Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 1)



PRANGG!!!


Piring besi berisikan potongan ikan mentah terlempar di depan kaki Fuu begitu saja. Siapa lagi kalau bukan Edmund pelakunya, ia terlalu takut untuk mendekati Fuu karena gadis itu sudah sadar saat ini.


"Makan itu! Kau binatang kan?? Aku tidak salah kan memperlakukanmu seperti ini??"


Mata Fuu menatap Edmund tajam, gadis itu tak merespon tindakan Edmund. Fuu menarik kedua kakinya lalu menempelkan keningnya pada lutut, berusaha menyembunyikan wajah cantiknya.


"Kenapa??" Edmund menyenggol bahu Fuu dengan tongkat panjang yang ada di ruangan itu. "Kau tidak suka? Memangnya apa makananmu??"


Fuu sama sekali tak bergeming dari posisinya. Ia terus menundukkan kepalanya, kedua tangannya mengepal kuat menahan kehinaan yang ia dapat hari ini.


"Hei!! Aku bicara padamu! Kau bisa bicara kan?? Katakan sesuatu" bentak Edmund kesal.


Tik!


"Hahahaha..." Katrina tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Edmund lembut.


"Kau ini seperti setan! Datang secara tiba-tiba, bikin aku kaget saja"


"Kau ini lucu sekali... Dia tidak akan mau makan" Katrina memandang Fuu dengan tatapan kasihan namun sebenarnya ia tak pernah merasakan kasihan pada Fuu.


"Kalau dia tidak makan, bagaimana kalau dia sakit??"


Wajah Katrina menjadi sebal dengan pertanyaan Edmund yang mengandung kepedulian pada Fuu. Ia mengambil piring makan Fuu dan menyerahkannya pada Edmund.


"Isi ini dengan ikan utuh! Dan ikan yang paling enak, tuna mungkin" usul Katrina senang.


"Tuna kan besar!! Aku tidak mungkin membelinya secara utuh!"


"Kalau begitu berikan dia potongan yang besar! Duyung itu binatang yang rakus"


Di bawah sana, wajah Fuu berlinangan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya agar suara tangisnya tak keluar, baru kali ini ia mendengar seseorang memanggilnya binatang selain profesor David dulu.


Fuu bukan binatang - Fuu.


"Hei, kalau kau tidak makan hari ini! Besok kau tidak akan bertemu Densha loh"


Mendengar Katrina menyebut nama Densha, Fuu langsung menengadahkan kepalanya menatap Katrina. Gadis berambut biru itu senang saat berhasil menarik perhatian Fuu.


Wah, ternyata kau masih polos ya?? Sama seperti dulu! - Katrina.


Katrina menganggukkan kepala mantap, ia berjalan mendekati Fuu dan berjongkok di depan gadis itu. Tentu saja saat ini Fuu berada di dalam kandang besi yang kemarin dibilang oleh Edmund. Bahkan kamera kecil sudah terpasang di sudut kandang itu.


"Benar Fuu! Besok mungkin kau akan bertemu Densha, kalau kau hari ini sakit! Kami berdua tidak akan bisa membawamu ke suatu tempat dimana Densha akan datang"


Suatu tempat yang ada Densha?? - Fuu.


"Kenapa kau jadi pendiam begitu?! Apa Edmund menyakiti bibirmu?"


Gadis duyung itu membuang muka, ia kembali menunduk untuk menyembunyikan wajahnya. Penampilannya saat ini begitu lusuh, dengan bekas luka di bagian kaki yang belum menghilang. Rambut semerawut karena tak di sisir, biasanya saat di rumah Densha yang akan menyisir rambutnya.


"Binatang bodoh! Kau ingin cepat mati ya??" Maki Katrina kesal.


Edmund datang dengan sepiring ikan tuna yang di potong cukup besar. Ia memberikan piring itu pada Katrina, saat tangan Katrina ingin membuka pintu kandang Fuu. Edmund menghentikannya dengan menggenggam pergelangan tangan Katrina.


"Ada apa??" Tanya Katrina bingung.


"Bagaimana kalau dia tiba-tiba menyerang?"


"Tidak akan! Dia tidak cukup kuat untuk melakukan itu, ayahnya memang seorang dewa tapi tak memberinya kekuatan lebih"


KLANG!!


(Pintu kandang terbuka)


Katrina meletakkan piring makan Fuu dengan hati-hati agar ikannya tak jatuh, Fuu tak memberi reaksi pada keberadaan Katrina di dalam kandang itu. Dengan cepat Katrina kembali menutup pintu kandang lalu menggemboknya.


"Bagaimana denganmu? Kau ini apa?? Saat bertemu pertama kali, aku selalu ingin menanyakan ini. Tapi tak sempat"


Edmund berjalan meninggalkan ruangan Fuu, ia mengajak Katrina dengan sorot matanya.


"Aku??" Katrina tersenyum kecut.


"Iya, apa kau juga keturunan dewa?"


"Tidak! Ibuku manusia biasa, dan ayahku seorang duyung"


Edmund melotot mendengar jawaban Katrina, ia menggelengkan kepala tak percaya. Dengan sigap ia mengajak Katrina untuk duduk bersama dan bicara.


"Jadi kau persilangan??"


"Keren!" Edmund memberikan satu jempolnya untuk Katrina. "Lalu dari mana kekuatan sihirmu itu?"


Katrina memajukan badannya, ia menatap mata Edmund lekat-lekat. Ada aura ketakutan di dalam diri Edmund yang membuat gadis itu tersenyum bahagia.


"Orang yang banyak tahu, akan lebih cepat tiada" gumam Katrina lirih.


"Apa?!"


"Hahaha, maaf! Aku memang di berkati dengan sebuah kutukan" Katrina kembali membenarkan posisi duduknya. "Namun, aku punya teman yang mau meminjamkan kekuatannya padaku"


"Teman?? Apa semua duyung bisa melakukan itu??"


"Tidak! Hanya keturunan Dewa saja yang mampu melakukan sihir"


"Kenapa Fuu tidak bisa??"


Katrina membuang muka sebal, ia menatap Edmund tajam. Lalu menghela nafas yang cukup panjang.


"Sudah ku bilang kan?? Ayahnya tak memberi dia kekuatan lebih" Katrina melotot menatap Edmund. "Saat ini bahkan ayahnya tidak bisa menolong dirinya, ayah Fuu harus menjalankan hukuman dari Poseidon"


"Ya Tuhan! Poseidon juga nyata?? Bagaimana rupanya?" Edmund mulai antusias dengan topik pembicaraan ini.


"Aku tidak tahu! Aku tak pernah bertemu dengannya"


"........" Wajah Edmund nampak kecewa.


"Sejujurnya aku sedang mencari dimana ayah Fuu terkurung, aku ingin membuat sebuah kesepakatan dengannya"


"Kesepakatan macam apa itu? Kau ingin bermain-main dengan dewa?" Ledek Edmund.


"Kenapa tidak??"


"Dengar ya?? Di era Yunani kuno, Poseidon pernah menghancurkan sebuah kota dengan tsunami yang super dahsyat karena ulah seorang manusia"


"Hahaha, itu kan dulu! Dan kebanyakan itu hanya dongeng" bantah Katrina tegas.


"Lalu?? Bagaimana dengan dirimu? Awalnya kau juga dongeng kan? Bahkan dari semua manusia di dunia ini tidak ada yang percaya bahwa duyung itu ada"


Katrina terdiam sejenak, apa yang dikatakan Edmund memang benar. Awalnya dia juga tidak ingin mempercayai keberadaan duyung, namun ternyata ayahnya adalah seorang duyung murni.


"Aku pernah membunuh seseorang..." Gumam Katrina lirih.


"Apa?!"


Tanpa sebab yang pasti Katrina membuka cerita pribadinya pada Edmund. Entah angin apa yang berhembus kepadanya hari ini, gadis itu menundukkan kepala dengan sedih seperti mengalami penyesalan yang begitu besar.


"Aku kesepian... Kedua orangtuaku mati, dan akulah penyebabnya"


Edmund mengangkat bahunya, ia menutup mulutnya sendiri. Sekarang ia punya alasan yang sangat kuat kenapa dirinya harus berhati-hati pada gadis bernama Katrina ini.


"Kekuatan ini tidak baik, Kraken tak pernah menjawab pertanyaan dariku! Jika aku menggunakannya secara berlebihan, maka aku harus membunuh seseorang untuk mengisi ulang kekuatanku" Katrina menghela nafas panjang. "Sekarang aku tahu... Kenapa Kraken selalu membunuh manusia, karena untuk memenuhi kekuatannya! Dan sekarang ia sedang beristirahat dan membiarkan aku yang melakukan semuanya"


"Jadi... Kau dimanfaatkan olehnya??"


"Hahaha, dari awal akulah yang memintanya. Mungkin ia melihat sisi buruk dalam diriku dengan bola sihirnya"


Bibir Katrina tertawa namun matanya berlinangan air mata, Edmund sampai tidak tahu sebenarnya apa yang sedang dirasakan gadis di depannya ini. Senang atau sedih?? Karena dia melakukan keduanya sekaligus.


"Apa itu alasanmu mencari keberadaan ayah Fuu??"


"Triton (ayah Fuu) mengetahui segalanya"


"Namanya Triton??" Edmund kembali tak percaya.


"Iya..."


"Wah, jika kalian bangsa duyung betulan ada! Berarti Vampir, werewolf dan lainnya juga pasti ada kan??"


Katrina menyeka air mata di kedua pipinya, ia tersenyum renyah menatap Edmund.


"Sebenarnya berapa umurmu?? Kau bertingkah seperti anak berumur sepuluh tahun" ledek Katrina sinis.


"Ah! Hahaha... Maaf, aku terlalu tertarik dengan dunia seperti itu? Andai saja betulan ada"


"Mungkin suatu saat akan ada! Hahaha, kau memberikan sebuah ide bagus untukku" Katrina nyengir memikirkan sebuah ide aneh di dalam kepalanya.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Komentar, Vote, Follow, Favorit dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏 Terima kasih...