
Teng! Teng! Teng!
"Haa.. akhirnya pulang juga!"
"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.
Moa, Densha dan Fuu berjalan melewati lorong kelas. Dari kejauhan Fuu melihat Mod mengangkat sebuah ember berisi air dan sabun.
"Densha?"
"Apa?"
"Itu Mod!" Fuu menunjuk ke arah datangnya Mod.
"Iya.. kenapa dia membawa ember?"
"Apa Fuu boleh ke sana?"
"Kenapa hanya kau, kita akan ke sana! Ya kan Moa??" Densha menoleh ke arah Moa yang ada di belakang mereka.
"Ya, terserah kau saja!"
Mod dengan cepat mengelap kaca kantor, gadis itu sungguh telaten dengan pekerjaan yang ia lakukan. Sementara Jennie hanya duduk sambil bermalas-malasan.
"Hei, Mod! Kapan kau menyelesaikan ini?"
"Jika kau tidak duduk saja! Mungkin kita akan menyelesaikan ini dengan cepat!!"
"Wah, maaf ya? Aku tidak ditakdirkan untuk melakukan tugas pembantu seperti ini.." Jennie melotot ke arah Mod.
"Kalau begitu, tunggulah sampai malam disitu!" Ledek Mod. Gadis itu melompat-lompat berusaha mengelap bagian kaca paling atas.
"Sini, biar aku saja!" Moa meraih tangan Mod, ia mengambil lap yang di pegang oleh Mod dan membantu Mod untuk membersihkan kaca paling atas.
"Mo.. Mo.. Moa??" Wajah Mod bersemu merah.
"Kenapa?"
"Ti.. tidak, terima kasih!" Mod mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Oh, Densha sepupuku? Lihat apa yang teman perempuan mu lakukan? Ia membuatku jadi melakukan tugas seorang pembantu!" Jennie mendekati Densha dan merangkul lengan pria itu.
"Jangan dekati Densha!" Fuu memisahkan Jennie dari Densha.
"Cih! Kau ini siapa sih? Saudara bukan.. kau itu cuma teman! Jadi bersikaplah seperti teman!" Jennie menatap tajam ke arah Fuu.
"Gggrrr!!" Fuu mengerang, ia melotot ke arah Jennie.
"Jaga sikapmu Jen!" Densha menggandeng tangan Fuu lembut.
"Eh??" Fuu terkejut saat tangan Densha menggenggamnya, gadis itu tersipu malu.
"Siapa teman pria mu itu?"
"Ah! Itu Moa, satu-satunya teman pria"
"Tampan juga.." Jennie memperhatikan Moa dari belakang. Gadis itu pergi mendekati Moa, ia sengaja menonjolkan bagian depan tubuhnya untuk menggoda Moa.
"Moa ya? Terima kasih sudah membantuku.. kau tidak perlu repot-repot" Jennie dengan sengaja menyenggol Mod agar gadis itu pergi.
"Ah! Tidak kok.. aku memang ingin membantu karena sepertinya Mo.."
"Ah! Begitu ya? Kau baik sekali.. aku sangat menyukai pria sebaik dirimu!" Jennie merangkul Moa dengan senang, ia tertawa dan bersifat manja pada Moa.
Jadi.. Moa bukan membantuku ya? Dia hanya ingin mendekati Jennie.. - Mod.
Wajah Mod berubah sedih, gadis itu termenung dan berusaha membersihkan kaca di sisi bagian Jennie, ia sama sekali tidak melirik ke arah Moa dan Jennie.
"Mod??"
"Ah! Fuu.. kenapa kau tidak pulang?"
"Fuu ingin membantu Mod!" Fuu mengambil kain lap lalu memerasnya dan berusaha melakukan persis yang di lakukan oleh Mod.
"Kau baik sekali.." Mod tersenyum tulus melihat Fuu.
Aku kan juga membantunya.. kenapa dia malah bereaksi hanya pada Fuu - Moa.
"Seperti ini kan?"
"Benar, kau melakukannya dengan baik Fuu"
"Terima kasih, Mod"
"Justru aku yang harus berterima kasih" Mod tertawa senang.
Astaga! Terpaksa pulang telat lagi.. - Densha menatap jam di tangan kirinya.
Ia duduk di kursi depan kantor guru, memperhatikan Fuu dari jauh. Dan juga sesekali melirik ke arah Jennie sepupunya.
"Mod??" Panggil Fuu lirih.
"Ada apa Fuu??"
"Apa semua pria memang menyukai Jennie?"
"Apa maksudmu?"
"Densha.. Fuu memperhatikan Densha, dan sepertinya Densha selalu memandang Jennie" wajah Fuu terlihat sedih, ia mengelap kaca dengan lemas.
Fuu.. kau juga merasakannya ya? Beda nya kau tidak bisa menutupi perasaanmu. Andai saja aku juga memiliki hati sepertimu - Mod terdiam menatap Fuu.
"Fuu? Kau cemburu?"
"Ng.. apa itu cemburu?"
"Aduh.. apa ya?? Cemburu itu perasaan sesak di dada saat orang yang kau sukai dekat dengan orang lain!" Mod melirik ke arah Moa.
"Fuu memang merasa sesak saat Jennie mendekati Densha.."
"Haha, kau manis sekali!" Mod mengambil lap di tangan Fuu dan meletakkannya ke ember. Gadis itu hendak mengembalikan ember itu ke tempatnya karena tugas yang ia kerjakan sudah selesai.
"Eh? Mod.. ini tolong bawakan juga!" Jennie melempar lap ke dalam ember dengan keras, membuat air di dalam ember muncrat mengenai wajah Mod.
"Hei!!" Mod membentak Jennie.
"Jennie, apa yang kau lakukan?" Moa menghampiri Mod mencoba menyentuh wajah Mod, namun gadis itu menepisnya.
"Jangan berpura-pura baik padaku!!" Mod menatap tajam Moa dan pergi begitu saja, melewati Moa yang terpaku dengan banyak pertanyaan di otaknya.
Berpura-pura baik? Gadis itu kenapa sih?? - Moa.
"Moa, terima kasih ya? Aku senang kau membantuku!" Jennie memeluk Moa dengan gemas.
"Eh? Iya sama-sama, anu jangan memeluk terlalu erat.." wajah Moa memerah.
Apa memang begini cara dia memeluk seorang pria? - Moa.
"Eh? Kenapa? Kena ya?" Jennie menutupi dadanya dengan kedua tangan. Wajahnya dibuat seolah ia yang tersakiti.
"A.. A.. Apa?! Kenapa wajahmu yang sedih?"
"Moa memanfaatkan kebaikanku ya? Moa jahat sekali!" Jennie mengambil tas sekolahnya lalu pergi meninggalkan Densha dan teman-temannya.
"Eh?? I.. i.. itu.. aku kan tidak.." Moa panik kebingungan.
Apa harus aku kejar?? - Moa.
"Bodoh!" Fuu melirik ke arah Moa.
"Hei?! Siapa yang kau bilang bodoh?"
"Moa!" Fuu berjalan mendekati Densha.
"Aku tidak salah apapun tuh?!"
Moa tidak tahu, bahwa Fuu mengatainya bodoh bukan lah untuk kejadian Moa dan Jennie, tapi untuk hati Mod yang terluka. Meskipun Fuu tidak paham betul namun ia bisa membaca mata Mod yang sedih saat melirik Moa.
"Sudah lah Moa! Biarkan saja Jennie!!" Densha menggandeng tangan Fuu dan berjalan ke arah gerbang.
"Sepupumu itu aneh sekali!"
"Densha?" Panggil Fuu pelan.
"Ada apa?"
"Mod dimana?" Fuu celingak-celinguk mencari keberadaan Mod, gadis itu tidak kembali setelah meletakkan ember pada tempatnya.
"Mungkin sudah pulang duluan!" Ucap Densha santai.
"Begitu ya?"
"Coba aku telpon!" Moa mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Tut.. Tut.. Tut.. Tut..
Tut.. Tut.. Tut.. Tut..
"Tidak di angkat"
"Coba kau ulangi!" Perintah Densha.
"Oke"
Tut.. Tut.. Tut..
Tut.. Tut.. Tut..
"Halo?"
"Oh.. Mod, ini Moa.."
"Moa? Bagaimana kau bisa punya nomorku?"
"Aku memintanya dari Katrina. Sudah lama sih.."
"Ka.. ka.. kau memintanya?" Suara Mod terdengar gugup.
"Ya begitulah.. waktu itu untuk mencari keberadaan Fuu"
Ah! Begitu ya? Jadi di sini hanya aku yang terlalu percaya diri berpikir bahwa Moa menyukaiku.. - Mod.
"Apa kau sudah pulang?"
"Ya.. aku sedang di jalan! Sampaikan maaf ku pada Fuu dan Densha"
"Ah! Oke!"
Tap!
"Hah?! Langsung di matikan?" Moa menatap layar ponselnya dengan bingung.
"Ada apa Moa?"
"Dia sudah pulang.."
"Tanpa pamit??" Fuu menatap Moa penuh harap.
"Ya, dia bilang maaf"
"Ada apa ya? Kenapa akhir-akhir ini sikap Mod aneh sekali.." Densha berusaha berpikir.
"Kau juga merasakannya??" Moa antusias dengan pembicaraan yang di mulai Densha.
"Tentu saja! Bahkan bukan hanya Mod, tapi.. Fuu juga!"
"Fuu tidak aneh!" Bantah Fuu tegas.
"Ya.. hanya kadang-kadang kau aneh!" Densha mencubit hidung Fuu dengan gemas.
"...."
Fuu diam dan menatap ragu ke arah Densha.
"Kenapa? Kau ingin mengatakan apa?" Tanya Densha, Seolah mengerti apa yang di pikirkan Fuu.
"Apa?"
"Apa.. Dada Fuu besar?"
Uhuk! Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Moa dan Densha batuk secara bersamaan mendengar pertanyaan dari Fuu, kedua pria itu saling pandang satu sama lain.
"Jawab! Moa juga bisa menjawab kalau mau.." Fuu menatap tajam ke arah Moa dan Densha.
"Apa?! Kenapa aku juga?" Moa mendelik tidak karuan.
Sial! Pertanyaan macam apa itu hah?! - Moa.
Densha terdiam, pria itu mencoba berpikir jawaban apa yang cocok dan lebih baik untuk Fuu.
(Di dalam pikiran Densha atau bayangan Densha)
Pikiran pertama.
Densha : "Bagian depan mu besar Fuu, aku suka!"
Fuu : "Otak Densha kotor sekali!"
Pikiran kedua.
Densha : "Kecil sih, bukan tipeku!"
Fuu : "Densha jahat sekali! Hiks.. hiks.."
Pikiran ketiga.
Densha : "Apapun ukurannya, asal itu kau aku suka!"
Fuu : "Densha menyebalkan!!"
(Kembali ke kenyataan)
Ku rasa apapun jawabanku hasilnya akan buruk - Densha. Pria itu melirik ke arah sahabatnya yang saat ini tengah berpikir juga.
Harus aku jawab seperti apa ya? - Moa.
(Di dalam pikiran Moa atau bayangan Moa)
Pikiran pertama.
Moa : "Kau sempurna Fuu, tipe ideal!"
Fuu : "Terima kasih, Moa"
Densha : "Mau mati ya?!" (Menatap Moa tajam)
Pikiran kedua.
Moa : "Biasa saja! Tidak ada yang tertarik padamu tuh!"
Fuu : "Moa jahat sekali.."
Densha : "Minta mati ya?!" (Menatap Moa dengan tajam)
Pikiran ketiga.
Moa : "Kecil tuh!"
Fuu : "Begitu ya?" (Sedih)
Densha : "Betulan minta mati ya?" (Kali ini bawa pisau!)
(Kembali ke kenyataan!)
Aku rasa, apapun jawabanku hasilnya akan buruk! - Moa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kencang, pria itu menepuk-nepuk pipinya agar tersadar dari lamunannya.
Densha dan Moa saling menatap bingung, sedangkan Fuu memasang wajah serius untuk mendengar jawaban kedua pria di depannya.
"ASTAGA! APA ITU?! ADA PIRING TERBANG!!" Densha berteriak sekencang mungkin, membuat Moa dan Fuu terkejut, mereka refleks melihat langit dan mencari-cari keberadaan UFO namun tidak ada.
"Tidak ada apapun di langit kok!" Moa masih terus mencari.
"Densha.. Fuu tidak lihat apapun" Fuu menoleh ke arah Densha, namun pria itu sudah lari terbirit-birit meninggalkan Fuu dan Moa.
"Cih! Aku kena tipu!" Moa menggerutu kesal dan berlari mengejar Densha.
"Kalian berdua! Tunggu! Kalian belum menjawab Fuu?!"
"Kita bahas lain kali saja ya?" Teriak Moa dari kejauhan.
"Jadi benar ya? Densha dan Moa menyukai Jennie.. apa Fuu harus seperti Jennie? Agar Densha menyukai Fuu?" Gumam Fuu pelan, ia berjalan dengan lambat sampai ke rumah.
Mod mengurung diri di dalam kamar, gadis 18 tahun itu tengah mengalami kegundahan yang tiada henti, ia bingung akan perasaanya. Gadis itu sangat yakin bahwa ia telah jatuh cinta pada Moa sahabat Densha.
"Hilangkan perasaanmu Mod! Moa hanya menyukai Jennie!!" Gerutu Mod kesal, gadis itu mengacak-acak rambutnya sendiri. Tanpa di sadari ia menangis, ia tidak pernah menyukai pria sampai menangis dan kebingungan seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan? Biasanya aku selalu berani mengutarakan perasaanku. Tapi.. saat aku tahu dia menyukai gadis lain, keberanian ku menghilang dengan sendirinya.. - Mod.
"Sayang?? Apa kau di dalam?"
"Iya.. Ayah!" Mod dengan cepat menghapus air mata di pipinya.
"Turun, dan makan malam lah.."
"Baik, Ayah!"
Mod turun dari kamarnya dan menemui ayah di meja makan, ia menemani ayah tercintanya untuk makan malam.
"Apa ibu masih sering pulang terlambat?"
"Ya.. begitulah sayang!" Ayah mulai menyuapkan makanan di mulutnya.
"Kenapa ayah tidak pernah marah?"
"Jika ayah marah, maka putri ayah akan sedih.."
"Jika ayah benar, lakukan lah.. aku tidak apa-apa!"
"Ayah tidak ingin putri ayah kehilangan ibu nya.."
"Aku cukup senang jika hanya memiliki Ayah.."
"Mod??"
"Maaf ayah.." Mod menundukkan kepalanya, ia memakan masakan ayahnya tanpa berkata apapun lagi.
Ibu Mod adalah pekerja kantoran yang mempunyai hobi mabuk-mabukan dan berjudi, ia selalu pulang larut malam! Bahkan berangkat ke kantor pagi-pagi buta, saat Mod belum bangun tidur. Mod berpikir bahwa ibu nya pasti selingkuh di luaran sana karena melihat kondisi ibunya yang selalu pulang malam dalam keadaan mabuk. Pria mana yang tidak mau mendapatkan kesempatan emas seperti itu?
"Aku harap ayah selalu bahagia!"
"Ayah bahagia memiliki putri sepertimu"
Cup!
Mod mencium pipi ayahnya, gadis itu tersenyum dan membersihkan meja makan, membawa peralatan makan itu ke tempat cuci piring.
"Biar ayah saja!"
"Tidak usah, ayah kan sudah masak.. Jadi biar aku yang mencuci piring nya"
"Ayah beruntung memiliki putri sepertimu!"
"Aku juga beruntung memiliki orang tua seperti ayah" Mod tersenyum tulus melihat ayahnya.
"Kalau begitu, ayah ke kamar ya?"
"Baik ayah!"
Di lain sisi Fuu tengah menyisir rambutnya di kamar Densha, ia mencoba mengepang rambut indahnya itu.
"Mau kau apakan rambutmu?"
"Fuu mau belajar menguncir rambut!"
"Untuk apa?"
"Bukan untuk apa-apa, hanya ingin belajar saja!"
"Biarkan terurai.."
"Kenapa? Fuu ingin mencoba hal baru! Nah, sudah.. bagaimana Densha? Apa Fuu cantik?" Fuu memandang Densha dengan senyum manis di wajahnya.
Kau cantik sekali.. - Densha.
"Jelek sekali! Kau mau menguncir rambutmu seperti itu saat di sekolah hah?!"
"Apa rambut Fuu seburuk itu?"
"Iya, lepas kunciran mu itu!"
Fuu berjalan di depan kaca lemari Densha, ia mencoba mengaca di sana.
"Rambut Fuu bagus kok!"
"Kalau aku bilang jelek ya jelek!" Densha mengomel dengan kesal.
"Bagus.. Fuu akan berdandan begini saat ke sekolah"
"Aku sudah bilang jelek kan?"
"Fuu tidak peduli!"
"Apa?! Aku tidak dengar??"
"Fuu tidak peduli!" Gumam Fuu pelan.
"Kau bilang apa?" Densha berdiri tepat di depan Fuu, pria itu menatap Fuu dengan tajam.
"Fuu bilang, Fuu tidak peduli!" Fuu memberanikan diri menatap Densha.
"Tidak peduli ya??" Densha tersenyum.
"I.. i.. iya! Fuu tidak peduli!"
"Kalau begitu aku juga tidak peduli melakukan ini padamu kapanpun!"
"Melakukan a.." belum selesai Fuu berbicara, Densha sudah menyerangnya.
Cup!
"Ng.." Mata Fuu terbuka lebar, dagu nya di tarik paksa oleh Densha. Bibir pria itu menyentuh bibir Fuu, ia mencium Fuu dengan gemas.
"Tu.. tu.." Fuu mencoba berbicara. Namun Densha tidak memberi gadis itu kesempatan. Wajah Fuu benar-benar memerah seperti tomat, jantung gadis itu berdegup dengan keras. Membuat seluruh tulangnya rapuh.
Pe.. perasaan apa ini? - Fuu.
Fuu memejamkan matanya dan mencoba menerima ciuman dari Densha.
"Bagaimana? Masih tidak peduli dengan kata-kataku?" Densha menatap Fuu serius.
"I.. itu.. Fuu.."
"Apa? Bicara dengan benar!" Densha menuju ke tempat tidurnya dan merebahkan diri disana.
"Fuu minta maaf!" Gadis itu menundukkan kepala, ia berusaha menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu. Fuu berjalan menuju tempat tidurnya yang di bawah lantai.
"Kalau aku bilang jelek ya jelek! Ingat itu baik-baik!"
"Fuu akan ingat selamanya.." Fuu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, jantung gadis itu tidak henti-hentinya berdebar.
Fuu suka saat Densha mencium Fuu, tapi Fuu benci merasakan detakan keras ini.. - Fuu.
Eh? Tapi.. Densha kan menyukai Jennie? Fuu harus bagaimana agar Densha menyukai Fuu.. - Fuu.
Membuat wajah Fuu merona merah itu menyenangkan ya? Hehe.. Yaahh.. sepertinya aku betulan jatuh cinta dengan gadis duyung ini - Densha melirik ke arah Fuu tidur, ia tersenyum memperhatikan Fuu di balik selimutnya.
Bersambung..