Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Hujan



"Ayo Fuu cepat!"


"Kenapa Densha buru-buru?"


"Kau tidak lihat warna langitnya!" Densha menarik tangan Fuu dengan paksa.


"Sakit! Lepaskan!!" Fuu berhenti berjalan, ia melepaskan tangannya dari genggaman Densha.


"Lihat? Ini sakit" Fuu menunjuk ke pergelangan tangannya yang saat ini memerah.


"Maaf.. Aku tidak tahu"


"Kenapa Densha berjalan sangat cepat?"


"Sepertinya akan turun hujan, aku ingin kita sudah sampai rumah saat hujan turun"


"Hujan ya?" Fuu memandang ke arah langit luas.


"Iya, maka dari itu ayo cepat pulang!"


"Okay, baik!" Fuu memeluk lengan Densha erat, membuat pria itu terperanjak kaget.


"Eh? Apa yang kau lakukan?"


"Kenapa? Fuu hanya memegang Densha"


"Ya.. tapi jangan begini. Kau membuat jantungku berdebar"


"Jantung Densha berdebar? Itu bagus kan? Tandanya Densha masih hidup"


"Ya Tuhan, ampunilah aku!" Densha menatap langit yang gelap. Ia berjalan beriringan dengan Fuu.


Tubuh Fuu hangat sekali - Densha.


Zrrassshh..


"Eh?"


"Astaga! Hujan!" Densha berlari menggandeng Fuu, ia memasuki gudang tua yang kosong di pinggir jalan. Rencana nya minggu depan gudang itu akan di hancurkan, banyak alat berat berjejer di sana.


"Hujan sederas ini kapan berhentinya?"


"Memangnya kenapa?"


"Ya.. kalau terlalu lama kita berdua bisa terjebak di sini sampai larut malam" wajah Densha terlihat cemas saat ini. Fuu melirik ke arah Densha, ia mencuri-curi pandangan Densha.


Menghentikan hujan ya? - Fuu.


"HAAATCCHII!! HAATTCHII!!"


"Densha kenapa?"


"Tidak apa-apa. Sepertinya aku terkena flu"


"Flu?"


"Ah! Jangan bertanya.. aku tidak ingin menjelaskan apapun padamu.. HAAATTCHHII!!"


"A.. ap.. apa yang harus Fuu lakukan?"


Densha duduk bersandar ke tembok, ia memejamkan matanya. Kepalanya saat ini sedang pusing, badannya menggigil kedinginan. Fuu kebingungan melihat Densha yang tiba-tiba lemas, nafas Densha saat ini terlihat berat.


"Fuu.." panggil Densha, pria itu tetap memejamkan matanya, suaranya terdengar parau.


"Apa?"


Tanpa menjawab pertanyaan Fuu, pria itu tidur di pangkuan Fuu, mata Fuu terbelalak melihat Densha yang tidur di pangkuannya. Suhu tubuh Densha panas sekali, gadis itu tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.


"Anu.. tubuh Densha kenapa sepanas ini?"


"Aku demam ya?" Pria itu tersenyum tipis.


"Demam? Apa ini namanya demam?" Fuu menyentuh dahi Densha dengan lembut. Pria itu menganggukkan kepala membenarkan pertanyaan Fuu.


"Tidur lah" Fuu mengusap lembut rambut Densha, pria itu memejamkan matanya. Tanpa pria itu sadari Fuu ikut memejamkan matanya, gadis itu sedang bersenandung, yaah.. nyanyian duyung, Fuu sedang melakukannya saat ini. Dahi gadis itu bersinar, mengeluarkan cahaya lembut, seperti sinar mentari pagi. Hujan yang deras perlahan memudar, awan-awan hitam itu pergi entah kemana seolah ingin menjauhi kota itu.


Sudah berhenti ya? - Fuu perlahan membuka matanya.


"Densha?"


"Hemm.."


"Tubuhnya masih demam, Fuu harus bagaimana?"


"Tunggu, sebentar saja. Tubuhmu hangat sekali" Densha mengucapkan itu tanpa sadar.


"Tapi hujannya sudah berhenti"


"Ng? Cepat sekali? Tadi kan sangat deras?" Densha membuka matanya menatap keluar, memandang langit malam yang nampak biasa saja. Seolah tidak pernah terjadi hujan sebelumnya.


"Bagaimana bisa begitu?" Densha menatap Fuu.


"Fuu berharap agar hujan berhenti"


"Apa maksudnya itu? Memangnya kau ini dewa? Haha"


"Apa Densha bisa berjalan pulang?"


"Tentu saja. Jangan khawatir"


"Biar Fuu bantu" Fuu berdiri, gadis mungil itu berusaha membantu Densha berjalan.


"Aku ingin segera istirahat!" Badan Densha benar-benar buruk saat ini.


"Ng.." Fuu menganggukkan kepalanya pelan, ia memapah Densha sampai ke rumah.


Fuu harus segera kembali ke laut - batin Fuu.


Kulit Fuu melepuh, banyak ruam merah di kakinya. Ini pertanda bahwa Fuu terlalu lama berada di daratan, ia harus kembali setidaknya beberapa jam menyelam di air. Gadis itu panik, bagaimana cara memberitahu Densha akan hal ini. Ia ingin pergi secara diam-diam, tapi kondisi Densha saat ini tidak memungkinkan untuk di tinggal sendirian.


Fuu harus bagaimana? - Fuu.


Sesampainya di rumah, Fuu membaringkan Densha di tempat tidur. Ia melepas jaket Densha dan menyelimuti Densha dengan selimut super tebal.


"Apa yang harus Fuu lakukan?"


"Ng?"


"Densha, beritahu Fuu"


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


"Kau tidak perlu melakukan apapun" Densha menggelengkan kepalanya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.


"Tapi.. Sepertinya Densha kesakitan?" Fuu mondar-mandir di kamar Densha, ia tidak tahu harus berbuat apa.


"Kemari lah!"


"Siapa? Fuu?" Tunjuk Fuu pada dirinya sendiri.


"Ya, siapa lagi! Di rumah ini kan hanya ada kau dan aku"


"Ada apa?" Fuu mendekat ke arah Densha.


"Sini, peluk aku!"


"Apa?!"


"Kau jangan berbuat apa-apa. Cukup peluk aku!" Perintah Densha tegas.


"Tapi.."


"Berisik!!" Densha menarik tubuh Fuu ke pelukannya, ia memeluk Fuu dengan erat di atas tempat tidurnya. Pria itu memejamkan matanya, berusaha untuk tidur.


"Densha ingin tidur?"


"Hemm"


"Seperti ini?"


"Hemm"


"Anu.. Fuu ingin.."


"Ingin apa?"


Bagaimana Fuu bisa pergi jika seperti ini? - Fuu.


"Eh.. anu.. tidak jadi" Fuu mengernyitkan dahi menahan sakit dan perih di sekujur tubuhnya.


"Fuu, peluk aku!"


"Eh?"


"Aku ingin kau memelukku"


"Se.. seperti ini?" Fuu memeluk Densha dengan canggung.


"Peluk saja sesukamu"


"Densha jadi sedikit aneh"


"Biarkan saja. Hanya malam ini.."


"Okay, baik"


Densha tersenyum senang melihat Fuu menuruti setiap katanya saat ia sedang sakit seperti ini.


Aku jadi ingin sakit setiap hari..


Eh?? Tidak-tidak!! Dasar pria bodoh!! Apa yang aku pikirkan sih?! - Densha.


Fuu memeriksa mata Densha, apakah pria ini benar-benar sudah tidur atau belum, di saat ia yakin bahwa Densha telah terlelap. Gadis ini perlahan melepaskan pelukannya dari Densha, ia mengendap pelan-pelan untuk keluar dari kamar pria itu.


"Fuu sudah tidak tahan lagi" gumam Fuu lirih.


Nafas Fuu semakin berat, gadis itu berjalan sempoyongan keluar rumah. Langkah kakinya membawa ia menuju pantai terdekat, pantai itu terletak di depan sekolah Densha.


Syukurlah.. akhirnya Fuu bisa sampai di sini - Fuu.


Tanpa basa-basi, ia melepas pakaiannya. Kali ini ia menyimpannya di balik pohon, percayalah gadis itu semakin hari semakin paham apa yang harus di lakukan nya, ia tidak bisa membiarkan Densha terus bertanya di mana bajunya. Kenapa selalu di temukan dalam keadaan telanjang, jadi kali ini ia akan meninggalkan bajunya di daratan. Setelah ia kembali ke darat, ia akan mengenakan pakaian yang sama agar pria itu tidak curiga.


Fuu menyelam kelautan luas, ia berenang kesana-kemari dengan cepatnya. Menyembuhkan beberapa luka di tubuhnya, ada beberapa duyung yang menyambutnya dan berenang ria bersama Fuu. Duyung adalah makhluk mitologi yang aktif di malam hari dan tidur di siang hari, jadi saat ini ada banyak duyung yang berenang dengan bebas menemani Fuu. Mereka tersenyum ramah melihat Fuu, bahkan para Merman (sebutan untuk duyung jantan/pria) menundukkan kepalanya saat berenang beriringan dengan gadis cantik itu. Di permukaan laut saat ini sedang turun hujan deras, hujan yang di kirim Fuu ke laut.


Untuk pertama kalinya kau menggunakannya?


Ng? A.. ada suara di kepala Fuu? - gadis itu celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri, memeriksa setiap duyung yang berenang bersamanya namun tidak ada yang bicara.


Kenapa kau terkejut, tidak kah kau menyadarinya?


Menyadari apa?


Lihat sekelilingmu saat ini!


Fuu mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Mendapati segerombol duyung yang berenang bersamanya, biasanya satu kelompok terdiri dari delapan sampai sepuluh ekor, tapi ini banyak sekali, dan anehnya mereka akur satu sama lain saat ini.


Apa yang terjadi?


Kau adalah putriku. Tidak ada yang mendapat berkat seperti dirimu.


Berkat? Tunggu.. maksud anda mengatur hujan?


Air..


Anda siapa? Kenapa hanya muncul suara di pikiran Fuu, dan kenapa baru sekarang?


Sudah ku katakan. Bahwa kau adalah putriku.


Fuu tidak mengerti. Jadi inikah yang di sebut ayah?


Semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik. Jika kau ingin bicara padaku, bernyanyi lah.. Aku akan datang padamu melalu suara pikiran.


Tunggu.. Jadi itu sebabnya Fuu di terima di setiap kelompok?


Benar. Mereka tunduk padamu.


Fuu, tidak ingin seperti ini.


Kau sudah terlahir seperti ini. Aku sudah berjanji pada ibumu, saat pertama kalinya kau menggunakan berkat dariku. Di saat itulah aku akan bicara padamu.


Fuu terdiam, ia memikirkan suara-suara yang muncul di kepalanya. Itu membuatnya bingung, gadis itu tidak tahu siapa dia yang berbicara padanya. Bahkan tanpa wujud.


Apa benar itu ayah Fuu? - Fuu.


"Iya nona?"


"Kau sudah mengurus semua berkas gadis itu?"


"Apa maksud nona adalah nona Fuu?"


"Tentu saja! Kau pikir siapa lagi gadis yang aku sebut"


"Maafkan saya nona.. Saya sudah mengurus semuanya, semua data palsu untuk nona Fuu" Sekertaris itu membungkukkan badan di depan Isabella.


"Bagus!" Isabella menyandarkan bahunya di kursi kantor.


"Tapi.. nona.."


"Apa? Katakan saja!"


"Apa nona Fuu bisa membaca? Karena setahu saya nona pernah bilang kalau nona Fuu belum pernah sekolah sebelumnya"


"ASTAGA!! AKU TIDAK MEMIKIRKAN HAL ITU!!" Teriak Isabella bangun dari duduknya.


Sekertaris refleks menutup kedua telinganya.


"Ehem! Maaf.. aku terkejut" wanita itu kembali duduk dengan anggun.


"Harusnya saya yang terkejut.." gumam Sekertaris lirih.


"Kau bilang apa?" Isabella menatap tajam sekertaris setianya.


"Ah.. haha, bukan apa-apa"


"Dasar!"


"Kapan nona akan menemui nona Fuu?"


"Aku ingin secepatnya, tapi besok aku ada rapat penting"


"Rapat soal pembatasan jumlah penangkapan ikan di laut?"


"Ya.. pabrik ku adalah satu-satunya yang terbesar di sini, mau tidak mau mereka akan menuruti keinginanku, lagipula aku pemegang saham terbesar di industri makanan laut"


"Kenapa nona melakukan itu?"


"Hanya untuk kebaikan sosial"


"Eh? Kebaikan sosial macam apa?"


"Kau tidak perlu tahu!" Ucap Isabella ketus.


Setidaknya aku bisa membantu mereka dengan ini, semoga bangsa Fuu tidak kesusahan dalam berburu makanan. - Isabella.


"Nona melamun?"


"Iya, maafkan aku. Ayo pulang!"


"Baik nona"


Sekertaris itu berjalan terlebih dahulu, ia membukakan pintu untuk Isabella. Dia juga yang akan mengantar Isabella sampai ke rumah, sekertaris ini merupakan orang kepercayaan keluarga Mikaelson dari jaman Derick memegang perusahaan.


(Di dalam mobil)


"Aku belum telpon Densha hari ini!"


"Kenapa tidak telpon sekarang saja?"


"Kau benar, tapi ini sudah malam sekali. Aku takut dia sudah tidur"


"Nona.. bolehkah saya menanyakan sesuatu?"


"Tanyakan saja!"


"Kenapa nona bisa sebaik ini dengan nona Fuu, kalian baru kenal di cafe itu kan? Maaf jika pertanyaan saya lancang, nona boleh memarahi saya" Sekertaris itu berkata dengan sangat hati-hati.


"Kami sudah kenal dari lama"


"Eh? Kenapa saya tidak tahu, saya sudah ikut keluarga nona juga dari lama"


"Dia baru datang setelah 15 tahun menghilang"


"Apa?!"


"Hei, jangan banyak bertanya! Yang terpenting majikan mu sekarang bukan hanya aku dan Densha, berbuat baiklah pada Fuu juga!!" Perintah Isabella tegas.


"Baik nona"


"Apa kau sudah makan? Aku lapar sekali.. aku baru makan lima kali seharian ini"


Makan sehari lima kali tapi masih berani bilang lapar sekali? Astaga.. Nona ini aneh sekali - Sekertaris menggeleng-gelengkan kepala pelan.


"Mm.. Nona mau makan apa?"


"Terserah, aku mau yang Nyom nyom nyom" Isabella mengecap lidahnya sendiri.


"Nyom nyom? Maaf itu makanan apa nona?" Tanya Sekertaris canggung.


"Aku tidak tahu, yang penting Nyom nyom nyom!!"


"Astaga.." gerutu sekertaris pelan, ia memperhatikan Isabella yang sedang memainkan handphonenya dari kaca spion.


Ya Tuhan! Apa kau tau jenis makanan apa itu? Ingin makan makanan yang nyom nyom nyom.. Sangat berbeda dengan Tuan Derick - Sekertaris.


"Telpon.. tidak.. telpon.. tidak.."


"Telpon saja nona"


Isabella melirik ke arah kursi depan mobil, menatap sekertaris nya dari belakang.


"Baiklah!"


Krring.. Kkriinggg... Kriiiinnggg..


"...."


"Eh? Sudah di angkat? Kenapa tidak ada suara?"


"...."


"Halo?"


"Ya?"


"Fuu? Itu kau?"


"Eh.. ada suara keluar dari benda kecil ini!!" Fuu terkejut, ia menjauhkan telinganya dari gagang telpon.


"Halo Fuu, kau dengar aku?"


"No.. nona.. nona Isabella??"


"Ya, ini aku"


"ASTAGA!! BAGAIMANA INI? BAGAIMANA NONA BISA TERJEBAK DI BENDA SEKECIL INI, APA YANG HARUS FUU LAKUKAN UNTUK MENYELAMATKAN NONA!!" Fuu panik, ia menangis terisak-isak..


"Huwaa.. Hiks.. Hiks.."


Ya Tuhan.. Telingaku! - Isabella menjauhkan ponsel dari telinganya.


Jadi ini yang di rasakan Densha saat aku memakinya melalui telepon!


"Fuu.. Tunggu dulu, jangan menangis"


"Nona.. apa nona baik-baik saja di sana? Fuu.. Fuu akan memanggil Densha" Fuu panik bukan main.


"HEI.. TIDAK PERLU!!" Isabella berteriak kesal.


Fiuhh.. Astaga! Aku baru mengenalnya dan sudah dibuat bingung, bagaimana kabar keponakanku yang setiap hari tinggal bersamanya ya? - Isabella.


"Hiks.. Hiks.. Hiks.."


"Begini Fuu, ini namanya telepon. Aku bisa menghubungimu melalui ini walau kita tidak bertemu"


"Telepon?"


Apa seperti yang ayah lakukan pada Fuu? Tapi Fuu tidak perlu benda ini saat berbicara dengan ayah.


"Iya, jadi tenanglah dan dengarkan aku dengan baik! Aku tidak terjebak di benda kecil yang kau maksudkan itu"


"Baik.." Fuu menghapus air matanya.


Hatinya benar-benar masih murni - Isabella.


"Nona.. ada apa?"


"Ah! Tidak, aku hanya ingin menelepon Densha saja, apa dia sudah tidur?"


"Densha tidur dari tadi.. badannya demam"


"Demam?"


"Iya.. Densha dan Fuu kehujanan saat jalan-jalan sore"


"Apa dia sudah minum obat?"


"Obat?"


"Ah! Maaf.. kau pasti tidak tahu, begini lakukan apa yang aku suruh padamu.."


"Okay, baik"


Isabella menjelaskan sesuatu kepada gadis itu, Fuu hanya menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti, walaupun sesekali ia selalu memberi pertanyaan pada Isabella.


"Apa kau bisa melakukannya?"


"Okay, baik"


"Bisa tidak?"


"Fuu akan berusaha!"


"Gadis pintar! Kalau begitu, tutup teleponnya. Dan tolong.. rawat Densha dengan benar!"


"Okay, baik"


Fuu menyalakan kompor, ia memasak air panas untuk mengompres Densha. Dia juga menyiapkan obat yang di jelaskan oleh Isabella padanya, gadis itu melakukan semuanya dengan benar walaupun membutuhkan waktu yang sedikit lama dari kebanyakan manusia pada umumnya.


Ia membawa mangkok berisi air hangat dan handuk kecil ke kamar Densha, tidak lupa dia juga membawa obat di saku piyamanya. Ia memasuki kamar Densha perlahan-lahan, pria itu masih tertidur dengan pulas. Wajahnya sangat tampan saat ia tertidur.


"Bagaimana ya?" Fuu bingung memegang handuk di tangannya.


"Mungkin begini" ia membasahi handuk dengan air hangat lalu memerasnya dan mengompres dahi Densha dengan lembut.


"Ng.." Densha membuka matanya perlahan.


"Eh.. Densha bangun? Mau minum obat?"


"Fuu.. itu kau?"


"Iya, ini Fuu"


"Apa yang kau lakukan?"


"Mengobati Densha" Fuu tersenyum ke arah Densha. Pria itu menyentuh dahinya yang sudah terkompres.


"Kau melakukan ini? Bagaimana bisa?"


"Nona Isabella yang mengajari Fuu"


"Apa?! Bibi? Apa dia datang kemari?"


"Tidak.. nona Isabella menghubungi Fuu lewat benda yang berbunyi kring kring"


"Telepon?"


"Iya, telepon"


"Kau mengangkat telepon?"


"Ya.. Fuu kira nona Isabella terjebak di dalam benda itu, Fuu sampai menangis. Hehe" gadis itu tersipu malu.


"Manis sekali.." Densha mengusap lembut kepala Fuu.


Bersambung.