Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Iri



Cplash!


Cplash!


Cplash!


Gadis cantik berwujud duyung menyeret tubuhnya menuju daratan, kedatangannya di sambut seorang pria tampan yang menunggu nya semalaman.


"Sudah selesai?"


"Uhm" Fuu mengangguk pelan.


"Bagaimana? Coba lihat?"


"Ini" Fuu menunjukkan luka sayatan di pergelangan tangannya yang hampir memudar.


"Wah! Keren!! Tapi kau butuh waktu hampir satu jam loh"


"Iya, Fuu tidak tahu kenapa regenerasi Fuu melambat"


"Kau terlalu banyak mengeluarkan darah mungkin?!" Ucap Densha secara gamblang.


Fuu terkejut dengan kalimat Densha, gadis itu terpaku memandangi wajah Densha. Ia tak percaya, bagaimana Densha bisa tahu akan hal itu. Padahal Densha hanya asal bicara saja.


"Mungkin... Densha benar"


"Eh? Aku benar?"


"Mungkin saja!"


"Wah, sisik mu sudah mulai mengelupas, sebaiknya aku memandang ke arah lain saja"


Densha memutar tubuhnya, memandang ke sisi hutan taman kota. Ia berdiri membelakangi Fuu, gadis itu juga duduk membelakangi Densha, kini posisi mereka saling membelakangi satu sama lain.


"Hei Fuu..."


"Apa?"


"Apa kau ini abadi?"


Deg!


Mata Fuu membulat dengan pertanyaan tiba-tiba dari Densha.


"Haha! Kalau tidak ingin jawab juga tidak apa-apa"


"Fuu... Tidak abadi"


"Apa???"


"Fuu bisa mati, jika ingin membunuh duyung, serang bagian otaknya. Otak duyung tidak bisa di regenerasi"


"......"


"Jika hanya menyerang bagian anggota tubuh lainnya, duyung masih bisa memperbaiki tubuh yang rusak"


"Aku kan hanya bertanya kau ini makhluk abadi atau tidak, kenapa kau malah menceritakan hal mengerikan seperti itu?"


"Fuu rasa Densha harus lebih banyak mengetahui tentang Fuu"


"Kenapa?"


"Entahlah... Fuu tidak tahu"


"Ada satu lagi yang ingin ku tanyakan!"


"Apa?"


"Saat kau mabuk, kau bilang bahwa ingin meminum darahku, apa maksudnya itu?"


"Eh! Fuu mengatakan itu?"


"Tentu saja! Dan...." Kalimat Densha terhenti, ia menggeleng-gelengkan kepala dengan kuat.


"Ada hal yang tidak ingin aku ingat saat kau mabuk malam itu"


"Apa itu?"


"Sudah aku bilang aku tidak ingin mengingatnya kan?"


"........"


"Kenapa diam?"


"Sebenarnya, Fuu sedang sekarat"


"Apa?!" Densha menoleh ke arah Fuu karena terkejut, tapi gadis itu belum sempat mengenakan pakaian satu pun.


"OMG! KENAPA KAU MASIH BELUM MEMAKAI BAJU?!" Teriak Densha dan menutup matanya.


"Fuu baru saja berubah, bagaimana bisa mengenakan baju! Kenapa Densha berteriak?"


"Aku terkejut bodoh! Astaga!!" Densha kembali membelakangi Fuu, ia mengusap-usap dadanya yang masih terus berdebar dengan keras.


Fuu memungut pakaiannya dan mengenakannya satu persatu dibalik punggung Densha.


"Hei, apa maksudnya kau sedang sekarat?" Suara Densha terdengar sayup-sayup, seperti menahan rasa takut.


"Mmm... Jika seorang duyung mengeluarkan banyak darah untuk obat, duyung itu juga harus meminum darah seseorang untuk menggantikan darah yang keluar"


"Memangnya apa yang akan terjadi padamu jika hal itu tidak dilakukan?"


"jika tidak di lakukan, Fuu akan mati" ucap Fuu tenang.


"Brengsek!"


"Apa?" Fuu menoleh ke belakang, gadis itu menatap punggung lebar milik Densha.


"Kalau kau memang ingin mati, maka mati saja!"


"Apa maksud..."


Belum selesai Fuu berbicara, Densha sudah berbalik badan menatap gadis itu, tatapan Densha sungguh tajam seakan mengiris perasaan Fuu.


"LALU KENAPA KAU MENGOBATI ORANG YANG BAHKAN TIDAK KAU KENAL JIKA PADA AKHIRNYA KAU AKAN MATI!!" Teriak Densha kesal.


"Tunggu... Bukan begitu"


"Bukan begitu darimana? Yang kau lakukan jelas sekali begitu kan?! Kau ini bodoh atau bagaimana? Dengan polosnya kau datang ke kehidupanku dan sekarang kau akan pergi begitu saja?? Ck! Setelah semua yang telah aku lakukan untukmu kau akan meninggalkan aku, begitu kah?"


Bicaranya cepat sekali... Fuu tidak mengerti - Fuu.


"Anu, Fuu... Fuu..."


"Hentikan tindakanmu untuk mengobati ayah Mod!"


"Tapi, ayah Mod belum sembuh"


"Terus? Apa hubungannya denganku? Mereka bukan saudaraku!!"


"Ada apa dengan Densha??"


"Ada apa denganku? Justru kau lah yang kenapa? Kenapa kau melakukan itu padaku? Katakan Fuu... Kenapa kau melakukan semua ini?"


"Fuu hanya ingin menolong"


"Siapa yang ingin kau tolong? Kau ingin menolongnya? Yang bahkan tidak memberimu makan hah?! Tidak memberimu tempat tinggal? Lalu kapan kau akan menolongku?"


Deg!


Mata Fuu membulat, otaknya berpikir keras untuk memahami semua kalimat Densha yang membingungkan. Nafas Fuu tidak beraturan saking bingungnya harus bereaksi apa?


"Apa Densha sakit?? Kenapa Densha memerlukan pertolongan dari Fuu?"


Ck! Bisa gila aku!! - Densha.


"Kau... Kau... Aku membencimu!! Pergilah menolong semua orang yang ingin kau tolong! Buatlah dirimu mati secepatnya!" Tegas Densha.


"Tidak! Jangan katakan itu..."


"......."


Air mata Fuu mengalir di pipi mulus miliknya, gadis itu sesenggukan menahan rasa sakit di dadanya.


"Kenapa kau menangis?"


"Fuu tidak tahu, dada Fuu terasa sakit dan sesak"


"Itulah yang aku rasakan saat mendengar bahwa kau akan mati"


"Jangan katakan bahwa Densha membenci Fuu, Fuu tidak suka itu"


"Lalu kau pikir, aku suka mendengar bahwa kau akan mati??"


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Aku yang sakit hati, dia yang menangis! Duh!! - Densha.


"Apa tidak ada cara lain agar kau tidak mati? Karena... Aku tidak menginginkan hal itu terjadi"


"Densha bodoh! Hiks... Hiks..."


"Kenapa kau mengatai aku bodoh?"


SRAK!


SRARAK!


Bunyi berisik dari arah semak-semak mengejutkan Fuu dan Densha. Karena merasa panik, Fuu mendekatkan tubuhnya pada Densha, gadis itu bersembunyi di balik tubuh Densha.


"Cih! Kita kan sedang bertengkar? Kenapa kau berlindung di belakangku?"


"Fuu takut" gumam Fuu pelan, ia mengusap bulir-bulir air mata yang tersisa.


Pria itu mendengus kesal, ia mengarahkan pandangannya ke arah semak belukar. Tempat timbulnya suara-suara berisik.


"Hei! Ada orang disana?"


Srak! Srak!


"Kau benar! Sudahlah, lupakan saja. Ayo kita pulang!!"


Rasa amarah dan kesal yang meluap-luap dalam diri Densha hilang seketika, mungkin ia tidak betul-betul marah. Sebenarnya ia hanya cemburu dan merasa iri. Dengan ragu, ia menggandeng tangan Fuu tanpa melihat gadis cantik di sampingnya itu.


****


Hosh!


Hosh!


Hosh!


"Bisa-bisanya mereka ada di tempat itu? Untung saja mereka tidak melihat dan mengejar ku"


Gadis cantik bermata biru, ia mengusap-usap dadanya yang terasa sesak karena berusaha kabur dari Densha dan Fuu.


"Nah! Lupakan pasangan aneh yang tak kunjung jadian itu! Ayo kita jalan-jalan!" Seru gadis itu.


Ia tertawa riang melintasi ramainya kota, seolah pernah menginjakkan kaki ke kota itu sebelumnya. Gadis itu melihat-lihat suasana kota, dan melihat kios-kios makanan yang berjejer rapi di pinggir trotoar.


"Eh! Ini kedai es krim yang itu kan?" Gumam gadis itu seorang diri.


"Hei, kau sedang apa?"


Hah?! Siapa? - batin gadis itu.


Gadis itu menoleh ke sumber suara, matanya tak berkedip memandang sesosok pria tampan dan manis, berambut pirang. Gaya nya keren dengan jaket hoodie yang membalut tubuhnya.


Ya Tuhan!! - gadis itu menutup mulutnya sendiri saking tidak percayanya dengan apa yang ia lihat.


"Kau kenapa?"


"Ah! Tidak-tidak.. Hehe"


"Kau ingin makan es krim? Masuklah"


"Ah! Tidak, aku tidak punya uang saat ini, Hehe"


"Hah?! Kau gembel??"


Moa memperhatikan gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, jelas sekali bahwa ia tidak pantas di sebut sebagai gembel.


"Dasar sinting! Aku bukan gembel!"


"Kau tidak punya uang? Bukankah itu gembel?"


"Dih! Berbicara denganmu memang selalu saja membuat kepala sakit"


"Selalu?? Hei, asal kau tahu kita baru bertemu hari ini bodoh!"


"Astaga! Iya.. Haha, maaf-maaf"


"Gadis aneh! Tunggu disini! Aku akan membelikan mu Es krim! Oh... Kau juga bisa ikut masuk jika mau"


"Eh! Apa boleh?"


"Tentu saja! Kau bukan gembel kan?"


"Harus bilang berapa kali sih? Aku ini bukan gembel!!"


Kyaa... Lucunya... - batin si gadis.


Moa mengajak gadis itu masuk ke kedai Es krim, tempat dirinya dan Mod kencan pertama kali. Ia menyuruh gadis itu untuk duduk menunggunya memesan Es krim.


"Duduk di sana!"


"Okay, baik!"


"Apa?"


"Ah! Maksudku baik! Hehe"


Cara bicara itu... Ah! Sudahlah - Moa.


Beberapa menit kemudian, Moa duduk di seberang gadis itu. Mereka saling berhadapan, Moa terus saja mengawasi dan memandangi wajah gadis cantik di depannya.


"Kenapa lihat-lihat? Ada yang salah dengan wajahku?"


"Tidak! Kau cantik"


"Wah, terima kasih! Tapi aku tidak butuh pujian itu, kau bukan tipeku!"


"Dih! Siapa juga yang menyukai mu! Aku hanya memuji"


"Ngomong-ngomong apa kau sudah punya pacar?"


"Hei, tidak sopan menanyakan itu pada orang yang baru kau kenal! Eh?? Tunggu dulu, kita bahkan belum berkenalan"


Moa tersenyum tulus, ia mengulurkan tangannya pada gadis cantik itu.


"Namaku Moa"


"Moa?? Nama keluarganya apa?" Gadis itu belum menerima uluran tangan Moa.


"Moa Collin, itu namaku"


"Ah! Senang bertemu denganmu! Aku rasa kita akan bertemu setiap hari, haha" gadis itu menjabat tangan Moa dengan lembut lalu melepaskannya.


"Lalu, siapa namamu?" Tanya Moa penasaran.


Gadis itu menatap Moa dengan tajam, wajahnya nampak murung. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya, dengan senyuman sinis nya ia membuka mulutnya.


"Kau tidak perlu tahu!"


"Apa?! Kenapa begitu?"


"Suatu saat kau pasti mengenalku, Hehe"


"Permisi! Ini pesanannya..." Sapa seorang pelayan yang membawa dua mangkuk Es krim rasa cokelat dan vanila, ia meletakkan mangkuk itu dengan hati-hati ke atas meja.


"Silahkan..." Ucap pelayan itu lalu pergi.


"Hore! Makan!! Bagaimana kau tahu aku suka vanila?"


"Entahlah! Seolah aku sudah ada ikatan denganmu!" Ucap Moa kesal.


"Cih! Ikatan apa?! Amit-amit"


"Hei, bukan ikatan yang begitu! Dasar bodoh!"


"Ingat ya tuan! Kita baru saja bertemu!"


"Ya aku tahu itu!"


Di lihat-lihat sedikit mirip dengan seseorang yang aku kenal... Tapi siapa ya?? Wajah ini tidak asing untukku - Moa.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Ah! Tidak" Moa menyendok es krim ke mulutnya dengan cepat.


"Begini ya? Kau pasti akan berjodoh dengannya"


"Eh??"


"Kau menyukai seorang gadis kan?"


"Bagaimana kau bisa tahu? Eh! Tunggu dulu, gadis yang ku maksud ini bukan kau ya?"


"Bodoh! Tentu saja aku tahu kalau itu bukan aku!!"


"Haa.. Syukurlah, tapi... Kau tahu darimana?"


"Aku ini peramal loh"


"Oh iya? Mana ada hal seperti itu? Kau ini sesat ya?"


"Kau suka sekali mengatai orang ya?" Gerutu gadis itu kesal.


"Hahaha, entah kenapa kau mirip dengan seorang gadis yang sering aku ejek setiap harinya, dan selalu saja ada pangeran yang menolongnya"


Dia sedang membahas mereka ya?? - batin gadis itu.


"Maaf-maaf, sekarang coba ramal aku!"


"Ehm.. berikan telapak tanganmu!"


Moa mengulurkan tangannya, gadis itu menerima dan mengusap-usap telapak tangan Moa. Mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra yang tidak di mengerti oleh Moa.


"Kita akan bertemu lagi, dan di saat itu kau memiliki anak laki-laki yang manis" ucap sang gadis.


"Apa?"


Moa menarik tangannya. Ia benar-benar merinding dengan kata-kata gadis asing itu.


"Hanya itu yang bisa aku lihat"


"Kau bohong kan?"


"Ya, namanya juga ramalan. Boleh percaya boleh tidak! Aku sudah selesai makan, ayo jalan-jalan" ajak gadis asing itu.


"Jalan-jalan? Kau tidak takut jika pergi dengan orang asing?"


"Eh! Siapa? Mana ada orang asing, aku kan pergi bersamamu"


"Isi kepalamu benar-benar sudah rusak ya??"


"Beneran suka mengatai orang ya?"


Tambahan :


Yang tidak ingin di ingat Densha saat Fuu mabuk adalah setelah Fuu bangun dari mabuknya. Ia muntah-muntah di atas ranjang Densha, dan saat itu Densha dalam keadaan tertidur lelap. Jadi tanpa sadar Densha tidur bersama muntahan Fuu.


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘