Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Percaya



Seperti biasanya, Moa menunggu Densha di persimpangan jalan untuk berangkat sekolah bersama. Namun hari ini berbeda dengan hari biasanya, karena ada Mod di samping Moa.


"Apa setiap harinya kau begini??" Mod menatap Moa santai.


"Iya..."


"Kenapa? Apa ada perjanjian khusus??"


"Tidak ada, hanya saja... Aku dan Densha berteman dari kecil. Saat aku tahu kedua orangtuanya meninggal, ayahku menyuruh untuk lebih dekat dengannya"


Moa mengingat-ingat kembali kenangan di masa lalu bersama Densha saat ia masih kecil, betapa sulitnya Moa saat itu yang hanya ingin dekat dengan Densha.


"Jadi... Hanya karena ayahmu yang menyuruh??" Mod menaikan alis sebelah kanannya.


"Tidak, awalnya memang ayah yang suruh... Tapi aku sungguh ingin berteman dan dekat dengannya, aku sungguh peduli padanya"


"Wah, bagus dong?" Mod terkekeh mendengar kalimat Moa.


"Hei Mod..."


"Apa??" Mod menatap Moa serius.


Aku tanyakan tidak ya?? - Moa.


"Mm... Begini, anu..."


"Kau ingin bicara apa sih?! Jangan lelet begitu!" Sentak Mod kesal.


"Apa kau sungguh orang yang bisa di percaya?" Gumam Moa pelan, Mod hampir saja tidak mendengarnya jika tidak membaca gerakan bibir Moa.


"Kenapa tanyakan itu? Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan?" Mod menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


"Ada sedikit omongan orang yang berhasil mempengaruhiku"


"Lalu?? Apa hubungannya denganku?" Tanya Mod menantang.


"Tentu saja ada! Omongan orang itu menyangkut dirimu!"


"Moa, katakan saja langsung!" Mod memaki Moa karena tidak sabar mendengar cerita sebenarnya.


Tanpa mereka sadari, Densha dan Fuu sudah berada sangat dekat dengan mereka. Densha melambaikan tangan menyapa Moa, Fuu juga melambaikan tangannya.


"Selamat pagi Mod?" Fuu tersenyum riang.


"Ah! Pagi Fuu..."


Kenapa Mod ada disini? Bukankah rumahnya cukup jauh untuk kesini? - Densha.


Densha memicingkan matanya, menatap Mod dan Moa bergantian. Tatapan pria itu penuh kecurigaan yang bisa keluar kapan saja dari mulut pedasnya.


Oke, akan aku berikan umpan! - batin Densha, ia tersenyum menyeringai.


"Moa, bagaimana malam'mu? Apa menyenangkan?!" Tanya Densha sesantai mungkin.


Mod dan Moa saling tatap kemudian mendelik ke arah Densha secara bersamaan.


"KAMI TIDAK TIDUR BERSAMA!!" Teriak Moa dan Mod manggut-manggut di depan wajah Densha.


"Uh... Oke, bisakah kalian menjauhkan wajah kalian dari wajahku?!"


Mod dan Moa memundurkan tubuh dua langkah dari Densha, mereka saling membuang muka kesal. Pipi mereka terlihat memerah saat ini.


"Hei Fuu?? Apa aku tadi mengatakan atau menuduh mereka tidur bersama? Tidak kan??" Densha memandang gadis di sebelahnya itu.


"Tidak" Fuu menggelengkan kepala pelan.


Kena kau Moa!! - Densha.


Densha tersenyum jahil, matanya terus menatap dan menggoda Moa. Moa yang merasa risih hanya berusaha menghindari tatapan jahil dari sahabatnya.


"Apa sih? Kenapa dengan matamu itu?!"


"Ah! Tidak ada apa-apa, jadi... Tidur bersama ya??" Goda Densha.


Mereka berempat berjalan menuju sekolah bersama-sama, Fuu dan Mod berada di barisan depan. Sedangkan Densha dan Moa berada jauh di belakang mereka.


Mereka ngomongin apa sih? - Mod setengah melirik ke belakang.


"Dasar sinting! Aku tidak mungkin begitu kan?" Moa membuang muka untuk menahan rasa malunya.


"Kenapa membuang muka??"


"Siapa? Tidak tuh!"


"Jadi... Aku benar kan??" Goda Densha semangat.


"Benar apa?? Kau salah!"


"Dih! Aku pasti benar!!"


"Sudah aku bilang kau salah! Kami tidak melakukan apapun"


"Ya... Ya... Anggap saja aku salah!" Ucap Densha mengalah.


"Kau memang salah!" Gerutu Moa kesal.


"Cih! Kau ini pelit sekali, setidaknya beritahu sedikit-sedikit dong?"


"WTF! Kenapa dengan kau ini?!" Moa memukul lengan Densha keras, di susul dengan tawa renyah Densha.


"Hahaha"


Moa menundukkan wajahnya, sesekali ia curi-curi pandang pada gadis di depannya (Mod). Moa sungguh memikirkan perkataan ayahnya.


"Kenapa??" Densha mengusap rambut Moa yang nampak tidak bersemangat.


"Apa?"


"Pandanganmu pada Mod itu..."


Moa menghentikan langkah kakinya, ia bermaksud membiarkan Mod dan Fuu berjalan menjauhi mereka. Agar Moa bisa leluasa bercerita pada Densha.


"Kau tidak ingin dia mendengarnya ya??" Densha menatap Mod yang semakin menjauh.


"Benar"


"Sekarang, ceritakan!!"


"Ayahku menentang hubunganku dengan Mod yang bahkan belum ku mulai"


"Tuan Collin begitu?? Kenapa?"


"Kata ayah... Ayah takut jika sifat ibu Mod menurun padanya"


"Bagaimana ya?? Aku dari kecil sudah di tinggal kedua orangtuaku jadi aku tidak begitu memahami sifat para orang tua"


"Aku harus bagaimana?"


Densha memandangi wajah Moa yang sangat lesu dan sedih, ia tersenyum lalu menepuk bahu Moa lembut.


"Apa?" Moa menoleh ke arah sahabatnya itu.


Densha menampar pipi Moa dengan sangat keras, membuat Moa hampir jatuh kehilangan keseimbangan tubuhnya. Moa menyentuh pipi kirinya yang terasa panas, lalu melotot ke arah Densha.


"Kau ini sudah gila ya?!" Maki Moa kesal.


"Tidak tuh! Kau yang gila!!"


"Kenapa jadi aku yang gila?? Kau yang menamparku duluan!"


"Moa... Apa kau mencintainya?" Tanya Densha serius.


"Apa?! Kenapa kau tiba-tiba...."


"Aku tanya apa kau mencintainya??"


"Itu... Aku..."


"Apa kau mencintainya??"


"Hoi bung! Hentikan pembicaraan ini..." Pinta Moa panik.


"APA KAU MENCINTAINYA??" Teriak Densha kesal.


"IYA, LALU KENAPA?? PUAS???" Teriak Moa yang juga ikutan naik darah.


"Bodoh! Idiot! Br*ngsek! Tidak waras!!" Densha memaki Moa dengan kasar.


"Eh???"


"Jika kau memang mencintainya! Buktikan!"


"Apa maksudmu?"


Densha menghela nafas panjang lalu mengusap kepalanya sendiri dengan gemas.


"Cinta itu perlu rasa saling percaya, jika kau mencintainya berarti kau sudah menyerahkan semua kepercayaan'mu padanya kan? Jika kau tidak sepenuhnya percaya, artinya kau hanya mengikuti nafsumu!"


Mata Moa seolah terbuka lebar, ucapan Densha benar. Jika cinta mengandung rasa saling percaya, apa yang perlu di takutkan lagi? Jika memang Mod ternyata memiliki sifat buruk seperti ibunya, itu bukan salah rasa cinta. Karena Mod adalah pilihan Moa sendiri, begitu pikir Moa.


"Kau benar! Tapi... Jika kekhawatiran ayahku terjadi bagaimana?"


"Setidaknya kau mendapatkan cintamu kan?? Walau pada akhirnya harus kau lepaskan, aku tahu itu pasti menyakitkan"


".........."


"Moa, jika kau sangat menyukainya. Buatlah hari-harimu seolah-olah suatu saat dia akan pergi meninggalkanmu, dengan begitu kau akan mengeluarkan seluruh perasaanmu"


"Kenapa aku harus begitu?"


"Mungkin saja, Mod akan menyadari bahwa kau satu-satunya pria yang mencintainya lebih dari apapun! Hehe"


"Mmm...."


"Tunjukkan semaksimal mungkin!" Ucap Densha lalu tersenyum lebar.


"Baiklah... Akan aku coba!"


"Nah begitu dong! Sekarang, ceritakan padaku apa yang terjadi kemarin malam?"


"Dih! Kau masih ngotot ya??"


"Hehehe, ayolah..."


"Itu semua perbuatan Nany... Tapi aku sungguh tidak melakukan apapun"


"Nany??"


"Iya, karena suatu masalah (kencing di dapur) Nany jadi melepas pakaianku, kalau kasus Mod aku tidak tahu kenapa Nany melepas pakaiannya juga! Tapi... Kami tidur terpisah"


"Oh begitu? Apa benar begitu???" Goda Densha nakal.


"Iya, aku berkata jujur!"


"Baiklah, sayang sekali... Padahal di saat mabuk kau kan bisa melakukan apapun!" Ujar Densha sedikit kecewa.


"Dih! Apa-apa'an rasa kecewamu itu?!"


"Iya, aku sungguh kecewa loh!"


"Astaga! Kau membuatku merinding!" Moa memukul lengan Densha pelan.


"Bercanda kok!" Densha merangkul leher Moa sampai tiba di sekolah.


Jauh dari gerbang sekolah, seorang gadis berambut biru sebiru lautan mengawasi mereka dari jauh. Pandangannya begitu buruk menatap ke empat siswa itu.


"Sial! Kenapa hidup Fuu selalu menyenangkan?" Gerutu Katrina menendang beberapa batu di sekitarnya.


Semakin di pikir amarahnya semakin memuncak, ia (Katrina) begitu iri dengan kehidupan Fuu dan begitu benci dengan kehidupannya yang terlahir sebagai seorang Hybrid.


BRUK!!


Tanpa sengaja seorang siswi perempuan menabrak Katrina, hingga membuat Katrina terjatuh.


"Astaga! Maafkan aku!" Ucap siswi itu.


"Sialan! Punya mata gak sih?" Pekik Katrina menatap mata si gadis.


"Astaga! Pil???" Imbuh Katrina setelah mengetahui gadis yang menabraknya adalah Pil teman sekelas Katrina.


"Katrina?? Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak datang ke sekolah lagi??"


Katrina terdiam, ia menundukkan kepalanya sedih. Sebetulnya Katrina ingin datang ke sekolah, tapi karena kondisi kulitnya yang sama sekali tidak bisa terkena air jadi dia tidak bisa datang ke sekolah lagi.


"Katrina? Ada apa??" Tanya Pil penasaran.


"Aku sudah tidak bisa sekolah lagi..."


"Eh? Kenapa? Apa orangtuamu bangkrut??"


"Dasar! Memang ya? Kau tidak bisa menjaga mulut pedas'mu itu!" Sindir Katrina kesal.


"Cih! Ya sudah kalau begitu, lagipula tidak ada gunanya juga untukku!" Pil berlalu meninggalkan Katrina.


Huh! Jengkel sekali aku... Ku harap kau terpeleset di depan banyak orang disana!! Agar wajah mu jatuh karena malu! - batin Katrina.


Katrina memicingkan mata mengikuti arah gerak Pil, ia terus mengawasi temannya itu hingga tiba-tiba suatu keanehan terjadi, seakan ada nyanyian di dalam otak Katrina. Gadis itu (Katrina) menyenandungkan sebuah lagu atau lebih tepatnya nyanyian duyung.


BRAKKK!!


"Ya Tuhan!" Katrina menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Mata gadis itu membulat tidak percaya, apa yang ia katakan sungguh terjadi. Pil terjatuh tanpa sebab di depan banyak siswa pria yang sedang berjalan melewati gerbang sekolah. Pil tentu saja merasa malu, dengan cepat Pil beranjak berdiri lalu berlari sambil menutupi wajahnya.


Bagaimana ini bisa terjadi?? - Katrina.


Tanpa sadar, aksi Katrina itu diawasi oleh seorang gadis mungil nan cantik dari atas pohon. Gadis bermata biru itu tersenyum menyeringai memandangi Katrina, ia menggelengkan kepala pelan dan terus menatap Katrina dengan dingin.


Bersambung!!


Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, komentar, follow, favorit, rating dan Vote ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏