Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Di pinjam Moa.



"Densha?? Selamat pagi!"


"Mmm.." perlahan Densha membuka kedua matanya.


"Ayo bangun! Sudah pagi loh"


"Eh?? Fuu??"


Gubrak!!


Densha terkejut hingga jatuh dari tempat tidurnya.


"Aduh! Sakit!!"


"Hehe"


Yahh, ini sudah beberapa hari sejak Densha kembali ke rumahnya. Jennie mendapat hukuman berat atas tindakannya, Isabella kembali ke aktifitas normalnya, Moa dan Mod pulang ke rumah masing-masing. Walau bagi Moa menginap di rumah Densha bukanlah suatu masalah besar, tapi bagi Mod itu hal berbeda. Gadis itu lupa memberi kabar kepada ayahnya, hal itu membuat ayah Mod sedikit kecewa dengan putrinya. Namun karena ayah Mod orang yang baik, lambat laun Mod pasti di maafkan.


Sore itu setelah tuan Shawn mengantar Fuu sampai ke jembatan penyebrangan, Fuu pergi ke rumah Densha seorang diri. Kehadirannya di sambut baik oleh semua orang yang ada di sana, Mod bahkan sampai menangis karena bahagia bisa bertemu dengan Fuu lagi.


Sejak saat itu, Fuu kembali tinggal di rumah Densha. Ia menjalani kehidupannya dengan normal, meskipun banyak yang belum ia pahami di kehidupan manusia. Namun gadis ini tidak punya apapun untuk di sembunyikan lagi, karena Densha sudah mengetahui identitas aslinya.


"Densha! Apa hari ini ke sekolah?"


"Kenapa? Kau mau ke sana?"


"Sebenarnya Fuu tidak suka sekolah"


"Eh? Kenapa?"


"Seseorang di depan papan tulis itu selalu mengatakan hal-hal yang tidak Fuu pahami"


"Seseorang di depan papan tulis??"


"Pria botak dengan kaca mata itu!"


"Ya Tuhan! Itu guru'mu Fuu!!"


"Guru??"


"Dia yang mengajar pelajaran di sekolah! Panggil dia guru"


"Okay, baik"


"Aku mau mandi dulu"


"Ng.."


"Hari ini! Ayo jalan-jalan!"


"Eh?? Tidak ke sekolah??" Mata Fuu berbinar-binar karena senang.


"Ini hari Minggu kan??"


"Benarkah? Hore!!" Fuu melompat kesenangan, gadis cantik itu berlari menuju kamar mandi di luar kamar. Namun setelah beberapa langkah ia berlari, Fuu kembali lagi ke kamar Densha.


"Eh?? Ada apa??"


"Fuu lupa membawa baju ganti! Hehe"


"Dasar bodoh!" Ledek Densha lalu tersenyum tulus pada Fuu.


Setelah mandi dan mempersiapkan diri, Densha menunggu Fuu di ruang tamu. Pria itu mengenakan kaos berwarna kuning polos dan celana jeans panjang berwarna biru muda. Tidak lama menunggu, Fuu datang berlarian seperti anak kecil. Tapi Fuu tidak menghampiri Densha, gadis itu menuju ke rak buku milik keluarga Densha.


"Hei, kau sedang apa?"


"Fuu mencari sesuatu"


"Sesuatu??"


"Apa Densha melihat buku Fuu??" Tanya Fuu yang menoleh ke arah Densha, gadis itu sungguh cantik. Dengan dress pendek berwarna hijau muda dan rambutnya yang terurai membuatnya terlihat sangat manis.


Cantik sekali.. - Densha.


Untuk beberapa saat Densha terpaku menatap Fuu, tanpa ia sadari Fuu sudah berdiri di depannya. Bahkan dengan berani Fuu mendekatkan wajahnya pada wajah Densha.


"Apa Densha melihatnya?"


"Eh???" Wajah Densha memerah, ia baru sadar bahwa kini wajah Fuu tepat di depannya yang tengah duduk di sofa ruang tamu.


"Densha??" Fuu memundurkan tubuhnya perlahan.


"Ah! Iya.. kau bilang apa tadi?"


"Apa Densha melihat buku Fuu?"


"Buku mu? Sejak kapan kau punya buku?"


"Bukan buku Fuu sih! Tapi buku yang sering Fuu baca waktu itu!"


"Eh! Buku apa ya?"


"Densha!!" Bentak Fuu pelan.


"Iya-iya.. aku meminjamkannya pada Moa"


"Apa?! Meminjamkannya pada Moa? Kenapa?"


"Karena Moa ingin pinjam!"


"Padahal itu buku penting.." gerutu Fuu kesal, gadis itu duduk di lantai dengan cemberut. Melihat itu Densha berjalan mendekati Fuu dan jongkok di depan gadis itu.


"Memangnya ada apa dengan buku itu?"


"Itu kan buku panduan untuk Fuu!"


"Panduan??"


"Ya! Tata cara menjadi istri yang baik!!"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Duh! Serangan jantung di pagi hari.. - Densha.


"Moa perlu buku itu!"


"Eh?? Untuk apa? Apa Moa juga akan menjadi istri?"


"Istri?? Haha, dasar bodoh! Mana mungkin begitu!"


"Lalu kenapa Moa membacanya?"


"Kenapa tidak kau tanyakan langsung pada Moa?"


"Okay, baik. Fuu akan tanya langsung jika bertemu Moa"


"Jadi.. apa kita jadi pergi?"


"Tentu! Fuu sudah jadi semanis ini, masa tidak pergi?" Ucap Fuu sembari tersenyum.


Apa dia berusaha menggodaku? - Densha.


"Cih! Manis dari mana?" Tanya Densha yang memalingkan wajahnya, ia tersipu malu dengan kalimat Fuu.


"Apa Fuu cantik??"


"Apa kau serius menanyakannya?"


"Uhm.." Fuu menganggukkan kepalanya pelan.


Cup!


Densha mencium pipi kiri Fuu pelan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.


"Jika kau tidak cantik, aku tidak akan mencium'mu! Dan sekarang aku tidak bisa berhenti melakukannya. Apa yang harus aku lakukan?"


Kalimat Densha sukses membuat wajah Fuu merah padam. Refleks.. Fuu memundurkan tubuhnya dan menoleh ke arah Densha, matanya membulat menatap pria tampan di depannya yang saat ini tengah tersipu malu juga.


"Densha..."


"....."


"Ja.. Ja.. Jangan berhenti" ucap Fuu terbata-bata.


"Ng.." Densha menatap Fuu bingung.


"Jika.. jika.."


"????"


Fuu menelan ludahnya sendiri, gadis itu gugup. Tangannya gemetar memegang ujung dress nya, ia mengambil nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya.


"Jika Densha tidak bisa berhenti melakukannya. Maka.. maka.. jangan pernah berhenti!"


Mata Densha terbelalak, ia terkejut dengan kalimat Fuu yang terbata-bata itu. Densha tercengang, ia bahkan tidak berkedip memandang gadis di depannya itu. Wajahnya semakin memerah, entah karena senang atau malu.


"Hmm" Densha memejamkan matanya, ia tersenyum lalu memeluk Fuu ke dalam pelukannya.


"Ehh??"


"Jangan berhenti melakukannya ya?" Goda Densha antusias.


"I.. iya"


"Apa kau sungguh sudah siap?"


"Eh? Si.. siap? Siap untuk apa??"


"Kau bilang jangan berhenti melakukannya kan?"


"Tu.. tu.. tunggu! Fuu tidak mengerti maksud Densha"


"Kalau tidak mengerti, kenapa bicara seolah-olah kau mengerti?"


"....."


"Maaf.. yang Fuu maksud itu, jika Densha tidak bisa berhenti melakukannya.. Fuu pikir melakukan ciuman"


"Kau benar! Tapi selain ciuman ada hal lain yang aku inginkan"


"Hal lain??" Fuu menengadahkan kepalanya, menatap pria tampan di depannya.


"Begitulah.." ucap Densha dan tersenyum.


"A.. apa itu?"


"Rahasia!"


"Densha.. beritahu Fuu, apa itu hal lain yang Densha inginkan?"


"Sudah aku bilang rahasia kan?" Densha mengusap kepala Fuu lembut, pria itu berdiri dan menuju pintu keluar rumah.


"Ayo berangkat!"


"Uhm.."


Hal lain yang Densha inginkan selain ciuman?? - Fuu.


Densha mengunci pintu rumahnya, ia berjalan beriringan dengan Fuu yang masih saja cerewet dengan segudang pertanyaannya.


"Apa hal lain itu berhubungan dengan Fuu?"


"Ya"


"Eh?? Benarkah? Apa itu? Apa hal lain itu?"


"Berisik!"


"Densha.. beritahu Fuu!"


"....."


Densha sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Fuu, pria itu sedikit mengabaikan Fuu saat ini. Densha yakin, saat gadis itu sudah capek menanyakannya ia akan diam dengan sendirinya. Dan melupakan pertanyaan nya.


~


Sesampainya di pertokoan kota, Densha membawa Fuu untuk membeli pakaian dan sepatu baru, ia juga membawa Fuu makan di kedai pinggir jalan.


"Ng..." Fuu menghentikan langkah kakinya, seolah dia menemukan sesuatu.


"Eh? Ada apa Fuu??"


"Itu.." Fuu menunjuk ke arah sebuah kedai Es krim sebrang jalan.


"Ada apa?!" Densha memicingkan matanya, mencoba melihat sesuatu yang di tunjuk oleh Fuu. Tiba-tiba matanya membulat melihat sesuatu yang menyenangkan baginya.


"Moa??"


"Uhm.. Moa bersama Mod" ucap Fuu dan tersenyum.


"Wah-wah.." Densha tertawa cekikikan.


"Densha? Ayo ke sana!" Fuu menggandeng tangan Densha, berusaha mengajak pria itu menyebrang jalan. Namun langkahnya di hentikan oleh Densha.


"Tidak Fuu! Jangan mengganggu mereka"


"Eh? Kenapa? Mereka teman Fuu"


"Ya, terkadang kau harus membiarkan seseorang menghabiskan waktu tanpamu"


"Apa maksudnya?"


"Sudahlah! Kita lihat dari jauh saja ya?"


"Hmm.." Fuu memandang ke arah Moa dan Mod dengan sedih, lalu ia menganggukkan kepala menuruti perintah Densha.


Moa sedang kencan ya? Haha - Densha.


Semoga berhasil Moa.. - Densha.


Fuu dan Densha memperhatikan mereka dari jauh, walau sedikit kesal karena tidak bisa menghampiri mereka tapi Fuu tidak bisa berbuat apapun jika ada Densha di sampingnya.


"Moa dan Mod sedang apa?!"


"Mereka sedang makan"


"Kenapa Densha hanya melihat mereka dari jauh?"


"Mereka sedang masa pendekatan! Jadi sebaiknya jangan di ganggu"


"Pendekatan? Apa itu?"


"Moa menyukai Mod"


"Hah?! Apa itu benar??" Fuu berdiri dari tempat duduknya, gadis itu tertawa senang.


"Hei, duduk! Kau membuat semua orang melihat kemari"


"Ah! Maaf.. Fuu terlalu senang" gadis itu kembali duduk di kursinya.


Densha melirik ke arah Fuu dengan ujung ekornya, lalu ia kembali memperhatikan Moa dari jauh.


"Jadi itu sebabnya Moa meminjam buku milik Fuu"


"Ya.. begitulah"


"Apa Mod tahu bahwa Moa menyukainya?"


"Entahlah.. aku rasa tidak!"


"Apa?! Kalau begitu biar Fuu yang memberitahu Mod" Fuu berdiri dari tempat duduknya, ia hendak pergi menemui Mod di sebrang jalan.


"Memberitahu Mod?? Hei! Fuu tunggu!" Densha mengejar Fuu yang berjalan dengan cepat.


"Hei!" Dengan sigap Densha menarik lengan Fuu, membuat gadis itu hampir jatuh kebelakang.


"Eh??"


"Kau mau kemana?"


"Memberitahu Mod"


"Sudah aku bilang jangan ganggu mereka kan?"


"Ta.. ta.. tapi.. jika Mod tidak di beritahu, maka pendekatan Moa tidak akan berarti"


"Biarkan Moa yang mengatakannya sendiri"


"Apa Moa akan mengatakannya?"


"Tentu saja!"


"Benarkah?? Kapan itu?"


"Aku tidak tahu! Tapi.. jika Moa sungguh mencintai Mod, maka ia pasti mengatakannya"


"Cinta.." gumam Fuu pelan.


"Ayo pulang!" Densha berjalan terlebih dahulu, merasa Fuu masih diam di tempatnya. Pria itu menoleh ke belakang, benar saja! Fuu menundukkan kepala dan berdiam diri.


"Ada apa??"


Fuu memejamkan matanya rapat, kedua jemarinya menggenggam dengan erat.


"Hei, kau ini kenapa?"


"Densha.."


"Hm??" Densha mengangkat sebelah alisnya bingung.


"AYO LAKUKAN ITU BERSAMA FUU!!" Teriak Fuu kencang.


Para pejalan kaki yang melintas menoleh ke arah mereka berdua. Bukan hanya Densha yang terkejut dengan kalimat Fuu, namun orang-orang di sana juga sama terkejutnya.


"Eh? Apa gadis itu bilang??"


"Kau dengar tidak? dia bilang apa?"


"Melakukan itu katanya"


Bisik! Bisik! Bisik!


Semua orang di sana saling berbisik memandangi Fuu.


Ya Tuhan!! - Densha menepuk jidatnya sendiri, dengan wajah yang tersipu malu ia mendekati Fuu. Lalu menggandeng tangan Fuu erat, membawa gadis itu pergi dari sana.


"Eh?? Mau kemana? Tunggu.. Fuu belum selesai bicara!"


"Ayo pergi!"


"Denshaaaa.. tunggu!"


"Berisik!"


Mereka memandangi Densha dan Fuu yang berlalu pergi, namun mereka masih menggunjing-gunjingkan Fuu.


"Pasti mau menyewa hotel tuh!"


"Sstt!! Jangan ikut campur"


"Kyaa.. pasti senang dapat menghabiskan satu malam dengan pria itu!"


"Dih! Kau ini!!"


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini! Mohon dukungannya untuk Like ❤️, Komentar 👇 dan Vote. Beri rating juga ya? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih.. 😉😘