yang lain di tangannya.


"Apa? Sebenarnya kau beli berapa?"


"Mmm..."


Gadis itu menggaruk belakang kepalanya sambil memejamkan mata seolah-olah sedang mengingat berapa buah donat yang telah ia beli.


"Aku tidak ingat! Di paper food yang kau pegang lima buah, di paper food yang aku pegang tinggal empat buah, yang sudah aku makan.... Mmm... Berapa ya? Satu... Dua... Tiga..."


Gadis itu terlihat lucu ketika berusaha menghitung berapa donat yang telah masuk ke tubuh mungilnya itu. Moa tertawa melihat reaksi konyol si gadis.


"Hahaha!"


"Eh?? Hei tuan! Kenapa tertawa?"


"Kau sendiri yang makan! Tapi tidak ingat?? Duh... Sumpah deh! Kocak banget" Moa mengambil sebuah donat dengan krim pisang lalu memakannya.


"Cih! Aku ingat kok, barusan aku mengingatnya"


"Betulan? Coba katakan padaku berapa donat yang sudah masuk ke tubuh kecilmu itu?!"


"Sebelas..."


"UHUK! UHUK! UHUK! KHOK! KHEK! UHUK!"


Moa memukul-mukul dadanya sendiri, rupanya pria ini tengah tersedak makanan yang telah ia kunyah. Lebih tepatnya tersedak donat pemberian gadis asing itu.


"Eh?? Kau baik-baik saja?! Astaga! Sana pergi minum di keran itu" tunjuk si gadis pada sebuah keran minum air.


Ya Tuhan!! Hampir saja aku mati konyol - Moa. (Mati karena makan donat)


Moa berlari secepat kilat dan minum di keran air, ia minum tanpa jeda sama sekali. Setelah rasa sakit di dadanya reda, Moa kembali duduk di samping gadis asing itu sambil menyentuh dadanya yang masih terasa nyeri.


"Hei bodoh!" Panggil Moa pada gadis yang tengah lahap makan donat.


"Apa seperti itu caramu berterima kasih setelah kuberikan donat?" Gerutu si gadis kesal.


"Cih! Kau bahkan tidak rela memberikannya padaku! Kau tidak ingat aku hampir mati barusan?"


"Itukan salahmu sendiri!" Ledek si gadis.


"Itu karena aku mendengar pernyataan'mu bodoh!!" Moa menjentikkan jarinya di dahi si gadis.


Gadis itu terkejut, ia terdiam terpaku, wajahnya memerah, perlahan ia menyentuh dahinya yang baru saja di sentil oleh Moa.


"........." Tanpa bicara ia (gadis) menatap Moa lekat-lekat.


"Apa? Kenapa memandangku begitu?"


"Tidak! Bukan apa-apa" gadis itu menghentikan aksinya memakan donat.


"Haahhh...." Moa menghela nafas panjang sebelum duduk di samping gadis itu.


"Hei?" Panggil Moa untuk memulai percakapan.


"Apa?"


"Aku sungguh terkejut saat kau bilang sudah makan sebelas buah donat"


"........" Si gadis tidak menjawab perkataan Moa, ia menundukkan kepalanya sambil meremas paper food berisi sisa donat.


"Kau harus menjaga asupan gulamu loh! Suatu saat nanti makanan manis itu akan membawa masalah pada tubuhmu"


"Terima kasih..."


"Apa?"


"Terima kasih buat peringatannya, tapi aku sungguh tak apa-apa, aku tahu kondisi tubuhku sendiri"


"Taukah kau? Aku juga punya seorang teman yang mirip denganmu!"


Entah kenapa aku familiar dengan kata-kata yang akan di ucapkannya - gadis.


"Eh? Benarkah??"


"Iya, namanya Densha..."


Tuh kan?! - gadis.


"Densha? Nama yang bagus"


"Dari kecil aku berteman dengannya, aku ingat saat pertama kali Isabella membelikan kami berdua donat. Dari situ awalnya Densha jadi suka sekali sama yang namanya donat"


"Oh? Jadi dari kecil dia suka makan donat?"


"Iya... Sejak saat itu dia mencari'ku untuk menemaninya membeli donat, hampir setiap hari Densha makan donat"


"Wow, itu sungguh tidak baik!" Gadis itu menggelengkan kepala pelan, padahal dirinya sendiri juga setiap hari makan donat.


"Pernah suatu ketika dia ulang tahun, Densha tidak meminta apapun pada Isabella dan ayahku... Kau tahu apa yang ia inginkan?" Moa tersenyum ceria memandang si gadis.


"Donat??" Tebak asal si gadis.


"Betul, jadi... Isabella membelikannya dua puluh kotak donat, masing-masing kotak berisi lima buah! Aku saja masih ingat betapa aku ingin muntah karena baru makan dua kotak"


"Ya wajar sih! Kau kan masih kecil waktu itu"


"Tapi tidak dengan Densha, dia seperti dirimu! Mungkin di dalam perut kalian terdapat lubang hitam seperti di luar angkasa itu ya??"


"Oh bung... Itu tidak lucu, kau tahu itu kan?"


"Hahaha, maaf..."


"Bukan kotaknya! Tapi donatnya!!"


"Iya maksudku begitu, apakah dia betulan memakannya??"


Moa menganggukkan kepala mantap, ia tertawa mengingat kejadian masa kecilnya dengan Densha. Bayangan Densha kecil dengan perut buncitnya yang hampir meledak karena donat masih membekas di ingatan Moa.


"Wah! Keren... Aku juga ingin bisa seperti itu"


"Tidak! Makan makanan manis berlebihan itu sungguh tidak baik!" Cegah Moa.


"Hahaha, tenang saja! Aku paling kuat sehari cuma makan dua puluh buah, itupun jarang"


"Hei, kau sungguh harus mengurangi asupan makanan manis'mu loh!" Moa mengacungkan jari telunjuknya untuk memperingatkan gadis misterius di sampingnya.


"Iya... Iya... Aku juga sedang berusaha kok!"


"Berusaha apa??"


"Ck! Tentu saja berusaha mengurangi kebiasaan'ku memakan makanan manis! Bukankah kau yang menyuruh begitu?"


"Nah begitu dong! Itu baru keren" Moa memberi dua jempolnya untuk gadis itu, si gadis tertawa riang menatap Moa.


Cantiknya... Sekilas aku merasa dia mirip dengan Fuu... Tapi karena hobinya yang makan donat ini, aku yakin dia lebih cocok jika dibilang mirip dengan Densha. - Moa.


Moa melamun sambil tersenyum memandangi wajah gadis asing di sampingnya, aura hangat dari Moa dirasakan betul oleh gadis itu. Membuatnya merasa sedikit khawatir dan cemas.


"Halo..."


"........"


"Tuan??"


"........" (Melamun)


"HEI TUAN!!"


"Eh? Apa? Ada apa?" Moa mengedipkan matanya secara berulang-ulang, berusaha bangun dari lamunannya.


"Kau melamun?"


"Eh??"


"Dih! Betulan melamun ya? Melamun sambil menatap wajahku?? Kau ini susah di percaya ya? Kau bilang hatimu sudah ada pemiliknya" sindir gadis itu kesal.


"Eh? Aku bukan melamun yang seperti itu! Sungguh kok"


"Okay, baik! Aku percaya padamu!"


Ups! Aku mengatakan kalimat sakral - batin si gadis.


Moa buru-buru menoleh ke arah si gadis, mata pria itu terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.


"Kau... Kau... Bilang apa barusan?" Tanya Moa terbata-bata.


"Ng... A... Aku... Aku tidak bilang apapun kok!"


"Tidak, aku sungguh mendengarnya. Kata-kata yang kau ucapkan itu benar-benar mirip dengan temanku, aku pikir hanya dia yang mengucapkan kata itu di dunia ini"


"Hei tuan! Jangan salah paham terhadapku ya?"


Apa aku salah dengar? - Moa.


"Mungkin kau salah dengar!" Imbuh gadis itu lagi.


"Ah! Iya... Mungkin"


"Baiklah! Aku pergi dulu ya? Aku harus pergi ke suatu tempat"


"Eh?? Tunggu dulu!" Moa baru menyadari hal yang paling aneh saat gadis itu hendak pergi.


"Apa?"


"OMG!! Kau bukan murid sekolahku? Mana seragam'mu? Siapa kau ini! Kenapa bisa masuk ke halaman sekolah ini?" Moa berdiri dari duduknya saking kagetnya.


"Haahhhh... Aku pikir dari tadi kau sudah menyadarinya!"


Gadis cantik itu berdiri dan berjalan mendekati Moa.


"Kenapa? Jangan mendekat!"


Astaga! Aku seperti mengalami Dejavu - Moa.


"Hanya sebentar kok! Jadi diam saja dan turuti aku"


Hap!


Gadis cantik itu meraih kedua tangan Moa dengan sigap, ia mendekatkan wajahnya pada Moa. Hidung mereka hampir bersentuhan dan itu sukses membuat wajah Moa tersipu malu.


Hmm~ Hmm~ Hmm~


"Lupakan pertemuan kita hari ini, maafkan aku! Aku tidak mampu menunjukkan identitas asliku saat ini, aku khawatir jika aku melakukannya maka aku akan merubah semuanya... Percayalah padaku bahwa aku bukan orang jahat"


Moa mendelik, pupil matanya seolah mengecil mendengar kalimat yang keluar dari bibir mungil gadis itu. Perlahan Moa memejamkan matanya, ia jatuh tak sadarkan diri di pelukan gadis di depannya, gadis cantik itu memeluk Moa dengan erat lalu tanpa sadar air matanya mengalir di pipi putihnya.


"Aku menyayangimu..." Gumam gadis itu lirih.


Pelan-pelan ia membaringkan tubuh Moa di kursi tempatnya tadi duduk. Ia mengusap lembut wajah Moa dan mencium pipi kiri pria itu, tanpa memandang ke arah Moa lagi gadis itu berlalu pergi meninggalkan halaman sekolah atau lebih tepatnya meninggalkan sekolah itu.


"Sudah dua kali aku bertemu denganmu disini! Aku bahagia..." Teriak gadis itu senang dan melompat-lompat kegirangan.


Bersambung!!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘