Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Jennie



Rencana Jennie adalah membuat Densha menandatangani surat pengalihan saham perusahaan, ia ingin membuat keluarga cabang kembali seperti dahulu, Jennie sangat iri dengan kehidupan inti keluarga Mikaelson. Menurut Jennie hal itu sama sekali tidak adil, bagaimanapun juga anggota keluarga inti hanya tinggal Isabella Mikaelson dan Densha Mikaelson, karena Isabella tidak menikah maka Densha lah satu-satunya pewaris harta perusahaan besar itu. Sedangkan keluarga cabang tidak mendapatkan apapun, karena keluarga cabang beranggotakan banyak keluarga, Jennie ingin mengambil 80% kekayaan yang di miliki oleh keluarga inti. Gadis itu pikir keluarga inti hanya cukup hidup dengan 20% harta karena jumlah anggota mereka yang sedikit. Saat ini Jennie telah memikirkan banyak cara untuk mendekati sepupunya itu dan agar Densha mau menandatangi surat tersebut.


"Salam kenal semuanya.." sapa gadis manis itu, ia menebar pesonanya di seluruh ruangan kelas.


"Wah, ada murid baru lagi?"


"Kelas sebelah punya gadis cantik bernama Fuu, di kelas kita ada gadis super berisi. Hehe"


"Iya kau benar, lihat dadanya itu.. berisi sekali, bahkan lekukan tubuhnya indah banget!"


"Huss.. siapa tahu dia sudah punya pacar!"


"Eh? Masa sih? Mungkin belum. Aku jadi ingin tidur dengannya.."


"Kendalikan otak mesum mu itu!"


"Haha.."


Jennie memang dianugerahi dengan tubuh yang indah, dadanya padat berisi dan bagian belakang tubuhnya juga bulat berisi, gadis itu termasuk tipe perempuan seksi di mata para pria. Walau wajahnya tidak cantik seperti Fuu dan Mod, namun untuk bentuk fisik dia lah juaranya.


Ck! Dasar otak kotor - Mod melirik ke arah teman-teman prianya yang sedang membicarakan Jennie.


"Baiklah.. kau bisa duduk di belakang Mod" ucap seorang wali jelas, ia menunjuk ke arah Mod.


"Terima kasih" Jennie membungkukkan badannya untuk memberi hormat pada guru.


Eh? Duduk di belakangku? Ya ampun.. entah kenapa perasaanku tidak enak - Mod.


"Halo, namamu Mod kan? Aku Jennie salam kenal.."


"Ha.. halo"


"Aku harap kita bisa berteman baik" Jennie tersenyum menatap Mod.


"Yahh.. aku harap juga begitu" Mod memaksa dirinya untuk tersenyum.


Para pria di kelas itu selalu memperhatikan Jennie, gadis itu seperti punya magnet untuk memikat mata-mata pria di kelas mereka, bahkan kalau dia ingin.. dia bisa memikat para pria di sekolah tersebut.


"Lihat tuh!"


"Mod kalah jauh ya dari segi badan"


"Benar, aku kira dulu Mod yang paling sempurna.. wajahnya cantik dan badannya lumayan oke, tapi setelah melihat Jennie. Badan Mod kalah jauh!"


"Hei, kalian ini bicara apa? Nanti dia kedengaran loh, haha"


"Haha, biarkan saja! Biar dia membesarkan sedikit bagian tubuhnya"


"Coba kalau wajah Mod tapi badan Jennie, pasti sempurna!"


"Haha, bagaimana kalau wajah Fuu tapi badan Jennie pasti sangat sempurna!"


"BERISIK!! KALIAN PIKIR KALIAN INI SEMPURNA!! LIHAT WAJAH IDIOT KALIAN ITU, BENAR-BENAR MENJIJIKAN!!" Teriak Mod dengan sangat keras, membuat seluruh isi kelas ricuh dan menatap ke arahnya.


Gadis itu berjalan menghampiri para pria yang sedang membanding-bandingkan tubuhnya dengan orang lain.


"MEMANG KALIAN SUDAH SETAMPAN DENSHA? SAMPAI BERANI MEMBANDINGKAN KU SEPERTI ITU HAH?!"


"Eh? Kami hanya bercanda kok!"


"Bercanda apa?! Sana pergi cari kaca untuk muka bodoh kalian!! Wajah pas-pasan ingin tidur dengan Jennie?? Yang benar saja!!"


Mod memaki para pria itu dengan kesal, wajah para pria itu langsung pucat dan memerah, ia malu karena Mod dengan lantang mengatai mereka ingin tidur dengan Jennie.


Otak mesum!! - Mod.


"Mod, kenapa kau berisik!! Cepat kembali ke tempat duduk mu!" Perintah guru yang tengah mengajar.


Dia menyebut nama Densha? Apa dia mengenal Densha? - Jennie.


"Em.. Mod?" Panggil Jennie dari belakang, ia menyentuh bahu Mod pelan.


"Apa?"


"Kau tadi menyebut Densha kan?"


"Iya, kenapa?"


"Anu.. apa itu Densha Mikaelson?"


"Ya, bagaimana kau tahu? Apa kau menyukainya?"


"Aku memang pernah jatuh cinta padanya, bagaimanapun juga dia sangat tampan! Aku ingin mencoba tidur dengannya. Oh iya aku sepupunya. Dia ada di kelas mana?"


Mencoba tidur dengan Densha?? Dih.. gadis ini tidak waras - Mod.


"Sepupu??"


Sepupu macam apa yang mencintai sepupunya sendiri? bahkan ingin tidur bersama - Mod.


"Iya, aku sepupunya. Apa kau bisa mengantarku menemuinya?"


"Bi.. bisa sih" Mod menggaruk pipinya yang tidak terasa gatal.


Jam istirahat berbunyi, banyak murid yang mengeluarkan kotak makan siang mereka namun juga ada murid yang langsung pergi ke kantin untuk mengisi perut yang keroncongan.


"Mod, kenapa banyak yang memperhatikanku?"


Cih! Percaya diri sekali dia.. - Mod.


"Entahlah.. mungkin karena badanmu!"


"Eh?? Badanku? Kenapa?"


Astaga! Apa dia berpura-pura tidak tahu tentang bentuk badannya? Aku yakin bahwa dia seharusnya juga mendengar saat para pria di kelas kami sedang membicarakannya. Aku saja mendengarnya dengan jelas masa dia tidak mendengarnya sih?! - Mod.


"Uhm.." Mod memperhatikan Jennie sebentar.


"Badanmu bagus!" Puji Mod.


"Eh? Benarkah? Terima kasih.. tapi aku jadi sedikit malu"


Aku yakin gadis ini pandai berpura-pura.. - Mod.


"Oh iya? Malu kenapa?"


"Para pria menatap dadaku seolah ingin memakannya.."


"Cih!" Mod mendengus kesal.


Dia jelas berpura-pura sedih.. Gadis ini benar-benar menyebalkan! - Mod.


"Fuu! Ayo makan roti ini!"


"Tidak mau! Fuu suka ikan!"


"Kau tidak boleh makan ikan terus!"


"Pokoknya Fuu tidak mau!"


"Kalian berdua lucu sekali" Moa menertawai perdebatan kecil antara Densha dan Fuu.


"Halo Fuu.." sapa Mod senang, ia langsung memeluk Fuu.


"Mod?? Fuu sudah menunggu Mod"


"Menungguku atau menunggu ikan goreng yang aku bawa ini?" Mod mengangkat kotak bekal yang ia bawa.


"Ikan goreng, hehe"


"Dasar! Jujur sekali!" Mod menarik Fuu agar duduk bersama dengannya di taman itu.


"Hei, kau terlalu memanjakannya!!" Moa menatap kesal pada Mod.


"Biarkan saja! Aku suka melakukannya kok.."


"Memang ya? Wanita itu merepotkan!" Moa mendengus dengan kesal, pria itu beralih memakan roti di tangannya dengan cepat.


"Kyaa.. Densha!" Jennie memeluk Densha dengan erat, membuat Moa, Mod dan Fuu langsung memperhatikan mereka berdua.


"Siapa dia?"


"Katanya sepupu Densha!"


"Hah?! Densha punya sepupu?" Moa terkejut mendengar berita itu.


Fuu memakan ikan pemberian Mod dengan gemas, matanya masih memperhatikan Densha dan Jennie.


"Lepaskan aku Jen!"


"Kau tidak merindukan aku?"


"Tidak sama sekali"


"Ih.. jahat sekali.." Jennie bersikap sangat manja di depan Densha, hal itu semakin membuat Fuu kesal.


"Kenapa kau kemari?"


"Aku bosan di kelas, semua pria menatap tubuhku ini.. padahal aku tidak pernah berbuat salah pada mereka!" Jennie bicara sambil menunjukkan sisi tubuhnya yang menonjol.


Jelas sekali bahwa kau yang pamer tubuh!! - Densha.


"Bukankah kau suka menarik perhatian?" Tanya Densha tegas.


"Tidak, aku bersyukur sih di beri keindahan seperti ini.."


Keindahan? Otak gadis ini dimana sih? - Mod.


"Menjauh lah dariku Jen, aku tidak akan berbaik hati padamu! Kau tau itu kan?"


"Densha kenapa begitu? Aku kangen sekali" Jennie kembali memeluk Densha dengan erat, gadis itu menempelkan bagian depan tubuhnya di lengan Densha.


Fuu membanting meja taman dengan keras, membuat mereka berempat terkejut, dengan wajah kesal gadis itu mendekati Densha. Fuu menarik tangan Densha dengan paksa agar pria itu berdiri di sampingnya.


"Densha milik Fuu!" Kata Fuu dengan tegas, Fuu menatap tajam ke arah Jennie.


"Milik Fuu?? Kau ini siapa? Bicaramu lucu sekali! Hahaha"


Densha milik Fuu?? Fuu benar-benar berkata begitu.. - Densha melirik ke arah Fuu yang sedang kesal. Pipi pria itu bersemu merah mendengar kalimat Fuu.


"Ini Fuu, dan Densha milik Fuu"


"Apa dia pacarmu?" Jennie menatap ke arah Densha.


"Fuu dan Densha tidak pacaran, tapi kami tinggal satu rumah" Fuu menjawab dengan polos.


"Hei, aku bertanya pada Densha. Bukan padamu gadis bodoh! Cara bicaramu saja sudah terdengar bodoh! Lihat tubuhmu tidak ada bagian yang menggoda sama sekali! Mungkin dada mu memang cukup bagus, tapi tetap saja tidak bisa mengalahkan ku!!" Jennie mengomel tidak karuan di depan Fuu.


"...."


"Kenapa diam saja?"


"Densha, orang ini bicara apa? Fuu tidak mengerti"


"Hah?! Kau tidak mengerti apa yang aku katakan? Dasar idiot!!" Jennie menyentil dahi Fuu dengan keras.


"Hei! Kau jangan berani menyentuhnya!" Mod berdiri membela Fuu.


"Oh Mod temanku, maafkan aku.. aku hanya ingin memberi pelajaran pada gadis bodoh ini!"


"Jennie!! Jika kau berani menyebutnya bodoh! Kau harus berurusan denganku!" Sahut Densha, ia merangkul bahu Fuu pelan.


"Densha sayang.. kau tidak mungkin sejahat itu kepada sepupumu sendiri kan?"


"Pergilah Jen.."


"Kau sudah tahu jalan kembali ke kelas kan? Aku ingin sedikit lebih lama disini" Mod menatap Jennie dengan tajam.


"Oke, Mod.. aku menunggumu di kelas"


"Ck! Gadis sinting!" Gerutu Mod lirih.


Setelah Jennie menjauh dari mereka, Fuu kembali duduk bersama Mod untuk mengobrol hal-hal seputar wanita.


"Kau tidak pernah cerita, jika punya sepupu seseksi itu?!"


"Untuk apa? Tidak ada yang bisa di pamerkan dari dia!"


"Ya.. dengan tubuh seperti itu, siapa saja pasti akan tertarik. Benar tidak?"


"Aku tidak tertarik tuh! Memangnya kau tertarik?"


"Ya.. kalau hanya untuk tidur bersama, mungkin aku tertarik tapi kalau untuk selamanya dia bukan tipeku"


"Dasar mesum!!" Densha memukul bahu Moa.


"Haha, siapapun jika di kasih yang seperti itu pasti tidak akan menolak kan?"


"Iya kau benar, kecuali aku loh!"


Para pria ini membahas apa sih? Kenapa Moa memperhatikan Jennie seperti itu, saat dia bicara? Mata Moa bahkan tidak beralih kemanapun. Dia selalu memperhatikan Jennie!! - Mod.


"Mod.. ada apa?"


"Ah! Tidak Fuu bukan apa-apa"


"Okay, baik"


Apakah Moa menyukai Jennie? - wajah Mod berubah sedih, ia takut bahwa Moa menyukai Jennie dan bukan dirinya.


"Anu, aku sebaiknya kembali ke kelas"


"Eh? Secepat itu?" Tanya Densha.


"Iya, ada yang harus aku kerjakan!"


"Mod.. terima kasih ya? Fuu merasa senang!!" Fuu tersenyum manis ke arah Mod.


"Senang karena makan ikan gratis?" Sindir Moa ketus.


"Hehe, Moa benar!"


Dia tidak pernah menutupi rasa malunya ya? - Moa.


"Sampai jumpa teman-teman!" Mod melambaikan tangan dari kejauhan, lalu ia hilang di antara kerumunan siswa yang juga ingin kembali ke kelas masing-masing.


Apa benar Jennie itu sepupunya Densha? Kenapa sifat mereka berbeda jauh.. - Mod melamun memikirkan hubungan darah antara Jennie dan Densha. Gadis itu duduk di bangkunya dan memasukkan kotak bekal makan siangnya ke dalam tas, matanya terkejut melihat tumpukan sampah di dalam tasnya.


"Astaga! Siapa yang melakukan ini?" Mod mengeluarkan banyak sampah dari isi tasnya, beberapa siswa yang melihat hanya tertawa mengejek Mod.


"Jennie?! Apa kau yang melakukannya?"


"Aku? Kenapa aku harus mengotori tanganku?" Jennie melepas earphone dari telinganya dan menatap Mod dengan tegas.


"Lalu, kalau bukan kau siapa lagi?"


"Mana aku tahu! Aku tidak menyentuh tas mu sama sekali.."


"Sebelum kau datang ke kelas ini, aku tidak pernah mengalami hal ini!!"


"Hei, kau menuduhku??" Jennie berdiri dari tempatnya duduk.


"Lalu menurutmu apa??" Mod juga ikut berdiri dari tempatnya duduk.


"Wah, lihat ada yang bertengkar!"


"Si Mod dengan anak baru!! Ada apa ya?"


"Entahlah mungkin Mod merasa kalah saing, karena akhir-akhir ini banyak murid baru. Yang satu cantik yang satu seksi"


"Haha, mungkin kau benar!"


Mendengar bisikan para murid di dalam kelas, Jennie semakin bangga akan tubuhnya dan menatap Mod dengan ganas. Sedangkan untuk Mod, ia sangat kesal, kesal sekali.


"Ayo, ikut aku!" Mod menggandeng pergelangan tangan Jennie.


"Kau mau membawaku kemana?"


"Kita harus ke kantor guru, untuk menyelesaikan ini!"


"Hei, sudah aku bilang kan bukan aku!" Jennie menarik tangannya dengan paksa.


"Semenjak kau datang hari ini! Langsung ada perubahan drastis di kelasku!"


"Bisa saja kan itu ulah orang yang membencimu dari lama?"


"Hei, aku tidak pernah di benci siapapun!"


"Oh iya??" Jennie melirik ke arah Katrina yang sedang membaca buku.


"Sudah lah, ayo ikut aku!"


"Baiklah, tapi hanya untuk membuktikan bahwa bukan aku yang salah! Kau setuju?"


"Aku yakin kaulah pelakunya?!"


"Kita selesaikan di kantor saja!" Jennie berjalan terlebih dahulu menuju kantor guru, di susul Mod di belakang gadis itu.


Berani-beraninya menggangguku! Lihat saja nanti, akan aku buat kau di hukum oleh guru - Mod.


***


"KALIAN BERDUA RIBUT SEKALI! JIKA SEPERTI INI KALIAN BERDUA SAYA HUKUM MEMBERSIHKAN KACA RUANG KANTOR!!" Guru BK berteriak sekencang mungkin untuk memarahi Jennie dan Mod, awalnya mereka datang ke kantor dengan tenang. Namun kedua gadis itu ribut karena tidak ada yang mau mengaku dan Mod selalu memaki-maki Jennie dengan kasar.


"Ba.. baik bu!" Mod membungkuk untuk memberi hormat.


"Gara-gara kau kita di hukum kan?"


"Itu juga karena kau tidak mau mengaku!"


"Sudah aku bilang bukan aku!"


"Menurutmu aku percaya begitu saja?"


"Cih! Terserah saja.."


Yah.. hari ini aku akan pulang agak terlambat dong. Huwaa.. - Mod.


"Sebelumnya aku belum pernah melakukan tugas pembantu seperti ini!!" Jennie mendengus dengan kesal, ia menatap Mod yang tengah melamun di sampingnya.


Apa yang gadis itu pikirkan sih? - Jennie.


"Mod?"


"Apa?" Mod melirik ke arah Jennie.


"Apa di sekolah ada yang membencimu?"


"Ku rasa cuma kau yang membenciku!"


"Dih! Kau memang susah di ajak bicara ya?"


"Itu karena kau yang mengajakku bicara!"


Jennie memutar bola matanya kesal, sepanjang perjalanan kembali ke kelas mereka berdua tidak saling bicara.


Apa masalah gadis itu sampai melakukan ini pada Mod?? Aku jadi penasaran!! Hehe - Jennie.


Bersambung.