Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 5)



"Pulang???"


Mata Mod mendelik mendengar permohonan dari Ryn yang begitu memberatkan hatinya. Gadis itu berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan ranjang tidurnya.


"Iya... Aku kangen sekali sama mama dan papa"


"Bukankah aku ini mamamu?" Mod menatap Ryn serius.


"Hah... Bagaimana ya??" Ryn merebahkan tubuhnya di ranjang tidur Mod, mata gadis itu menerawang jauh.


"Mama di tempatku dan di tempat ini berbeda! Lagi pula... ini sudah sangat lama aku pergi dari rumah" imbuh Ryn sedih.


"Apa aku yang disana tahu bahwa kau akan pergi ke masa lalu??"


"Hahaha, mama ini lucu sekali! Kenapa mama bertanya pada diri sendiri begitu sih?! Tentu saja mama tahu!!"


"Apa kau tidak betah tinggal disini?" Mod duduk di samping Ryn, gadis itu sedih, ia tidak rela Ryn pergi.


"Yang benar saja! Aku betah sekali... Aku tidak akan lama kok, mungkin dua hari aku akan kembali" ujar Ryn enteng.


Mod menyentuh dagunya sendiri, ia sungguh tak ingin Ryn pergi. Apalagi di situasi seperti sekarang, siapa yang akan menghadapi Katrina jika gadis kejam itu berbuat onar lagi.


"Bisakah kau mengundur kepergian mu?? Apa kau tidak ingin melihatku jadian dengan Moa??"


"Papa itu terlalu pengecut!! Aku sudah berada disini terlalu lama tapi tak kunjung menyaksikan pernyataan cinta itu juga!" Ryn memajukan bibirnya beberapa centi untuk meledek Mod.


"Ngomong-ngomong kapan kencan kedua kalian??" Timpal Ryn lagi.


"Itu... Moa merubah rencananya" Mod menggaruk belakang kepalanya yang tak terasa gatal.


"Merubah bagaimana?"


"Dia bilang kencan saat Festival itu norak, jadi dia mempercepatnya" gumam Mod pelan.


"Apa?? Dipercepat?? Kapan??" Ryn nampak begitu antusias mendengar kabar bahagia tersebut.


"Saat malam sebelum festival, ia ingin mengajakku ke sebuah taman hiburan"


"Wah!! Pasti menyenangkan!"


"Apa kau akan mengikuti kami??" Mod menyipitkan kedua matanya sinis.


"Bohong kalau aku bilang tidak! Aku tidak bermaksud menguntit sih?! Cuma... Aku khawatir Katrina akan mengganggu kalian"


"Jadi kau akan mengawasi kami?"


"Benar!" Ryn mengangguk-anggukkan kepalanya berulang kali.


Wajah Mod memerah, gadis itu menundukkan kepalanya semakin dalam. Tangannya di putar-putar seperti orang yang sedang cemas.


"Ada apa mama??" Tanya Ryn curiga.


"Bisakah kau tak mengikuti kami" pinta Mod lembut.


"Eh?? Kenapa? Kalau terjadi masalah bagaimana??" Ryn beranjak bangun dari rebahan nya.


"Aku kan punya panah kecil ini" Mod mengangkat tangan kanannya dan menunjukkannya pada Ryn. "Jika aku dalam masalah, aku tinggal mengusap punggung tanganku dan kau akan datang kan??"


"Mama benar! Baiklah... Aku mengerti, sepertinya mama betulan tak ingin ada yang mengganggu ya?"


"Iya..." Mod masih tersipu malu.


"Tunggu! Apa mama dan Moa akan..." Mata Ryn melirik curiga pada Mod, hal itu malah membuat Mod menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Serius?? Mama akan melakukannya??" Mata Ryn membulat lebar.


"Berisik!"


"Ayo! Katakan padaku! Aku kan sudah remaja!" Ryn merengek dan menarik-narik kedua tangan Mod.


"Kau masih kecil!"


"Umur kita disini sama loh" bela Ryn tegas.


"Aku tidak tahu, ini pertama kalinya untuk'ku! Semua temanku di sekolah bilang saat pacaran memang wajar melakukan itu, apalagi saat pertama kali jadian"


Mod berdiri dari duduknya, ia nampak cemas dan gugup membayangkan yang tidak-tidak di kepalanya.


"Wah... Wah... Semburan kedewasaan ya?" Goda Ryn nakal.


"Diam Ryn!! Kau membuatku malu!"


"Jangan lupa bawa pengaman ya? Bilang pada Moa, hehe"


"RYN!!!" Teriak Mod kencang, yang di susul dengan tawa terbahak-bahak dari Ryn.


"Kalau begitu, mulai besok aku akan mengantar mama ke salon!"


Mod mengangkat sebelah alisnya bingung, sebelum ini ia tak pernah pergi ke salon. Mungkin perawatan disana akan sangat mahal jadi dia tidak ingin menginjakkan kakinya ke tempat itu.


"Aku tidak pernah ke sana" ujar Mod jujur.


"Tidak apa-apa, pasti seru! Nanti kita ajak ibuku juga ya??" Ryn tertawa lebar.


"Ibumu??"


"Iya... Ibu biologis ku! Fuu!! Boleh ya??" Ryn memasang wajah yang imut di depan Mod.


"Tapi... Fuu juga belum pernah ke salon! Apakah akan aman??"


"Mmm, benar juga!"


Ryn menatap keluar jendela kamar Mod, ia berpikir apakah akan baik-baik saja jika membawa Fuu pergi ke salon. Atau akan jadi masalah.


"Di bawa saja! Pasti menyenangkan!!" Ucap Ryn penuh kegembiraan.


"Oke deh!"


________________________________________


Di tempat lain, sepasang pemuda tengah sibuk di depan sebuah laptop. Mereka tengah sibuk meributkan sesuatu yang tak begitu penting bagi salah satunya.


"Duh!! Kenapa ribet sekali!!" Moa mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas.


"Yang ribet itu kau!" Sindir Densha kesal.


"Ayo tonton lagi!"


Moa meng-klik sebuah file video yang baru saja ia unduh di laptop milik Densha, saat video itu di putar Densha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia memilih pergi menjauh daripada menonton video tidak berbobot tersebut.


"Kecilkan suaranya Moa!! Itu bisa membuatku gila!" Pinta Densha tegas.


"Menonton yang beginian kalau tidak ada suaranya itu tidak seru tahu!" Celetuk Moa asal.


"Kalau gitu pakai earphone sana! Dan dengarkan sendiri!! Lagipula kenapa kau harus menonton video dewasa sih?!"


Densha merebahkan tubuhnya di sofa dalam kamarnya, ia mengambil sebuah buku untuk ia baca daripada harus menonton itu bersama Moa.


"Aku kan tidak berpengalaman, setidaknya sedikit-sedikit aku akan mencontoh sesuai yang ada di video ini"


"Sumpah deh! Kau betulan bodoh ya?" Ledek Densha kejam.


"Saat sudah waktunya untuk itu nanti, kau akan tahu apa yang harus kau lakukan! Jadi jangan terlalu di pikirkan"


"Benarkah?? Bagaimana kalau aku malah kebingungan? Aku tidak mau Mod yang akan memimpin!"


"Memangnya Mod sudah pernah ya?" Tanya Densha penasaran.


"Aku tidak tahu! Aku ingin jadi keren di depannya nanti!"


Densha memutar kedua bola matanya kesal, ia menutup kedua telinganya sendiri karena Moa tetap tidak mau mengenakan earphone.


"Kecilkan volumenya Moa!!"


"Iya-iya..."


Karena tak tahan Densha pergi meninggalkan Moa sendirian di kamarnya, pria itu pergi ke dapur untuk mengambil segelas air dingin.


Saat ia kembali, Moa sudah memasang earphone di telinga kanannya. Pria berambut pirang itu melambaikan tangannya pada Densha yang membawa segelas air dingin.


"Hai... Air untukku mana?" Bicara dengan polos.


"Ambil sendiri! Punya kaki buat apa?!" Ledek Densha ketus.


"Dih! Jahatnya..."


Moa mendengus kesal, ia lantas mematikan videonya dan hendak berdiri dari ranjang tidur Densha.


"Moa??"


"Apa?? Mau nitip sesuatu?? Punya kaki buat apa??" Ledek Moa gantian.


"Mau mati ya?" Densha menatap Moa dengan dingin.


"Apa sih?"


"Itu... Mmm..." Wajah Densha memerah sendiri sebelum menyampaikan kalimatnya.


"Apaan??"


"Jangan lupa menggunakan pengaman ya?? Umurmu masih muda untuk menjadi seorang ayah" Densha menasehati Moa tanpa menatap yang bersangkutan.


"Aku sudah tahu akan hal itu! Jadi kau tenang saja!!"


"Benarkah??" Densha masih merasa kurang yakin.


"Iya! Aku sudah baca-baca artikel dan mencari merek yang paling bagus!"


"Bagus lah kalau begitu! Semoga berhasil ya??" Densha tersenyum sumringah menatap Moa.


"Tentu saja! Aku akan berhasil"


Moa membalas senyuman Densha dengan tawanya. Lalu ia pergi menuju ke dapur untuk mengambil sebotol air minum beserta gelasnya.


Ngomong-ngomong dimana Fuu?? Aku tak melihatnya sedari tadi?? - Moa.


"Hei Densha??"


"Apa??" Densha menurunkan buku yang menutupi wajahnya perlahan.


"Dimana Fuu?? Aku tak melihatnya sedari tadi?"


"Dia pergi ke laut, dia harus me-recharge tenaganya lagi!"


"Oh... Seperti isi ulang baterai begitu ya??" Moa meletakkan botol air di meja kecil samping ranjang Densha.


"Begitulah... Karena kau bilang akan kesini, jadinya Fuu pergi sendirian!"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Moa terbatuk-batuk, ia mendelik memandang Densha. Tangan pria itu menunjuk-nunjuk Densha dengan jari telunjuknya.


"Apa sih??"


"Apa kau sudah hilang akal?! Kenapa membiarkannya pergi sendiri, bagaimana kalau Katrina membuat masalah lagi?" Moa panik dengan sendirinya.


"Fuu bilang dia akan baik-baik saja!"


"Dasar bodoh! Tidak ingat kejadian tandon air itu ya??" Moa segera meminum airnya sampai habis. Pria itu berdiri dan menyeret Densha agar bangun dari posisinya.


"Aduh... Kenapa sih??" Rengek Densha manja.


"Ayo! Kita harus susul Fuu! Katrina yang sekarang itu super mengerikan tahu!"


"Fuu lebih kuat dari Katrina, aku percaya itu!"


"Masa bodoh! Siapa yang lebih kuat! Setidaknya dia tak boleh pergi sendirian"


"Ini semua juga salahmu! Seandainya kau tidak kemari, dia pasti pergi bersamaku!"


"Cih! Terus saja menyalahkan aku!!"


Moa menarik lengan Densha kuat, membawa pria itu keluar rumah. Tak lupa Densha juga mengunci pintu rumahnya agar aman. Kedua pemuda itu berjalan menuju pantai di belakang hutan taman kota, tempat biasa bagi Fuu untuk me-recharge tubuhnya.


Sesampainya di tempat tujuan, kedua pemuda itu memandang area sekitar mencari keberadaan Fuu. Jantung Moa sudah berdegup dengan kencang, ia takut terjadi hal buruk pada Fuu. Mengingat iblis kejam bernama Katrina masih berkeliaran dengan tenang.


"TUH KAN?? BAGAIMANA INI???" Moa jatuh berjongkok sambil menjambak rambutnya sendiri.


"Hei, tidak usah berteriak aku juga dengar!"


"Ini semua gara-gara kau!"


"Gara-gara aku?? Jika kau tidak datang ke rumah, ini semua tidak akan terjadi tahu!" Bantah Densha kesal.


"Pandai banget sih membalikkan omongan!!"


"Oke, stop! Aku tidak ingin ribut denganmu! Sekarang kita harus mencari Fuu"


"Caranya?? Kau bisa bernafas dalam air??" Moa menunjuk lautan luas di depannya.


"Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja disini tanpa berbuat apapun"


Densha melepas sepatunya, ia menggunakan sepatunya sebagai alas duduk agar celananya tak kotor.


"Apa??" Moa terkejut dengan tingkah Densha. "Cuma itu cara yang terpikirkan olehmu?!"


"Lalu kau mau apa Moa??" Densha menatap Moa dengan tajam. "Bukankah kau sendiri yang bilang bahwa aku tak bisa bernafas dalam air??"


"Duh! Sumpah deh!!"


Karena tak terpikirkan cara lain, Moa mengikuti jejak Densha dengan duduk di samping pria itu. Dengan harapan, Fuu akan baik-baik saja.



"Hari ini, Fuu puas berenangnya!!" Ungkap Fuu dengan wajah super ceria.


Bersambung!!


Halo, Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! 😘😉