
"Mmm, Fuu??" Mod menyentuh bahu Fuu ragu-ragu.
"Ada apa Mod??"
"Begini... Aku harus mengantar Ryn pergi ke suatu tempat, bisakah kau menunggu disini sebentar?"
Hari ini setelah keinginan Ryn terpenuhi untuk melihat kedua mamanya cantik, ia segera memutuskan untuk kembali ke tempat asalnya. Tribrid itu menyembunyikan identitas aslinya pada Fuu, jadi ia harus membuat alasan untuk pergi.
"Okay, baik!" Tanpa curiga Fuu menganggukkan kepalanya, ia sibuk menikmati cumi bakar yang di belikan Ryn.
Gadis bermata biru nan indah berjalan mendekati Fuu, ia tersenyum tulus dan secara tiba-tiba memeluk tubuh Fuu yang sama mungilnya dengan dirinya.
"Aku pergi dulu ya? Jaga dirimu baik-baik Fuu! Senang sekali bisa bertemu denganmu"
Perasaan ini... - Fuu.
Tanpa sadar, kedua tangan Fuu membalas pelukan Ryn. Gadis itu mengusap lembut punggung dan kepala Ryn secara bergantian, ia lantas tersenyum lebar.
"Fuu juga senang bertemu dengan Ryn, jangan gunakan kemampuan Ryn secara tidak baik ya?" Pinta Fuu polos.
"Haha, memangnya kapan aku pernah menggunakan kemampuanku untuk membahayakan orang?" Ryn melepaskan pelukannya pada Fuu.
Fuu memicingkan kedua matanya, ia mengangkat sate cumi dan menghadapkannya pada wajah Ryn.
"Kau gadis bermata biru yang menghapus ingatan banyak orang kan?!" Tuduh Fuu ketus.
"Hehe, itu kan sudah masa lalu... Maafkan aku ya??"
Dengan senyum polosnya Fuu menganggukkan kepala pelan, ia melambaikan tangan pada Ryn dan Mod yang semakin lama semakin tak terlihat diantara kerumunan banyak orang.
Sesampainya di bibir pantai, Mod memeluk Ryn erat. Di pelupuk matanya terdapat air yang menggenang, rupanya Mod sedih jika Ryn pulang ke tempat asalnya.
"Kumohon jangan menangis, aku janji tidak akan lama" Ryn menyeka air mata yang keluar dari mata Mod.
"Bagaimana jika aku yang disana tak mengijinkan mu untuk datang kemari lagi?"
"Mama tidak akan begitu, aku percaya pada mama" Ryn kembali memeluk Mod.
Beberapa menit kemudian Ryn melepas seluruh pakaiannya, ia melipatnya dengan rapi dan menitipkan setelan bajunya hari ini pada Mod. Gadis berkulit kuning langsat itu mendekap pakaian Ryn dengan erat ke dadanya sambil sedikit sesenggukan menahan tangis.
"Aku pergi ya?? Jaga diri mama baik-baik"
"Sampaikan salam'ku pada aku yang disana!" Mod melambaikan tangannya untuk mengiringi kepergian Ryn. "Hati-hati ya?" Teriak Mod lagi.
Perlahan tubuh Ryn tenggelam semakin dalam, setelah tubuhnya betul-betul terendam air. Sirip ekornya mulai terbentuk, selaput tipis pada tangan kanan dan kirinya muncul namun tak sebanyak milik Fuu. Mata biru gadis itu semakin bersinar saat dirinya berubah wujud, dengan cepat ia berenang menjauh dari tempatnya. Menuju suatu tempat rahasia yang hanya di ketahui olehnya dan kakek buyutnya (Poseidon).
Di daratan, Mod terlihat senang melihat kepergian Ryn. Gadis itu tertawa cekikikan seperti orang yang hilang akal.
"Hahaha, konyol sekali!"
Mod membuang pakaian Ryn ke dalam tong sampah, gadis itu menyenandungkan lagu-lagu populer yang pernah ia dengar sambil melompat-lompat kegirangan.
Ia (Mod) merogoh ponsel di saku celananya dan mengaktifkan layar kamera, gadis itu melihat kedua matanya sendiri yang semakin lama bagian kornea matanya semakin menghitam.
"Cih! Sihir di sebelah sini kurang!" Mod mendengus kesal dan menutup kedua matanya. "Nah! Coba sekarang melihat cermin lagi"
Mod memandang layar ponselnya untuk kedua kalinya, ia senang dan tersenyum lebar melihat kedua bola matanya berwarna seperti seharusnya.
"Sempurna!"
Gadis itu berjalan ke tempat Fuu sambil menjentikkan jarinya berulang-ulang, matanya mencari-cari keberadaan Fuu di tempat terakhir ia meninggalkan Fuu. Dan benar saja! Sesuai dugaan, Fuu masih duduk disana dengan tenang.
"Halo, Fuu?"
"Ah... Mod? Kenapa lama sekali?" Fuu berdiri dan menggandeng tangan Mod untuk mengajak gadis itu segera pergi.
"Maaf, aku memang sengaja meninggalkanmu sih tadi!"
"Apa?"
"Ah, bukan apa-apa! Hehe... Ayo pergi, mau pulang??" Tawar Mod ceria.
"Ng...." Fuu menganggukkan kepala pelan.
Mod menarik tangan kanan Fuu dengan kasar, gadis itu berjalan sambil menyeret tubuh Fuu yang lambat. Merasa aneh, Fuu menarik tangannya sendiri kuat-kuat. Ia melepaskan diri dari genggaman Mod.
"Eh?? Kenapa Fuu??" Mod tersenyum, namun senyumnya bukan senyum yang Fuu harapkan.
"........." Fuu bingung dengan yang terjadi sekarang, gadis itu menatap curiga pada Mod.
"Aku Mod... Ayo sini! Jangan jauh-jauh"
Mod berusaha mendekati Fuu dan meraih kedua tangan duyung itu, namun aksinya dihentikan oleh Fuu yang mengerang keras seperti hewan buas. Fuu mengeluarkan suara aneh, seperti suara kucing yang bertemu musuhnya. Tanpa sadar Fuu menjauhkan dirinya beberapa langkah dari Mod.
"Eh?? Kenapa?" Mod menghentikan langkah kakinya, ia tersenyum kecut pada Fuu yang ketakutan.
Sekilas bola mata Mod berubah menjadi hitam legam, seperti mata Katrina yang dikuasai sihir gelap. Fuu yang melihatnya refleks mengambil aksi menyerang untuk Mod.
"Kau bukan Mod!" Gumam Fuu lirih.
"Hahahaha" Mod tertawa lebar. "Benar! Di dalam sini memang bukan Mod, kenapa baru menyadarinya??"
Mata Fuu membulat lebar, ia tak percaya dengan hal yang baru saja ia dengar. Gadis itu terlihat tak senang dengan seseorang yang mengambil alih tubuh Mod.
Tik!
(Suara petikan jari)
Entah sihir atau bukan, kedua bola mata Mod kini benar-benar berwarna hitam legam. Di wajahnya terukir garis-garis aneh berwarna hitam yang bermunculan secara misterius. Ia mendekati Fuu yang sudah tak mampu bergerak akibat mantra yang ia (Mod) berikan pada duyung kecil itu.
"Ayo bersenang-senang!" Bisik Mod pelan di telinga kiri Fuu.
Kedua tangan Mod meraih leher Fuu yang tak mampu menggerakkan tubuhnya sendiri. Gadis itu (Fuu) cuma bisa menggerakkan kedua bola matanya saja untuk melirik ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang di tempat ini, sehingga siapapun yang berada dalam tubuh Mod bisa berbuat semena-mena pada tubuh Fuu.
KRAKK!!
Dengan sekejap leher Fuu di patahkan oleh Mod, membuat gadis duyung itu jatuh tak sadarkan diri atau lebih tepatnya mati suri. Karena Mod tak melukai otak Fuu, jadi Fuu akan hidup kembali setelah bagian dalam tubuhnya bekerja untuk memperbaiki jaringan yang rusak pada tubuhnya.
"Bagaimana?? Aku hebat kan??" Ungkap Mod senang.
"Sangat hebat!" Pria itu memberi kedua jempolnya pada Mod yang menari-nari di atas tubuh Fuu yang jatuh tergeletak di jalanan.
"Kau membawa tubuhku??"
"Tentu saja! Ada di kursi belakang! Mau aku ambilkan??"
"Tidak perlu! Aku akan masuk ke dalam mobil, kau tunggu disini saja?!"
"Baik!"
Mod berjalan dengan angkuh memasuki mobil pribadi pria itu, ia duduk di samping tubuh seorang gadis yang terkulai lemas di kursi belakang mobil.
Pria tersebut cuma menggeleng-gelengkan kepala menatap tingkah gadis yang baru beberapa hari di kenalnya itu. Ia berjalan menuju tubuh Fuu yang telah mati, dan menyentuh wajah cantik Fuu.
"Cantik sekali... Sayangnya bukan manusia" ujar Pria itu dengan senyum menyeringai di bibir tipisnya.
"Wah, kenapa tubuhnya dingin???"
Merasa panik, pria itu memangku tubuh Fuu dan mencoba memeriksa nafas gadis itu. Benar saja! Tak ada udara yang berhembus dari lubang hidungnya, kedua tangannya bergetar menahan rasa takut yang tiba-tiba muncul di hatinya.
KLAP!
(Pintu Mobil terbuka)
"Tenang saja! Dia tidak mati, selama otaknya tidak terluka dia masih hidup"
"Be... Benarkah?? Kalau dia mati, sia-sia aku menurutimu!" Ucap Pria itu sambil mengusap kepala Fuu pelan.
"Cih! Mau ku bunuh atau tidak itu urusanku, aku bahkan bisa membunuhmu saat ini juga!"
"Ah... Tidak-tidak, maafkan aku Katrina! Aku tak bermaksud"
"Cepat turunkan tubuh Mod dari dalam mobil" pinta Katrina tegas.
"Tunggu?! Bagaimana jika Mod ingat?? Kau kan tidak mampu menghapus ingatan seseorang??"
"Kau pikir aku bodoh?? Mod akan ingat tapi tidak dalam waktu dekat, aku sudah memberikan sedikit mantra kepadanya"
"Ba... Baik! Aku akan menurunkan tubuh Mod"
Pria itu menggendong tubuh mungil Fuu yang telah mati dan memasukannya ke dalam mobil, lalu ia kembali menggendong tubuh Mod yang tak sadarkan diri dan meletakkannya begitu saja di pinggir jalan.
"Ayo pergi!" Perintah Katrina.
"Baik, silahkan masuk ke dalam mobil" pria itu membukakan pintu depan mobil untuk Katrina, ia tersenyum lebar memandang wajah Katrina. Walaupun sebenarnya ia sedikit takut karena warna mata Katrina yang hitam legam itu.
.
.
.
.
Sebenarnya....
👉 FLASHBACK ON 👈
Sore hari setelah ketiga gadis itu jalan-jalan di pusat perbelanjaan, mereka mampir ke kedai pinggir jalan untuk membeli beberapa makanan. Mod meminta ijin pada Ryn dan Fuu untuk membeli minuman favoritnya yang tak jauh dari tempat itu.
"Permisi dulu ya??" Pinta Mod lembut.
"Okay, baik" Ryn dan Fuu mengucapkan kalimat itu secara bersamaan. Mereka saling pandang kemudian tertawa lepas bersama.
Akrab sekali!! - Mod.
Mod memesan teh hijau di salah satu kedai, ia sibuk memperhatikan jalanan luas di depannya sambil menunggu pesanannya dibuatkan.
Tuk!
Tuk!
Tuk!
Jari lembut seseorang mengetuk punggung Mod, seakan memanggil gadis itu.
"Katrina?!!" Mod panik dan memundurkan tubuhnya.
Tik!
(Suara petikan jari)
".........." Mod mendelik menatap mata Katrina gadis itu membuka mulutnya untuk bicara, namun tak keluar apapun dari dalam mulutnya.
Su... Su... Suaraku Hi... Hilang?? - Mod.
Katrina berjalan pergi meninggalkan kedai itu, namun anehnya tanpa ikatan apa-apa tubuh Mod tertarik begitu saja mengikuti arah jalan Katrina.
Sial! Tubuhku tidak bisa di gerakkan? Kenapa aku mengikuti gadis ini?? - Mod.
Mod memandang punggung tangannya dimana Ryn meletakkan sebuah panah kecil untuk alarm kalau-kalau dia dalam bahaya, sialnya! Tubuh gadis itu tak mampu digerakkan sesuai keinginannya. Seluruh tubuhnya terikat oleh sihir Katrina.
"Nah! Sudah cukup sepi disini!!" Gumam Katrina pelan.
Apa? Apa yang dia inginkan?? - Mod.
"Ayo bertukar posisi untuk sementara!" Ucap Katrina dengan senyum manisnya.
👉 FLASHBACK END 👈
Bersambung!!
Berikan cinta kalian dengan cara Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 😘😘🙏🙏