Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Bimbang



"Densha mau makan apa?" tanya Fuu lembut.


"Memangnya kau menyiapkan apa?"


"Fuu punya dua menu"


"Apa?!"


"Roti dengan selai atau selai dengan roti? Densha mau yang mana?"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Apa-apa'an itu?" Densha terkejut dengan menu yang di sebutkan oleh Fuu, karena bagi pria itu kedua menu itu tidak ada bedanya.


"Tidak sekalian saja kau tawari aku 'Densha mau minum apa? Air dengan gelas atau gelas dengan air?" Ledek Densha, ia menirukan cara bicara Fuu.


"Densha mau begitu?"


"Tidak! Kau ini lucu sekali... sangat lucu, sampai rasanya aku ingin gantung diri!"


"Gantung diri?"


"Ya.. Coba kau cari orang yang kuat tinggal serumah denganmu! Satu hari saja. Pasti hanya aku orang tersabar di dunia ini"


Pria itu memakan selembar roti yang di buatkan oleh Fuu. Lalu ia berdiri mengambil sepatu sekolahnya, dan mengenakannya.


"Fuu, aku ingin menanyakan hal penting padamu?"


"Apa?"


Ku tanyakan sekarang tidak ya? - Densha.


"Ah! Tidak jadi.. bukan apa-apa, hehe"


"Okay, baik"


"Jaga rumah ya?" Densha mengusap kepala Fuu lembut.


"Aku berangkat!" Seru Densha dan membuka pintu rumahnya.


"Densha! Tunggu!"


"Eh? Ada apa?" Densha menoleh ke arah gadis di belakangnya.


Cup!


Mata Densha membulat, ia terkejut dengan ciuman mendadak di pipi kirinya.


"Apa ini?"


"Di buku tertulis seperti itu"


"Buku?"


"Buku cara agar menjadi istri yang baik!" Fuu tertawa senang.


"Ya Tuhan! Fuu... masih lama sampai hal itu terjadi. Jangan baca buku bodoh itu lagi, mengerti?!"


"Tapi..." Fuu merengut sedih.


"Sudah berani melawan?" Densha menatap dingin gadis itu.


"Maaf.. okay, baik" gadis itu menganggukkan kepalanya pelan.


Di perjalanan menuju sekolahnya, Densha melamun, memikirkan isi buku yang dibacanya tadi pagi. Buku yang ia temukan di dalam tas Isabella.


Jika benar kau duyung? Apa yang harus aku lakukan?


Kenapa aku jadi bimbang setelah mengetahui identitas mu? Walau aku belum melihat wujud aslimu, tapi entah kenapa aku percaya bahwa kau lah duyung yang tertulis di buku itu.


Kalau di ingat-ingat waktu itu kau sengaja melompat dari atas tebing demi mengambil topi yang ku belikan, dan saat aku tersadar kau sudah menggunakan pakaianku. Bahkan pakaian yang kau kenakan hilang entah kemana? Harusnya aku sadar saat itu juga. Tapi.. aku sudah lama menghapus ingatan tentang makhluk mitologi itu, dan sekarang kau muncul. Kita memang tidak sengaja bertemu, tapi kita punya hubungan di masa lalu, melalui orang tuaku. - Densha.


"Ahh! Sialan!! Kenapa dengan kepalaku ini?!" Densha mengacak-acak rambutnya, ia membenturkan kepalanya dengan keras ke tiang listrik tepi jalan.


"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Harusnya aku sadar saat itu juga!"


"Hei bung! Kau sudah tidak waras?!" sapa Moa yang melihatnya sedari tadi.


"Moa??"


"Kenapa kau memeluk tiang itu?" Moa menunjuk ke tiang listrik dengan tatapan matanya.


"Memeluk??" Densha melirik ke tiang listrik yang saat ini ia pegang.


"Haha.. kau ini kenapa sih? Tidak biasanya terlihat stres begitu!"


"Iya aku sangat stres!!"


"Eh? Betulan? Kenapa?"


"Ini karena Fuu..."


"Hah?! Kenapa dengan Fuu? Apa dia hilang lagi?"


"Tidak! Dia ada dirumah"


"Lalu kenapa? Astaga! Jangan-jangan..."


"Jangan-jangan??"


"Kau menghamilinya?" tuduh Moa asal.


PLAK!!


Pukulan keras mendarat tepat di kepala Moa.


"Sudah tidak waras ya?! Mana mungkin aku berbuat hal rendah seperti itu?!"


"Habisnya kau terlihat stress, apalagi coba? Lagipula di negara kita itu hal yang wajar kan?!"


"Dasar bodoh! Aku bukan tipe pria seperti itu tau!"


"Ya.. kita berdua memang bukan pria yang seperti itu, bahkan kita tidak pernah pacaran dari lahir"


"Moa??"


"Ya?"


"Kenapa kau tidak cari pacar?" Tanya Densha penasaran.


"Untuk apa?"


"Kau menyukaiku ya?"


"Apa?! Dasar sinting! Kenapa aku harus menyukaimu?!"


"Habisnya, aku tidak pernah melihatmu pergi dengan seorang gadis"


"Ya.. entahlah.. aku tidak tahu soal itu, aku hanya belum menemukan yang cocok! Lagipula kebanyakan gadis di sekolah menyukaimu"


"Kau sih... terlahir buruk rupa!!"


"Kurang ajar!! Aku tidak jelek-jelek juga tau!!" Moa menggerutu kesal.


"Haha, maaf.. maaf.. aku hanya bercanda"


"Kau.. bagaimana perasaanmu pada Fuu?"


"Jangan tanyakan itu!"


"Eh? Kenapa? Baru kemarin kau bilang dia calon istrimu di masa depan?!"


"Iya aku memang mengatakannya"


"Lalu?"


"Ada suatu hal yang membuatku bimbang"


"Apa itu?"


"Berisik!! Kau tidak perlu tau!!" Densha merangkul leher Moa.


"Apa sih? Dasar pelit!"


"Tidak ada untungnya bagiku memberitahumu!!"


"Kenapa jahat sekali sih?!"


"Hahaha, sudah lah... Ayo masuk ke kelas"


Densha berjalan terlebih dahulu melewati lorong sekolah, langkahnya terhenti melihat Katrina yang tengah duduk di bangku depan kelasnya.


"Itu Katrina kan?"


"Ya.. apa kau tidak sadar dia sering di depan kelas kita!"


"Kenapa?"


"Kemarin Mod menegurnya, dugaan sementara.. sepertinya Katrina menyukaimu!"


"Apa?!"


"Ya.. di lihat dari caranya memandang mu dan gayanya yang seolah meniru Fuu sepertinya dia benar-benar menyukaimu"


"Cih! Aku tidak tertarik!"


"Memangnya kapan kau pernah tertarik dengan perempuan? Yah.. selain Fuu sih!!"


"Fuu itu menggemaskan, walau rasanya nyawaku hampir hilang sepuluh tahun setiap harinya. Tapi dia benar-benar berbeda"


"Nyawamu hilang??"


"Yah.. hampir setiap hari dia berbuat aneh dan menyebalkan"


"Kau tahu??"


"Apa?"


"Semenjak kau bertemu dengan Fuu, aku bersyukur karena aku bukan sejenis kacang-kacangan"


"Kau ini bicara apa?"


"Yahh.. ingat tidak? Aku selalu mencoba mengajakmu bicara, namun kau selalu tidak pernah memperdulikan aku. Itu namanya kacang kan?"


"Ck! Kau kekanakan sekali"


"Hei!! Yang matang terlalu dini itu kau!!" Moa meledek sahabatnya dengan senang.


"Apa katamu?! Matang terlalu dini?!"


"Kenapa?! Tidak terima?"


"Sini kau!!" Densha menarik Moa dan memukulnya pelan, perkelahian mereka hanya bercanda.


Sesampainya di depan kelas, Moa langsung masuk ke kelasnya tanpa memperhatikan Katrina, pria itu malas berurusan dengan Katrina. Melihat Moa yang langsung masuk ke kelas, Densha pun juga ikut menyusul sahabatnya itu.


"Densha..." panggilan Katrina menghentikan langkah kaki pria itu.


"Oh .. Hai Katrina?"


"Hai..."


Aku kangen sekali, kemarin kau tidak datang ke sekolah karena sakit - Katrina.


"Apa Densha sudah sembuh?"


Lihat cara bicaranya.. - Densha.


"Ya.. begitulah"


"Syukurlah.. apa aku boleh main ke rumah Densha?"


"Hentikan!" Cegah Densha yang saat ini sudah mulai jengah.


Katrina terkejut dengan perkataan dingin pria di depannya.


"Kau? Siapa yang sedang kau tiru?"


"Eh?? Aku? Me.. meniru? Apa maksud Densha?"


"Ini jelas bukan cara bicaramu! Kau jadi aneh. Dengar ya? Apapun yang kau lakukan itu tidak akan berpengaruh kepadaku"


"Densha ini bicara apa? Aku tidak bermaksud untuk berbuat aneh-aneh"


"Tapi kau sudah aneh! Dan satu lagi.. ini bukan kelas mu, kenapa kau berkeliaran disini?! Tidak seperti biasanya tau!"


"Aku memang sengaja menunggu Densha, karena kemarin Densha sakit. Aku hanya mengkhawatirkan Densha"


"Bicara dengan benar!!" Perintah Densha tegas, pria itu pergi meninggalkan Katrina di depan kelas sendirian. Dengan wajah sedih Katrina kembali menuju kelasnya sendiri.


.


.


.


.


.


Tok! Tok! Tok!


"Hei Fuu buka pintunya, ini aku!!"


"Ah! Suara itu..."


Fuu berlari kecil membuka pintu rumah Densha secepat yang ia bisa.


"Nona Isabella? Ada apa?"


"Apa begini caramu menyambut ku?"


"Ah! Maaf.. silahkan masuk nona"


Isabella memasuki rumah Densha, ia menarik tangan Fuu untuk duduk di sofa bersamanya.


"Ini.. cepat ganti bajumu dengan ini" Isabella menyerahkan tas yang ia bawa pada Fuu.


"Apa ini?"


"Jangan banyak tanya! Cepat sana ganti baju!"


"Okay, baik" Fuu berlari ke kamar Densha untuk mengganti pakaiannya dengan baju yang di bawa oleh Isabella.


"Nona.. apa benar begini cara pakainya? Fuu tidak mengerti"


"Wah, kau cantik sekali dengan pakaian itu! Sini.. biar aku rapikan rambutmu!"


"Eh? Kenapa?"


"Sudah duduk saja!" Isabella menarik tangan gadis itu, membuatnya duduk di lantai. Ia menyisir rambut Fuu dengan senang.


"Nona.. ada apa ini sebenarnya?" Fuu benar-benar penasaran saat ini.


"Aku akan membawamu pergi"


"Eh? Pergi? Kemana? Tapi Densha meminta Fuu untuk menjaga rumah"


"Pergi menemui Densha, kau mau kan?"


"Bertemu Densha?? Fuu mau. Mau sekali" Fuu tertawa riang.


Ya Tuhan.. gadis ini benar-benar lugu, aku senang karena kau lah yang datang ke kehidupan Densha. - Isabella tersenyum senang, ia memeluk Fuu dari belakang.


"Nona kenapa?"


"Ah.. tidak, tidak apa-apa" Isabella melepas pelukannya.


Jika kau jatuh cinta, aku harap orang yang kau cintai itu Densha. Aku yakin cintamu pasti sangat tulus - Isabella.


"Ayo.. kita harus berangkat sekarang"


"Okay, baik" Fuu mengangguk pelan, ia mengikuti Isabella dan masuk ke dalam mobil menuju suatu tempat.


Pelajaran pagi itu di mulai dengan mata pelajaran matematika, yang membuat setengah isi kelas mengantuk. Moa saat ini sedang bermalas-malasan di balik punggung Densha, ia sengaja sembunyi di balik punggung pria itu agar gurunya tidak tahu bahwa ia sedang tidur.


Tok! Tok! Tok!


"Permisi.." Seorang guru masuk ke dalam kelas, ia tengah berbisik-bisik pada guru yang sedang mengajar. Guru itu menganggukkan kepala pelan tanda setuju.


"Semuanya dengarkan! Hari ini kalian punya teman baru. Bapak harap kalian bisa berteman dengan baik!!" Kata Guru itu keras.


Seisi kelas di buat gaduh dengan berita itu, Moa yang awalnya tertidur pulas jadi bangun. Sedangkan Densha tetap sibuk dengan buku dan pensilnya.


"Hei bung! Kau tidak dengar? Ada murid baru loh!"


"Lalu?"


"Ck! Kau ini" Moa mendengus kesal, ia tampak tidak sabar menyambut si murid baru.


"Masuklah..." perintah sang Guru. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan gugup, jantungnya berdegup keras saat ini, ia hanya menundukkan kepalanya karena malu.


"Perkenalkan namamu!" pinta sang Guru.


"Wahh!! Cantik sekali"


"Gila! Kita satu kelas dengannya?" Para pria di kelas itu saling berbisik-bisik.


"Oi... Densha, lihat tuh!" Moa berusaha memanggil sahabatnya.


"I.. i.. ini Fuu" ucap Fuu pelan.


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Densha terbatuk-batuk mendengar suara Fuu di kelasnya, pria itu langsung mencari ke arah sumber suara itu. Seluruh kelas saat ini tengah memperhatikan Densha.


"Ah! Densha?" Fuu tersenyum melambaikan tangan ke arah Densha.


Astaga! Apa yang bibi lakukan? - Densha.


"Ah! Haha, hai Fuu" Densha melambaikan tangannya dengan canggung.


"Hei! Moa kenapa tidak memanggilku?"


"Sudah tuh! Kau saja yang tidak dengar!!" Gerutu Moa kesal.


"Aku pikir siapa? Ternyata itu siswa barunya.. Hah?! Mengecewakan!" Moa kembali membenamkan wajahnya untuk tidur.


"Ck! Kau ini!!"


"Apa kau kenal dengan Densha?" Tanya seorang guru di kelas itu.


"Iya, kami..."


"Hoi Fuu!!" Densha sengaja memotong pembicaraan. Pria itu menggelengkan kepala, menandakan agar Fuu tidak mengatakan bahwa mereka satu rumah.


"Kau bisa duduk di depan Densha"


"Okay, baik" Fuu berlari kecil ke arah bangku kosong di depan Densha, semua mata memperhatikan kecantikan gadis itu. Para wanita pun sampai iri di buatnya, sudah cantik kenal dengan Densha lagi.


Bisa gawat kalau aku tidak memanggilnya tadi. Bisa saja kan dia bilang bahwa kita satu rumah? Bahkan satu kamar! Astaga.. astaga.. - Densha menggelengkan kepalanya dengan kencang.


"Densha kenapa?" Fuu menoleh ke belakang memperhatikan Densha.


"Hei Fuu! Lihat ke depan! Saat ini pelajaran sedang di mulai!"


"Kata nona Isabella, nona akan membawa Fuu menemui Densha. Ternyata benar-benar bertemu" Fuu tersenyum menatap Densha.


"Hei! Sudah aku bilang lihat ke depan kan?" Densha memutar bahu Fuu dengan gemas agar gadis itu menghadap ke arah papan tulis.


"Ehem!" Moa sengaja berdeham memperhatikan sepasang makhluk di depannya.


"Kau kenapa?"


"Ah! Tidak, hanya batuk saja!"


"Minum obat sana!"


"Jadi.. sekolah bersama ya? Satu kelas lagi" sindir Moa secara halus.


"Hei! Aku bahkan tidak tau! Semua ini rencana bibi"


"Ya.. ya.. ya.." Moa menggoda pria di depannya itu.


Ah! Mereka imut sekali - Isabella.


"Kau lihat itu?"


"Lihat apa nona?"


"Lihat wajah Densha, sepertinya dia senang!"


"Tuan muda sangat menyukai gadis itu ya?"


"Entahlah.. tidak ada yang tahu isi hatinya. Baiklah.. ayo kembali ke kantor! Urusanku disini sudah selesai"


"Baik nona"


Orang itu sedang membicarakan apa? Fuu tidak paham sama sekali! - Fuu.


"Densha?"


"Hem?"


"Siapa orang botak yang banyak bicara itu?!" Fuu menunjuk pada guru matematika yang sedang menerangkan rumus aljabar.


"Uhuk! Uhuk! Siapa yang kau panggil botak?"


"Dia.." Fuu menunjuk langsung ke guru itu.


"Astaga Fuu! Kau tidak boleh begitu! Densha meraih tangan Fuu"


"Eh?"


"Jangan main tunjuk sembarangan di sini!"


"Wah.. wah.. kau ini benar-benar merepotkan ya?" Sindir Moa dari belakang.


Pantas saja Densha bilang Fuu itu menjengkelkan. Ternyata kenyataannya memang merepotkan! - Moa.


"Densha?"


"Apa lagi?"


"Fuu senang"


"Senang? Kenapa?"


"Bisa bertemu Densha setiap waktu" gadis itu menatap Densha, ia tersenyum manis di depannya.


"Hei! Perhatikan depan!" Pinta Densha, wajah pria itu tersipu malu.


Di bangku lain beberapa gadis sedang membicarakan Fuu dan Densha.


"Kau lihat itu?"


"Ya, mereka akrab sekali"


"Kenapa mereka bisa sedekat itu ya?"


"Pantas saja Densha bersikap dingin kepada gadis di sekolah ini, tipe nya saja secantik itu"


"Tapi sepertinya dia bukan gadis pintar tuh!"


"Ya.. sepertinya memang begitu, lihat saja tingkahnya aneh sekali. Seperti anak kecil"


Sejumlah gadis di kelas Densha tengah menggunjingkan Fuu. Mereka iri dengan kecantikan dan kedekatan Fuu pada Densha.


Kabar bahwa ada murid pindahan yang sangat cantik tersebar dengan cepat ke seluruh kelas, banyak pria yang datang ke kelas Densha hanya untuk melihat kecantikan Fuu.


"Densha? Kenapa banyak yang menatap Fuu? Fuu jadi takut"


"Jangan hiraukan mereka!"


Fuu trauma dengan tatapan mereka, mengingatkan Fuu akan profesor David. Tatapan mereka sangat mirip, seolah ingin mengetahui identitas Fuu selengkap mungkin. Gadis itu menundukkan kepala, ia memutar bangkunya agar berhadapan dengan Densha.


"Kau kenapa?"


"Fuu takut dengan tatapan mereka!"


"Hei! Angkat kepalamu!"


"Tidak mau!"


"Katakan kenapa kau takut?"


"Tatapan mereka mengingatkan Fuu pada orang jahat" ucap Fuu pelan, ia tetap menundukkan kepala.


"Sst.. dia kenapa?" Bisik Moa dari belakang. Gara-gara pintu masuk di penuhi murid-murid yang ingin melihat Fuu, Moa jadi terjebak di dalam kelas, dengan terpaksa ia tidak bisa pergi ke kantin.


"Entahlah.. katanya takut dengan tatapan mereka!" Densha menunjuk sekerumun murid dengan matanya.


"Cih! Dasar.."


Mod, yang mendengar ada siswa baru yang cantik. Langsung buru-buru berlari ke kelas Densha, dia sudah berharap bahwa itu adalah Fuu, Katrina juga sama. Diam-diam gadis itu juga datang ke kelas Densha.


Densha berdiri dari duduknya, pria itu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Menatap semua siswa yang sedang berkumpul disana.


Cih! Sial! Kami ini bukan tontonan tahu! - Densha.


"Fuu, angkat kepalamu!"


Fuu menggelengkan kepala, ia menolak untuk mengangkat kepalanya. Gadis itu terlalu gugup.


"Hei bodoh! Kalau aku bilang angkat ya angkat!!" Densha meninggikan suaranya dengan kesal, membuat semua siswa bisa mendengar kalimatnya. Bahkan Moa yang duduk di belakangnya sampai terkejut memperhatikan sahabatnya itu.


Fuu perlahan mengangkat kepalanya, gadis itu berusaha menatap mata Densha.


Cup!


"Ng..." Fuu terkejut bukan main matanya membulat, pria di depannya itu dengan sigap meraih dagu Fuu dan mencium bibir gadis itu dengan lembut.


"HAH?!" Moa berteriak histeris, bukan hanya Moa yang terkejut. Semua murid yang memandang mereka juga sama terkejutnya.


"Kyaa..." Teriak para wanita yang melihat kejadian itu. Mereka semua seolah terkena serangan jantung secara bersamaan.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar!! 😘🙏