
Malam penuh bintang menyelimuti kota kecil tepi laut. Langkah seorang pemuda berambut pirang terhenti pada sebuah rumah, rumah megah yang hanya dihuni oleh sepasang makhluk hidup. Betul! Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Densha, sahabatnya.
"Densha! Kau di dalam??" Panggil Moa pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
"Sebentar!!" Teriak seorang gadis dari dalam rumah Densha.
Fuu?? - Moa.
KLAP! (Suara pintu di buka)
"Moa??"
"Hai" Moa melambaikan tangannya, ia tersenyum pada Fuu.
"Ada apa?"
"Hei, jika ada orang datang bertamu, harusnya kau persilahkan masuk terlebih dahulu!!" Gerutu Moa kesal.
"Ah.. Okay, baik! Silahkan masuk"
"Nah! Begitu dong, dimana Densha??" Tanya Moa penasaran, ia melepas sepatunya dan duduk di ruang tamu.
"Densha sedang memasak"
"Serius?? Memasak??"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.
"Kau ini benar-benar ya?!" Moa berdiri dari duduknya dan berjalan ke dapur.
"Eh?? Kenapa??"
"Kau kan anak perempuan, harusnya yang masak itu kau! Oh iya... Tutup pintunya dulu sana!" Perintah Moa.
"Okay, baik!"
Fuu berlari kecil menutup pintu, setelah itu ia segera menyusul Moa ke dapur untuk menemui Densha.
"Wah, nona Densha sedang masak apa??" Pancing Moa, ia sedang menggoda sahabat dekatnya itu.
Densha melirik Moa yang duduk di meja makan dengan sebuah apel di tangannya, saat ini Densha tengah memotong daging ikan salmon untuk Fuu.
"Kau tidak lihat aku bawa apa??" Densha menunjuk Moa dengan sebuah pisau dapur.
"Apa?? Pisau?? Memangnya kenapa??"
"Sekali lagi banyak bicara, pisau ini akan berada di perutmu!!" Ancam Densha dingin.
"Dih! Dasar tidak waras!!" Sindir Moa, ia hanya memperhatikan Densha dari jauh.
"Kenapa kau kemari? Mau numpang makan malam?"
"Hei, aku tidak semiskin itu ya?"
Krauk!
Krauk!
Moa mengigit buah apel di tangannya, ia tersenyum memandangi Densha yang sibuk memasak makan malam.
"Lalu apa tujuanmu?"
"Aku hanya ingin main, sejujurnya aku kesepian" ucap Moa sedih.
"Kenapa tidak pergi ke rumah Mod??"
"Kau gila?? Ayahnya akan membunuhku jika aku ke sana!"
"Hahaha, aku rasa tuan Roosevelt tidak seburuk itu"
"Entahlah, di pikiranku hanya ingin main kesini" Moa menyenderkan punggungnya pada kursi.
"Densha? Mau Fuu bantu??" Tanya Fuu polos.
"Boleh! Tolong ambilkan selada di dalam laci kulkas ya?"
"Okay, baik!"
Fuu membuka lemari Es, ia duduk berjongkok mencari-cari sayuran yang di maksud oleh Densha. Rambut panjangnya jatuh terurai dengan indah, Densha lupa tidak menguncir rambut Fuu hari ini.
"Yang mana namanya selada?" Gumam Fuu pelan.
Moa ikut kesal memperhatikan Fuu yang lama berjongkok di depan lemari Es, ia menghampiri Fuu dan membantu Fuu mencari sayur selada.
"Bodoh! Begini saja tidak bisa! Ini nih" Moa memberikan sayuran yang ia ambil pada Fuu.
"Eh?? Terima kasih Moa" ucap Fuu tersenyum, gadis itu memberikan sayuran itu pada Densha.
"Apa ini? Kau bercanda?? Ini bayam!" Ucap Densha kesal.
"Eh? Kata Moa yang ini" Ucap Fuu polos.
Densha menatap Moa dengan tajam, sementara Moa membuang pandangan ke arah lain. Pura-pura tidak bersalah.
"Bodoh!" Sindir Densha ketus.
"Hei, wajar dong! Aku kan pria, mana tahu aku, mana yang selada mana yang bayam. Semua sayuran sama saja!" Bantah Moa membela diri.
"Jika tidak tahu, kenapa sok tahu!"
Densha berjalan mendekati Moa, dan mengambil selada di laci kulkas. Ia menepuk kepala Moa dengan sayuran itu.
"Ini nih..."
"Duh! Iya-iya..." Moa menutup pintu kulkas pelan. Belum sampai pintu kulkas tertutup ia membuka kembali pintu itu.
"Ya Tuhan! Kau minum-minum??" Pekik Moa terkejut.
"Apa?" Densha dan Fuu menoleh ke arah Moa secara bersamaan.
"Ini, apa ini??" Moa mengambil botol alkohol dari dalam kulkas.
Jika kalian lupa, saat itu Isabella membeli dua botol minuman. Satu botol ia habiskan bersama dengan Fuu, dan satu botol lagi ia (Isabella) letakkan di dalam lemari Es. Densha tidak sadar bahwa bibinya meletakkan minuman itu di dalam kulkasnya.
"Ya Tuhan! Bibi meletakkannya di sana?" Gumam Densha pelan.
Fuu yang melihat botol minuman itu langsung otomatis menutup mulutnya rapat-rapat dengan kedua tangan. Gadis itu memundurkan badannya, ia bersembunyi di balik tubuh Densha.
"Kau kenapa Fuu??" Tanya Moa penasaran, pria itu beralih menatap sahabatnya dengan serius.
Fuu menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tetap bungkam dan terus menutup mulutnya.
"B*JING*N! KAU SUDAH GILA YA??" Teriak Moa kesal, ia melotot menatap Densha.
Eh?? - Densha.
Densha memiringkan kepalanya lugu, ia bingung kenapa Moa tiba-tiba membentaknya.
"Keparat sinting! Sudah kuduga!! Kau pasti akan melakukannya kan?" Tegas Moa.
"Ha?? Kau ini sedang bicara apa?"
"Benar-benar deh! Minta di pukul baru mengaku ya??"
Moa menghampiri Densha dengan cepat, ia merangkul tubuh sahabatnya dari belakang. Membuat kedua tangan Densha terkunci.
"Hei! Bodoh! Apa yang kau lakukan?? Lepaskan!!" Densha meronta-ronta, berusaha melepaskan diri.
"Jawab dulu! Kalian sudah sejauh mana?!"
"WTF! Bocah bodoh ini bicara apa sih?!" Kata Densha ketus.
"Sudah kepergok masih mau bohong hah?"
"Moa! Kau sudah hilang akal ya?? Lepaskan!!"
"Tidak mau!! Aku tidak menyangka, kau ini pria rendahan"
"Apa?! Rendahan? Dasar bodoh! Ku rasa kepalamu harus di pukul dengan wajan agar sadar"
"Yang harus di pukul itu kepalamu, sialan!"
Duh! Benar-benar ya?? - Densha.
Dengan sigap Densha berhasil membalikkan keadaan, kini Moa yang sedang merasa terkunci. Tangan Densha menekuk kedua tangan Moa ke belakang, membuat pria berambut pirang itu tidak mampu berkutik.
"Sakit! Lepaskan!!"
"Hentikan omong kosongmu terlebih dahulu"
"Omong kosong apa?? Aku bicara sesuai fakta!"
"Fakta yang mana??"
"Minuman itu! Kau sengaja membuat Fuu mabuk agar bisa...." Ucapan Moa terhenti, wajahnya memerah karena malu dan tidak mampu melanjutkan kalimatnya.
BUG!!
Densha menendang kaki Moa keras, membuat sahabatnya meringis kesakitan.
"Aduh! Sakit bodoh!!"
"Dasar! Bocah matang terlalu dini!!" Sindir Densha ketus, ia melepaskan tangan Moa dengan cepat.
"Hah??"
Bocah matang terlalu dini? Apa maksudnya?? Aku kan sudah cukup umur untuk matang - batin Moa.
"Fiuhhh..." Densha menghela nafas panjang, ia kembali mengurus masakannya yang belum usai.
"Hei, jelaskan padaku! Itu punyamu atau bukan??"
"Itu milik nona Isabella" ucap Fuu pelan.
"Eh?? Kenapa kau tidak bilang sedari tadi?! Gila! Pikiranku sudah kemana-mana loh" dengus Moa kesal.
"Makanya ku bilang bahwa kau itu bocah matang terlalu dini!!" Sahut Densha marah.
"Hei, aku sudah wajar untuk matang!! Dan lagi aku bukan bocah!!"
"Oh iya??" Pancing Densha sinis.
"Tentu saja!"
"Halah! Berciuman saja kau belum pernah"
"Hei, kenapa membahas hal itu sih?! Memangnya matang tidaknya seorang pria dilihat dari sudah belumnya ia berciuman??"
"Hahaha, jelas kau belum matang!" Ledek Densha, ia sangat suka menggoda Moa.
"Berisik!! Memangnya kau sudah sematang apa sampai berani mengatai aku hah?!"
Mereka berdua sedang bicara apa sih? Apa yang matang?? - Fuu.
"Ck... Ck... Moa, dengarkan aku ya??" Ucap Densha menggelengkan kepala.
"Apa??"
"Aku bukan anak-anak, tapi aku juga belum dewasa. Jadi aku akan mengikuti alurnya saja" jawab Densha santai.
"Cih! Mendadak kau jadi bijak!!"
"Hahaha"
Entah kenapa, kata-katanya barusan membuatku merasa bahwa akulah yang belum dewasa disini... - Moa.
Makanan sudah siap, Densha menata piring di atas meja makan. Fuu membawa makanan ke atas meja secara bergantian, sedangkan Moa hanya duduk saja tidak membantu apapun.
"Ayo makan!" Ajak Densha lalu tersenyum.
"Hore!" Sahut Fuu antusias.
Moa memandang ke arah Densha dan Fuu bergantian, ia menundukkan kepalanya. Raut wajah Moa sungguh murung.
"Moa kenapa?" Tanya Fuu polos.
"Eh? Tidak apa-apa kok"
"Cepatlah makan!!" Perintah Densha tegas.
"Iya" Moa menyendokkan makanan ke dalam mulutnya pelan.
"Hei, sebenarnya aku kemari ingin bertanya sesuatu" ucap Moa kemudian.
"Apa?"
"Begini, ini pertanyaan untuk Fuu!"
"Eh?? Untuk Fuu??" Fuu memandang Moa penasaran.
"Apa kau... Mmm... Apa kau pernah bertemu duyung lain selain dirimu??"
"Pernah" jawab Fuu santai.
"Bukan di lautan, tapi di daratan"
"Iya, pernah"
"HAH?!" Moa dan Densha menatap Fuu secara bersamaan.
"Ya... Yang benar??"
Fuu menganggukkan kepala dengan mantap.
"Fuu bisa merasakan seseorang itu duyung atau bukan, itu insting alami yang di miliki para duyung"
"Eh?? Sungguhan?? Kenapa kau tidak pernah mengatakan itu padaku?" Tanya Densha penasaran.
"Densha tidak pernah bertanya pada Fuu" sahut Fuu polos.
"Emm... Siapa?" Tanya Moa.
"Ayah Katrina"
"HAH?! AYAH KATRINA SEORANG DUYUNG??" Teriak Moa dan Densha terkejut.
"Duh! Fuu kaget!!" Gadis itu mengusap-usap dadanya. Ia hampir terkena serangan jantung.
"Jadi, si Katrina itu..." Gumam Moa pelan.
"Bukan, Katrina bukan duyung murni"
"Eh??"
"Ayah Katrina duyung murni, sedangkan ibu Katrina adalah manusia seutuhnya"
"Apa?!" Densha terkejut dengan kalimat Fuu.
"Katrina adalah Hybrid"
"Apa lagi itu?? Dih! Bikin sakit kepala saja!!" Sindir Moa ketus.
"Hybrid adalah persilangan antara duyung dan manusia"
"Wah, ada yang seperti itu ya??"
Jadi... Aku dan Fuu bisa hidup bersama? - batin Densha, pria itu tersenyum sendiri.
"Kenapa kau cengengesan?? Mikir jorok ya??" Tegas Moa memandangi Densha yang senyum-senyum sendiri.
"Cih! Mengganggu saja!"
"Eh?? Betulan mikir jorok??"
"Minta di banting ya??" Maki Densha kesal.
"Hahaha, bercanda! Aku tahu kok apa yang kau pikirkan" ucap Moa lalu tersenyum tulus.
"Kenapa Moa menanyakan hal itu?" Tanya Fuu melanjutkan percakapan.
"Ah! Hampir lupa... Sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku mengalami kejadian aneh"
"Kejadian apa? Kau kencing di celana ya?" Ledek Densha lalu tertawa.
"Brengsek! Aku serius tahu! Tiba-tiba ingatanku hilang"
"Kau hilang ingatan? Kenapa masih mengenal kami??" Celetuk Densha.
"Berisik! Dengarkan aku dulu!!"
"Hahaha, baik-baik"
"Jadi, begini...."
Bersambung!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Jika kalian menyukai novel ini. Tolong Like, komentar, follow, favorit dan rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘