
"Densha kenapa??" Fuu berlutut di depan pria yang ia sukai. "Kenapa menekuk wajah seperti itu?"
Mata tajam Densha seakan mengiris setiap inci tubuh Fuu. Lalu dengan sekejap ia memalingkan wajahnya secara angkuh.
"Eh?? Tidak mau melihat Fuu??"
"........"
"Kenapa membuat wajah seperti itu?"
"Berisik!!" Ledek Densha kesal.
"Hari ini kan libur, ayo kita pergi! Fuu bosan di rumah. Apalagi Densha membuat wajah begitu!"
"Wajah ini tercipta juga karena kau tahu!!"
Fuu memasang wajah cemberut, ia tak terima di salahkan oleh Densha. Gadis itu lantas berdiri dan mengambil sikap tegas di depan Densha.
"Memangnya apa salah Fuu??" Bertanya dengan serius.
"Seriusan kau tidak tahu apa salahmu??"
"Iya" Fuu mengangguk-anggukan kepala dengan cepat.
"Kau tidak ingat kemarin kau ngapain di depan Moa??"
"Memangnya Fuu melakukan apa??"
"Duh! Sumpah deh anak ini!!" Densha menepuk kedua pipinya keras.
Fuu mengingat-ingat kembali kejadian yang sudah terjadi kemarin, saat ia selesai me-refresh seluruh sistem tubuhnya di dalam laut.
👉 FLASHBACK ON 👈
Srak!
Srak!
Srak!
"Hei, kau dengar itu?" Moa menepuk punggung Densha dengan keras.
"Apa?! Aku cuma bisa dengar bunyi ombak"
"Wah! Orang kaya macam apa kau ini?! Kau tidak akan jatuh miskin kalau cuma beli korek kuping!" Moa mencibir Densha dengan penuh semangat.
Tidak ingin menjawab ocehan Moa, Densha hanya menatap Moa dengan sudut ekor matanya saja. Ia lantas berpaling dari Moa.
"Sekarang pura-pura tidak dengar ya?"
"BERISIK!! KAU SEBENARNYA INGIN BICARA APA?! CEPAT KATAKAN!!" Densha berteriak dengan keras, membuat Moa melompat kaget dari duduknya.
"Kaget tahu!!!" Moa memukul lengan Densha pelan. "Itu... Aku dengar bunyi aneh disana!"
Moa menunjuk ke arah sumber suara, Densha mengikuti jari telunjuk Moa dan menatap ke arah yang ditunjukkan, namun tak ada apapun disana.
"Tidak ada apa-apa"
"Aku serius! Di balik batu itu"
"Haah..." Densha menghela nafas sebelum akhirnya berdiri. "Ayo!"
"Eh? Kemana??"
"Kemana lagi?! Ayo kita cek"
"Tidak mau! Bagaimana kalau itu Katrina??!" Moa meraih tangan kiri Densha untuk menahan sahabatnya agar tak pergi.
Rupanya, Moa masih mengalami trauma yang cukup berat akan kekuatan Katrina. Bukannya ia tak berani, hanya saja ia (Moa) merasakan bahwa Katrina yang sekarang mungkin mampu membunuh siapa saja tanpa merasakan kesedihan.
"Dan bagaimana kalau itu bukan?"
Densha melepas tangan Moa yang memegangnya dengan paksa. Pria tampan itu melangkahkan kakinya untuk memeriksa siapa yang sedang bersembunyi di balik bebatuan pantai.
"Hei aku ikut!" Moa bersembunyi di belakang tubuh Densha.
Sesampainya di bebatuan, mereka mencoba mengintip dari sela-sela bebatuan namun tak nampak apapun. Akhirnya mereka berdua memberanikan diri untuk melihatnya secara jelas.
"Aaakkkhhh..." Teriak Moa kencang sambil menunjuk-nunjuk apa yang ia lihat.
"Jangan berteriak!!" Dengan sigap Densha menutup mulut Moa rapat-rapat.
Moa menepuk-nepuk kedua tangan Densha, ia setengah mendelik pada Densha. Pria berambut pirang itu tak mampu bernafas saat Densha menutup bibir beserta hidungnya sekaligus.
Perlahan Densha melepas kedua tangannya dari wajah Moa. Matanya masih lurus menatap ke depan, ia memicingkan matanya untuk melihat sesuatu di depannya.
"Mau membunuhku ya?" Bisik Moa pelan yang hanya di jawab Densha dengan lirikan mata.
"Ma... Mayat?? Itu mayat kan??" Moa menunjuk tubuh seorang gadis yang tergeletak begitu saja di balik bebatuan.
"Sepertinya bukan! Coba sana kau cek, ada nafasnya tidak?"
"Hah? Aku??"
"Iya! Tidak dengar ya??" Densha menyenggol bahu Moa pelan.
"Kau pikir aku tidak waras sampai harus menurutimu mengecek tubuh orang mati?"
"Hei, dia belum tentu mati" bantah Densha.
Tubuh gadis itu dipenuhi rerumputan dan akar-akar pohon, wajahnya tak terlihat dari jauh karena ia tidak sedang menghadap pada mereka berdua.
"Tunggu! Bukankah itu Fuu??" Ujar Densha senang.
"Fuu??" Moa memicingkan kedua matanya untuk menatap si gadis dengan jelas. "Tidak kelihatan sih!"
"Kau tetap disini! Biarkan aku yang mendekat"
"Eh?? Kenapa? Kalau jebakan gimana??" Tanya Moa khawatir.
Benar juga! Kalau ternyata Katrina bagaimana ya nasibku?? - Densha.
"Baiklah! Ayo ke sana bersama!"
Pelan-pelan Densha dan Moa melangkahkan kakinya mendekati tubuh gadis yang sedang tidur tengkurap di atas pasir pantai. Tubuhnya sangat kotor, di penuhi ilalang dan rumput-rumput liar dari laut.
"Fuu???" Densha mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Betulan Fuu!! Hei, kenapa si bodoh ini tidur disini?"
"Moa! Balikan badanmu!" Pinta Densha tegas.
"Eh?? Kenapa??" Moa memasang wajah bodoh di mukanya.
"Ku bilang berbalik!!"
Densha memandang Moa yang menurutinya untuk membalikkan badan. Pria itu segera berjongkok dan menepuk pipi Fuu lembut, sepertinya Fuu tertidur pulas saat ini karena kelelahan.
"Fuu?? Bangun! Hei" ucap Densha berulangkali. "Fuu?!"
"Ng...." Fuu menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Cepat bangun!!"
Fuu mengedipkan kedua matanya berulang kali mengumpulkan pundi-pundi kesadarannya. Gadis itu menguap dengan lebar lalu duduk sambil mengucek mata indahnya.
"Densha?? Itu kamu??"
"Tentu saja! Enak ya berbaring disini?"
"Ng??" Fuu menatap sekitarnya, ia melihat Moa yang berdiri membelakangi dirinya. "Moa?? Kenapa menghadap sana?!"
"Entahlah! Aku disuruh begini!" Moa refleks mengarahkan wajahnya pada Fuu.
Mata Moa tak berkedip memperhatikan Fuu di belakangnya, pipi pria berambut pirang itu lantas memerah karena malu.
"ASTAGA!!! KAU TELA....!!!"
BUAK!!!
Pukulan keras mendarat di pipi kiri Moa, membuat ia terhuyung jatuh. Dengan cepat Densha melepas kaos yang ia kenakan lalu melilitkannya di kepala Moa.
"Sudah kubilang berbalik! Kenapa masih melihat dia (Fuu) ?!" Maki Densha kesal.
"Duh! Sakit tahu! Lepaskan!!"
"Janji dulu kau akan menutup matamu rapat-rapat! Kalau sampai melanggar, akan ku buat kau menutup matamu selamanya!"
"Iya-iya... Lagian yang barusan itu aku tidak sengaja!" Rengek Moa meminta ampun.
Pantas saja dia tidak ingin menonton video dewasa bersamaku! Ternyata tontonan nya setiap hari begini! - Moa. (salah paham)
Densha mendengus kesal, ia melepaskan kaos yang ia lilitkan pada kepala Moa dan memberikannya pada Fuu.
"Pakai itu!!" Berbicara tanpa melihat Fuu.
"Okay, baik!" Fuu menganggukkan kepala pelan lalu tersenyum. "Nah! Sudah!! Hehe"
👉 FLASHBACK END 👈
Mata Fuu menatap ke atas, gadis itu mengangguk-anggukkan kepala sambil menyentuh pipinya sendiri.
"Jadi... Densha marah pada Fuu??"
"Benar!!" Ujar Densha lantang.
"Kenapa??"
"Kenapa apanya?! Sebenarnya kau ingat tidak sih?"
"Fuu mengingat semuanya. Tapi tidak ingat hal yang membuat Densha marah"
Densha memelototi tubuh Fuu dari ujung kaki sampai ujung kepala, ia lantas beranjak berdiri dan meninggalkan Fuu.
"Lho? Mau kemana??"
"Jangan ikut! Aku sedang ingin sendiri!"
"Densha marah?? Fuu betul-betul tidak tahu apa alasan Densha marah pada Fuu!"
"Memangnya kau tahu apa??" Ledek Densha sinis.
Fuu terdiam, ia menggigit bibir bawahnya sendiri. Saat ini ia sedang berpikir keras, mengapa Densha bisa semarah itu pada dirinya.
"Fuu tahu!" Fuu tertawa riang dan menggenggam kedua tangan Densha.
"Tahu apa??"
"Mmmm...." Gadis itu menatap Densha dengan mata yang penuh kebahagiaan. "Cemburu??" Ucap Fuu pelan.
"WTF!! Aku? Cemburu?" Densha mendelik kaget, ia tak percaya Fuu akan mengatakan hal seperti itu.
"Iya benar!"
"..........."
"Fuu benar kan??" Tanya Fuu dengan penuh keyakinan.
"Kau salah! Aku tidak cemburu, aku..." Densha menahan ucapannya karena bingung. "Aku... Cuma kesal"
"Kesal??"
"Iya... Benar! Aku cuma kesal"
"Kesalnya karena apa?" Fuu mengerutkan dahi tidak mengerti.
"Duh banyak tanya!" Densha melepas genggaman tangan Fuu secara paksa, namun Fuu menahannya.
"Tidak boleh pergi, sampai Densha tidak marah lagi"
"Lepas!"
"Tidak!"
"Aku bilang lepas!"
"Kesalnya kenapa??"
"Haaahhh...." Pria itu menghela nafas panjang putus asa. "Iya, aku cemburu! Puas??!"
"Cemburu??"
"IYA BENAR! KALAU RASA SAKIT DAN KESAL DI HATI INI NAMANYA CEMBURU BERARTI KAU BENAR! AKU CEMBURU!" Teriak Densha kencang.
Mata Fuu membulat tak percaya dengan apa yang ia dengar, gadis itu tersenyum sumringah mendengar kalimat Densha.
"Kenapa cengengesan??"
"Tidak kok!"
Tanpa aba-aba, Fuu memeluk tubuh Densha dengan erat. Ia membenamkan wajahnya yang memerah pada dada pria itu.
"Eh?? Kenapa ini??"
"Fuu senang" gumam Fuu lirih. "Densha imut" puji Fuu dan semakin mempererat pelukannya.
Imut?? - Densha.
Bersambung!!
Berikan cinta kalian dengan cara Like, Komentar, Follow, Favorit, Rating dan Vote. Jangan lupa ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! 😘🙏 Terima kasih.