Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Not a Bird!!



Sore hari tiba saatnya untuk seluruh siswa Phoenix High School untuk pulang ke rumah masing-masing, tiga orang siswa-siswi berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.


"Haahh... Akhirnya pulang juga!" Moa melipat kedua tangannya di belakang kepala.


Densha melirik sahabatnya itu dengan sinis, ia menghela nafas panjang dan membuang muka dengan kesal. Menyadari hal itu Fuu menggandeng jemari Densha dengan lembut, gadis itu tersenyum manis memandang Densha.


"Kau kenapa? Seharian tidak mengajakku bicara??" Moa menatap Densha serius.


"........."


"Dia kenapa?" Moa menyenggol bahu Fuu pelan. Gadis itu menatap Moa dengan tajam.


"Moa bodoh!"


"Hah???"


"Densha tadi pagi menunggu Moa di pertigaan jalan itu, kenapa Moa pergi ke sekolah duluan? Tahu tidak? Betapa sakitnya kaki Fuu menunggu Moa" Fuu mengacungkan jarinya di depan wajah Moa.


"Ya Tuhan! Maafkan aku... Aku lupa! Jadi dia marah padaku?"


"Fuu tidak tahu!"


"Coba kau tanyakan!!" Moa meminta Fuu untuk berbicara pada Densha.


"Okay, baik!"


Fuu menoleh pada Densha, ia tertawa cengengesan sebelum mengatakan kalimatnya.


"Densha??"


"Hmm??" Densha menjawab tanpa memperhatikan Fuu.


"Apa Densha marah pada Moa?"


"Siapa yang menyuruhmu bertanya seperti itu?"


"Moa" jawab Fuu singkat.


"Bilang padanya, jangan mengajakku bicara!"


"Ah! Okay, baik" secepat kilat Fuu memutar kepalanya menatap Moa.


"Kata Densha, jangan ajak Densha bicara"


"Dih! Betulan ngambek ya??" Gerutu Moa kesal.


"Bilang padanya... Aku minta maaf, aku lupa, aku tidak bermaksud untuk berangkat ke sekolah terlebih dahulu"


Dengan wajah kesal, Fuu beralih menatap Densha lagi. Fuu tahu tidak mungkin Densha dan Moa tidak saling dengar, karena posisi mereka saat ini berjalan beriringan dengan Fuu berada di bagian tengah antara Densha dan Moa.


"Kata Moa... Moa minta maaf, Moa lupa, Moa tidak bermaksud untuk berangkat ke sekolah terlebih dahulu"


Pria tampan itu menatap Fuu yang sedang cemberut, namun ia juga tidak bisa menutupi rasa kesalnya pada Moa. Bisa dibilang rasa kesal Densha pada Moa ini kekanak-kanakan sekali.


"Fuu..." Panggil Densha pelan.


"????"


"Bilang pada Moa, sudah aku katakan kan? Jangan mengajakku bicara!"


"Tidak! Bilang padanya kalau aku minta maaf" sahut Moa antusias.


"KALIAN BERDUA HENTIKAN!! FUU BUKAN BURUNG PENGANTAR PESAN!!" Teriak Fuu kesal.


Fuu berjalan mendahului Densha dan Moa, ia berbalik ke belakang menatap tajam kedua pria di belakangnya lalu menjulurkan lidahnya untuk meledek kedua pria itu.


"Apa-apa'an dia??" Moa mengernyitkan dahinya heran.


Seorang gadis dengan jaket yang super kebesaran berdiri di depan gerbang, ia menyenandungkan lagu-lagu populer yang pernah ia dengar. Gadis itu membuka matanya dengan lebar saat mengetahui Fuu lewat begitu saja di depan matanya. Seperti orang yang salah tingkah, ia buru-buru menutupi wajahnya dengan jaket yang ia kenakan.


Aduh! Gawat!! - Leah.


"Fuu!!" Panggil seorang gadis yang sedang berlari-lari mengejar Fuu.


"Mod??" Fuu menghentikan langkah kakinya tepat di depan Leah, ia menunggu Mod datang menghampirinya.


Mod?? Siapa?? - Leah.


Leah mengintip sedikit demi sedikit, memperhatikan kedua gadis di depannya, ia sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Tidak seharusnya Leah berada di posisi seperti ini.


"Mau menemaniku ke toko buku?" Ajak Mod senang.


"Toko buku?" Fuu mendelik bukan main, ia belum pernah ke toko buku sebelumnya.


"Iya... Ada buku yang ingin aku beli"


"Tapi... Densha? Fuu belum meminta ijin"


"Kau bisa mengajaknya" Mod tersenyum manis memandang Fuu.


Tanpa sengaja Mod salah fokus dengan gadis di samping mereka yang tengah menutupi wajahnya. Mod ingat betul bahwa ia pernah melihat jaket yang di kenakan oleh sang gadis, benar! Itu adalah jaket Hoodie milik Moa. Tanpa rasa segan Mod mendekati Leah yang tengah panik.


Ya Tuhan! Mati aku!! - Leah.


"Anu... Permisi!"


Ku jawab tidak ya?? - Leah.


"Permisi nona, aku bicara padamu"


Perlahan Leah membuka bagian jaket yang menutupi wajahnya, ia menurunkannya secara perlahan. Dengan rasa canggung ia cengar-cengir memandang Mod dan Fuu bergantian.


"Ah... Haha, maaf... Aku tadi kurang dengar" ucap Leah gugup.


"Oh, tidak apa-apa..."


"Kau?? Gadis bermata biru?" Fuu mendekatkan wajahnya pada gadis itu, Fuu menatap mata Leah dalam-dalam. Kali ini Fuu mencengkr*m erat kedua tangan Leah agar ia tidak bisa kabur.


Astaga! Bagaimana dia bisa mengenaliku?? - Leah.


"Mmm, tunggu Fuu! Kau mungkin salah paham. Tapi... Lihat matanya! Matanya berwarna madu tuh!" Mod memperhatikan mata Leah lekat-lekat.


"Eh???"


Fuu kembali memperhatikan kedua bola mata Leah, Mod benar! Mata Leah bukan berwarna biru. Mata milik Leah berwarna kuning keemasan seperti madu murni. Merasa malu, Fuu melepas genggaman tangannya pada Leah. Ia menunduk dan meminta maaf karena telah lancang.


"Tidak, tidak apa-apa!"


"Ehem! Aku tahu mungkin pertanyaan'ku sedikit kurang sopan, tapi apa kau kenal dengan Moa??" Mod bertanya dengan serius.


"Ah! Kenapa kau bertanya seperti itu?"


Tanpa menjawab pertanyaan Leah, Mod memegang jaket Hoodie yang di kenakan oleh Leah, jelas Mod ingat saat memilih baju di kamar Moa. Ia sangat menyukai jaket Hoodie milik Moa yang sekarang di kenakan oleh Leah. Ia (Mod) tahu bahwa mungkin gadis di depannya ini menganggapnya tidak waras karena bertanya hal aneh seperti itu, karena tidak mungkin kan pabrik hanya membuat satu.


Memang salah aku datang ke tempat ini... - Leah.


"Itu... Aku tidak mengenalnya kok" jawab Leah santai.


"Begitu ya? Maaf... Aku pikir kau mengenal Moa, duh! Hampir saja aku cemburu tak beralasan" Mod mengusap dadanya karena merasa lega.


"Oh... Leah?? Kenapa disini?" Tanya Moa yang entah dari kapan sudah berdiri di belakang Mod.


Raut wajah Mod berubah menjadi super kesal, ia memelototi Leah dengan tajam. Bahkan Mod juga memberi tatapan yang sama pada Moa, tapi sepertinya Moa tidak memperhatikannya.


"Kau berbohong!" kata Mod tegas.


"Ah... Itu... Aku... Hahaha"


"Ada apa sih? Dan kenapa warna mat... Uhm... Mmm"


Dengan sigap Leah menutup mulut Moa rapat-rapat dengan kedua tangannya, gadis itu menarik tubuh Moa agar menjauh dari teman-temannya. Sontak saja hal itu membuat Densha, Mod dan Fuu merasa terkejut dan penasaran menyaksikan tingkah Moa dan Leah.


Leah tersenyum tulus pada tiga teman Moa, ia meminta ijin untuk membawa Moa sebentar. Walaupun tidak ada yang memberi ijin padanya ia tetap membawa tubuh Moa menjauh dari ketiga temannya, tatapan Mod mengikuti mereka hingga mereka benar-benar menjauh.


"Cih! Kau punya saingan" ledek Densha ketus.


"Berisik!"


"Moa bilang nama gadis itu Leah loh..." Ujar Fuu ikutan bicara.


"Kami juga dengar Fuu, tidak usah di beritahu" jawab Densha kesal.


"Apa kalian pernah bertemu dengannya?? Siapa gadis itu?" Mod memandang Densha dengan penuh pertanyaan yang terpancar dari wajahnya.


"Jangan menatapku begitu, aku tidak tahu sama sekali"


Merasa sudah jauh dari ketiga manusia tadi, Leah membuka tangannya yang menutup mulut Moa. Wajah Moa memerah karena kesusahan bernafas, ia terengah-engah dan mengusap dadanya sendiri perlahan.


"Kau ingin membunuhku??"


"Ah! Maaf... Aku tidak bermaksud menyakitimu"


"Kenapa kau menjauhkan aku dari mereka?"


"Kalau tidak ku jauhkan akan jadi masalah"


"Masalah??? Masalah apa??"


"Kau lah masalahku, kau hampir bertanya mengenai warna mataku kan?"


"Ah! Hampir lupa! Kenapa dengan matamu? Apa di malam hari matamu berwarna biru dan di siang hari berwarna madu?"


"Ini kontak lensa hehehe"


"Apa? Kenapa kau memakai lensa?" Moa mengangkat sebelah alisnya curiga.


"Saat di rumah akan aku ceritakan, tapi... Tolong jangan bilang pada teman-teman'mu jika aku memiliki mata berwarna biru, dan jika akulah orang yang selama ini menghapus ingatan mereka"


"Astaga! Aku lupa... Densha dan Fuu juga korban'mu kan?"


"Maka dari itu, mau kan?? Ya kan?"


"Baiklah... Tapi, apa Fuu tidak curiga padamu? Apa dia tidak mengenalimu?"


"Mmm..."


"Maksudku, apa Fuu belum menyadari bahwa kau Hybrid??"


"Aku rasa dia sedang bingung, hehe"


"Bingung?? Oke, aku tidak paham. Bisa kau jelaskan??"


"Nanti kau juga akan tahu, ayo temui temanmu" Leah menggandeng tangan Moa lembut.


"Hei, apa yang harus aku jelaskan pada mereka??"


"Ku serahkan semua pada Moa, aku yakin kalau Moa akan selalu melindungi'ku" Leah tersenyum menatap Moa.


"Dasar tidak waras!! Kau harus berhati-hati dengan kalimat'mu itu!" Sindir Moa ketus.


"Hahaha, okay baik!"


Moa dan Leah menghampiri Densha, Fuu dan Mod yang menunggu mereka di depan gerbang sekolah. Dengan wajah yang bingung, Moa melirik ke arah mereka secara bergantian.


"Sudahlah! Tidak ada gunanya aku disini... Ayo Fuu kita pulang!" Densha menarik tangan Fuu kasar.


Cih! Tidak ada gunanya tapi tetap mau menunggu, hihihi - Leah.


"Hei bro! Aku minta maaf... Aku sungguh tidak bermaksud meninggalkanmu, aku benar-benar lupa karena semalaman aku tidak bisa tidur. Dan ini..." Moa melirik pada Leah yang tersenyum lebar memandang teman-teman Moa.


"Apa? Kau ingin menjelaskan apa?" Densha menunggu jawaban Moa.


Mod sama sekali tidak menatap Moa ataupun Leah, ia sungguh kesal lebih tepatnya cemburu setengah mati dengan gadis itu. Bisa-bisanya ia menggandeng tangan pria yang di sukai Mod.


Aku rasa dia cemburu - Leah.


Paham akan situasinya, Leah melepas genggaman tangannya pada Moa. Walaupun sebenarnya Leah suka bergandengan tangan dengan Moa, tapi ia tidak ingin membuat Mod jadi salah paham.


"Ini Leah, dia... dia... Emmm..."


"Moa, jangan membuatku kesal!" Densha sungguh tidak menyukai situasi ini, ia kecewa pada Moa. Bukankah Moa yang dulu bilang padanya bahwa ia sangat menyukai Mod, tapi kenapa bersama gadis lain.


Mata Fuu tertuju lurus pada Leah, seperti dugaan Leah, gadis itu (Fuu) bingung dengan identitas Leah yang sesungguhnya, ia ingin mengatakannya namun ragu dengan kesimpulannya sendiri.


Duyung?? Manusia?? Hybrid?? Sebenarnya dia itu apa?? - Fuu.


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Rating dan Vote ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘