Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Bahaya! (part 1)




"Mama? Apa duyung bisa memiliki kaki?"


"Tentu sayang.. saat usia mereka memasuki 15 tahun, mereka akan memiliki sepasang kaki"


"Benarkah? Keren sekali.." Densha tertawa dengan riang, anak kecil itu tengah menggambar sosok putri duyung kecil.


"Lalu, apakah mereka bisa kembali memiliki ekor?"


"Uhm.. mama tidak yakin, tapi nona duyung bilang. Bahwa ia akan berubah jika hanya terkena air"


"Jadi mereka tidak mandi?"


"Entahlah, kenapa kau begitu ingin tahu?"


"Jika sudah besar nanti, aku ingin punya teman seorang duyung.. Hehe"


"Manis sekali!!" Shanaz memeluk putranya dengan gemas, ia mencium pipi kiri dan kanan Densha berulang-ulang.


"Mama.. apakah manusia dan duyung bisa hidup bersama?"


"Tentu saja! Bagaimanapun juga, kita dan mereka tidak ada bedanya"


"Berbeda mama.. mereka hidup di laut sedangkan kita di darat!"


"Mereka kan bisa ke darat, bahkan bisa menyerupai manusia"


"Curang sekali!" Densha cemberut karena kesal, enak sekali jadi putri duyung bisa hidup di dua alam yang berbeda begitu pikirnya.


Kepingan memori terbayang-bayang di kepala Densha, dia hanya mengingat suara ibunya yang lembut dan suaranya sendiri semasa kecil, wajah Shanaz tampak samar-samar di ingatannya.


Ng.. ingatan apa ini? Apa aku sedang bermimpi? - Densha.


"Hei, kau sedang tidur?"


"Ng?? Moa??" Densha mengucek-ucek kedua matanya yang terasa lengket dan berat.


"Kau pasti lelah karena semalam tidak bisa tidur nyenyak di rumahku"


"Tidak kok!"


"Tidak usah sungkan padaku, Ayo pulang!"


"Eh?? Sudah waktunya pulang??"


"Iya, sekarang sudah sore loh.."


Jennie, gadis bertubuh seksi itu tengah menelpon seseorang untuk melancarkan rencana jahatnya, ia memiliki cukup uang untuk membayar beberapa orang dalam aksinya itu. Jennie terlalu terburu-buru untuk merebut harta keluarga inti, gadis itu sudah dibutakan oleh kekuasaan dan harta yang berlimpah.


"Baik, aku menunggu kalian di dekat dermaga malam ini!" Kata Jennie yang mengakhiri panggilannya dengan seseorang yang misterius di ujung telepon.


"Jika aku tidak bisa mendekatimu dengan cara baik-baik, akan aku tunjukkan siapa diriku yang sebenarnya!" Jennie tersenyum licik mengingat wajah tampan sepupunya.


Sesuai rencana malam itu Densha dan Moa akan pergi berkeliling pantai untuk mencari Fuu. Mereka berdua berangkat dari rumah Densha, karena mereka akan menuju pantai di bawah tebing yang waktu itu terlebih dahulu sebelum pantai di pinggir kota.


Suasana gelap gulita menyelimuti hutan taman kota saat ini, mereka berdua hanya di temani lampu senter dari ponsel masing-masing.


"Hei, kau tahu hutan ini menuju kemana?"


"Yahh, ini menuju tepi laut di bawah tebing itu"


"Hah?! Aku bahkan tidak tahu ada jalan menuju ke bawah sini" Moa menggerak-gerakkan lampu senternya kesana-kemari, sesekali ia menyorot ke atas pohon.


"Kau ini kenapa?"


"Apa maksudmu?"


"Sepertinya kau terlihat panik" Densha menatap Moa penuh kecurigaan.


"Jangan bilang kau.." Densha tersenyum nakal, menggoda Moa.


"Apa?! Tidak tuh!"


"Kau takut??"


"Hei, dengar ya? Tidak ada kata takut di kamus Moa Collin"


"Benarkah?"


Moa menganggukkan kepala dengan mantap, ia menatap Densha dengan sangat tenang.


"ASTAGA!! APA ITU?!" Teriak Densha kencang, Densha lari terbirit-birit meninggalkan Moa.


"APA?? ADA APA??" Moa berlari sekencang mungkin menyusul sahabatnya itu.


"Haha, tidak ada apa-apa kok!"


Bug!


Pukulan kecil mendarat di lengan kanan Densha, Moa mendengus dengan kesal. Matanya melotot ke arah Densha yang berani menggodanya seperti itu.


"Sialan kau!!"


"Haha, kau ini kan pria! Kenapa takut dengan hal yang tidak ada?"


"Awalnya aku memang tidak percaya hal-hal semacam itu! Tapi setelah bertemu Fuu.. kemungkinan makhluk lain juga ada kan?"


"Astaga! Kau benar!!" Densha mendekatkan tubuhnya ke arah Moa, tanpa disadari ia memeluk lengan Moa.


"Apa ini?" Moa melirik ke arah lengan bajunya.


"Hehe, kau kan takut. Aku hanya berusaha melindungi mu"


"Dih! Siapa yang melindungi siapa" sindir Moa, mereka berdua tertawa untuk menghilangkan kesunyian malam itu. Moa tersenyum cekikikan memperhatikan Densha, ia baru tahu bahwa Densha ternyata penakut (takut sama hantu) sama seperti dirinya.


Seharusnya dari dulu aku tidak pernah takut hantu. Tapi di pikir bagaimanapun ucapan Moa ada benarnya.. Jika Fuu itu nyata, bukan tidak mungkin mereka yang tidak terlihat juga ada kan? Hiii.. - Densha.


"Hei, Moa.."


"Apa?"


"Nanti malam tidurlah di rumahku!"


"Eh? Kenapa?"


"Tidur saja disana! Jangan banyak bertanya"


"Haha, kau takut sendirian? Astaga! Bukankah selama bertahun-tahun ini kau tinggal sendirian?"


"Ini juga salahmu bodoh!"


"Aku??"


"Kalau kau tidak menjelaskan hubungan Fuu dengan hantu-hantu itu, aku juga tidak akan takut!"


"Aku kan hanya memikirkan kemungkinan yang ada"


"Aku tidak mau mendengar jawaban tidak, malam ini kau harus menginap di rumahku"


"Ya ampun! Aku di culik??"


"Dih! Tidak ada gunanya menculik mu!"


"Haha, baik-baik aku akan menginap"


Kedua pria itu cengengesan untuk menghilangkan rasa takut masing-masing, mereka menelusuri bawah tebing dan meneriaki nama Fuu namun mereka tidak menemukan apapun ataupun tanda-tanda keberadaan Fuu.


Srraakkk.. Srrraakkk..


"Kau dengar itu?"


"Apa?"


"Itu, suara dedaunan yang aneh!" Moa memeluk lengan Densha dengan erat, ia mengarahkan lampu senter ke arah semak-semak dan pohon-pohon yang tinggi.


"Aku tidak mendengar apapun"


Srrakkk.. Ssrraakk.. Srrakkk..


"Ya Tuhan! Itu.. suara itu, kau tidak dengar? Telingamu itu benar-benar ya?"


"Diam lah Moa! Aku juga mendengarnya" Densha mengedarkan pandangan dan menyorot cahaya senter ke segala arah untuk mencari sumber suara.


"Jangan di cari! Ayo pergi!"


"Tunggu Moa.."


"Dasar tidak waras! Ayo pergi.." Moa menarik lengan Densha dengan kuat mencoba membawa sahabatnya itu pergi dari tempat itu.


Dari balik pohon melintas seseorang pria dengan tubuh besar, ia berjalan dengan cepat melewati belakang Moa dan Densha.


"ASTAGA!! YA TUHAN.. YA TUHAN!! APA ITU??" Moa berteriak tidak karu-karuan ia menunjuk-nunjuk ke arah sosok bertubuh besar itu.


Dengan sigap Densha menarik tangan Moa dan mengikuti sosok pria misterius itu, ia berlari sekencang mungkin untuk mengikuti orang itu.


"Berhenti!! Hoi!"


"Sudahlah, ayo pergi! Kenapa kita malah mengejarnya?"


Densha hanya melirik sinis ke arah Moa, ia tidak menghiraukan kata-kata Moa dan tetap mengejar sosok pria itu. Densha mengambil beberapa batu di tanah dan melempar orang itu dengan batu.


"AKU BILANG BERHENTI KAN?!" Teriak Densha yang otomatis membuat orang itu berhenti dan membalikkan badan ke arah mereka.


"Astaga! Kalau kau ingin mati jangan mengajakku bung" Moa berbisik pada Densha, ia sembunyi di balik punggung sahabatnya itu. Tangannya dengan tegang memegang ponsel dan mengarahkan lampu senter ponselnya ke arah sosok pria yang semakin mendekati mereka.


"Dasar anak-anak kurang ajar!!" Maki pria itu, ia mengedipkan matanya memfokuskan pandangannya ke arah kedua remaja di depannya.


"Kau???"


"Ng??" Densha dan Moa saling pandang satu sama lain dalam kebingungan.


"Apa anda Densha Mikaelson?"


"Umm" Densha menganggukkan kepalanya pelan, matanya berusaha mengenali pria asing di depannya namun ia tidak berhasil mengenalinya.


"Apa yang di lakukan tuan muda di sini?"


Kenapa dia memanggilku tuan muda? - Densha.


"Maaf tuan, anda siapa?"


"Ah! Maafkan saya.. saya lupa memperkenalkan diri, nama saya adalah Shawn. Saya salah satu karyawan di perusahaan nona Isabella Mikaelson"


"Tuan Shawn?? Maaf.. aku bahkan tidak mengenali tuan"


"Nona Isabella pernah bercerita tentang anda, saya mengingat wajah anda karena nona Isabella pernah menunjukkan foto anda pada saya"


"Ah! Tidak perlu seperti itu tuan muda" Tuan Shawn tersenyum ramah pada Densha dan Moa.


"Umm.. apa anda berteman dengan putriku di sekolah?"


"Putri??"


"Katrina Shawn, dia adalah putriku" jelas tuan Shawn dengan senyum lebarnya.


"Ahh.. dia ayah Katrina?" Bisik Moa dari belakang.


"Ya, aku mengenalnya"


"Jika putri saya melakukan perbuatan tidak menyenangkan pada tuan muda, anda bisa langsung bicara pada saya"


"Ah! Itu.. tidak perlu repot seperti itu! Baiklah.. saya permisi dulu, saya sedang ada urusan" Densha tersenyum ramah pada tuan Shawn, ia menarik Moa agar pergi meninggalkan tempat itu secepatnya.


Mereka berjalan dengan cepat, sesekali mereka menengok kebelakang untuk melihat keberadaan Tuan Shawn, namun pria bertubuh besar itu sudah tidak ada lagi di tempatnya. Sampai mereka berdua keluar dari hutan itu, tuan Shawn tidak di ketahui keberadaannya.


"Hei"


"Apa?"


"Apa yang di lakukan ayah Katrina malam-malam begini di tempat seperti tadi?"


"Entahlah, mungkin ada suatu urusan seperti kita berdua"


"Mencurigakan sekali.." Moa menyentuh dagunya, pria itu mencoba untuk berpikir.


"Sudah lah Moa! Jangan berpikir yang tidak-tidak"


"Seorang pria di tepi pantai bawah tebing malam-malam begini, jika memang ingin ke pantai kenapa tidak datang sore hari? Atau mungkin jalan-jalan di pantai kota, kenapa di tempat sepi seperti ini?"


"Moa, ada apa dengan otakmu?"


"Ya.. aku hanya iseng sih.. Hehe"


"Apa?! Kau mau bilang kalau ayah Katrina itu duyung?"


"Astaga! Kenapa pikiranmu sejauh itu? Aku hanya berpikir bahwa mungkin saja ayah Katrina tengah memancing. Tapi jika kau berkata begitu, kemungkinan kata-katamu ada benarnya"


Densha terdiam memikirkan kalimat Moa dan kata-kata yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Mungkinkah ayah Katrina itu duyung? Jadi Katrina juga seorang duyung? - Densha.


"Kau memikirkan apa?"


"Ah! Tidak, bukan apa-apa"


"Ayolah.. katakan padaku"


"Bukan apa-apa"


"Katakan! Katakan!" Moa memohon seperti anak kecil.


"Sudah aku bilang bukan apa-apa Moa!"


"Cih! Pelit!"


"Sudahlah.. ayo kita pergi ke pantai kota sebelum semakin larut"


"Ya.. ya.. ya.. kau bosnya"


Di waktu yang sama, seorang gadis tengah memeriksakan dirinya di salah satu klinik kulit terkenal di kota itu, ia penasaran dengan perubahan aneh pada kulitnya.


"Begini nona.. yang kau alami ini sejenis skin tag, namun pertumbuhan daging pada kulitmu ini kategori langkah karena ia membentuk selaput dengan cantik dan rapi"


"Apa hal ini biasa di alami oleh remaja?"


"Tidak, harusnya kau memiliki ini sejak kau lahir"


"Menurutmu aku cacat?"


"Maaf.. aku tidak bermaksud begitu, namun jika itu skin tag. Dia tidak akan punya bentuk seperti ini, ini namanya kelainan dari lahir. Tidak mungkin ini bisa tumbuh sendirinya dengan waktu singkat!"


BRAKK!!


Katrina menggebrak meja kerja dokter itu, matanya melotot ke arah sang dokter.


"Dengar ya? Aku di sini untuk periksa kelainan yang aku alami! Kenapa kau jadi bicara tidak karuan dan menuduhku cacat sejak lahir??"


"Maaf nona, tapi hal ini tidak mungkin terjadi jika tidak dari lahir"


"DASAR BODOH!! AKU TIDAK CACAT!!" Teriak Katrina, ia membanting pintu klinik dengan keras dan meninggalkan klinik itu dengan cepat.


Di sepanjang perjalanan gadis itu menangis menatap kedua tangan dan kakinya, pagi itu saat ia tengah mandi dan menggosok kedua kakinya, Katrina baru menyadari bahwa jari kaki nya menyatu, hanya meninggalkan bagian jempol kaki yang tetap berada pada tempatnya. Karena panik Katrina berusaha memisahkan jari-jari kakinya yang menempel satu sama lain dengan cutter namun tidak berhasil. Jadi dia memutuskan untuk pergi ke ahli kulit malam ini dan ia malah mendapat jawaban yang kurang menyenangkan.


Enak saja mengatai aku cacat!! - Katrina.


Gadis itu menghentikan langkah kakinya, tatapannya kosong. Seketika ia melamun.


Apa aku benar-benar harus mengalaminya? - Katrina.


"Eh! Itu Katrina.." tunjuk Moa ke arah Katrina di seberang jalan.


"Iya, biarkan saja!"


"Tadi kita bertemu ayahnya dan sekarang bertemu anaknya, wah.. wah.. kebetulan macam apa ini?"


"Sudah lah Moa. Berhenti dengan asumsi mu yang tidak jelas itu!"


"Tidak jelas bagaimana? Ini patut di curigai"


"Seharusnya aku meninggalkanmu di hutan tadi!" Celetuk Densha, ia meninggalkan Moa dan berjalan lebih cepat ke arah pantai.


"Oi! Aku beli minuman dulu ya? Dari tadi kita berjalan terus, aku haus sekali"


"Ya, belikan aku juga!"


"Oke bro!"


Moa pergi meninggalkan Densha menuju mini market terdekat, sedangkan Densha berjalan sendirian menyusuri pantai yang gelap, ia hanya di temani cahaya kecil dari ponselnya.


"Sst.. itu dia kan?"


"Benar! Dia yang di katakan nona Jennie"


"Bagaimana? Coba kau hubungi nona Jennie"


"Oke"


Tut! Tut! Tut! Tut!


"Halo?"


"Bos, pria itu ada di pantai"


"Pantai mana?"


"Pantai tepi kota"


"Kenapa dia disana?"


"Entahlah.. sepertinya mencari sesuatu"


Mencari apa malam-malam begini? Tapi.. ya sudahlah.. malam ini adalah malam keberuntunganku hehe - Jennie.


"Baiklah, lakukan tugas kalian dengan benar! Aku akan segera ke sana"


"Baik bos"


"Oh iya, kapal kecil waktu itu bagaimana?"


"Semua beres bos! Kami sudah rundingan dengan pemilik kapal"


"Baiklah.. lakukan sesuai rencana"


"Oke"


Tut!


"Bagaimana?"


"Sesuai rencana"


"Baiklah, untung dia sendirian"


"Ayo!"


Kedua pria bertubuh besar mengendap-endap di belakang Densha, salah satu diantara mereka membawa sebuah pemukul bisbol.


BRAKK!!


Pukulan keras mendarat di belakang kepala Densha, membuat pria itu tidak sadarkan diri. Darah segar mengalir di belakang lehernya akibat pukulan itu, kedua pria bertubuh besar bak preman itu membawa tubuh Densha naik ke sebuah kapal kecil dekat dermaga yang sudah mereka sewa, kebetulan pantai ini dekat sekali dengan dermaga tempat berhentinya kapal-kapal kecil, mereka mengikat tangan kaki Densha ke sebuah kursi duduk selagi Densha tidak sadarkan diri, kedua pria itu menunggu kedatangan Jennie.


Selang beberapa menit Jennie tiba di lokasi dan mendapati sepupunya berlumuran darah dari belakang leher hingga ke punggungnya.


"Astaga! Apa yang kalian lakukan?"


"Maaf nona, bukankah nona yang memintanya?"


"Apa?! Tega sekali kalian menyakiti sepupuku yang tercinta!!"


"Maafkan kami nona"


"Hahahahaa.. apa aktingku bagus?" Jennie tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi kedua pria itu.


"Anda memang jahat nona!"


"Kerja bagus semuanya, ini ada sedikit bonus untuk kalian!" Jennie menyerahkan amplop tebal berisi uang pada kedua pria itu.


"Terima kasih, nona"


"Emm.. lalu.. mau di apakan pria ini?" Tanya salah satu pria itu.


"Kita tunggu dia bangun! Oh iya mana ponselnya?"


"Ini nona.."


"Biarkan ponsel ini tetap berada di saku celananya" Jennie memasukkan ponsel Densha ke saku celana milik Densha, ia mengusap lembut pipi Densha lalu tersenyum menatap sepupunya yang tidak sadarkan diri.


"Kalau kau diam seperti ini tampan sekali.."


Bersambung.