
"Eh? Siapa ya??"
"Ini Fuu" Fuu membuka masker yang menutupi setengah wajahnya.
"Fuu?? Kenapa bisa disini?" Mod berlari kecil menghampiri Fuu, dia membukakan pintu untuk Fuu lalu memeluk gadis itu.
"Lho? Kalian juga ikut?" Tanya Mod yang terkejut ada Densha dan Moa di balik pintu.
"Hai Mod!!" Sapa Densha dan Moa bersamaan.
"Sepertinya aku harus pulang! Benar kan sayaaang??" Ucap seorang wanita.
"Ck! Keberadaanmu disini pun tidak ada gunanya" sindir Mod ketus.
Siapa?? - Moa.
"Halo Moa... Bagaimana kabarmu sayang?" Ellis berdiri di depan Moa dengan tas jinjing di tangannya.
"Cih! Masih berani menanyakan kabarku?!"
"Moa! Jangan keras-keras, nanti ayah bangun" pinta Mod memohon.
"Baiklah! Aku pulang dulu.. sampai jumpa, daaan.. selamat malam tuan muda Mikaelson?!"
"Ah! Ng... Selamat malam juga!" Densha membungkukkan badannya untuk memberi hormat.
Bagaimana dia tahu margaku? Setahuku aku tidak pernah menyebutkannya.. Astaga! Iya aku lupa saat makan di rumah Moa kan ayahnya memanggilku tuan muda - Densha.
Ellis pergi tanpa rasa malu sedikitpun setelah berhari-hari tidak bertemu dengan Moa dan Mod. Wanita itu tetap berjalan dengan tegak di hadapan mereka berdua.
Ternyata benar ya? Bahwa dia ibunya Mod... - Densha.
"Kenapa tetap berdiri?! Ayo masuk!"
"Ah! Iya.."
Fuu memandangi wajah ayah Mod dengan seksama, gadis itu melihat dari ujung kaki hingga ujung rambut. Mata Fuu berhenti di tangan kiri milik ayah Mod, ada jarum yang menancap disana beserta selang kecil panjang yang terhubung oleh suatu cairan.
"Pria ini kenapa?" Tunjuk Fuu ke arah ayah Mod yang sedang tertidur.
"Ayahku sakit Fuu..."
"Sakit?! Apa sangat sakit sampai harus di beri cairan itu?!"
"Ya begitulah... Untuk beberapa hari dia harus tidur disini"
Fuu melirik ke arah Mod dan ayahnya secara bergantian. Gadis itu menyentuh lengan ayah Mod, membuat ayah Mod terkejut dan perlahan bangun.
"Ng... Siapa?"
"Ayah! Ini teman-temanku... Mereka datang untuk menjenguk ayah"
"Maksud ayah siapa gadis ini?! Kenapa menyentuh ayah"
"Ah! Dia Fuu, dia juga temanku. Hehe"
Fuu tetap menyentuh lengan ayah Mod, ia tidak melepaskan sentuhannya. Sepertinya Fuu sedang merasakan sesuatu dari dalam tubuh ayah Mod.
"Hei Fuu, lepaskan! Itu tidak sopan!" Pinta Densha.
"Tapi..."
"Kalau aku bilang lepaskan! Ya lepaskan!!"
"Okay, baik!" Fuu melepaskan sentuhannya, ia kini berdiri tepat di samping Densha.
Ck! Anak kurang ajar - tuan Roosevelt.
"Siapa nama teman-temanmu ini Mod?"
"Ah! Ini.. Fuu, Densha dan Moa" Mod menunjuk ke arah mereka secara bergantian.
"Aku tidak menanyakan yang dua itu, kesan pertama mereka itu buruk sekali!"
Hah?! - batin Moa dan Fuu.
"Ah! Ini Densha Mikaelson"
"Selamat malam tuan!"
"Astaga! Apa kau bilang? Densha Mikaelson?!" Ayah Mod terburu-buru bangun dari tempat tidurnya.
"Eh? Ayah! Jangan di paksakan untuk duduk, ayah istirahat saja"
"Tapi... Dia keponakan wanita cantik di televisi yang kau tonton setiap minggu itu kan?!"
"Ayaaahhh..." Rengek Mod pelan, wajah Mod memerah tersipu malu.
Moa dan Densha menatap Mod secara bersamaan, membuat Mod jadi semakin salah tingkah.
"Tidak! Tidak! Bukan.. maksudku bukan menonton begitu, saat itu aku sedang menonton TV dan kebetulan ada acara nona Isabella.. jadi..." Mod terbata-bata berusaha menjelaskan, padahal ia sudah tertangkap basah.
"Kebetulan macam apa yang terjadi setiap minggunya?" Sindir ayah Mod.
"AYAH!!" Teriak Mod kencang.
Dia betulan ngefans bibi?? - Densha.
"Anu.. A.. Aku akan membeli minuman! Ayo Fuu ikut aku" Mod menggandeng tangan Fuu dan mengajak gadis itu meninggalkan ruangan ayahnya.
"Eh! Tu.. tunggu, tapi..." Fuu menoleh ke arah Densha ragu.
"Pergilah! Tidak apa-apa"
Fuu menganggukkan kepala pelan lalu mengikuti Mod dari belakang, gadis itu memasang masker untuk menutupi setengah wajahnya. Walaupun sebenarnya di rumah sakit tidak akan ada yang mengenalinya tapi dia tetap melakukan hal bodoh itu.
"Apa dia pacarmu?!"
"Eh??"
"Ck! Tuan ini... Setiap ada pria dan gadis selalu ditanya apa dia pacarmu?! Apa tidak ada pertanyaan lain?!" Sindir Moa sinis.
"Aku tidak bertanya padamu!!"
"Ah! Haha.." Densha merangkul Moa dan mencubit perutnya pelan.
"Aw! Sakit bodoh!!"
"Sejak kapan bicaramu tidak sopan begini?!" Bisik Densha pelan.
"Sejak dia bersikap kasar padaku!"
"Hei!! Kenapa kalian berbisik-bisik?!"
"Ah! Tidak ada apa-apa tuan! Hehe"
Densha cengengesan menatap ayah Mod, sedangkan Moa memilih untuk duduk di sofa sudut ruangan.
"Kau tampan sekali ya?!" Puji ayah Mod.
"Ah! Tidak kok!!"
Aku memang terlahir tampan sih?! - Densha.
"Apa gadis mungil tadi adikmu?!"
"Fuu??"
"Iya, gadis itu!"
"Bukan! Saya anak tunggal"
"Lalu? Kenapa kalian akrab sekali?"
"Mmm.. bagaimana ya? Kami punya hubungan di masa lalu yang sulit di jelaskan hehehe"
Cih! di jodohkan ya?? - tuan Roosevelt
"Apa kau menyukainya?"
Aduh! Kenapa pertanyaannya tiba-tiba begini! - Densha.
"Uhm... Sepertinya iya" jawab Densha pelan.
"Kau sangat menyukainya ya? Wajahmu merah sekali tuh!"
"Hah?! Apa?! Tidak kok! Wajah saya tidak merah"
"Haha, merah loh!!" Ayah Mod tertawa pada Densha.
Lihat mereka?? Akrab sekali?! Jadi iri - Moa.
"Sa.. saya.. permisi duduk ya?!"
"Oh! Iya... Silahkan!"
Anak yang sopan... - tuan Roosevelt.
Densha dan Moa duduk tanpa mengatakan apapun. Suasana di dalam ruangan itu sangat canggung.
"Hei!" Bisik Densha.
"Apa?!"
"Kenapa suasananya tegang sekali ya?"
"Entahlah, memang seperti ini yang aku rasakan saat menjenguknya seorang diri"
"Ahh begitu ya?!"
"Uhm"
"Dia kan calon mertuamu! Sana pergi dan cairkan suasana"
"Minta di pukul ya?!" Moa menyenggol bahu Densha.
"Haha... Ngomong-ngomong kemana Mod membawa Fuu?!"
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja"
"Semoga saja!" Densha menyenderkan punggungnya ke belakang, pria itu sedikit memejamkan matanya.
"Jangan tidur!"
"Aku tidak tidur, tapi jika aku tertidur tolong bangunkan aku ya?"
"Baiklah..."
.
.
.
.
.
.
.
"Eh! Kenapa tanya begitu?"
"Saat Fuu menyentuhnya... Sepertinya ayah Mod tidak akan bertahan lama"
"Diam! Jangan sok tahu tentang hidup dan mati seseorang Fuu!!" Bentak Mod keras.
"......" Fuu terkejut dengan kata-kata Mod, gadis itu menghentikan langkahnya dan berdiam diri memandang Mod.
Ya Tuhan! Aku lupa.. dia kan duyung! Tidak tahu bagaimana cara berbicara menyesuaikan suasana yang sedang terjadi - Mod.
"Anu, maafkan aku..."
"......."
"Ku mohon maafkan aku!"
"Maaf, Fuu tidak sopan" ucap Fuu murung.
"Bukan salahmu! Kau memang mungkin tidak tahu betapa sakitnya kata-kata yang kau ucapkan itu.. Tapi... Aku memakluminya"
"......"
Untuk sesaat Fuu menghentikan kalimatnya sejenak, gadis itu tidak tahu bagaimana baiknya berbicara dengan Mod.
"Anu... Fuu minta maaf! Tapi, jika ayah Mod tidak segera di tolong. Dia akan mati"
"Bukankah sekarang aku sedang berusaha menolongnya? Maka dari itu ayahku di rawat di rumah sakit ini"
"Tapi... Fuu merasa ayah Mod tidak mengalami perubahan apapun. Tidak membaik!" Gumam Fuu pelan.
"Kau tahu darimana?"
"Duyung bisa merasakan orang yang sekarat"
Mata Mod membulat tidak percaya, gadis itu terpaku. Tanpa sadar ia menitihkan air mata, ia takut bahwa ucapan Fuu ternyata benar dan ayahnya tidak tertolong.
"Lalu aku harus bagaimana Fuu?"
"Berikan darah Fuu padanya"
"Apa?!"
"Sebenarnya Fuu juga tidak ingin melakukan ini, Fuu takut nantinya ada orang jahat yang ingin menyakiti Fuu"
"Aku tidak mengerti! Apa maksudmu?!"
Fuu melirik ke arah Mod, antara yakin dan tidak yakin dengan temannya itu. Fuu akhirnya memberanikan diri untuk membantunya.
"Darah duyung bisa menyembuhkan segala penyakit" ucap Fuu pelan.
"Apa?!" Mod terkejut dengan kalimat yang di lontarkan oleh Fuu.
"Jika Mod bisa membuat ayah Mod meminum darah Fuu, maka ayah Mod akan sembuh total. Itupun tergantung sejauh mana rasa sakitnya, mungkin untuk penyakit ayah Mod, Fuu harus mengeluarkan banyak darah"
"A.. Apa maksudnya itu?!"
"Yang Fuu maksud, jika ayah Mod meminum darah Fuu dia akan sembuh"
"Mu.. mustahil!!" Bantah Mod pelan.
Fuu hanya memandangi wajah polos Mod, ia menundukkan kepala lalu meneruskan langkahnya menuju ruangan ayah Mod di rawat.
Dia bercanda kan?? - Mod.
Suasana canggung menyelimuti seluruh kamar rawat inap, Fuu hanya memainkan kedua tangannya. Gadis itu duduk di samping Densha, Mod yang masih kepikiran dengan kata-kata Fuu sesekali mencuri pandang ke arah Fuu.
"Nah... Karena sudah malam, sebaiknya kami pulang dulu ya?!" Densha menggandeng tangan Moa dan Fuu bersamaan.
"Eh? Malam?? Kan baru jam 9 ??" Moa memandang jam di layar ponselnya.
"Dasar tidak waras!! Apa kau tidak mau membiarkan ayah Mod istirahat?"
"Iya-iya... Tidak perlu marah-marah begitu kan bisa!"
"Cih!"
Mod menganggukkan kepala pelan, mereka bertiga berpamitan pada ayah Mod secara bergantian lalu Mod ikut mengantar mereka sampai ke depan rumah sakit.
"Kau tidak perlu mengantar kami seperti ini loh"
"Ah! Tidak apa-apa"
"Baiklah! Kami pamit dulu ya?! Sampai jumpa besok di sekolah"
"Anu, tunggu! Ada yang ingin aku tanyakan pada Fuu"
Fuu melirik ke arah Mod, ia memandangi wajah Mod bingung.
"Bertanya pada Fuu?!" Tanya Fuu bingung.
"Soal itu... Tolong, coba sembuhkan ayahku"
Eh?? - batin Moa dan Densha bersamaan.
Tunggu! Apa Fuu cerita pada Mod, bahwa darahnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit?! - Densha.
"Fuu tidak bisa melakukannya jika di rumah sakit, Fuu bisa dalam bahaya"
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Percayalah padaku"
"Maaf, tapi Fuu benar-benar tidak bisa selagi ayah Mod masih berada di rumah sakit"
Mereka ini sedang ngomongin apa sih?! - Moa.
"Lalu aku harus bagaimana?!"
"Ehem! Maaf menyela pembicaraan kalian. Aku punya solusi, kenapa ayahmu tidak kau rawat di rumah saja?! Dengan begitu Fuu bisa datang ke rumahmu" ucap Densha senang.
"Tapi... Dengan begitu, aku tidak bisa datang ke sekolah. Siapa yang akan menjaga ayahku?!"
"Kau benar! Mungkin pengobatan yang di lakukan oleh Fuu tidak akan memakan waktu lama. Jadi kau bisa cuti sekolah beberapa hari"
"Mmm... Akan aku coba pikirkan"
"Baiklah! Kalau begitu, kami pulang dulu ya?!"
"Iya! Hati-hati..." Ucap Mod lembut dan melambaikan tangannya.
***
Malam itu di rumah Densha.
"Sudah mau tidur??"
"Iya, Fuu mengantuk!"
"Kau mau tidur dimana?"
"Di bawah saja"
"Kau cerita pada Mod??"
"Cerita apa?"
"Soal darah duyungmu itu?!"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan, gadis itu merebahkan tubuhnya telentang di kasur lantai.
"Kau betulan ingin membantunya?"
"Iya, jika tidak segera di tolong ayah Mod akan mati"
"Ck! Kau mendoakannya begitu?!"
"Tidak, hanya saja... Fuu merasakannya"
"Ya sudah lah kalau begitu! Aku mau tidur! Selamat malam Fuu!! Oh iya jangan lupa mematikan lampu"
"Okay, baik!"
Fuu beranjak dari tidurnya, gadis itu berjalan menuju tombol lampu dan menekannya, membuat ruangan kamar Densha menjadi gelap. Hanya ada cahaya dari lampu tidur di meja nakas milik Densha.
Tuk! Tuk!
Fuu mengetuk kepala Densha dengan jari telunjuknya, dengan terpaksa Densha jadi harus membuka matanya.
"Apa lagi?!"
"Tolong bantu Fuu"
"Bantu apa?!"
Fuu duduk membelakangi Densha di atas ranjang. Tanpa aba-aba gadis cantik itu mengangkat kaosnya sampai ke pangkal lehernya. Menunjukkan punggung putih mulus miliknya.
"WTF!! Apa-apa'an kau ini?! Apa yang kau lakukan?!"
Dengan cepat Densha membungkus tubuh Fuu dengan selimut tebal miliknya. Wajahnya bersemu merah bahkan keringat dingin tiba-tiba muncul di dahi pria itu.
Fuu menengok ke belakang, ia menatap Densha dengan tajam.
"Kenapa tatapan dinginmu itu?!"
"Fuu lupa melepasnya! Saat dirumah sakit Mod bilang, jika seorang gadis sering memakai bra saat tidur itu bisa menyebabkan kanker payudara, sebenarnya Fuu tidak tahu payudara itu apa?!"
Hah?! Dan kau memberitahukannya padaku?! - Densha.
"Jadi, kau minta bantuanku untuk melepas itu?!"
"Iya, apa Densha tidak bisa? Caranya mudah kok! Tinggal lepas kaitannya"
"BODOH!! Bukan maksudku aku tidak bisa! Astaga! Kau ini.. bagaimana caraku menjelaskannya ya?!"
"Apa?!"
"Kau tidak seharusnya meminta bantuan seperti ini kepada seorang pria" gumam Densha pelan.
Ia menurunkan pembungkus selimut yang menutupi tubuh Fuu perlahan. Tanpa sengaja jemarinya menyentuh punggung Fuu yang mulus, hal itu semakin membuat Densha kepanasan.
Ampuni dosa-dosa'ku Tuhan!! - Densha.
Glup! (Suara Densha menelan ludah)
Dih! Kenapa aku berdebar seperti ini?! - Densha.
Perlahan tapi pasti Densha berhasil membuka kaitan bra di punggung Fuu, dengan segera ia menepuk wajahnya sendiri lalu merebahkan diri di ranjangnya.
"Aku berhasil!" Gumam Densha.
"Terima kasih Densha" ucap Fuu senang, tanpa rasa malu Fuu melepas bra nya dan meletakkannya di bawah bantal tidurnya.
Mata Densha terbelalak menyaksikan tingkah Fuu yang benar-benar bermuka tebal itu, walau begitu ia juga tidak bisa menyalahkan Fuu yang pada dasarnya bukanlah manusia.
Bagaimana ini?! Sekarang aku tahu bahwa ia tidur tanpa mengenakan bra. Cih! Duyung bodoh!! - Densha.
Bersambung!!
Jika kalian menyukai Novel ini, mohon dukungannya dengan cara Like, komentar, favorit, rating dan Vote. Kalau bisa kalian share juga ya?! 😘🙏 Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya... Terima kasih.