
Glup! (Suara Leah menelan ludah)
"Apa?? Cepat jawab! Kau janji akan menceritakan semuanya kan?!" Moa memandang Leah serius.
"Ah... Hehe"
"Jangan heha hehe!!" Moa mendorong kepala Leah pelan.
"Hei, dasar tidak sopan!!" Maki Leah ketus.
"Ini rumahku, aku berhak melakukan apapun!"
"Cih!! Kata papaku itu tidak baik! Mendorong kepala orang sembarangan"
"Memangnya kau orang?? Kau kan Hybrid!!" Ledek Moa senang.
"Setengah darahku ini manusia! Jadi aku tetap orang kan??"
"Oke-oke, sekarang katakan semuanya dengan jujur padaku!" Pinta Moa.
Leah memandang Moa serius, ia gugup dan ragu. Apakah akan baik-baik saja jika memberitahukan semuanya pada Moa, apa tidak akan ada yang berubah di kemudian hari? Lalu masih ada perasaan yang mengganjal di hati Leah, sebelum ia melihat perempuan yang benar-benar di cintai Moa, Leah tidak ingin menunjukkan identitasnya.
"Begini tuan..." Ucap Leah akhirnya memecah keheningan.
"Apa?"
"Aku ingin melihat dengan siapa kau akan menghabiskan waktumu nanti"
"Maksudnya?" Moa mengernyitkan dahi bingung.
"Pacar! Aku ingin tahu perempuan yang benar-benar kau cintai" Leah tersipu malu membahas pacar pada Moa.
"Eh?? Kenapa? Bukannya kau sudah tahu! Itu loh gadis yang bareng Fuu di depan gerbang sekolah tadi pagi"
"Kau belum pacaran dengannya kan??"
"Belum sih" jawab Moa malu.
"Apa kau akan menikahinya??" Leah mendekatkan wajahnya pada Moa, ia mencoba menatap mata pria itu lekat-lekat.
"Kalau itu.... Bukannya aku tidak mau, tapi aku sedikit kurang yakin"
"Jawaban macam apa itu! Kau bukan tipe pria brengs*k kan??"
"His! Tentu saja tidak"
Leah tertawa cekikikan mendengar jawaban Moa, ia merasa sangat bersyukur mendengar kesungguhan hati Moa.
"Begini, aku tidak bisa menceritakan semuanya hari ini"
"Apa?! Jadi kau berbohong??"
"Mmm... Janji bisa ingkar kan?? Hehehe"
Moa menatap Leah sinis, ia berdiri dari tempat duduknya. Pria itu meninggalkan kamar Leah secepat mungkin, ia sungguh kecewa.
"Tunggu!" Cegah Leah tegas.
"Apa lagi??" Moa menghentikan langkah kakinya tepat di depan pintu kamar Leah, pria itu tak memandang ke arah Leah sama sekali.
"Ini demi kebaikanmu... Jadi kumohon percaya padaku!" Ujar Leah tenang.
"Percaya padamu?? Dan kau akan terus mengulangi kebohongan'mu padaku! Benar kan??" Sindir Moa ketus.
BRAK!!
Moa menutup pintu kamar Leah dengan keras, membuat gadis itu terkejut. Ia paham bahwa saat ini Moa pasti terluka, namun di sisi lain Leah juga tak mau membuat semuanya menjadi runyam.
Mata Leah berkaca-kaca, ia menggig*t bagian bawah bibirnya sendiri. Tanpa sadar air matanya mengalir di kedua pipinya. Ia mengambil selembar tisu dan menghapus air matanya dengan cepat. Sakit... Itu yang di rasakan nya, dada nya benar-benar terasa sesak, ia (Leah) tak yakin mampu menghadapi semuanya sendirian.
"Apa aku pulang saja ya?? Menerima takdir ku dengan tenang..." Gumam Leah pelan.
Leah membaringkan tubuhnya ke tempat tidur, ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Saat ini ia sangat merindukan kedua orangtuanya, ingin sekali rasanya untuk pulang dan menceritakan semuanya pada mereka.
.
.
.
.
.
Malam itu Densha tidak mampu untuk memejamkan kedua matanya, ia terjaga hingga tengah malam. Sesekali pria itu melirik gadis yang sedang tertidur pulas di sampingnya.
Benar! Hari ini Fuu memohon pada Densha agar di ijinkan tidur bersama dengan pria itu dalam satu ranjang. Entah kenapa Densha juga tidak menolak permohonan Fuu, Densha risih melihat Fuu yang terus merengek agar di ijinkan tidur berdekatan dengan dirinya.
Lihat dia!! Enak sekali tidurnya... - Densha.
Fuu menggeliat merubah posisi tidurnya dengan memeluk erat tubuh Densha. Mata gadis itu terlihat bergerak-gerak, seperti mengalami mimpi buruk.
Kenapa dia? Apa duyung bisa bermimpi? - Densha.
"Ng...." Gumam Fuu lirih.
Gadis itu tengah mengigau, tangan kanannya semakin erat menggenggam piyama yang di kenakan oleh Densha.
Nafas Fuu semakin cepat, ia mengernyitkan dahi seolah sedang begitu ketakutan. Merasa khawatir, Densha bangkit dari tidurnya, pria itu merasakan sedikit rasa nyeri di kedua tangannya. Perlahan ia menepuk pipi Fuu pelan agar gadis itu terbangun.
"Hei, Fuu..." Panggil Densha lembut.
Fuu masih belum terbangun, ia semakin larut dalam mimpinya sendiri. Nafasnya semakin memburu, gadis itu menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat.
"Ya Tuhan! Kenapa dengan gadis ini!" Gerutu Densha kesal.
"HEI BANGUN!!" Teriak Densha kencang.
BRAKKK!!!
Fuu menendang perut Densha keras, sampai pria itu terpelanting jauh hingga jatuh terlentang di atas lantai. Bagian punggungnya menabrak sisi bawah pintu kamarnya yang keras, membuat pria itu meringis kesakitan.
Fuu terbangun dari tidurnya, ia tengah mengatur nafasnya yang sedang terengah-engah. Gadis itu mencari keberadaan Densha di sampingnya namun tidak ada.
"Densha?? Kenapa tidur di bawah??"
Densha melotot memandangi Fuu, ia segera berdiri dan berjalan terbungkuk-bungkuk menuju ranjangnya.
"Tidur di bawah katamu?!! Kau yang menendang'ku sampai aku terlempar ke bawah sana" Densha menunjuk lantai tempatnya mendarat tadi.
"Fuu melakukan itu? Astaga! Maafkan Fuu... Fuu benar-benar minta maaf"
"Cih!!"
"Apa Densha baik-baik saja??" Fuu terlihat begitu panik.
"Baik bagaimana? Tanganku masih belum sembuh, dan sekarang kau tambah di bagian punggung!!" Gerutu Densha kesal.
"Maaf, akan Fuu ambilkan salep"
Fuu beranjak keluar kamar Densha, gadis itu mencari obat gosok yang pernah digunakan Densha saat ia mengalami rasa nyeri di bagian kakinya dulu.
"Biar Fuu yang oleskan" pinta Fuu senang.
"Tidak usah!! Aku bisa sendiri"
Densha merampas salep yang di bawa oleh Fuu, dengan muka kecut ia melepas kancing piyamanya satu persatu dan mengeluarkan isi salep ke ujung jarinya.
Pelan-pelan Densha meraih punggungnya yang terasa nyeri, pria itu sampai mengeluarkan urat di wajahnya karena tangannya tidak sampai ke tempat yang terasa sakit.
Sial!! Susah sekali - Densha.
Bukannya meraih bagian punggungnya yang terasa nyeri, ia (Densha) malah menggelinding ke samping alias jungkir balik ke samping karena memaksakan diri untuk mencapai bagian rasa sakit di punggungnya.
"Lho?? Densha!" Fuu yang terkejut langsung mendekati Densha, dan membantu pria itu duduk dengan benar.
Dengan wajah yang tersipu malu Densha menyerahkan salep itu pada Fuu, ia sama sekali tak menatap wajah Fuu saking malunya.
"Tolong ya?" Pinta Densha lembut.
"Tuh kan! Sudah Fuu katakan, biar Fuu saja!"
"Iya-iya... Cerewet sekali!"
"Apa itu cerewet?"
"Cerewet itu banyak bicara!" Jelas Densha.
Densha membungkukkan badannya agar Fuu lebih leluasa mengoleskan salep di punggungnya.
"Mana yang sakit? Apa yang ini?" Fuu menyentuh bagian atas punggung Densha.
"Sedikit ke bawah"
"Yang ini??"
"Agak ke tengah"
"Ini???"
"Itu ke bawah bodoh!! Aku bilang kan tengah"
"Oh... Maaf, yang ini??"
"Ya... Sedikit ke kanan"
"Mmm... Ini??"
"Ya Tuhan! Kanan Fuu, bukan kiri!!"
"Oke, baik! Yang ini kan??"
"Iya..."
Fuu mengambil salep dan mengoleskannya pada punggung pria itu pelan-pelan. Ia melakukannya dengan lembut dan baik, sesekali ia juga memijat punggung Densha yang terasa sakit.
"Oh iya... Jangan banyak-banyak ya?! Salep ini sedikit panas" ujar Densha lembut.
Fuu menghentikan aksinya menggosok punggung Densha, wajah gadis itu pucat pasi memandang salep yang ia pegang.
"Ada apa Fuu??" Densha menoleh ke arah Fuu yang terdiam.
"Fuu pikir semakin banyak obat yang di oles, maka akan semakin cepat sembuh" ucap Fuu polos.
Kenapa kau tidak mengirim'ku ke neraka saja?? - Densha.
Seketika batin Densha ingin sekali menangis, menangis sekencang-kencangnya meratapi nasib yang begitu indah ini.
"Kau mengoleskan seluruh isi salep itu ke punggungku?"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.
Hebat!! - Densha.
"Dasar gadis bodoh!! Kau tidak tahu betapa panasnya salep itu?! Cepat ambil tisu atau apapun itu dan bersihkan punggungku!!"
"Ah! Oke, baik!"
Fuu terburu-buru berlari ke dapur, ia mengambil baskom berisi air dan handuk kecil untuk membersihkan bagian punggung Densha yang telah ia beri salep mematikan itu.
"Tadi minta di beri salep! Setelah di beri malah di suruh membersihkannya! Terkadang Fuu suka bingung dengan pikiran manusia" gerutu Fuu kesal.
Fuu memasuki kamar Densha dengan wajah yang cemberut, gadis itu menatap Densha dengan dingin tapi tetap melakukan apa yang Densha perintahkan.
"Hapus semua salep yang sudah kau oleskan"
"Iya..." Fuu menghapus seluruh salep yang menempel dengan kasar.
Dasar manusia!! - Fuu.
Setelah semuanya selesai, Densha masih merasakan rasa panas yang menusuk-nusuk di punggungnya. Apalagi kamarnya menggunakan AC yang semakin membuatnya menggigil kedinginan. Tau sendiri kan?? Kalau habis pakai balsem terus kena AC, dingin-dingin gimana gitu!
Bersambung!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Share, Rating dan Vote ya?? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! 😘 Plisss... Jangan lupa Like!