
Teng!
Teng!
Teng!
Bel pulang sekolah berbunyi, gadis berkulit kuning langsat tengah menunggu seseorang di depan gerbang sekolah. Ia menatapi jam tangan miliknya, sambil memperhatikan setiap murid yang berlalu lalang melewatinya.
"Mod?" Sapa Fuu lembut.
"Oh, hai Fuu..."
Mod tersenyum ceria dan melambaikan tangannya pada Fuu, ia memandang ke belakang Fuu, tidak ada Densha dan Moa disana.
"Dimana mereka??"
"Mereka?"
"Maksudku, dimana Densha dan Moa?"
"Hari ini Densha dan Moa harus membersihkan ruang kelas terlebih dahulu"
Hari ini jadwal mereka piket ya? - Mod.
"Baiklah, kita tunggu saja!" Ucap Mod kemudian.
"Eh?? Kenapa? Densha bilang Fuu boleh pulang terlebih dahulu kok"
"Tidak, tidak, tidak. Jangan pulang dulu, aku ingin mentraktir kalian"
"Mentraktir??"
"Aku ingin mengajak kalian makan di luar"
"Kenapa?"
"Umm... Pagi tadi..." Mod mengetuk-ngetuk pipinya dengan imut.
(FLASHBACK ON)
Pagi hari di rumah Mod, tuan Roosevelt sedang memasak sarapan untuk putri kesayangannya. Laki-laki itu senyum-senyum sendiri memperhatikan putrinya yang sedang memainkan ponselnya.
"Mod??"
"Ada apa ayah? Apa ayah perlu bantuan??"
"Kemari sebentar!" Tuan Roosevelt menjentikkan jarinya, agar Mod datang menghampirinya.
"Ada apa ayah??" Tanya Mod heran sambil berjalan mendekati ayahnya.
Ayah Mod mengambil beberapa lembar uang dari dalam dompetnya, ia memberikan uang itu pada Mod.
"Uang apa ini??"
"Ajak temanmu makan di luar ya?"
"Kenapa? Dan darimana uang ini?" Mod berusaha menolak uang pemberian ayahnya.
"Tentu saja! Uang hasil kerja ayah... Waktu itu kan ayah belum sempat gajian dan harus menginap di rumah sakit, jadi saat kemarin ayah mulai masuk kerja. Bos ayah memberi gaji dan uang santunan yang cukup banyak" jawab Tuan Roosevelt lalu tersenyum.
"Tidak, bukankah lebih baik di tabung?"
"Temanmu baik sekali pada ayah, apalagi dia yang menyarankan untuk melakukan pengobatan herbal. Berkat dirinya ayah bisa sembuh"
"Mmm... Tapi ayah..."
"Sudah! Jangan khawatirkan keuangan ayah, ini permintaan ayah. Traktir temanmu makan di luar ya? Bilang saja untuk merayakan kesembuhan ayah"
"Baik ayah..." Jawab Mod pelan, gadis itu mau tidak mau harus menuruti perintah sang ayah.
"Oh iya, kemarin dokter yang memeriksa ayah terkejut loh dengan kesembuhan ayah yang terhitung sangat cepat!"
"APA?! AYAH PERGI KE DOKTER??" Teriak Mod terkejut.
"Ayah hanya melakukan tes kesehatan, dan ayah tidak menderita penyakit apapun!" Ucap ayah Mod sumringah.
"Bukankah aku bilang ayah tidak perlu ke sana lagi??"
"Bagaimanapun juga ayah harus memastikan kesehatan ayah kan??"
"Ck! Ayah menyebalkan!!"
Mod mengambil tas sekolahnya dan menutup pintu rumah dengan keras, gadis itu sedikit marah dengan ayahnya yang keras kepala.
Masa menuruti kemauanku untuk tidak pergi ke rumah sakit saja tidak bisa?! His.. ayah bodoh!! - Mod.
(FLASHBACK END)
"APA? AYAH MU PERGI KE RUMAH SAKIT??" Teriak Densha marah.
"Maafkan aku, aku pikir ayah tidak akan melakukannya"
"Sekarang bagaimana? Jika terjadi sesuatu pada Fuu, aku tidak akan pernah memaafkanmu!!" Ancam Densha kesal.
"Sepertinya dokter itu yakin, bahwa ayah menjalani terapi herbal"
"Lalu bagaimana jika dokter itu bertanya-tanya lebih dalam lagi?? Nyawa Fuu bisa terancam loh!"
"Iya aku tahu! Maafkan aku!!" Sahut Mod kesal.
"Hei, sudah-sudah... Kita berharap yang terbaik saja! Lagipula ayah Mod tidak tahu kan itu herbal apa?? Mod tinggal berbohong saja mengenai bahan-bahannya" ujar Moa berusaha menengahi masalah.
"Cih! Menyebalkan!!" Densha membuang muka ke arah lain, ia melirik Fuu yang sedang berada di sampingnya. Wajah Fuu nampak begitu tenang.
Kenapa kau bisa setenang itu?? Apa kau tidak takut hah?! Kau tidak ingat hal yang menimpa kedua orangtuaku?? - Densha.
Fuu yang tahu bahwa Densha sedang memperhatikannya langsung menggenggam tangan Densha dengan erat, gadis itu tersenyum tulus memandang Densha.
"Semua akan baik-baik saja! Fuu yakin itu" ucap Fuu lalu tertawa riang.
"Aku hanya khawatir..."
"Densha tidak perlu cemas, selama Densha hidup Fuu juga akan hidup, jadi tetaplah hidup untuk Fuu"
WTF!! - batin Moa dan Mod serempak.
"Dasar bodoh!! Jangan mengatakan hal ngawur seperti itu!!" Wajah Densha memerah, ia mencubit kedua pipi Fuu dengan gemas. Sesekali pria itu curi-curi pandang ke arah Moa dan Mod.
"Mereka manis ya??" Mod menyenggol siku Moa dengan sikunya.
"Memang mereka sebongkah gula? Kau bilang manis!" Ledek Moa, sebetulnya Moa iri dengan kedekatan Densha dan Fuu.
"Kau ini kenapa sih?" Gerutu Mod kesal lalu menggandeng tangan Moa.
"Ayo jalan!" Pinta Mod pada mereka bertiga.
Eh?? Mod menggandeng tanganku?? - Moa.
"Kita mau kemana??"
"Kalian maunya ke restoran mana??"
"Fuu kemanapun suka"
Densha mencoba memikirkan tempat yang cocok bagi semua orang, di lain sisi Fuu tidak bisa makan sembarangan. Ia hanya bisa makan daging dan ikan.
"Kita makan Yakiniku saja!" Ceplos Densha senang.
"Yakiniku??" Moa melirik sahabatnya yang langsung di jawab Densha dengan anggukkan kepala.
"Baiklah!! Ayo makan daging sepuasnya" seru Mod senang.
"Densha??"
"Hmm??"
"Apa itu Yakiniku??" Tanya Fuu polos.
"Ng... Sejenis daging yang di panggang! Bisa di bilang barbeque sih"
"Daging?? Wah Fuu suka!"
Aku memang mencarikan tempat yang cocok untukmu! - Densha.
Mereka berempat berjalan menuju restoran Yakiniku, tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Dengan memakai seragam sekolah mereka memasuki restoran tersebut.
"Wah! Gilak... Tampan sekali" bisik seorang gadis yang memperhatikan Densha dari jauh.
"Hei, kau tidak lihat di sampingnya ada anak perempuan loh"
"Wah iya... Apa mereka pacaran?? Sempurna banget! Tampan dan cantik" puji seorang gadis lagi.
"Tapi, kenapa yang perempuan terlihat kekanak-kanakan ya??"
"Mungkin memang lebih muda yang perempuan!" Bisik gadis itu lagi.
Densha berusaha menutupi wajahnya dengan terus menunduk saat melewati meja-meja orang lain, Moa yang melihat kejadian itu hanya terkekeh merasa ada hiburan gratis di depan matanya.
"Ayo Fuu! Duduk disini!" Mod menarik lengan Fuu agar gadis itu duduk di sampingnya.
"Okay, baik!"
"Hei, kau sudah pesan??" Tanya Moa.
"Belum, sebentar lagi pasti kakak pelayannya kemari"
Tring!
Kakak pelayan yang masih muda sama seperti mereka memasuki ruangan mereka dengan anggun. Ia membawa satu ceret minuman gratis yang memang harus dibagikan pada pembeli yang berkelompok. Pelayan itu meletakkan ceret besar dengan hati-hati di meja.
"Jadi pesan apa??" Tanya nya ramah.
"Mmm..." Moa membolak-balikkan buku menu untuk memilih makanan.
"Fuu apa saja! Yang penting enak, hehe" ucap Fuu senang.
"Densha mau apa?" Tanya Mod yang menatap Densha.
"Apa saja! Kau kan yang traktir, jadi sesuaikan dengan kondisi keuanganmu"
"Dasar tidak waras!! Jangan bahas uang dong! Bikin malu saja" gerutu Mod kesal.
Sifatnya itu tidak tahu situasi banget ya? - Mod.
"Begini kakak, kami mau pesan...."
"Iya??"
"Iga sapi dua porsi, daging penuh lemak dua porsi, daging tanpa lemak tiga porsi, kau juga menyediakan sate tusuk kan??"
"Benar kakak, apa kakak juga ingin?"
"Boleh, sate cuminya sepuluh tusuk ya?? Dan dimsum nya lima kotak"
"Baik! Mohon di tunggu ya??" Pelayan itu mencatat semua menu yang di pesan Mod lalu pergi meninggalkan meja mereka.
"Kau sinting ya?" Ledek Densha.
"Apa?" Jawab Mod sewot, ia menutup buku menu dengan kasar lalu meletakkannya di bawah meja.
"Pesan makanan sebanyak itu? Memangnya kau sanggup?"
"Karena kau kan aku jadi begitu! Gara-gara kau meremehkan uangku!"
"Cih!"
"Densha benar, saat bersamaku kau bahkan susah sekali makan es krim karena takut gendut" sindir Moa halus.
"Berisik!! Kalian berdua minta di hajar ya?? Duduk tenang dan makan saja!"
"Fuu sanggup makan semuanya jika itu enak" celetuk Fuu senang.
"Dih! Nona rakus!!" Ledek Moa ketus.
Duk!
Densha menyenggol bahu Moa di sampingnya, pria itu menatap Moa dengan dingin.
Apa?? Aku kan hanya bilang rakus!! - Moa.
Bersambung!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jika kalian menyukai novel ini. Tolong Like, komentar, follow, favorit dan rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘