
Malam itu listrik tidak kunjung menyala, rumah Densha benar-benar gelap gulita. Hanya ada lilin yang hampir habis termakan api, tak disangka kecemasan menghampiri Densha yang tengah menyandarkan tubuhnya ke sofa kecil di dalam kamarnya.
Densha memandangi Fuu yang saat ini sedang duduk di atas ranjang miliknya, gadis itu memainkan kedua ujung jarinya. Fuu memutar-mutar ujung jarinya dengan cepat, semakin menunjukkan bahwa ia sedang cemas saat ini.
"Haahh..." Densha menghela nafas berat, ia melipat kedua tangannya di depan perut rata miliknya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Fuu tidak tahu, Fuu sedikit gelisah"
"Gelisah kenapa?"
"Fuu yakin.. ada seseorang di luar sana yang mengawasi rumah ini"
Mata Fuu memelas kepada Densha, gadis itu benar-benar panik tidak karuan. Densha dapat melihat kedua tangan Fuu yang sedikit gemetar.
"Tidak ada siapapun diluar Fuu!" Tegas Densha lalu berdiri menghampiri Fuu.
Bruukk!!
Langkah kaki Densha belum sampai pada Fuu. Suara benda jatuh yang samar-samar membuat pria itu menghentikan langkah kakinya, tanpa sadar Fuu sudah berdiri memeluk lengan Densha dengan kuat.
Densha melirik gadis cantik di sampingnya yang semakin ketakutan, walaupun dalam hati dia juga sedikit was-was, namun ia tidak boleh menunjukkan itu di depan Fuu.
"Densha mendengar itu?!"
"Ya, aku mendengarnya..." Densha menyentuh tangan Fuu kuat.
Csss!
"Li.. Li.. Lilin nya mati! Bagaimana ini Densha?" Rengek Fuu takut.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Fuu, Densha mengambil ponselnya. Ia menyalakan lampu senter di ponselnya untuk menerangi Fuu.
"Bagaimana? Merasa lebih baik?"
"Uhm" ucap Fuu menganggukkan kepala pelan.
"Ayo! Kita periksa.."
"Eh??"
"Apa kau mau disini saja?"
"Ti.. ti.. tidak! Fuu tidak mau di sini sendirian" Fuu semakin erat memeluk lengan Densha.
"Baiklah! Jangan lepaskan pelukanmu ya?"
"Okay, baik!"
Densha menelan ludah sebelum melangkahkan kakinya keluar kamar, ia dan Fuu berjalan menuju pintu depan untuk mengecek suara aneh di depan rumah mereka.
Deg!
Deg!
Deg!
Deg!
"Jantung Densha berdebar?"
"Tentu saja! Aku kan masih hidup"
"Tapi suaranya kencang sekali! Apa Densha sedang merasa takut?"
Cih!! - Densha.
"Aku.. Aku hanya merasa khawatir saja"
"Oh.. kalau Fuu merasa takut"
"Kenapa? Tidak ada yang perlu di takutkan!" Perintah Densha tegas.
"Fuu takut kalau itu hantu"
"Dengar ya? Hantu itu tidak ada!"
"Bagaimana Densha bisa bicara seperti itu? Awalnya Densha tidak percaya bahwa duyung itu ada kan?? Tapi Fuu ada, jadi.. tidak ada bedanya dengan hantu ini kan?"
Sial! Dia benar! Cara bicaranya sama seperti Moa.. - Densha.
"Sudahlah! Kalau aku bilang tidak ada ya tidak ada!" Ucap Densha mengelak.
Sesampainya di pintu depan, Fuu bersembunyi di balik punggung Densha. Gadis itu memeluk Densha dari belakang dengan kuat sambil terus mengintip ke depan.
"Kau ini ingin tahu tapi takut!!" Sindir Densha.
Semoga tidak ada apa-apa.. - Densha.
Perlahan Densha meraih gagang pintu, ia membuka kunci pintu pelan-pelan. Setelah dirasa sudah memantapkan hati, Densha menarik gagang pintu dengan kuat dan cepat. Matanya segera mencari-cari keberadaan seseorang yang sedang mengintai rumahnya. Ia mengarahkan lampu senter ponselnya ke arah manapun agar orang itu terlihat.
"Eh? Tidak ada siapapun tuh"
"Aaaakkkhhhh!" Teriak Fuu kencang.
"Ada apa?! Bikin kaget saja!" Densha menoleh ke arah Fuu dengan cepat.
"Itu.. itu.." Fuu segera mengarahkan kepala Densha ke arah seseorang yang sedang berlari keluar dari halaman rumah Densha.
"Astaga! Berhenti!! Siapa itu?!" Cegah Densha, namun seseorang itu sudah berlari menjauh.
"Aku akan mengejarnya!"
"Tunggu! Fuu takut di rumah sendirian" Fuu menarik baju Densha dengan kuat.
"Tapi.. dia bagaimana?"
Fuu menggeleng-gelengkan kepala, ia tidak ingin Densha pergi meninggalkannya. Bagaimana jika orang itu sangat berbahaya dan lagi di rumah sedang mati lampu, Fuu benar-benar merasa ketakutan.
"Jangan.. tinggalkan Fuu" pinta Fuu pelan.
Densha menatap gadis di belakangnya dengan sayu, ia menghela nafas berat lalu menggandeng tangan Fuu dan kembali masuk ke dalam rumah. Dalam hatinya ia sungguh ingin menangkap orang itu, berani-beraninya orang itu mengintai rumahnya.
"Baiklah.. ayo masuk!"
"Mmm"
Siapa gadis itu?! - Densha.
"Apa Densha melihatnya?"
"Apa?"
"Gadis itu.."
"Eh? Kau juga melihatnya dengan jelas? Jadi benar ya bahwa dia perempuan?"
"Iya.. Fuu melihatnya"
"Kira-kira siapa ya?"
"Fuu juga penasaran, tapi rasa takut Fuu lebih besar ketimbang rasa penasaran Fuu. Hehe"
"Dasar kau ini!!"
"....."
"Kenapa?"
"Anu, apa hari ini Fuu... Boleh.. mmm"
"Apa?! Bicara yang benar!"
"Apa Fuu boleh tidur di tempat Densha?"
"Maksudmu di tempat tidurku?"
"Iya.. Fuu merasa tidak enak hati malam ini" ucap Fuu murung.
Sebenarnya aku juga merasa sedikit takut sih.. - Densha.
Tapi.. kalau tidur satu ranjang dengannya?? Hmm.. - Densha melirik Fuu dengan ekor matanya.
"Bagaimana? Boleh tidak?"
"Berikan aku waktu untuk berpikir!!" Wajah Densha bersemu merah karena malu.
"Okay, baik"
Hmm.. bagaimana ini? - Densha.
"Baiklah! Hanya untuk malam ini ya?? Tapi dengan satu syarat!"
"Eh? Apa??"
"Taraa.." ucap Densha senang.
"Apa ini?"
"Ini pembatas! Sebelah sini bagianku dan sebelah sana bagianmu!"
Malam ini Densha membagi tempat tidurnya dengan beberapa guling dan bantal di bagian tengah sebagai pembatas, ia juga menyiapkan dua selimut jadi dia dan Fuu tidak perlu berbagi selimut.
"Kau tetap pakai selimutmu ya? Sudah aku siapkan disana!"
"Okay, baik!"
Fuu menaiki ranjang Densha dan merebahkan tubuhnya disana. Gadis itu tersenyum lebar, ia meregangkan tubuh secara berulang-ulang.
"Jangan banyak bergerak! Kau membuat tidurku tidak nyenyak tau!"
"Tempat tidur Densha empuk sekali.. Fuu suka disini, hehe"
"Cih! Ingat ya? Kau hanya boleh tidur disini malam ini saja!"
"Iya-iya.. Fuu ingat kok!"
"Bagus deh!"
Densha tidur membelakangi Fuu, pria itu menarik selimut sampai batas dadanya. Ia mencoba untuk tidur walaupun sebenarnya sulit, karena ia masih saja memikirkan orang misterius yang mengintai rumahnya hari ini.
"Densha.."
"Hmm?"
"Apa kau sudah tidur?"
"Astaga! Seberapa bodohnya kau ini? Jika aku masih menjawab panggilan mu berarti aku belum tidur kan?"
"Ah benar! Maaf..."
"Ada apa memanggilku?"
"Apa kau mengamati gadis itu?"
"Mengamati?! Hmm.. Tidak terlalu jelas sih, karena aku hanya melihat dari belakang saja"
"Umm.."
"Memangnya kenapa?"
"Entah Densha percaya atau tidak, gadis itu mirip dengan Densha. Yaahh.. itu hanya menurut Fuu saja"
"Mirip denganku? Jangan bercanda deh! Aku ini anak tunggal"
"Iya.. Fuu tahu itu"
"Lagipula sepertinya dia seumuran dengan kita! Ya kan??"
"Iya, Densha benar!"
"Hmmm.."
Beberapa jam kemudian Densha sudah tertidur dengan lelap, namun Fuu masih terus terjaga. Gadis itu sama sekali tidak merasa mengantuk. Sesekali Fuu melirik ke arah Densha.
"Apa Densha sudah tidur??"
Zzz.. Zzz..
Tidak ada sahutan dari Densha, berarti pria itu sudah tidur begitu pikir Fuu. Kamar Densha sangat gelap sekali karena lampu mati yang tak kunjung selesai. Tiba-tiba rasa was-was menghampiri Fuu, gadis itu bersembunyi dibalik selimutnya dan mencoba untuk memejamkan mata.
.
.
.
.
.
.
.
Keesokan harinya..
"Ng.."
Densha mengerjapkan matanya pelan-pelan, ini masih sangat pagi tapi ia sudah memandang wajah cantik Fuu saat sedang tertidur. Wajah gadis itu begitu dekat dengan wajahnya.
Eh?? - Densha.
"YA TUHAN!!" teriak Densha kencang, pria itu memundurkan badannya. Tanpa sengaja ia mendorong tubuh Fuu agar menjauh darinya.
Dengan masih setengah mengantuk Densha duduk di atas ranjangnya, pria itu mengucek-ucek matanya dan memandangi tempat tidurnya.
"Hah?! Ke.. kenapa bantal dan guling-gulingku ada di atas lantai?"
Fuu masih tertidur dengan pulas, gadis itu tidur terlentang dengan kaki yang mengarah kemana-mana. Posisi tidurnya sungguh berantakan, tidak seperti anak perempuan pada umumnya.
"Bangun!"
"Hoi! Bangun!" Densha menyenggol kaki Fuu pelan.
Astaga! Gadis ini!!! - Densha.
"BANGUN!!!" Teriak Densha.
"Hah?! Kenapa?! Ada apa?! Apa sudah tertangkap??" Cerocos Fuu tergesa-gesa, rupanya gadis itu masih setengah sadar walaupun saat ini ia sudah dalam posisi duduk karena kaget.
"Densha?? Selamat pagi.." ucap Fuu pelan dan mengucek kedua matanya.
"Hei! Kenapa bantal-bantal ini ada dibawah tempat tidur?"
"Bantal??"
"Iya, bantal-bantal yang aku susun dengan susah payah sebagai pembatas!" Densha menunjuk bantal dan guling yang berserakan di atas lantai.
"Ah! Itu.. Hehe"
"Jangan cengengesan! Jawab!!"
"Semalam Fuu tiba-tiba takut sekali, jadi.. Fuu membuang semua pembatas itu ke bawah. Agar Fuu bisa menyentuh tubuh Densha"
"MENYENTUH??!!" Tanya Densha panik, wajahnya langsung memerah gara-gara kalimat Fuu.
"Iya.. Fuu hanya menempelkan ujung kaki Fuu pada kaki Densha, atau kadang tangan Fuu memegang baju tidur Densha. Dengan begitu Fuu bisa merasa aman"
"Aahh.. menyentuh yang seperti itu ya?" Densha merasa sangat lega sekali dengan penjelasan Fuu, hampir saja otaknya memikirkan hal-hal aneh.
"Memangnya menyentuh ada yang seperti apa lagi??"
"Ah! Tidak.. bukan apa-apa, aku hanya salah bicara. Hehe"
"Begitu ya?"
"Tolong ya? Bereskan tempat tidur ini.. aku ingin mandi"
"Okay, baik!"
Densha memasuki kamar mandi dalam kamarnya, pria itu mengunci pintu kamar mandi lalu berdiri di depan cermin. Memandangi wajahnya sendiri yang memerah karena malu.
Masih pagi.. dan aku hampir menciumnya karena wajah kami begitu dekat! - Densha.
"Padahal aku membuat pembatas kan untuk menghindari hal ini! Bagaimanapun juga.. aku ini pria normal kan?" Gerutu Densha kesal.
Tok!
Tok!
Tok!
Fuu mengetuk pintu kamar mandi Densha pelan.
"Ada apa?!"
"Fuu sudah membereskan tempat tidurnya.."
"Ya sudah, cepat mandi! Kita harus ke sekolah" perintah Densha dari dalam kamar mandi.
"Okay, baik!"
Bersambung!
Jika kalian menyukai Novel ini, mohon untuk klik Like ❤️ komentar dan rating juga ya? Jangan lupa Vote dan klik favorit untuk Novel ini.. dukungan kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih.. 😘🙏