
Tok!
Tok!
Tok!
"Ayah... Boleh aku masuk?"
"Kenapa bertanya segala?"
Tuan Collin tersenyum memandang puteranya. Ia menjentikkan jarinya agar Moa mendekat pada dirinya.
"Ng... Anu..." Moa menggosok kedua telapak tangannya, pria itu nampak canggung untuk bicara dengan ayahnya.
"Santai saja Moa!"
"Kenapa ayah melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
"Pembicaraan ayah dan Ellis tadi... Membuatku tak nyaman"
"Eh? Kenapa begitu? Katanya kau menyukai putrinya Ellis"
"Iya, aku memang menyukainya..."
"Lalu?"
"Awalnya... Aku ingin berusaha sekuat mungkin agar ayah merestui hubungan kami. Tapi sebelum aku mencoba, ayah sudah berubah pikiran"
"Jadi kau kecewa karena ayah tidak jadi menikah dengan Ellis??"
"Hah? Kecewa?? Aku justru senang sekali!!"
"Nah, terus dimana masalahnya?"
Padahal aku sudah menyusun banyak rencana untuk melawan ayah, disitulah masalahnya! Sia-sia dong aku begadang selama ini - Moa.
"Moa??" Panggil tuan Collin lembut.
"Ah! Tidak, tidak ada masalah... Hehe"
"Moa, apa kau membenci ayah?"
"Jika ayah menikahi Ellis aku akan sangat membenci ayah"
"Sekarang kan keputusan ayah berubah?"
"Benar! Jadi keputusanku juga berubah sebaliknya" Moa tersenyum ceria menatap ayahnya.
"........"
Tuan Collin menatap puteranya bingung, ia tidak suka permainan teka-teki seperti ini. Karena pada dasarnya ia (tuan Collin) menyukai pernyataan apa adanya dan mudah di mengerti.
"Aku menyayangi ayah" ucap Moa lirih.
"Apa? Ayah tidak mendengarnya! Pelan sekali suaramu"
"Dih! Ayah ini"
"Hahaha, bercanda! Sini peluk ayah..."
"Aku kan sudah besar ayah"
"Sebesar apapun dirimu, kau tetap Moa Collin putera ayah!"
Hati Moa tersentuh dengan kalimat indah yang ayahnya ucapkan. Ia memeluk ayahnya dengan erat, mata pria itu berkaca-kaca, ia sangat senang dengan perubahan ayahnya yang sekarang.
"Oh iya... Tadi kau mau bicara apa?" Tuan Collin menyentuh bahu puteranya.
"Eh? Kapan?"
"Tadi, kau kan datang menemui ayah di ruang tamu! Apa ada yang ingin kau bicarakan?"
"Astaga! Iya... Aku ingin pergi keluar sebentar, apa boleh??"
"Sejak kapan kau mulai minta ijin?"
"Hehe, sebenarnya bukan sebentar! Aku tidak tahu aku akan pulang jam berapa"
"Kenapa begitu?"
"Entahlah ayah... Perasaanku gelisah, aku ingin menghabiskan waktu di luar"
"Baiklah! Tapi jangan berbuat aneh-aneh ya? Ingat! Kau ini remaja yang sedang berkembang"
"Ck! Siapa juga yang ingin berbuat macam-macam, ayah tidak perlu khawatir"
"Baiklah, ayah percaya"
Moa berjalan keluar dari kamar ayahnya, pria itu menoleh ke arah ayahnya dan tersenyum.
"Aku pergi dulu ayah!"
"Baik, hati-hati"
Malam itu Moa pergi menyusuri jalanan kota yang cukup ramai, ia tidak memiliki arah tujuan. Jadi dia hanya duduk di bangku pinggir jalan menikmati segelas kopi yang ia beli di cafe sekitar tempat itu.
Pria berambut pirang itu memandangi setiap orang yang berlalu lalang, sesekali ia menghela nafas berat menandakan rasa gelisah dan kekecewaan yang mendalam. Yahh... Kecewa tanpa sebab, namun itu yang di rasakan Moa.
Aku benar-benar sudah gila ya?? Apa ini yang di katakan orang-orang dengan sebutan galau?? - Moa.
"Ehem!"
Suara gadis membuyarkan lamunan Moa, tanpa permisi gadis itu duduk tepat di samping Moa. Tentu dengan paper food berisi donat, makanan kesukaannya.
"Halo tuan? Sendiri saja??"
"Kau?? Siapa ya??" Moa mengangkat sebelah alisnya curiga, ia menggeser tempatnya duduk agar tidak terlalu dekat dengan gadis asing itu.
"Ah! Maaf... Aku hanya sekedar lewat dan aku melihatmu seolah sedang banyak pikiran, jadi aku mampir" Gadis itu tersenyum tenang menatap Moa.
OMG!! Aku senang sekali bertemu denganmu disini!! - gadis asing.
"Kalau sudah tahu aku sedang banyak pikiran kenapa duduk di sampingku? Aku bisa saja marah tanpa sebab padamu loh" ancam Moa sinis.
"Kau tidak akan marah padaku, aku yakin itu!" Gadis itu tersenyum manis sekali.
"Cih! Percaya diri sekali..."
"Mmm... Mau donat??"
Moa melirik ke arah paper food yang di pegang gadis itu, ia seakan bingung. Perasaannya mengatakan ia pernah mengalami hal ini berkali-kali, tapi entah kenapa dia tidak pernah mengingatnya.
Sial! Dejavu lagi?? - Moa.
"Hei, terus terang lah padaku! Siapa kau sebenarnya... Entah kenapa kau seperti bukan orang asing untukku! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Kenapa begini?? Memang susah ya kalau berkenalan tanpa nama? - gadis asing.
"Iya... Kita pernah bertemu" gadis itu menundukkan kepalanya, berusaha menyembunyikan raut mukanya saat ini.
"Maaf... Aku tidak tahu soal itu"
"Serius??"
"Iya... Aku berkata yang sebenarnya"
"Kau bohong!"
"Eh??" Gadis bermata biru itu memandang Moa karena terkejut.
"Aku tahu, kau tidak berani menatapku. Itu tandanya kau berbohong!"
"Oke Fine! Aku memang berbohong, aku punya alasan kenapa aku tidak ingin memberitahukannya padamu!"
"Alasan macam apa itu?"
"Sudah aku bilang aku tidak ingin memberitahukannya padamu kan?"
"Cih!" Moa mendengus kesal, ia membuang muka tak ingin menatap gadis di sampingnya.
"........"
"Dengar ya? Aku tahu kau bukan manusia!" Ujar Moa dan melirik ke arah gadis bermata biru di sampingnya.
"Apa? Dasar pria tidak waras!"
"Jangan berani mengatai aku seperti itu!"
"Ng...." Gadis itu tertegun dengan kata-kata Moa. Ia diam saja, menunggu Moa meneruskan kalimatnya.
"Aku punya teman, ia mengatakan padaku bahwa duyung memiliki kemampuan untuk menghapus ingatan seseorang atau memberi kutukan"
"Oh iya?? Aku rasa kau salah"
"Bagaimana kau tahu aku salah?? Benar, lebih tepatnya bukan duyung. Tapi Hybrid... Apa kau seorang Hybrid?"
"A... Aku... Aku tidak mengerti tuan ini bicara apa? Dan apa itu Hybrid?"
"Sialan! Ayolah... Hybrid itu persilangan antara duyung dan manusia! Aku yakin kemampuan yang kau miliki itu menghapus ingatan seseorang, aku tahu aku konyol bicara seperti ini pada orang asing... Tapi..."
Moa menurunkan volume suaranya agar tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Entah kenapa aku merasa bahwa kau bukan orang asing, aku merasa sudah sering bertemu denganmu sebelumnya... Aku merasakannya... Aku merasakan rasa aneh di hatiku" gumam Moa pelan.
Kedua mata gadis itu berkaca-kaca, ia mengatupkan bibirnya rapat menahan suaranya keluar, sekilas ia tampak ingin menangis. Tanpa meminta ijin dari Moa, gadis itu memeluk Moa erat, membuat Moa terkejut dan tidak bereaksi apapun. Mata Moa terbuka lebar namun ia juga tidak membalas pelukan gadis itu.
"A... Apa... Apa yang kau..." Kata Moa terbata-bata.
"Aku... Aku kangen sekali!"
"Apa? Kau ini bicara apa?"
Moa mencoba melepas pelukan gadis itu namun si gadis tidak membiarkan Moa melakukannya, ia semakin erat memeluk tubuh Moa.
"Hiks... Hiks... Hiks... Maafkan aku, kau benar! Kita memang sudah pernah bertemu, ini pertemuan ketiga kita"
"WTF!! Serius??"
"Uhm" gadis itu menganggukkan kepala pelan dalam pelukan Moa.
"Sial! Jadi... Benar kau duyung nakal yang berkeliaran dan menghapus ingatan seseorang??"
Gadis itu cemberut mendengar kalimat Moa yang menyebutnya duyung nakal, ia melepas pelukannya dari tubuh Moa dan mendengus kesal menatap Moa. Dengan kasar ia mengusap air matanya yang keluar di depan Moa.
"Aku bukan duyung nakal!" Bela gadis itu.
"Benar! Kau bukan duyung, kau kan Hybrid... Apa aku benar sekarang?"
"Iya..."
Moa terdiam sejenak, mencerna kejadian yang baru saja ia alami. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, Hybrid yang ia kenal selama ini hanyalah Katrina saja. Tapi sekarang ada Hybrid baru berkeliaran di tengah kota.
"YA TUHAN!!" Teriak Moa panik.
"Duh! Bikin kaget saja!" Gadis itu menepuk punggung Moa keras.
"Hei bodoh! Kau bilang aku benar kan? Kau Hybrid dengan kemampuan menghapus ingatan seseorang, dan kau bilang ini pertemuan ketiga kita! Sialan... Apa saja yang sudah kau lakukan padaku saat aku tidak mampu mengingatnya??"
Moa meledak-ledak, emosinya tidak bisa di tahan lagi. Ia memeluk tubuhnya sendiri dan menatap gadis itu ngeri.
"Wow... Wow... Aku tidak melakukan hal aneh apapun! Aku berani bersumpah atas nama ibuku!"
"Benarkah? Kau tidak menggunakan tubuhku saat aku tidak sadar kan?"
"Mmm... Mungkin" goda sang gadis dengan senyum jahilnya.
"DASAR BODOH! AKU SERIUS BERTANYA TAHU!!" Teriak Moa kesal.
"Hahaha, sungguh! Aku tidak melakukan apapun kok" gadis itu tertawa riang menatap Moa.
"Duh... Syukurlah..." Moa mengusap dadanya pelan karena lega.
"Tuan ini lucu sekali!"
"Namaku Moa, jangan panggil tuan" pinta Moa tenang.
"Baiklah... Moa Collin, aku senang bertemu denganmu"
"Aku tidak pernah menyebutkan nama keluargaku tuh!"
"Ah.... Itu... Sudah aku bilang ini pertemuan ketiga kita kan? Hehehe kau sudah pernah menyebutkan namamu padaku"
"Hmm... Begitu ya?"
"Benar!" Gadis itu tersenyum ceria, nampaknya ia begitu senang.
"Lalu, siapa namamu? Apa kau pernah menyebutkan namamu sebelumnya?"
"Tidak pernah! Karena waktu itu aku harus menjaga identitas'ku, tapi... Menghapus ingatan seseorang secara terus menerus itu melelahkan"
"Apa aku tidak akan mengingat kejadian ini lagi?"
"Aku tidak akan menghapusnya..."
"Eh???"
"Tidak hari ini" gumam gadis itu pelan.
Tidak hari ini? Jadi maksudnya dia akan menghapusnya suatu saat nanti? - Moa.
"Hei, sekali lagi aku bertanya... Siapa namamu?"
Gadis itu memandang Moa lekat-lekat, apa seharusnya ia memberitahu Moa saja agar hidupnya disini lebih mudah, ia juga tidak ingin menggunakan kemampuannya secara terus-terusan. Dengan tarikan nafas yang berat ia tersenyum pada pria berambut pirang di sampingnya.
"Namaku...."
Bersambung!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Follow, Komentar, Vote dan rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berati bagi saya 😘