Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Moa dan Fuu (part 2)



"Apa-apa'an ini? Di kepala Fuu cuma ada Densha" gerutu Fuu kesal.


Fuu berguling-guling di kasur lantainya, ia memegang kepalanya dengan kuat bahkan ia menjambak-jambak gemas rambut indahnya itu.


"Aduh, aduh, aduh! Ada apa dengan kepala Fuu? Tidak terlihat tapi rasanya penuh!"


KRRIIEET!


Densha membuka pintu kamarnya perlahan-lahan, ia mengintip Fuu yang tengah berguling-guling tidak jelas, pria itu mengernyitkan dahinya bingung. Ia menduga bahwa Fuu sedang mengalami fase stress atau fase aneh yang hanya di pahami sesama duyung.


"Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa berguling-guling seperti itu?"


Densha memperhatikan Fuu dalam diamnya.


"Apa aku masuk saja ya?" Gumam Densha pelan. Pria itu melangkahkan kakinya ke dalam kamar dengan pelan, saat ini Fuu sedang tidak memperhatikannya, gadis itu tidak menyadari keberadaan Densha.


"Ingin Fuu copot saja kepala ini!" Fuu memegang kepalanya kuat-kuat. Mendengar kalimat Fuu barusan Densha terkejut bukan main, matanya melebar menatap Fuu yang membelakanginya.


Di.. di.. dia mau mencopot kepalanya? - Densha bergidik ngeri. Ia menghampiri Fuu lalu menarik kedua tangan Fuu ke atas.


"Eh???"


Karena terkejut, Fuu menengadahkan kepalanya menatap Densha yang saat ini berdiri di belakangnya.


"Densha.. itu kamu?"


"Ya"


"Ke.. kenapa mengangkat tangan Fuu??"


"Kau ini kenapa? Seperti orang frustasi saja!"


"Fru.. Fru apa?"


"Kau seperti orang stress"


"Apa itu?"


Densha melepaskan tangan Fuu, pria itu duduk di ranjangnya dengan santai dan menatap lurus ke arah Fuu.


"Aku tidak bisa menjelaskannya"


Apa duyung bisa stress ya? - Densha.


"Fuu juga bingung, Fuu melihat tapi sadar dan yang Fuu lihat tidak ada di depan Fuu"


"Kau memikirkan seseorang?"


"Memikirkan? Jadi itu namanya memikirkan? Bukan mengingat?"


"Bukan sih itu namanya melamun, siapa yang kau pikirkan?!"


"I.. itu.. itu.."


Berani-beraninya! Tinggal di rumahku tapi memikirkan orang lain!! - Densha.


Bagaimana ini? Apa Fuu harus memberitahu Densha, bahwa hanya Densha yang ada di dalam kepala Fuu? Tapi.. Densha menyukai Jennie - Fuu.


"Kenapa diam saja?"


"Eh?? Bukan.. bukan.. Fuu tidak memikirkan siapapun!"


Cih! Bahkan dia sudah pandai berbohong - Densha.


"Benarkah?"


"Iya.. benar!" Fuu menganggukan kepala namun matanya tidak menatap Densha sama sekali. Gadis ini tidak pandai menyembunyikan kebohongan.


"Ya sudah, terserah kau saja!" Jawab Densha ketus, wajahnya nampak masam sekali saat ini.


Ada apa denganku? Mendengar dia memikirkan orang lain, kenapa perasaanku buruk sekali! Aku memang menyukainya.. tapi kenapa begini? - Densha.


Densha berjalan menuju kamar mandi di kamarnya, pria itu larut dalam lamunannya. Ia memang menyukai gadis duyung itu, tapi dia tidak sadar bahwa perasaanya sudah jatuh terlalu dalam kepada Fuu.


Aku rasa aku butuh teman curhat, apa Moa bisa memberi solusi ya? - Densha.


.


.


.


.


Di perjalanan menuju sekolah..


"Huwaa.. aku bingung! Kenapa sih wanita itu sulit di mengerti??!!" Moa membenturkan kepalanya di tiang listrik persimpangan jalan.


Eh?? Padahal aku belum bicara apapun.. - Densha


"Kau kenapa Moa?"


"Aku butuh teman curhat! Apa kau bisa memberiku solusi?" Moa menatap Densha dengan penuh harap agar Pria itu mau mendengarkan ceritanya.


Astaga! Harusnya aku yang curhat, kenapa jadi dia? - Densha.


"Solusi apa?" Densha mengalah untuk mengutarakan apa yang ia pikirkan, pria itu menepuk bahu Moa agar sahabatnya itu sedikit tenang.


"A.. aku.. aku rasa.. aku.."


"Apa? Bicara dengan benar!"


"Itu.. aku.."


"Kalau kau seperti ini! Cari orang lain saja untuk mendengar ceritamu!!" Densha berjalan menjauhi Moa. Dengan sigap Moa menahan lengan Densha, membuat Densha menoleh ke arahnya.


"Kau ini kenapa sih?!" Densha menarik tangannya dengan paksa.


"Itu.. aku.. aku menyukai seorang gadis!"


BUG!!


Tinjuan keras dari Densha mendarat di perut Moa, membuat pria itu jatuh telentang ke belakang sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


"HEI!! KAU SUDAH TIDAK WARAS YA? MEMUKULKU SEKERAS ITU?!" Teriak Moa penuh emosi.


"Siapa yang kau sukai?"


Hii.. kenapa tatapannya dingin sekali.. entah kenapa aku jadi merinding - Moa.


"Tu.. tunggu! Kau pikir aku menyukai Fuu??"


Densha tidak menjawab pertanyaan dari Moa, pria itu hanya menatap Moa dengan tajam. Menunggu Moa memberikan jawabannya.


BUG!


"DASAR GILA?! MANA MUNGKIN AKU TEGA MENGKHIANATI TEMANKU SENDIRI HAH?!" Teriak Moa kesal, setelah melepaskan pukulan di pipi Densha.


"Begitu ya?" Densha memegangi pipinya, pria itu menundukkan kepalanya tanda bahwa ia meminta maaf pada Moa.


"Cih! Cemburu mu itu mengerikan tau!"


"Maafkan aku!"


"...."


Moa terdiam menatap Densha, ia mengelus perutnya pelan, masih ada sedikit rasa sakit disana.


"Jadi.. siapa dia?"


"Mod" Jawab Moa lantang, seketika mata Moa berubah sedih, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Moa kali ini tidak menjawabnya namun ia menganggukkan kepala dengan pelan, wajahnya perlahan memerah.


"Aku menyukainya.."


"Astaga! Kau serius??"


"Iya begitulah.." Moa tersenyum malu.


"Kapan kau akan mengatakannya?"


"Bagaimana mau mengatakannya? Sepertinya dia membenciku"


"Ha? Kenapa? Kenapa dia membencimu?"


"Kau tidak lihat tingkahnya? Dia seakan menjauhiku"


"Mungkin kau kurang melakukan pendekatan" Densha merangkul leher Moa, mengajak pria itu berbicara sambil berjalan agar mereka tidak terlambat ke sekolah.


"Pendekatan??"


"Ya, dekati dia perlahan.."


"Kau kan tahu, aku belum pernah berpacaran sebelum ini.." ucap Moa sedih.


"Kau benar! Aku juga tidak tahu sama sekali soal percintaan sebelum ini"


Sekalinya jatuh cinta, gadis yang aku cintai adalah duyung.. - Densha terdiam memikirkan masalah hatinya sendiri.


"Apa kau ada ide?"


"Sepertinya aku pernah melihat Fuu membaca sebuah buku, nanti sepulang sekolah mampirlah ke rumahku. Akan aku pinjamkan buku itu padamu"


"Buku apa?"


"Buku cara-cara membuat orang mencintaimu.."


"Haha, jadi Fuu menggunakan itu padamu? Dan itu berhasil??" Moa mengangkat sebelah alisnya untuk menggoda Densha.


"Dasar sinting! Mana mungkin hal seperti itu berhasil padaku.."


"Lalu, apa yang membuatmu menyukai Fuu?? Aku rasa dia bukan tipe gadis idealmu tuh!"


"Kau benar! Tapi aku menyukai segala hal tentang Fuu.."


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


"Kenapa? Ada yang salah?"


"Wah.. wah, pria dingin ini sekarang menghangat ya?" Ledek Moa, ia tertawa mendengar kalimat yang jarang muncul dari mulut Densha.


"Ya.. aku ini Es yang hangat, haha"


"Dih! Julukan macam apa itu?! Haha, oke.. nanti aku ke rumahmu!"


"Oke"


"Umm.. ngomong-ngomong dimana Fuu?" Tanya Moa yang celingak-celinguk mencari keberadaan Fuu.


"Tadi pagi, dia berangkat terlebih dahulu. Katanya tidak mau berangkat bersama denganku"


"Dan kau membiarkannya?"


"Ya.. begitulah!"


"Dasar bodoh!" Moa memukul kepala Densha dengan pelan.


Fuu.. siapa orang yang membuatmu bertingkah aneh seperti ini? - Densha.


***


"Eh! Fuu??? ada apa?" Mod terkejut dengan keberadaan Fuu di kelasnya pagi-pagi sekali.


"Mod, perasaan Fuu buruk!"


"Bu.. buruk? Kenapa?"


"Di dalam sini ada yang mengganggu" Fuu menunjuk ke bagian kepalanya. Membuat Mod menekuk dahi dan kebingungan


"Di dalam sana? Apa yang mengganggumu?"


"Densha.."


"Densha?! Apa yang pria itu lakukan padamu? Apa dia berbuat jahat padamu? Apa dia menyakitimu?" Mod memberikan banyak pertanyaan tanpa henti, membuat Fuu menatap Mod bingung.


"Tidak, Densha tidak pernah menyakiti Fuu.. hanya.. Fuu.. Fuu.." Fuu berbicara terbata-bata, ia memainkan kedua ujung jarinya sambil melirik ke arah lain.


"Ada apa Fuu? Katakan saja! Tidak apa-apa"


"Fuu ingin Densha menyukai Fuu, Ah! Um.. maksud, maksud Fuu adalah bagaimana cara Densha menyukai Fuu?"


Fuu.. kau sedang curhat?? Hehe, lama-lama kau makin terlihat seperti manusia pada umumnya.. - Mod.


"Hmm.." Mod melipat kedua tangannya, dengan satu tangan tetap memegang dagunya menandakan bahwa ia tengah berpikir.


"Kenapa tidak kau katakan saja padanya?"


"Fuu takut.."


"Kenapa takut? Kau kan cantik.."


"Densha dan Moa sepertinya menyukai Jennie" ucap Fuu sedih, gadis itu menundukkan kepala dengan sedih.


Jadi.. Moa benar-benar menyukai Jennie ya? - batin Mod sedih.


"Emm.. bagaimana kalau aku rubah gayamu? Maksudku berdandan lah sedikit saat ke sekolah"


"Merubah gaya Fuu? Maksud Mod bagaimana?"


"Pertama-tama kita rubah gaya rambutmu itu! Jangan terus-terusan di urai seperti itu!"


"Eh!! Ra.. Ra.. Rambut??" Fuu menyentuh rambut dengan kedua tangannya.


"Iya.. Sini! Aku kebetulan selalu membawa sisir saat ke sekolah!" Mod mengiring badan Fuu agar duduk di kursi.


"Ta.. ta.. tapi Mod.. Anu.. Densha.."


"Ssstt!! Diam saja! Kau tidak ingat Jennie selalu tampil trendy di sekolah walaupun wajahnya jelek begitu?" Mod memaki Fuu agar gadis duyung itu diam dan menurut saja.


"Apa itu trendy?"


"Ehm, Jennie itu pandai bergaya.. jadi kau harus tunjukan juga bahwa kau ini juga bisa bergaya! Jangan terlalu terpaku dengan gayamu yang ini-ini saja!" Mod mulai menyisir rambut Fuu, ia ingin menguncir rambut Fuu agar terlihat rapi dan cantik.


"Okay, baik"


"Nah.. akhirnya kau mengerti juga. Hehe"


Fuu menganggukkan kepala pelan, ia berfikir mungkin benar kata Mod bahwa ia harus merubah penampilannya agar tidak membuat orang yang memandangnya jadi bosan.


Fuu akan meniru Jennie.. - Fuu.


Setelah melakukan perubahan pada rambut Fuu yang indah, Mod memandangi Fuu dengan seksama dari depan gadis itu.


"Wah, kau cantik sekali.. kenapa tidak dari dulu rambutmu di kuncir begini?"


"Be.. benarkah? Apa Fuu cantik?"


Mod mengangguk dengan semangat, ia tersenyum dan memeluk Fuu. Mod sangat puas dengan hasil karya yang ia ciptakan pada rambut Fuu.


Bersambung