
Katrina berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya. Gadis berambut biru itu juga merasakan rasa sakit luar biasa pada kepalanya, ia memejamkan matanya sekali-kali untuk meringankan rasa sakit yang ia rasakan.
"Ada apa dengan kepalaku?"
KRIET!!
Pintu rumahnya terbuka, ia segera melangkah masuk. Namun langkahnya terhenti saat ia mencium aroma tidak sedap di dalam rumahnya, hidungnya mencoba mengendus-endus bau amis yang sangat menyengat dari lantai atas kamarnya.
"Astaga! Bau apa ini? Kenapa busuk sekali??"
Katrina menutup hidungnya rapat-rapat, ia berlari kecil menuju kamar kedua orangtuanya. Saat membuka kamar mereka, Katrina tak menemukan seorang pun di dalam kamar orangtuanya.
"Dimana ayah dan ibu??"
Katrina beralih ke dapur, sekilas ia melihat isi rumahnya yang sangat berantakan. Gadis itu duduk di kursi ruang tamu dan merenung mencoba mengingat hari-hari sebelum hari ini, namun sayang ingatan itu tak muncul dalam kepalanya.
"AYAH?? IBU?? AKU PULANG!! KALIAN DIMANA??" Teriak Katrina keras.
Merasa tak ada sahutan, Katrina berjalan untuk menyalakan lampu setiap ruangan. Ia juga membereskan barang-barang di lantai bawah yang berserakan kemana-mana.
"Ya Tuhan! Jangan-jangan..."
Batin Katrina mulai bergejolak, ia menyadari sesuatu. Rumah dalam keadaan gelap, isi rumah berantakan dan tidak ada orang. Apa lagi kalau bukan pencurian? Begitu pikir Katrina.
Gadis itu buru-buru menuju sumber bau menyengat dari kamarnya, ia berharap semoga apa yang ia pikirkan adalah salah.
"Kumohon... Jangan..." Gumam Katrina lirih.
Katrina melongo, kedua matanya mendelik hampir keluar dari tempatnya melihat jasad ibunya yang sudah membusuk di dalam kamarnya. Gadis itu jatuh terduduk dengan lemas, ia menangis sejadi-jadinya menatap ibunya yang mengalami kejadian nahas seperti ini.
"Apa salahku?? Kenapa aku selalu mendapatkan hal buruk??"
Katrina berteriak-teriak depresi, ia menjambak rambutnya sendiri. Dengan wajah yang berlinangan air mata, gadis itu turun ke lantai satu untuk membuat panggilan ke kantor polisi.
Ekor mata Katrina menangkap sesuatu, suatu siluet dari sebuah cermin besar di ruang tamunya.
Penasaran, Katrina memberanikan diri untuk mendekati cermin. Gadis itu menatap ragu pada cermin yang ia yakini menampakan wujud seseorang di dalamnya.
TRAKK!!!
Katrina terkejut bukan main, gadis itu sampai jatuh terjerembab ke belakang saat sebuah tangan memukul kaca itu dari dalam cermin. Tangan dengan selaput yang melindunginya, kuku jari yang amat panjang dan menghitam.
Katrina begitu ketakutan, gadis itu memundurkan tubuhnya perlahan. Namun sebelum ia berhasil, tangan misterius itu menuliskan sebuah nama dan mantra di dalam pantulan cermin.
"KRAKEN??" Katrina membaca perlahan. "Darah kematian... Hanya untukmu??"
Secara ajaib setelah Katrina membaca kalimat itu, muncul kepulan asap hitam dari bawah cermin itu. Katrina bergidik ngeri dan ingin kabur untuk melindungi diri, namun sebuah ikatan seolah menahannya. Ikatan yang tak terlihat, benar! Itu adalah sihir.
"Lepaskan! Apa ini?? Apa yang terjadi??" Katrina meronta-ronta panik.
"Kikikiki...."
"Ayah... Tolong aku!!" Teriak Katrina memanggil-manggil ayahnya yang bahkan telah tiada.
"Hiks... Hiks..." Katrina menangis ketakutan. "Ku mohon, lepaskan aku!"
"Gadis bodoh!" Bentak suatu makhluk yang menampakan dirinya dari dalam cermin.
Katrina tergesa-gesa untuk menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Gadis itu mencari sumber suara yang baru saja ia dengar, ia menatap cermin di depannya secara seksama.
Samar-samar muncul siluet seekor duyung dengan wajahnya yang menyeramkan, gigi taring cukup tajam dan banyak duri tajam di sekitar lengannya. Mata Katrina terbuka lebar saat sosok itu semakin jelas terlihat oleh dirinya.
"Si... Siapa kau..." Ucap Katrina takut.
"Kikikiki... Bisa-bisanya kau terpengaruh sihir dari Tribrid itu"
Dia ngomongin apa sih?? - Katrina.
"Apa kau tidak mengingatnya??"
"Mengingat apa??" Katrina mengangkat sebelah alisnya.
"Dasar gadis tidak berguna!!" Kraken menyeringai, ia menjentikkan jemarinya dengan cepat.
Secercah cahaya muncul dari dalam cermin, cahaya itu memaksa masuk ke dalam mata Katrina. Gadis itu jatuh pingsan menerima dorongan sihir itu, sedangkan Kraken tertawa terbahak-bahak menyaksikan kepolosan Katrina.
"Sekarang kau akan mengingat semuanya!! Dapatkan Tribrid itu untukku"
TRAARAAK!!!
Bersamaan dengan retaknya cermin besar itu, sosok Kraken juga menghilang secara misterius. Lampu rumah Katrina mati seketika menjadikan rumah itu kembali dipenuhi kegelapan.
Selang beberapa menit ia tak sadarkan diri, Katrina bangun dari ketidaksadaran nya. Gadis itu membuka matanya dan menampilkan bola mata berwarna hitam legam disana. Ia (Katrina) tersenyum lebar mengingat semua kejadian yang sempat ia lupakan.
"Deryne..." Ucap Katrina lirih. "Kedua gadis itu harus aku habisi"
Katrina membayangkan wajah Fuu yang saat ini pasti sedang tertidur, lalu ia sedang menebak-nebak dimana Deryne Mikaelson saat ini berada.
"Kira-kira dia dimana ya??" Katrina berdiri dan hendak keluar rumah.
"Akan aku pancing dia datang!"
___________________________________________
Mod dan Moa berdiri didepan pintu rumah Densha, disusul Isabella yang baru saja mengambil tas jinjingnya. Mereka bertiga bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Apa bibi tidak ingin menginap??"
Densha merasa khawatir pada Isabella karena ini sudah sangat malam bagi seorang wanita untuk pulang.
"Sebentar lagi supirku akan sampai! Kau jangan khawatir" Isabella tersenyum ramah. "Lagipula besok pekerjaanku banyak sekali"
Dengan berat hati pria itu mengijinkan bibinya untuk pergi. Moa dan Mod membungkukkan badan mereka sebelum memasuki mobil.
"Selamat malam bung!" Ucap Moa senang.
"Ya! Kau juga"
"OMG!! Aku ngantuk sekali" Mod berjalan dengan malas.
KLAP!!
(Pintu mobil tertutup)
Suara mesin mobil milik Moa mulai terdengar, ia melaju meninggalkan halaman rumah Densha ditemani lambaian tangan dari pria itu.
Beberapa detik mobil Moa pergi, kini giliran mobil Isabella yang datang. Wanita paruh baya itu memeluk keponakannya dengan hangat. Ia tersenyum dan mengusap kepala Densha lembut.
"Jaga diri baik-baik ya?"
"Iya" Densha melambaikan tangannya.
Ia terus memperhatikan sampai mobil Isabella benar-benar menjauh dan tak terlihat, setelah itu Densha memasuki rumah dan menguncinya bersiap untuk istirahat.
"Ya Tuhan!! Sakit sekali badanku!"
Densha meregangkan tubuhnya agar otot-ototnya melemas. Pria itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.
Setelah mengantar Mod ke kediaman Roosevelt, Moa langsung tancap gas menuju rumahnya. Pria berambut pirang itu terus-terusan menguap karena lelah.
KRIET!!
(Suara pintu terbuka)
"Ayah... Aku pulang"
"Kenapa rumahku gelap sekali?"
GUBRAK!!
BRAKK!!
BRUAKK!!!
Tubuh Moa berguling-guling, ia terseret sampai menabrak sofa ruang tamunya beberapa kali. Belum sempat ia berdiri tubuhnya kembali tertarik oleh suatu kekuatan yang tak kasat mata, pria itu terlempar jauh menabrak dinding pembatas antara ruang tamu dan kamar ayahnya.
BRAKKK!!!
"Hahaha"
Moa terkejut bukan main, ia mendengar suara seorang gadis sedang tertawa. Namun anehnya ia tidak bisa melihat suara siapakah itu?
Tik!
Takut? Iya, itulah yang dirasakan oleh pria yang terkenal akan rasa takutnya pada hal-hal yang berbau hantu.
"Halo Moa?" Sapa Katrina dengan kedua matanya yang hitam legam.
Bagai tersambar petir, jantung Moa seakan berhenti berdetak. Bagaimana Katrina bisa memiliki mata yang mengerikan seperti itu? Begitu pikirnya.
"WTF!!" Pekik Moa terkejut. "Kau Katrina?? Ada apa dengan warna matamu?"
GRAB!!
Katrina mencekik leher Moa dan melemparkan tubuh pria itu sesuka hatinya. Moa jatuh tersungkur menahan rasa sakit di kepalanya, pria itu batuk-batuk sambil memegang lehernya.
"Apa-apaan gadis gila ini!" Maki Moa kesal.
Tanpa merasa bersalah, Katrina duduk di sofa Moa dengan anggun. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, gadis itu tersenyum manis memandang Moa.
"Kau pasti tidak ingat!"
"Ingat??" Moa menatap tajam Katrina. "Ingat apa?? Mengingat kau membantingku berulang kali itukah?" Sindir Moa ketus.
"Hahaha... Sebentar lagi ponselmu pasti berdering" ucap Katrina pelan.
"Hah?!"
Tut! Tut! Tut!
Moa membuka matanya lebar-lebar ketika tebakan Katrina benar, ia segera merogoh ponselnya di kantung jaket yang ia kenakan.
"Densha kan??" Tanya Katrina percaya diri.
Bagaimana dia bisa tahu?? - Moa.
"Kenapa tidak kau jawab panggilannya??"
"Tunggu! Ada apa ini sebenarnya?" Wajah Moa nampak kebingungan.
Katrina menyeringai, ia menggelengkan kepala tanpa menjawab pertanyaan dari Moa.
"Kenapa tidak kau tanyakan sendiri pada sahabatmu?" Tantang Katrina.
Tut! Tut! Tut!
Mata Moa masih terus menatap Katrina namun tangannya bergerak untuk mengangkat panggilan dari Densha.
"H... Halo?" Ucap Moa ragu.
"Moa?? Bisakah kau ke rumahku sekarang?"
Suara Densha terdengar panik di ujung sana, keringat dingin mulai mengucur dari dahi pria berambut pirang itu.
"A... Ada apa??"
Depolsum~ (mantra untuk membuka benda yang terkunci)
BRAKK!!!
Pintu rumah Moa terbuka lebar! Seorang gadis sedang berdiri disana sambil menatap Katrina tajam.
"Sudah datang??" Katrina tersenyum licik.
Wingadafucia~
Ryn menggerakkan tangan kanannya untuk mengunci tubuh Katrina. Gadis itu membuat tubuh Katrina terpental dengan sihirnya lalu mengikat Katrina erat.
"WTF!! Apa-apaan?! Kenapa ada dua penyihir di dalam rumahku?"
Moa yang panik setengah mati cuma bisa menjambak rambutnya gemas. Ia melongo melihat dua orang gadis yang saling serang menggunakan mantra sihir. Bahkan ia lupa bahwa dirinya saat ini sedang menerima telpon dari Densha.
"Ha... Halo? Moa? Ada apa?" Suara Densha terdengar panik.
Ryn menatap ponsel Moa dengan pandangan yang kurang menyenangkan. Seketika ponsel Moa mati dengan sendirinya.
"Hahaha" Katrina tertawa. "Selamat datang kembali"
Katrina tersenyum menyambut kedatangan Tribrid di depan matanya saat ini, ia menjentikkan jarinya untuk membebaskan ikatan sihir di tubuhnya, duyung jahat itu beralih menatap Moa.
"Sekarang aku akan pergi! Terima kasih sudah menjadi umpanku untuk memancingnya" Katrina menunjuk Ryn dengan ekor matanya.
U... Umpan?? Umpan apa? Apa yang sebenarnya terjadi? - Moa.
Tik!
(Katrina menghilang)
Kini tinggal Ryn dan Moa yang saling pandang, gadis bermata biru itu menghela nafas panjang. Moa yang merasa bahwa ada gadis asing di rumahnya malah menjauhi Ryn.
"Jangan takut, aku tidak jahat"
"Mana ada orang jahat bilang dirinya jahat?" Sindir Moa kasar.
Ryn menundukkan kepala, air mata mengalir di pipinya. Hal itu semakin membuat Moa panik dan kebingungan.
"Aku... Aku..." Ucap Ryn terbata-bata. "Namaku Deryne Mikaelson"
"......." Moa mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Aku anak Densha Mikaelson dan Fuu" lanjut Ryn tegas.
Moa menutup mulutnya tidak percaya, ia menggelengkan kepala kuat mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan gadis asing ini.
"Aku akan mengembalikan ingatanmu! Kumohon jangan takut padaku" pinta Ryn memelas.
Lain halnya dengan Densha, di rumahnya ia sedang kebingungan akan keadaan Fuu yang tak kunjung bangun dari tidurnya. Awalnya ia (Densha) mengira bahwa Fuu hanya tidur biasa.
Namun saat Densha berusaha membangunkan Fuu, gadis itu tak kunjung bangun dan denyut jantungnya semakin melemah.
"Kenapa dia tidak mau bangun?"
TAMAT!!!
Halo, terima kasih sudah membaca! Saya senang sekali mendapat dukungan dari kalian 😘 Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?
Baca Episode (The lost episode) kerennya besok ya? Jump to Season 2!! 😊