Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Salah paham




Sore itu Densha dan Moa berlari sekencang mungkin menuju rumah Densha.


Densha terkejut karena pintu rumah terkunci, ia segera memeriksa pot bunga di sebelah pintunya dan menemukan kunci disana. Raut wajahnya berubah sedih, matanya terlihat berkaca-kaca.


"Fuu tidak pulang.." gumam Densha pelan.


"Apa?"


"Fuu tidak pulang ke rumah! Kunci rumah masih di sini" Densha menenteng kunci rumah dan menunjukkannya pada Moa.


"Coba kau periksa rumahmu dulu, kau harus tenang. Jangan panik! Okay?"


"SUDAH AKU BILANG DIA TIDAK PULANG!! KENAPA KAU TIDAK MENGERTI??" Densha berteriak memaki Moa, pria itu duduk bersandar di depan pintu rumah.


Astaga.. kau dimana Fuu? - Densha.


Moa hanya mempunyai satu jawaban, jika Fuu tidak ada di rumah berarti dia kembali ke habitat aslinya yaitu laut. Moa ingin sekali memberitahu Densha, namun ia sudah terikat janji dengan Fuu agar tidak memberitahu Densha bahwa gadis itu adalah seorang duyung.


Apa yang harus aku lakukan? - Moa.


Mata Densha memandang lurus ke depan, pria itu tengah melamun. Mencari-cari jawaban di dalam otaknya.


"Yahh, aku tahu.."


"Eh? Apa?" Moa terkejut dengan kata-kata Densha, pria itu menoleh ke arah Densha namun dengan sigap Densha meraih kedua kerah baju milik Moa.


"Apa yang kau lakukan?" Moa mendelik menatap Densha yang berdiri di depannya, wajah mereka terlalu berdekatan.


"Kau.. kau pasti tau dimana Fuu.."


"Apa maksudmu?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu!"


"Dasar sinting! Aku dari tadi bersamamu.. bagaimana mungkin aku tau dimana keberadaan Fuu?"


"Kau juga duyung kan?" Kalimat yang seharusnya Densha simpan seorang diri akhirnya keluar dari mulutnya sendiri. Mendengar kalimat Densha tentang duyung membuat Moa semakin membuka matanya dengan lebar, pria itu terpaku di depan sahabatnya sendiri.


"...."


"Kenapa diam saja! CEPAT JAWAB!!"


Moa memegang kedua tangan Densha yang mengangkat kerah bajunya, ia menepis tangan Densha dengan kasar.


"Lepaskan!"


"...."


"Baru beberapa jam yang lalu kau mengira aku menyukai Fuu"


"...."


"Dan sekarang, kau pikir aku duyung hah?! Bukankah kau tidak percaya bahwa duyung itu ada?"


"...."


"Kemana saja kau selama ini? KENAPA KAU LAMBAT SEKALI MENYADARI PERASAAN GADIS BODOH ITU HAH?!"


BUG!!


Pukulan keras mendarat di pipi kiri Densha, membuat pria itu jatuh dan memegang pipi kirinya yang terasa nyeri, darah segar keluar dari bibir merah pria itu.


Perlahan Densha berdiri, matanya tajam menatap Moa yang saat ini tengah memperhatikannya. Perasaan Densha saat ini tengah di tutupi kabut emosi, Emosi yang di buat oleh dirinya sendiri, emosi karena ketidakpekaan nya terhadap perasaan Fuu.


BUG!!


Densha meninju pipi kanan Moa dengan keras, dengan sigap ia menyerang Moa, mengunci tubuh Moa agar sahabatnya itu tidak bisa berkutik.


"BRENGSEK!! AKU CUMA BERTANYA.. APA KAU JUGA DUYUNG??"


"Keparat sinting!! Ku kira kau mengenalku dengan sungguh-sungguh!"


"Moa.. kumohon jangan membuatku semakin marah!"


"Kau pikir kau saja yang bisa marah?!"


"Moa!!"


"Seberapa pentingnya persahabatan kita bagimu?"


"...."


"Kenapa? Kenapa kau diam saja?"


"Moa, ini tidak ada hubungannya dengan.."


"TENTU SAJA ADA!! DASAR TIDAK WARAS!!" Moa berteriak memaki Densha dengan kesal.


"...."


"BUKANKAH KAU TAHU BAHWA AKU TIDAK BISA BERENANG? BAGAIMANA MUNGKIN AKU INI SEEKOR DUYUNG?"


Mata Densha membulat tidak percaya, ia terlalu sibuk dengan asumsi nya sendiri sehingga melupakan fakta bahwa Moa sahabatnya itu tidak bisa berenang, bahkan Densha yang selalu berusaha mengajarinya berenang di awal-awal pertemanan mereka.


Densha melepaskan cengkraman tangannya dari kedua lengan tangan Moa, pria itu ikut merebahkan diri di samping Moa. Air mata mengalir lambat dari pelupuk matanya, ia memandang langit-langit sore yang mulai berubah menjadi langit malam dengan sedih.


"Maafkan aku Moa.."


"...."


"Aku.. aku terlalu di sibukkan dengan asumsi ku sendiri, sehingga aku melupakan fakta-fakta yang sudah aku ketahui" Densha menghapus air mata yang akan jatuh di pipinya dengan cepat agar Moa tidak melihatnya.


"Kau menangis?"


"Tidak.."


"Densha, kau berbohong padaku!"


"Aku harus bagaimana?" Air mata mulai mengalir deras dari mata dingin pria tampan itu.


"Tenanglah.. kita pasti menemukannya"


"...."


"Tunggu, kenapa kau mengira bahwa aku seekor duyung?"


"Aku hanya asal menebak saja. Karena waktu itu kau dan Fuu datang terlambat ke sekolah, dan pakaian kalian berdua setengah basah. Bukan hanya kau.. Mod juga aku pikir seorang duyung"


"Jadi.. kau tahu bahwa Fuu.." kata-kata Moa terhenti, ia bingung apakah dia harus memberitahu Densha atau tidak.


"Bahwa Fuu adalah duyung?! Aku tahu itu"


"Apa Fuu yang memberitahumu?"


"Tidak, aku iri sekali denganmu.. karena kau mengetahui bahwa dia seorang duyung tanpa perlu kau memintanya"


"Hei, waktu itu aku juga terkejut! Aku hanya menolongnya.. karena waktu itu luka di kulitnya sangatlah parah"


"Luka?"


"Yahh, karena hukuman berdiri di lapangan waktu itu hampir membuatnya menjadi ikan asin!"


"...."


"Jadi, dia meminta bantuan ku untuk membawanya ke pantai, di sanalah aku tahu bahwa dia seorang duyung. Aku ingin sekali memberitahumu! Tapi dia melarang ku, gadis bodoh itu bilang bahwa ia akan memberitahumu sendiri!"


"Pantai.. Moa kau benar!!"


"Eh? Soal apa?" Moa terkejut dan menoleh ke arah Densha.


"Fuu.. Fuu pasti ke pantai kan?"


"Astaga! Jadi dia bilang ingin pulang ke rumah itu.. maksudnya adalah.."


"Iya! Kau benar, dia pasti pulang ke laut. Ke tempat ia tinggal sesungguhnya" Densha berdiri dari tidurnya, pria itu bersiap untuk pergi namun tangan Moa menahan lengan Densha dengan cepat.


"Kau mau kemana?"


"Tentu saja ke laut!!"


"Dasar bodoh! Cinta memang membuat orang terlihat bodoh ya?" Sindir Moa ketus.


"Apa maksudmu?! Lepaskan tanganku!" Densha menarik lengannya dengan paksa, ia menatap tajam ke arah Moa.


"Kau lupa bahwa dia duyung?"


"Aku jelas mengingatnya"


"Lalu? Jika dia benar kembali ke dalam air, kau mau mencarinya kemana? Kita tidak bisa bernapas di dalam air kau ingat? Dan.. lautan ini luas. Saat ini dengan wujudnya yang seperti itu, gadis bodoh itu bisa berada di mana saja!"


Densha memikirkan ucapan Moa yang memang benar adanya, bagaimanapun juga lautan di dunia ini lebih luas daripada daratan, dengan wujud ikan seperti itu.. Fuu bisa berada di manapun tempat yang ia inginkan.


"Kau benar.."


"Kita akan tetap mencarinya, sepulang sekolah kita akan berjalan-jalan di sekitar pantai atau tebing. Mungkin ada tanda-tanda keberadaan Fuu"


"Moa.."


"Tenanglah.. kita akan menemukannya"


"Aku mengkhawatirkan nya.."


"Apa yang perlu di khawatirkan dari gadis bodoh itu?" Moa tersenyum jahil, ia mencoba menggoda Densha dengan kalimatnya.


"Moa.. jangan menyebutnya bodoh!" Densha menyenggol bahu Moa dengan pelan. Pria itu berjalan menuju pintu rumahnya, ia mengambil kunci dan memasukkannya ke lubang kunci untuk membuka pintu rumahnya. Densha melirik ke arah Moa, menandakan agar Moa ikut masuk bersamanya.


"Apa hari ini kau mau menginap di rumahku?"


"Eh! Kenapa? Kau takut?"


"Tidak, hanya saja! Aku sudah terbiasa tidak tinggal sendirian di rumah ini.."


"Bagaimana ya? Aku harus menelepon ayahku terlebih dahulu"


"Kau bisa menelpon ayahmu dengan telpon itu!" Densha menunjuk ke arah telepon rumah di ruang tamunya.


"Bagaimana dengan sekolahku besok?"


"Kau benar! Aku meminta terlalu banyak padamu, maafkan aku Moa.."


"Tidak, tidak. Ku mohon jangan sering-sering minta maaf padaku! Kau jadi terdengar seperti gadis bodoh itu!"


"...."


Densha tidak menjawab pertanyaan Moa, pria itu duduk di sofa panjang ruang tamunya. Ia merebahkan diri dengan malas disana, tatapannya kosong menatap langit-langit ruang tamu nya.


"Bagaimana kalau kau yang menginap di rumahku?" Usul Moa mencoba memberi jalan keluar pada Densha.


"Terakhir kali aku tidur di rumahmu kau mengompol banyak sekali!! Membuat pakaianku basah tidak karuan!"


"Kecil apa? Kita sudah memasuki sekolah menengah pertama saat itu!" Densha tertawa kecil mengingat masa lalunya bersama Moa.


"Cih! Kau ini!"


Wajah Moa memerah, pria itu sedang tersipu malu saat ini.


"Haha, kenapa wajahmu merah begitu?"


"Berisik!! Wajahku tidak merah tuh!"


"Coba lihat di kaca sana!" Densha menunjuk ke arah kaca besar di persimpangan antara ruang tamu dan dapurnya.


"Cih!"


"Umm.. bagaimana kalau kita mencari Fuu sebentar sebelum pergi ke rumahmu?"


"Okay, siapkan keperluan mu terlebih dahulu. Aku akan menunggu disini!"


"Oke, tunggu sebentar!" Densha berdiri dan berjalan menuju kamarnya menyiapkan beberapa potong baju untuk acara menginapnya malam ini, tidak lupa dia juga menyiapkan buku-buku pelajaran untuk hari esok. Setelah di rasa semuanya beres, Densha membawa tas jinjing dan tas sekolahnya ke ruang tamu untuk menemui Moa.


"Hei, apa-apa'an dengan bawaan mu itu! Kau mau pindahan??"


"Ya.. jika Fuu tidak ketemu dalam waktu dekat, kurasa aku akan sedikit merepotkan mu! Jadi.. daripada aku bolak-balik mengambil baju ke rumah, lebih baik aku membawa baju dalam jumlah lebih kan?"


"Kau pintar sekali! Memangnya aku mengijinkan mu terlalu lama di rumahku hah?!"


"Kenapa tidak??" Densha mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi.


"Di rumahku sedang ada kekacauan, jika memang besok Fuu masih belum ketemu, maka aku yang akan menginap disini!"


"Sungguh??"


Moa menatap sahabatnya itu dengan serius, ia mengambil nafas dalam-dalam dan menganggukkan kepala pelan untuk menjawab keraguan Densha.


"Baiklah, akan aku kurangi bawaan ku!"


Kriingg! Krriinggg! Kkriinggg!


"Telepon rumahmu berbunyi tuh!"


"Siapa ya?"


Moa mengangkat kedua bahu tanda tidak mengerti siapa yang menelpon Densha saat ini.


Klap..


"Halo?"


"Densha, itu kau?"


"Tentu, memang mau siapa lagi?"


"Bagaimana harimu di sekolah? Apa semua berjalan baik?"


"Iya, begitulah.."


"Bagaimana dengan Fuu?"


"Fuu baik-baik saja"


"Benarkah? Dimana dia? Aku ingin berbicara dengannya.."


"Ng.. anu.. bibi. Fuu sedang pergi"


"Pergi? Malam-malam begini? Kenapa kau masih di rumah dan tidak menemaninya?"


"Dia bilang dia ingin pergi sendiri. Hehe"


"DASAR BODOH! JIKA WANITA BILANG INGIN SENDIRI ITU TANDANYA DIA INGIN DI TEMANI TAU!!"


Astaga! Seperti ada petir di dekat telingaku.. - Densha.


"Ya Tuhan!! Bibi, kenapa berteriak mendadak begitu sih?"


"Karena kau begitu bodoh! Cih! Aku harus minta maaf padanya karena tidak mengajarimu cara memperlakukan wanita"


"Memperlakukan wanita?"


"Iya, kau ini payah sekali!"


Densha terdiam sejenak memikirkan kalimat yang di katakan Isabella.


"ASTAGA!! BIBI INI BICARA APA? KENAPA AKU HARUS DI AJARI CARA MEMPERLAKUKAN WANITA?! AKU BUKAN PRIA YANG SEPERTI ITU!! DAN LAGI PULA UMURKU INI MASIH JAUH UNTUK MELAKUKAN HAL SEPERTI ITU!!"


"JANGAN BERTERIAK SECARA TIBA-TIBA BODOH!!"


Duh.. bikin kupingku sakit - Isabella.


"Ha.. habis, bibi sih.."


"Maksudku memperlakukan itu cara bersikap di depan wanita! Memang apa yang kau pikirkan?"


"Ah! Bersikap ya.."


"Kau memikirkan hal mesum kan?"


"APA?! TIDAK!!" Wajah Densha saat ini memerah karena malu tebakan Isabella benar adanya.


"Cih! Otakmu itu kotor sekali"


"...."


"Jika Fuu sudah kembali segera telepon aku, aku sangat ingin berbicara dengan gadis itu!"


"Baik bibi"


Tut!


"Hah.. bibi juga mencari Fuu ya?" Gumam Densha pelan. Ia menoleh ke arah Moa yang tengah asik dengan game di layar ponselnya.


"Hoi, maaf ya? Aku mengobrol di telepon terlalu lama!"


"Tenang saja! Aku tidak terburu-buru kok!"


Densha tersenyum tipis memperhatikan Moa, ia kembali ke dalam kamarnya untuk mengembalikan beberapa baju yang tidak penting ke dalam lemarinya, sebelum ia kembali untuk menemui Moa. Densha melihat surat bertuliskan kata Maaf di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


"I.. i.. ini.. ini tulisan tangan Fuu" gumam Densha. Matanya tertuju pada bola kecil berkilau, ia mengamati bola itu dan langsung sadar dengan apa yang ia sentuh.


Moa benar! Fuu kembali ke laut.. - Densha.


Aku pikir kaitan duyung dengan mutiara hanya ada di dalam dongeng saja! Ternyata mereka benar-benar sungguh ada. Aku akan membawamu pulang Fuu, cepat atau lambat aku pasti akan membawamu kembali ke rumah ini.. - Densha.


.


.


.


.


.


"Tidurlah di kamarmu sayang.."


"Eh?? Ayah?? Maafkan aku, aku ketiduran saat menonton TV, hehe" Mod tersenyum manis menatap ayahnya.


"Ini sudah malam, kenapa kau masih disini?"


"Sudah lama aku tidak bertemu ibu, aku ingin sekali saja melihat wajahnya yang jarang aku temui itu!"


"Maafkan ayah ya?"


"Eh? Kenapa ayah minta maaf?"


"Mungkin, karena gaji ayah yang kurang jadinya ibumu terpaksa harus bekerja"


"Bukan, ini bukan salah ayah.. ibu bekerja juga bukan untuk keluarga ini, tapi untuk dirinya sendiri" raut wajah Mod berubah menjadi sedih, ia menatap ke arah lain untuk membuang kesedihannya.


"Ayah sudah mencoba memberitahu ibumu untuk berhenti bekerja, tapi ibumu tetap tidak mau!"


"Kenapa ayah betah tinggal bersama ibu yang seperti itu? Jika ayah memang punya pacar lain, aku akan dengan senang hati merestui hubungan kalian!" Mod tersenyum dengan sumringah.


"Kau ini bicara apa? Ayah sangat mencintai ibumu"


"Apa ayah tidak pernah mencurigai ibu yang sering pulang dalam keadaan mabuk? dan ibu selalu pulang larut malam ayah.."


"Kalau mau curiga, ayah juga tidak punya bukti apapun sayang.." Ayah Mod mengusap lembut kepala putrinya itu.


"Baiklah.. Ayah mau ke kamar dulu, jika kau kembali ke kamarmu! Tolong matikan lampunya ya?"


"Baik ayah.. Selamat malam!" Mod melambaikan tangan dan tersenyum ke arah ayahnya.


Ibu.. kemana saja ibu selama ini? Andai ibu tahu bahwa ayah sangat mencintai ibu lebih dari apapun.. - Mod.


Mod memandang jarum jam di dinding rumahnya, waktu menunjukkan pukul satu malam. Di rasa ibunya tidak akan pulang hari ini, Mod kembali ke kamarnya dan memutuskan untuk tidur.


Bahkan jam segini, ibu belum pulang? Sebenarnya kemana dia keluyuran malam-malam begini? - Mod.


Mod merebahkan diri di atas ranjangnya yang empuk, ia memeluk boneka kesayangannya dan mencoba mengingat semua kenangan baik saat keluarganya masih di selimuti kehangatan.


"Aku rindu saat-saat seperti itu ibu.." gumam Mod pelan. Tanpa sadar air mata menetes di pipi gadis cantik itu, ia tertidur dalam tangisnya.


Disisi lain Moa dan Densha yang sudah kelelahan untuk mencari Fuu memutuskan untuk kembali pulang ke rumah Moa, rumah Moa saat itu sudah sangat gelap. Karena orang tua Moa sudah tertidur lelap di kamarnya.


"Masuklah.."


"Rumahmu gelap sekali!"


"Ayah pasti sudah tidur saat ini"


Mata Densha fokus tertuju pada sesuatu, suatu benda yang seharusnya tidak berada di rumah Moa.


"Kenapa?"


"Ah! Tidak.. ini milik siapa?" Densha menunjuk ke sepasang sepatu wanita di rak sepatu milik keluarga Moa.


"Ck! Pasti pacar ayah sedang menginap disini!"


"Pacar???"


"Ya, dia sering kesini! Ayo naik ke atas, kita langsung ke kamarku!"


"Eh.. iya.."


Mata Densha tidak bisa lepas dari sepasang sepatu wanita dengan hak tinggi yang tergeletak di sana.


Ayah Moa punya pacar?? Tapi itu wajar sih.. ibu Moa kan sudah lama meninggalkan mereka.. - Densha.


Bersambung.