Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Hari H (part.5)



"Ketiganya??"


Katrina mengernyitkan dahi bingung, matanya tajam menatap Ryn yang tiba-tiba muncul dan membuat dirinya tertempel pada layar proyektor saat ini.


Ryn mengangkat tangan sebelah kirinya mengarahkannya pada tubuh Katrina. Gadis bermata biru itu terus maju mendekati posisi Katrina di saat tubuh Katrina berhasil ia tahan dengan sihirnya.


*Siapa sebenarnya gadis brengs*k ini*? - Katrina.


Saat tubuh Ryn sudah semakin dekat dengan Katrina, ia memandang Mod yang sedang menangis lalu gadis itu mengarahkan pandangannya menatap ketiga orang dengan ikatan rantai di kursinya lalu beralih lagi menatap seorang pria tampan yang berdiri mematung akibat sihir Katrina.


Papa?? Apa yang sebenarnya terjadi di sini? - Ryn.


"Cih!" Katrina melepas ikatan sihir Ryn di tubuhnya.


BRUK!!


Katrina jatuh dengan keras ke bawah, ia menyentuh telapak tangannya yang terasa sakit. Rupanya berkat sihir dari Ryn, tubuh Katrina kehilangan sebagian kekuatannya sehingga ia bisa merasakan rasa sakit saat ini.


"Hah..." Katrina mendengus kesal. "Hahahaha"


Ryn memandang Katrina bingung, namun gadis itu sama sekali tak ingin mundur dari tempatnya saat ini.


"Ck! Sial! Jadi dia (Kraken) berbohong padaku?! Dia bilang kau Hybrid"


"......." Ryn terdiam menatap Katrina.


Dia?? Siapa yang di maksud dengan dia? - Ryn.


"Jadi... Kau adalah Tribrid??"


Perlahan Katrina mendekati tubuh Ryn, namun dengan cepat Ryn membuat barrier (mantra pelindung) untuk melindungi dirinya. Jadi Katrina tak akan mampu untuk mendekat lebih jauh lagi.


"Dan sialnya kau adalah Hybrid!" Sahut Ryn ketus.


Katrina mengarahkan sihirnya pada Mod melalui jari telunjuk miliknya. Ryn yang mengetahui hal itu segera bertindak untuk melindungi Mod, gadis itu memeluk Mod untuk menerima serangan sihir dari Katrina.


"Ryn..."


"Aku tidak apa-apa mama..." Ryn tersenyum walaupun merasakan rasa sakit di punggungnya. "Aku ini Tribrid yang kuat"


Sial! Sakit sekali... Dia kan bukan dewa, darimana kekuatannya ini?! - Ryn.


Ryn melompat tinggi dan mendarat tepat di belakang Katrina, gadis itu menendang kaki Katrina dan menindih tubuh Katrina.


"Darimana sihir gelap'mu ini?" Ryn menahan kedua tangan Katrina.


"Kenapa kau ingin sekali tahu?!"


Katrina mencengkr*m erat tangan Ryn, kuku panjangnya menembus kulit mulus milik Ryn membuat pergelangan tangannya berlumuran darah.


Tanpa di sadari oleh Ryn, hidung Katrina berkedut. Gadis dengan mata berwarna hitam legam itu tersenyum sumringah memandang wajah imut milik Ryn.


"Darah..." Bisik Katrina lirih.


"Apa?!" Ryn mengangkat sebelah alisnya.


"Darah yang ku inginkan" Katrina tertawa cekikikan. "Wangi sekali..."


Ryn menjauhkan tubuhnya dari Katrina, gadis itu melangkah mundur dengan cepat. Sekilas ia melirik ke arah Fuu yang menatap dirinya dengan serius.


Kenapa wajah Katrina begitu mengerikan? Dan kenapa dia jadi seperti itu begitu melihat darahku? - Ryn.


Ryn mengelap darah yang mengucur dari pergelangan tangannya dengan kaos yang saat ini ia kenakan. Mata Katrina terus fokus menatap darah segar milik Ryn, karena merasa khawatir dan takut Ryn menggunakan sihirnya untuk menerbangkan Katrina lalu membanting tubuh gadis itu ke bawah.


Hal itu tetap tak membuat Katrina kalah, ia masih mampu untuk bangkit. Katrina meraih tubuh Densha dengan sihirnya, membuat pria itu berdiri tepat di samping Katrina.


"Sekali lagi menyerangku akan ku buat dia tiada" ancam Katrina.


Densha melirik ke arah Katrina lalu memandang Ryn dengan pandangan bingung. Pria itu tidak bisa bergerak dan bicara saat ini, namun dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya ada apa sebenarnya ini?


"Jangan sakiti dia!" Pinta Ryn memelas.


"Hmm..." Katrina menyeringai.


TIK!!!


Merasa Ryn sedang lengah, Katrina menarik tubuh Ryn. Ia mengarahkan tubuh Ryn agar tertempel di layar proyektor dengan kuat.


BRAK!!


"Uhuk!" Ryn menyentuh lehernya sendiri, gadis itu sedang mencekik dirinya sendiri saat ini. "Hok! Uhuk!"


"Tribrid?? Bagaimana kau bisa dilahirkan?"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah seharusnya kau itu Hybrid? Kenapa kau mengaku sebagai Tribrid?"


"Aku memang... Uhuk! Tribrid" Ryn meronta-ronta berusaha melepaskan cekikan di lehernya.


Katrina terdiam, wajahnya tiba-tiba murung. Ia sedang berpikir keras saat ini. Dengan tetap mengarahkan tangannya pada Ryn, gadis berambut biru itu menatap Densha dan Fuu secara bergantian.


"Cih!" Katrina beralih menatap Ryn yang sudah kesusahan bernafas. "Jadi begitu ya?"


"......."


"Kenapa aku baru menyadarinya?"


"Uhuk... Uhuk..."


"Kau... Setengah manusia dari Densha, setengah duyung dari Fuu dan..." Katrina menatap mata Ryn tajam "Setengah dewa dari Triton"


Densha dan Fuu terkejut mendengar kalimat yang diucapkan oleh Katrina, dengan tubuh yang masih tersihir Densha memaksakan diri untuk memandang Ryn.


"Aku benar kan?" Katrina menghela nafas panjang. "DERYNE MIKAELSON?" Teriak Katrina lantang.


Dengan gemas ia membanting tubuh Ryn dan menghempaskan nya hingga jatuh tepat di bawah kaki Densha. Gadis itu terbatuk-batuk merasakan rasa sakit yang begitu parah pada lehernya.


Ryn menyentuh lehernya sendiri, ia menangis sambil menguatkan diri untuk menopang tubuhnya. Densha memandang Ryn yang sedang mencoba untuk berdiri di depannya.


"Hahaha... Deryne Mikaelson?! Putri dari Densha Mikaelson dan Fuu??"


Katrina tertawa terbahak-bahak, ia berjalan mendekati Ryn namun Ryn berhasil mendorong Katrina mundur dengan sedikit sihir yang ia miliki.


"Wah-wah, masih berani melawan ya?"


"Aku tidak akan pernah menyerah untuk melawanmu!"


"Berani sekali" Katrina tersenyum sinis.


Dia putriku? - Densha.


Kapan mereka menikah?? - Moa.


Di depan semua orang dua makhluk berbeda pilihan dan jalan hidup ini saling serang hingga mereka berdua sama-sama kehabisan energi untuk melawan.


Aku tidak bisa seperti ini terus!! Berapa manusia yang ada di tempat ini? - Ryn.


Mata Ryn menyapu seluruh manusia yang ada di festival hari ini, ia memejamkan kedua matanya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan nya dengan berat.


Bagaimana jika aku mati di tempat ini? - Ryn.


Ryn mengunci tubuh Katrina dengan sedikit sihirnya. Gadis itu berjalan menyeret kakinya yang sakit dan berdiri tepat di depan Fuu, matanya sedih melihat tubuh Fuu yang terikat rantai dengan erat.


"Mama..." Ryn menangis sesenggukan, ia memeluk Fuu lembut. "Aku menyayangimu" bisik Ryn.


Mata Fuu terbelalak kaget mendengar Ryn memanggilnya mama, pantas saja selama ini ia bingung makhluk jenis apa Ryn ini. Ternyata gadis itu memiliki tiga jenis darah berbeda di dalam tubuhnya.


"Ryn..." Ucap Fuu lirih.


Ryn membalik tubuhnya, ia berjalan dua langkah ke depan. Gadis itu melebarkan kedua tangannya, bibirnya bergetar membaca sebuah mantra. Tanpa ia sadari air mata mengalir deras di pipinya.


Papa... Mama... Aku sangat menyayangi kalian... - Ryn.


TAP!!


Ryn menepuk kedua tangannya menjadi satu, seluruh pengunjung Festival berjatuhan tak sadarkan diri. Bukan hanya pengunjung saja! Isabella, Moa, Densha, Fuu, Mod dan Katrina juga ikut jatuh pingsan.


Tubuh Ryn jatuh tersungkur ke depan, ia merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Gadis itu mencoba menahan tubuhnya dengan kedua tangannya berkali-kali namun berkali-kali juga ia jatuh.


"Hah... Hah..." Nafas Ryn tak beraturan. "Tubuhku melemah..."


Ayolah Ryn... Kau tidak boleh menyerah sampai disini! - Ryn.


____________________________________________


Entah bagaimana caranya Ryn mampu membawa seluruh anggota keluarganya ke kediaman Densha Mikaelson. Gadis itu merebahkan tubuh Fuu secara hati-hati dan mendekatkannya pada tubuh Densha.


"Kalian pasangan yang serasi"


Ryn tersenyum manis, ia mencium kening Fuu dan Densha secara bergantian. Gadis itu melirik Mod dan Moa kemudian juga mencium kening mereka.


"Tenang saja! Kalian juga tak kalah serasinya dengan mereka kok!" Puji Ryn senang.


Air mata di wajah Ryn belum mengering dan gadis itu menangis lagi memandang seluruh keluarganya saat ini.


"Sekarang... Kalian tidak akan mengingatku, aku tidak akan kembali lagi" ucap Ryn sedih.


"Kalian jangan khawatir" Ryn menyeka air mata di pipinya. "Aku juga sudah menghapus ingatan Katrina"


"Aku pergi ya??"


Ryn menutup pintu rumah Densha dengan hati-hati, gadis itu berjalan tertatih-tatih menuju pantai belakang hutan kota tempat biasa bagi Fuu untuk merubah wujudnya.


"Memang lebih baik aku tidak pernah datang ke tempat ini!" Ryn terisak, ia berjongkok memeluk lututnya sendiri.


"Harusnya aku mati saja dengan tenang! Dasar bodoh!! Aku malah menyusahkan mereka"


Ryn berjalan menuju air pantai, gadis cantik itu menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air untuk pergi ke suatu tempat yang ia sebut dengan rumah.


Bersambung!!


Minta tolong ya? Jangan lupa Like, Komentar, Vote, Rating, Follow dan Favorit kalau kalian suka! Biar aku tahu kalau kalian itu ada dan semakin membuat saya semangat melanjutkan cerita ini 😊🙏 Terima kasih...