
Di pagi hari yang berawan (sangat pagi, mungkin matahari belum terbit), seorang pria menenteng kantung plastik berisi delapan ekor ikan emas. Pria itu memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Di rasa tidak ada orang, ia menuangkan ikan-ikan itu ke dalam aquarium secara perlahan.
"Ck! Gara-gara Fuu aku harus melakukan hal macam ini!" Gerutu Densha kesal.
Merepotkan sekali!! - Densha.
"Awas saja kalau membuatku melakukan hal gila seperti ini lagi, akan aku hukum dia habis-habisan!!"
Hal gila yang di maksud Densha adalah datang ke sekolah pagi-pagi buta seperti seorang pencuri atau tukang contek PR teman, apalagi ia harus datang dengan membawa kantung plastik berisi ikan. Seumur hidupnya Densha belum pernah melakukan hal bodoh seperti itu.
Untuk hari ini Densha tidak berangkat bersama Fuu, menurutnya lebih bagus jika Fuu berangkat ke sekolah di jam biasanya. Bisa repot kalau dia harus membawa Fuu ke toko ikan, mungkin Fuu akan merengek dan meminta Densha membelikannya beberapa ekor ikan untuk dimakan.
"Kamu ngapain pagi-pagi disini?!"
Eh?? - Densha.
Densha menyembunyikan kantung plastik di balik punggungnya, ia tidak menyangka bahwa ada guru yang datang ke sekolah pagi-pagi buta.
"Anu, saya cuma..."
"Cuma apa?!"
"Ini! Ikan disini cantik-cantik! Hehe"
Guru itu bernama Edmund, Densha biasa memanggilnya Sir Edmund. Beliau adalah guru yang mengajar pelajaran biologi, bisa di bilang dia juga menyukai binatang. Dekorasi Aquarium di sekolah ini juga ia yang membuatnya.
"Kau suka ikan??"
Jika ikan itu Fuu aku memang suka sih?! - Densha.
"Ah! Iya... Saya suka melihat ikan-ikan di aquarium ini Sir"
"Wah, aku tidak menyangka ada murid di sekolah ini yang memahami diriku"
Dia ngomong apa sih?! - Densha.
"Hehehe"
"Tapi, sepertinya ada yang berubah!" Sir Edmund mendekati aquarium dan memperhatikan nya dengan seksama.
Masa sih ketahuan?? - Densha.
"Apa ikan-ikan disini memang seperti ini dari kemarin?!"
"Eh! Iya... Memang seperti itu ikan-ikannya, saya dari kemarin juga melihatnya kok" ucap Densha gugup, wajahnya penuh dengan keringat.
"Benarkah?!"
"Ng... Iya, saya yakin sekali!"
Gawat!! - Densha.
"Ya sudah! Baiklah!! Saya mau ke kantor dulu! Belajar yang rajin ya?!"
"Ba... Baik! Sir"
Densha mengambil langkah seribu dan berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu sebelum ada yang memberikan dia pertanyaan yang lain-lain. Pria itu melewati ruang kelas Mod, ia sedikit mengintip ke dalam namun kelas masih sangat sepi, akhirnya ia berjalan menyusuri lorong kelas dan beranjak ke kelasnya sendiri.
Sementara itu Fuu sudah bersiap untuk melakukan perjalanan ke sekolah, gadis itu sekarang sedang mengunci pintu rumah dan meletakkan kuncinya di bawah pot bunga seperti yang biasa Densha lakukan.
Krak! Kratak!
Suara ranting terinjak mengagetkan Fuu, ia menoleh ke arah sumber suara namun tidak ada siapapun disana. Fuu juga memeriksa halaman samping rumah tapi tidak menemukan seorang pun, sampai akhirnya Fuu merasakan ada seseorang yang sedang mengawasinya dari atas sebuah pohon di halaman rumah Densha.
Dengan cepat Fuu mengambil sebuah batu berukuran sedang, ia melempar batu itu dengan kekuatan yang ia miliki ke arah pohon besar tersebut, benar saja! Batu lemparan Fuu sepertinya mengenai seseorang.
Bruk!!
Seorang gadis bertubuh mungil jatuh terduduk dari atas pohon besar itu, umurnya sekitar lima belas tahun atau lebih tepatnya seumuran dengan Fuu. Wajahnya cantik, dengan mata berwarna biru. Sesaat Fuu tertegun dengan kecantikan yang dimiliki gadis itu walaupun sepertinya tidak asing bagi Fuu, namun semakin lama di lihat gadis itu benar-benar sedikit mirip seseorang yang Fuu kenal.
"Aduh!" Pekik gadis itu.
Siapa?! - Fuu.
"Kau siapa?! Kau gadis yang Fuu lihat malam itu kan?!"
Hah?! Aku ketahuan?! - batin gadis itu.
Gadis itu terburu-buru untuk berdiri, meski ia merasa sakit di kepalanya akibat batu yang di lempar oleh Fuu, ia tetap memaksakan diri untuk berlari. Langkahnya benar-benar kacau, ia berlari tunggang langgang entah menuju kemana.
"Eh?? Tunggu! Jangan lari!"
Fuu mengejar gadis itu, ia ingin tahu siapa sebenarnya gadis remaja itu. Dan kenapa ia selalu menguntit rumah Densha, bukan! Lebih tepatnya menguntit Densha dan Fuu setiap saat.
"Kenapa dia menuju ke tempat ini?!" Gumam Fuu pelan.
Yaaahh, benar! Saat ini Fuu dan si gadis berada di atas tebing. Tempat pertama kali Fuu dan Densha kencan atau lebih tepatnya tempat pertama kali Densha membawa Fuu pergi keluar jalan-jalan. Gadis cantik itu berdiri di ujung tebing sambil memegang dahinya yang berdarah akibat batu yang di lempar Fuu.
Hosh!
Hosh!
Hosh!
Hosh!
"Kau.. Kau siapa?" Tanya Fuu dengan nafas yang tidak beraturan.
Gadis itu memandangi Fuu dengan seksama lalu ia tersenyum. Senyumnya benar-benar mempesona walaupun terkesan dingin, matanya sungguh indah sampai membuat Fuu iri.
Mata Fuu memperhatikan gadis itu dengan seksama, perlahan gadis itu mendekati Fuu. Refleks saja Fuu memundurkan diri, mata Fuu bergetar memandangi wajahnya.
"Jangan takut! Aku tidak akan menyakitimu..." Ucap gadis itu lembut.
"Ja... Jangan dekat-dekat!!" Larang Fuu.
Warna kulitnya itu... - Fuu.
Pandangan Fuu bertemu dengan pandangan si gadis cantik itu, mata Fuu terbelalak saat gadis itu menyenandungkan sebuah nada yang sangat indah, nada yang menghipnotis otak manusia bahkan otak duyung sekalipun. Nada yang mampu menghilangkan ingatan seseorang, perlahan gadis itu menyentuh bahu Fuu dan mendekatkan wajahnya pada wajah Fuu, membuat mata Fuu semakin berat.
Nada ini?? Jadi dia itu.... - Fuu.
Brukk!!
Fuu jatuh pingsan, dengan sigap gadis itu menangkap tubuh Fuu dan membaringkannya pelan-pelan atau bisa dibilang dia sangat lembut memperlakukan Fuu. Nampaknya ia betul-betul tidak ingin menyakiti Fuu, lalu apa tujuannya menguntit kehidupan Fuu dan Densha?
Tangannya bergetar menyentuh dahi Fuu dan mengusapnya dengan lembut, mata gadis itu tampak sedih. Matanya berkaca-kaca menahan air mata yang sudah ia bendung selama ini, dengan ragu ia memeluk tubuh Fuu dengan erat, gadis itu melangkahkan kakinya ke ujung tebing, ia menatap Fuu yang masih belum sadarkan diri. Dengan senyum manisnya ia seperti mengatakan sesuatu.
"Maafkan aku..."
Hanya kalimat itu yang ia ucapkan sebelum ia melompat dari atas tebing menuju lautan luas di bawahnya.
Di bawah air tubuhnya meronta-ronta, sisik-sisik ikan bermunculan di sekujur tubuhnya. Kedua kaki gadis itu menyatu membentuk sebuah sirip, di bagian punggungnya muncul beberapa duri tajam yang entah datang darimana. Yang membedakan ia dengan Fuu adalah tidak adanya selaput tipis di kedua tangannya, tangannya nampak normal seperti manusia. Dengan cepat duyung itu berenang menjauh dari lokasi Fuu.
.
.
.
.
.
"Nona?? Anda tidak apa-apa?"
"....."
"Halo? Nona??"
"Ng..."
Fuu mengerjapkan matanya, ia terbangun dari pingsannya. Gadis cantik itu mengucek-ucek kedua kelopak matanya, ia menyipitkan matanya dan mengedarkan pandangan ke segala arah.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya seorang pemuda yang kebetulan melihat Fuu tertidur di atas tebing.
"Fuu tidak apa-apa, dimana gadis itu?"
"Gadis??"
"Apa tuan tidak melihatnya?"
"Satu-satunya gadis yang saya lihat disini hanyalah anda"
"Eh? Benarkah?"
"Benar, memang bagaimana ciri-cirinya?"
"Dia sangat cantik, matanya berwarna biru"
"Apa nona sedang membicarakan diri nona sendiri?!"
"Apa maksud tuan? Fuu tidak mengerti"
"Gadis cantik bermata biru, tidak kah itu nona sendiri?!"
Pria asing itu mengeluarkan ponselnya, ia membuka aplikasi kamera lalu menunjukkan wajah gadis di depannya itu dengan si pemilik wajah.
"Lihat??"
"....."
"Gadis cantik bermata biru?? Bukan kah itu anda?"
"Mata Fuu biru?? Kenapa Fuu baru menyadarinya??"
"Ck! Gadis aneh! Anda membuang waktu saya disini! Jika memang anda tidak apa-apa saya akan pergi"
"Ah! Terima kasih!!" Ucap Fuu ramah.
Pria asing itu meninggalkan Fuu seorang diri, karena ini sudah siang Fuu memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah. Gadis itu duduk di ujung tebing dan melamun menatap luasnya lautan di bawah tebing.
"Mata Fuu berwarna biru! Tapi Fuu yakin sekali matanya lebih biru dari Fuu... Dan matanya itu seperti mata milik Densha"
Fuu mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal. Kenapa yang ia ingat hanya ciri-ciri fisik gadis itu saja, kenapa ia tidak bisa mengetahui siapa sebenarnya gadis misterius itu. Bahkan Fuu tidak ingat bagaimana ceritanya ia bisa berada di atas tebing ini? Yang Fuu ingat hanya gadis itu mendekati Fuu perlahan lalu semuanya nampak gelap begitu saja.
"Kepala Fuu sakit sekali!"
Fuu memandang ke bawah tebing, di bawah sangat sepi jadi Fuu memutuskan untuk berenang hari ini, gadis itu memutar jalan untuk menuruni tebing. Ia melewati hutan taman kota untuk sampai di bawah tebing itu, Fuu benar-benar memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya. Di rasa aman Fuu melepas semua pakaiannya satu persatu, ia memasukkan baju-bajunya ke dalam tas sekolah miliknya.
Hari ini Fuu akan berenang sepuasnya - batin Fuu senang.
Gadis itu melompat ke dalam air dan berenang bebas bagai ikan yang sudah terlalu lama terkurung di dalam aquarium. Fuu berenang ke lautan terdalam untuk bertemu dengan teman-teman duyung nya.
Bersambung!!
Jika kalian menyukai Novel ini mohon dukungannya ya? Dengan cara klik Like, komentar, favorit, Vote dan juga rating! 😉 Bisa juga di share ke teman kalian 😘🙏 dukungan kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 🙏🙏