
Ini adalah episode yang hilang, saat Fuu bertengkar dengan Densha dan ia memilih untuk kembali ke laut (Baca Ep.32 berjudul pulang ke rumah!). Jadi sebenarnya ini adalah Flashback setelah episode 32, saya akan menceritakannya dengan baik! Agar kalian memahami jalan ceritanya. Happy reading guys! 😊 Pliss jangan lupa LIKE.
~
Setelah berbicara dengan ayahnya melalui telepati, Fuu berenang menuju samudera terdalam. Duyung itu terkejut karena samar-samar seperti ada suara seseorang yang memanggilnya.
Di dasar laut ia menemukan sesuatu yang aneh, air laut namun berwarna seputih susu. Fuu mencoba mengendus bau air itu namun tak ada bau apapun yang mencurigakan.
Apa ini? - Fuu.
Karena penasaran, Fuu memutuskan untuk menerobos masuk air berwarna keruh itu. Gadis itu berenang lurus menembus air yang nampak seperti ruang hampa, semuanya berwarna putih tidak ada kehidupan di dalamnya.
Perlahan ia merasakan dinginnya air laut yang biasa ia rasakan, secara ajaib dirinya sudah sampai di dasar laut yang ia kenali.
"Eh??" Mata Fuu membulat. "Ini kan laut yang sama? Lalu untuk apa Fuu berenang menembus kabut itu"
Fuu meneruskan kegiatan berenangnya tanpa menaruh rasa curiga pada dunia yang sudah ia kunjungi.
"Apa Fuu coba mengintip ke daratan ya? Kira-kira apa yang sedang dilakukan Densha?" Gumam Fuu lirih.
Gadis itu sangat merindukan Densha, namun ia juga tidak ingin kembali ke rumah Densha karena rasa sakit hatinya pada pria itu.
Baiklah, Fuu akan berjalan-jalan ke darat sebentar!! - Fuu.
Sesampainya di permukaan air, Fuu menuju ke bawah tebing tempatnya menyimpan baju sebelum ia memutuskan untuk kembali ke laut. Namun ia tak menemukan dress yang ia simpan, gadis itu panik dan kebingungan mencari baju yang ia tinggalkan.
"Dimana baju Fuu?? Baru satu hari Fuu meletakkannya disini"
Gadis itu memaksakan diri untuk berjalan ke daratan. Setelah siripnya berubah menjadi kaki, Fuu berjalan pelan-pelan menuju hutan kota dekat dengan tempatnya saat ini.
Fuu kembali terkejut karena pantai yang biasanya sepi sekarang sudah banyak rumah-rumah kayu entah milik siapa? Banyak pakaian yang tergantung dengan rapi di setiap rumah. Dengan berani Fuu mengambil baju dan celana pendek seseorang tanpa meminta ijin.
"Kenapa ada bangunan di tempat ini??"
Tanpa alas kaki, Fuu berjalan dengan cepat menuju rumah Densha. Ia kembali di kejutkan dengan jalanan yang sudah 100% berubah drastis. Gadis itu bingung, ia nampak seperti orang linglung, Fuu hanya mengandalkan insting dan ingatannya untuk menuju rumah Densha.
Rumah keluarga Mikaelson tetap berdiri kokoh ditempatnya. Fuu tersenyum memandang rumah itu, namun ia tidak bisa memasukinya. Pagar rumah itu terkunci dan ada gembok besar bergantung disana.
Sejak kapan rumah Densha dipasang pagar? Dan kenapa rumahnya seperti tak terawat?? - Fuu.
GABRUK!!
Fuu melompat dari tempatnya berdiri, ia terkejut saat tiba-tiba seseorang menjatuhkan barang di dekatnya. Dengan cepat Fuu menoleh menatap seseorang itu.
Rupanya ia adalah seorang gadis yang mungkin seumuran dengannya, gadis itu menjatuhkan banyak sekali kantung berisi donat. Gadis itu menutup mulutnya yang terbuka lebar, seakan Fuu ini adalah sosok hantu.
"WTF!!" Ryn menggelengkan kepala kuat.
".........." Fuu terdiam terus memandang Ryn.
Duyung?? Bagaimana bisa ada duyung disini?? - Ryn.
Yahh... Ryn tidak pernah tahu bagaimana wajah ibunya karena tidak ada kenangan berupa foto atau apapun itu, sedangkan Moa hanya menyimpan foto Densha saja. Jika kalian lupa, duyung bisa merasakan sejenisnya hanya dengan melihat dan mengendus bau.
"Kenapa kau bisa kesini?" Ryn mencoba mendekati Fuu. "Aku bukan orang jahat, kita sama! Apa kau merasakannya"
Fuu terdiam seribu bahasa, nafasnya tak beraturan ia menunjuk rumah Densha dengan tangan kirinya.
"Apa kau tidak bisa bicara?"
"Bisa" Fuu menganggukkan kepala pelan. "Kenapa dengan rumah ini?"
Ryn menatap rumah Densha yang ditunjuk oleh Fuu, raut wajahnya berubah menjadi sedih. Ia menggigit bibir bawahnya sendiri lalu kembali menatap Fuu dengan senyumnya.
"Rumah itu sudah lama ditinggalkan pemiliknya"
Apa? Kan Fuu baru pergi satu hari?? - Fuu.
"Oh iya namaku Ryn, siapa namamu?" Ryn mengulurkan tangannya.
"Fuu... Namaku Fuu"
Deg!
Jantung Ryn berdegup dengan kencang, wajahnya tiba-tiba pucat pasi mendengar nama gadis itu. Tanpa meminta ijin dari Fuu, Ryn menggenggam erat kedua tangan Fuu.
"Ada yang harus aku pastikan, mau ikut ke rumahku??" Pinta Ryn panik.
"Tapi... Fuu ingin bertemu Densha"
Mata Ryn berkaca-kaca, ia menganggukkan kepala pelan. Dan menarik tubuh Fuu untuk mengikutinya, bahkan ia rela meninggalkan donat yang baru saja ia beli tergeletak di jalanan.
Tibalah mereka di rumah keluarga Collin. Fuu menatap rumah yang saat ini sedang ia masuki dengan seksama, jalanan yang ia lewati sama persis dengan jalanan sebelum menuju rumah Moa. Namun ia benar-benar tidak pernah berkunjung ke rumah Moa apalagi memasukinya.
BRAK!!
Ryn membanting pintu rumah dengan keras, ia mempersilahkan Fuu untuk duduk di sofa sementara Ryn berlarian entah kemana, seperti mencari seseorang.
"Papa? Mama?? Kalian dimana??" Teriak Ryn kencang.
"Duh! Disaat seperti ini kemana sih mereka?" Ryn menatap tangga menuju kamar atas. "Anu... Sebentar ya? Tunggu disini"
Fuu menganggukkan kepala. Setelah menerima jawaban dari Fuu, Ryn berlari menaiki anak tangga rumahnya. Ia memanggil kedua orangtuanya agar segera turun.
"Kalian ini tidak ingat umur ya? Bisa-bisanya masih merasa muda dan pacaran disini?" Maki Ryn kesal.
"Duh! Anak ini... Mengganggu saja" Mod tersenyum memandang putrinya.
"Kami kan hanya minum teh, biarkan kami menikmati masa tua kami" Moa menyeruput secangkir teh di tangannya.
"Ada seseorang di bawah, kurasa kalian harus melihatnya"
Suara Ryn terdengar tercekat seperti menahan rasa sesak di dada yang selama ini ia coba untuk tutupi.
"Siapa? Apa Moegi sudah pulang?" Mod berdiri dari duduknya. Ia mengusap kepala Ryn dengan lembut.
"Bukan, itu bukan Moegi"
"Kaki papa sakit! Jangan cepat-cepat jalannya" gerutu Moa.
Mata Moa dan Mod terbuka lebar, mereka tak percaya dengan kehadiran seseorang di ruang tamunya. Moa melongo sambil menunjuk-nunjuk sosok Fuu di depan matanya, sedangkan Mod menangis terharu dan mendekati Fuu pelan-pelan.
"K... Kau... Kau..." Wajah Mod beruraian air mata.
Mata tuanya memang sudah sedikit rabun namun ia bisa mengenali wajah Fuu walaupun dari kejauhan, dengan tangan keriputnya ia membelai wajah Fuu lembut.
Fuu terdiam, ia sangat bingung dengan apa yang terjadi. Gadis itu menatap dua orang tua di depannya dan Ryn secara bergantian.
"A... Anda siapa??"
"Apa?!" Dada Mod terasa sakit mendengar Fuu yang tak mengenalinya, Mod mencoba memakluminya karena kini ia sudah tua dan lagi bentuk badannya yang sudah banyak berubah.
"Maaf sudah menyentuhmu dengan lancang" Mod menundukkan kepalanya.
"Apa dia orangnya??" Ryn bertanya kepada kedua orangtuanya.
Mod dan Moa menganggukkan kepala secara bersamaan, mata mereka berkaca-kaca melihat sosok Fuu yang sudah lama mereka rindukan.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Mod ragu.
"Fuu bermaksud untuk melihat rumah Densha, tapi semuanya berubah. Fuu bingung"
Cara bicaranya seperti anak kecil! - Ryn.
Mod menatap Moa sayu, ia terkejut dengan kalimat Fuu. Mod memeluk Moa, rasanya ia betul-betul ingin menangis kencang saat ini.
"Fuu..." Panggil Moa pelan.
"Bagaimana anda bisa tahu nama Fuu??" Fuu mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Aku Moa... Moa Collin"
"Apa?!" Fuu melotot tidak percaya. "Bohong! Pasti bohong"
"Aku Moa... Dan ini Mod" Moa menyentuh bahu istrinya. "Lalu... Dia..." Moa melirik ke arah Ryn yang berdiri mematung memandangi Fuu.
"Dia putrimu! Deryne Mikaelson"
"Tidak! Tidak mungkin!" Fuu menggelengkan kepala. "Dimana Densha??"
Semua orang terkejut dengan pertanyaan Fuu, mereka terdiam tak memberikan jawaban apapun pada Fuu.
"Tenanglah dulu! Pertama-tama, bagaimana kau bisa ke tempat ini?" Ryn akhirnya bicara.
"Fuu berenang menembus kabut berwarna putih di dalam laut"
Fuu berani menceritakannya karena ia yakin Ryn adalah sejenisnya walaupun ia masih bingung makhluk jenis apakah Ryn itu (disini Fuu belum tahu kalau Ryn adalah Tribrid).
"Kabut??" Ryn bingung, ia menatap wajah Moa dan Mod bergantian.
"Jangan-jangan dia datang dari masa lalu?" Tebak Moa asal.
Pertanyaan demi pertanyaan ia lontarkan pada Fuu yang datang dari masa lalu, mereka bertiga meyakinkan Fuu bahwa mereka adalah orang-orang yang Fuu kenal di masa lalu. Bahkan Moa sampai menunjukkan foto dirinya dan Densha saat masih muda.
"Apa yang terjadi? Fuu baru pergi satu hari dan semuanya berubah?"
"Kau tahu Fuu, kita tidak boleh terlalu banyak membicarakan hal-hal yang sudah terjadi di masa depan. Kalau tidak! Semuanya akan berubah" ucap Mod lembut.
"Fuu ingin pulang, Fuu kangen Densha" air mata mulai menetes di pipi Fuu.
"Ryn??" Panggil Moa lembut.
"Ada apa papa?"
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan kan?? Antarkan dia pulang, pastikan dia selamat" pinta Moa tulus.
Ryn tahu, dengan kemampuannya ia bisa menghapus ingatan Fuu. Jadi saat Fuu kembali ke masa lalu, ia tidak akan mengingat bahwa ia pernah berkunjung ke tempat ini.
"Baik papa"
Dengan hati yang masih bergejolak akan kerinduannya pada sosok orang tua kandung, Ryn melepas kepergian Fuu dengan berat. Gadis itu ikut berenang menyelami laut bersama Fuu, ia terus memasang wajah sedih karena tak rela ibunya pergi.
"Mama..." Ryn melirik Fuu. "Bolehkah aku memanggilmu mama?"
Fuu tersenyum ia menganggukkan kepala pelan. "Boleh"
Kedua duyung itu berpelukan, Ryn membacakan sebuah mantra untuk menghapus ingatan Fuu, ia mengingat-ingat tempat Fuu menembus dimensi ini agar suatu saat ia bisa berkunjung ke sana.
Ryn mendorong tubuh Fuu agar masuk ke dalam air berwarna putih itu. Karena ingatannya sudah di hapus, Fuu merasa terkejut saat ada orang yang mendorongnya. Ia memperhatikan orang itu dengan seksama sebelum benar-benar tak bisa melihatnya lagi.
Inilah alasan kenapa Fuu bingung ketika hari olahraga di sekolahnya dan saat dia didorong oleh Katrina ke dalam kolam renang. Fuu bilang bahwa ia seperti mengalami Dejavu namun orang yang ia lihat bukanlah Katrina melainkan Ryn gadis yang mirip dengan Densha.
Ryn kembali berenang menuju tempatnya semula. Gadis itu terisak, ia menangis karena baru kali ini ia melihat wajah ibu kandungnya.
Rubah lah takdirmu... Semua bisa berubah...
Suara bisikan aneh muncul di kepala Ryn, gadis itu mencari sumber suara namun tak ia temukan.
"Siapa disana??"
Perbaiki semuanya dan selamatkan hidupmu...
Duyung itu semakin berenang menjauhi suara itu, ia merasa merinding mendengarkan suara-suara tanpa ada seorangpun disana yang sedang mengajaknya bicara.
"Aku pasti sudah gila!"
Episode Spesial END!!!
Jangan lupa untuk terus dukung saya ya?? Terima kasih... 😘🙏 klik Like, komentar, Vote dan Rating! Follow dan Favorit juga ya??
Season 2 sudah bisa dibaca ya? Klik profil dan pilih cover yang sudah di umumkan kemarin 😉