
"Ng..."
Moa mengedipkan kedua matanya, wajah pucat pria itu terpapar sinar matahari sore yang indah. Udara dingin berhembus menusuk kulitnya yang putih, tangan pria itu meraba-raba tubuhnya sendiri.
"Eh? Dimana seragamku?"
Moa bangkit dari tidurnya, pria itu celingak-celinguk mencari seragam sekolahnya, posisinya sekarang sedang bertelanjang dada. Pandangannya teralihkan dengan keberadaan seorang gadis yang duduk membelakanginya.
Rambut gadis itu masih basah, Moa menyadari bahwa gadis itu mengenakan seragam sekolah miliknya. Kepala Moa terasa begitu sakit, pria itu menyentuh kepalanya sendiri dan berusaha mengingat kejadian yang baru saja menimpa dirinya.
Di dalam ingatan Moa, suara-suara perdebatan yang baru saja terjadi masih terngiang-ngiang di kepalanya.
Tidak akan kubiarkan kau menolongnya!! (Suara Katrina)
Sial! Kaki ini tidak bisa di ajak bekerja sama dalam situasi seperti sekarang! (Suara Moa)
Tidak!! Fuu!! (Suara teriakan Moa)
BRAKKK!!! (Tandon yang jatuh)
>Kembali ke kenyataan<
Moa menggelengkan kepalanya dengan kuat, pria itu ingat apa yang baru saja terjadi menimpa dirinya dan Fuu, ia menggerakkan kedua kakinya. Matanya terbuka lebar keheranan.
Kakiku tidak terasa sakit?? Aku yakin bahwa kakiku patah tulang gara-gara serangan Katrina! - Moa.
Pria berambut pirang itu kembali memandang Fuu yang masih duduk membelakangi dirinya, ia bingung kenapa Fuu tidak menyadari bahwa dirinya (Moa) sudah sadar dari pingsan.
"Mmm... Fuu??" Panggil Moa pelan.
Situasi sebenarnya...
Fuu sadar bahwa Moa sudah terbangun dari pingsannya, hanya saja ia tidak sanggup untuk menatap Moa. Itu sama saja membuatnya mengingat pengkhianatan yang ia lakukan untuk menyelamatkan Moa. Gadis itu mendengar Moa berbicara namun tidak ingin menanggapinya, wajahnya semakin muram dan sedih.
"Apa kau baik-baik saja? Ada yang terluka?"
Fuu menjawab dengan gelengan kepala, matanya fokus memandang ke bawah. Ia bingung bagaimana caranya turun dari tandon air setinggi ini, kedua tangannya rapat mencengkr*m seragam milik Moa yang ia kenakan.
Apa sih?? Apa ada yang salah denganku?? - Moa.
"Hei, ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat! Mungkin Densha dan Mod sedang mencari kita"
Mendengar Moa menyebut nama Densha semakin membuat Fuu malu dan gugup, ia benar-benar menyalahkan dirinya sendiri.
"Bagaimana cara turun dari sini ya? Tangga besinya sudah patah seperti itu!" Gerutu Moa yang celingak-celinguk memandang ke bawah.
Mata Moa terhenti di sebuah pohon besar dengan ranting yang cukup kuat untuk pijakan di sisi lain tandon ini. Ia tersenyum senang dan menolehkan kepalanya pada Fuu.
"Hei Fuu!! Lihat itu! Kita bisa turun lewat sana!"
Fuu menatap ke arah yang di tunjuk oleh Moa, gadis itu berdiri dari duduknya. Walaupun ia mengenakan seragam milik Moa (hanya bagian atas) namun bentuk tubuh Fuu masih menonjol di balik seragam basah tersebut. Hal tersebut membuat Moa tertegun dan juga malu.
Wajah pria berambut pirang itu semakin memerah saat Fuu berjalan melewatinya begitu saja, ia bengong dan terus menatap tubuh Fuu.
Jaga matamu Moa!! Jaga matamu!! Dia milik Densha!! Dia milik sahabatmu!! - Moa.
"Ng... Ehem!" Moa bedeham, ia ikut berdiri dan berjalan di belakang Fuu.
"Bagaimana cara turun lewat sini?" Gumam Fuu pelan. Matanya fokus menatap cabang pohon yang tak begitu besar di dekatnya.
"Anu... Biar aku yang duluan"
Tidak perlu menunggu Fuu memberikan jawaban, Moa menapakkan kaki kanannya ke cabang pohon tersebut. Kedua tangannya sibuk meraih salah satu cabang yang lain untuk pegangan, dengan sangat hati-hati agar tidak terpeleset pria itu berhasil menuruni pohon itu dengan sangat baik.
"Nah! Sekarang giliran'mu Fuu!!" Seru Moa dari bawah.
"........."
Dia pasti bingung!! - Moa.
"Mmm... Sebrangi saja pohonnya, nanti dari sana melompat lah" Moa menunjuk salah satu cabang pohon terdekat.
"Melompat??"
Akhirnya Fuu tak bisa menahan dirinya untuk tidak berkomunikasi dengan Moa, memang sulit dalam situasi seperti ini untuk tidak saling bicara.
"Iya, percaya deh! Aku akan menangkapmu dari bawah sini"
"Tapi... Ini tinggi sekali" Fuu duduk berlutut sambil memandang ke bawah dengan ngeri.
"Maka dari itu aku menyuruhmu untuk menyebrang ke pohon itu terlebih dahulu kan?!"
Kedua tangan Fuu mengepal dengan kuat, gadis itu kembali berdiri dan memberanikan diri untuk menapakkan kedua kakinya ke cabang pohon di depannya.
Fuu pasti bisa!! - Fuu.
"Nah! Bagus Fuu... Hati-hati" seru Moa dari bawah sana. "Sekarang lompat!!"
"Apa?"
"Lompat lah"
"Bagaimana kalau Fuu jatuh??"
"Tidak akan! Kalau aku menjatuhkan'mu itu sama saja dengan aku menggali kuburanku sendiri"
Bisa habis aku di hajar Densha kalau sampai membuatmu terluka! - Moa.
Fuu mengambil nafas dalam-dalam, gadis itu tengah bersiap untuk melompat ke arah Moa. Ia memandang Moa yang sudah siap dengan posisinya di bawah sana.
"LOMPAT!!" Teriak Moa keras.
GUBRAKK!!!
Tubuh Fuu menghantam tubuh Moa dengan keras, karena posisinya yang salah mereka berdua jatuh tersungkur di atas tanah.
"Dasar! Kau ini tidak bisa melompat dengan benar ya?!" Maki Moa kesal.
"............."
"Kau berniat menendang'ku ya?? Mengarahkan kakimu tepat di dadaku!"
"Duh! Sumpah deh... Itu tadi latihan kepercayaan yang menyeramkan"
Moa ngomel-ngomel sendiri dengan kesal, ia berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Fuu berdiri. Bukannya menerima uluran tangan dari Moa, Fuu malah membuang muka dan berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Eh?? Kenapa ya?? - Moa.
"Sebaiknya kita pergi ke ruang loker, di sana ada seragam cadangan"
Fuu melirik Moa dengan tatapan dinginnya, ia menganggukkan kepala pelan dan berjalan mengikuti Moa dari belakang.
Tak jauh dari tempat mereka mengalami insiden mengerikan itu, secercah cahaya lampu kamera berwarna merah sedang berkedip-kedip merekam semua kejadian yang telah terjadi.
Suara langkah kaki seseorang mendekatinya, dengan seringai senyum kepuasannya. Orang itu memandang handycam miliknya dengan senang, matanya berbinar-binar seolah menemukan sebuah harta. Lalu ia mematikan tombol rekam pada kamera tersebut.
Seseorang itu mengambil ponsel dari saku kemejanya, ia menekan beberapa nomor yang ia hafal lantas segera menghubungi nomor tersebut.
"Halo, Iya... Ini aku. Tolong bawa beberapa orang kemari, aku punya sedikit pekerjaan" senyum bahagia terukir jelas di wajahnya.
"Ah... Tidak, hanya bersih-bersih saja kok! Ada sedikit kerusakan pada tempat penyimpanan air disini" Mata orang itu melirik ke arah tandon air yang sudah kehilangan penyangganya. "Iya... Tolong ya? Baik, terima kasih"
Tut! (Mematikan ponsel)
.
.
.
.
.
Di dalam sebuah mobil, Isabella menggerutu dengan kesal. Sudah sedari tadi ia mengipas-ngipas wajah gadis yang baru saja ia temui, tapi gadis itu tak kunjung sadarkan diri.
"Hei supir! Bagaimana ini?! Kenapa tidak mau bangun juga!!"
"Mana saya tahu nona! Apa perlu ke rumah sakit??"
"Rumah sakit?? Kalau dia korban kejahatan bagaimana??" Isabella mendelik kaget.
"Sebelum nona itu pingsan, dia bilang dia ingin air"
"Air?? Dia pingsan karena haus??" Tanya Isabella heran.
"Saya juga kurang tahu nona, sebaiknya bagaimana? Ini dari tadi saya muter-muter tanpa tujuan loh"
"Dasar bodoh! Ngapain kau menghabiskan bensin untuk muter-muter tanpa arah?! Kau membuatku jatuh miskin 0,0001 %" Maki Isabella ketus.
"Lalu saya harus membawa mobil ini kemana??"
Isabella terdiam, pandangannya teralihkan untuk menatap wajah Ryn. Tanpa ragu, Isabella mengambil sebuah botol minum di dalam tasnya. Ia hendak menyuapi Ryn dengan air minum miliknya.
Sepertinya aku pernah meletakkan sendok di dalam tasku, mana ya?? - Isabella.
"Nah! Ini dia..."
Isabella tersenyum kegirangan seperti anak kecil yang menemukan mainannya, perlahan ia menuangkan air minum kedalam sendok nya dan menyuapi Ryn dengan air minum itu. Bibir Ryn terbuka kecil menerima suapan demi suapan dari Isabella.
"Dia beneran haus ya??"
Isabella kembali menuang air ke dalam sendok nya, karena sepertinya gadis di depannya saat ini begitu memerlukan air dalam jumlah banyak.
CKKIIITTT!!!
Supir Isabella mengerem mendadak untuk menghindari seseorang yang sembarangan menyebrang jalan. Karena terkejut Isabella sampai memeluk si gadis yang tak ia kenal agar tidak terluka.
"Supir k*p*r*t!!" Maki Isabella ketus.
"Maaf nona, ada orang menyebrang sembarangan!" Bela sang supir.
"Sepertinya kau harus ku kirim ke sekolah mengemudi lagi!"
Isabella merapikan posisinya kembali, ia menyandarkan bahu Ryn pada kursi mobil agar gadis itu merasa nyaman. Tanpa ia sadari, air di dalam botol Isabella tumpah mengenai sebagian perut dan kaki gadis asing itu.
Mata Isabella membulat tidak percaya, muncul kepulan asap putih yang tak begitu banyak dari kaki Ryn, disana terdapat sisik-sisik ikan yang sudah mulai terbentuk. Tahu dengan situasi yang ia hadapi, Isabella melepas blazer kantor yang ia gunakan. Dengan cekatan Isabella menutupi perubahan pada kaki Ryn.
"Hei supir bodoh!!" Panggil Isabella ketus.
"Ada apa nona?!" Sang supir memperhatikan Isabella dari kaca depan mobil.
"Berhenti di pinggir jalan dan turunlah"
"Apa?!!"
"Telingamu budek ya?! Ku bilang berhenti di pinggir jalan dan turunlah! Mulai dari sini, aku yang membawa mobil" perintah Isabella tegas.
"Baik nona!"
Supir Isabella membawa mobilnya ke pinggiran jalan, ia membuka pintu dan turun dari mobil. Tak lupa Isabella memberikan beberapa lembar uang yang cukup banyak pada supir pribadinya. Dengan cepat Isabella sudah duduk di bangku pengemudi.
"Gunakan uang itu untuk membayar taksi dan pulang ke rumah dengan hati-hati!" Ujar Isabella dari dalam mobil.
"Baik nona!"
BRRMMM...
Isabella pergi mengendarai mobilnya seorang diri, meninggalkan sang supir di pinggir jalan dengan wajah penuh kebingungan. Tak biasanya Isabella bereaksi seperti ini walaupun sedang marah ataupun mabuk.
Isabella merogoh ponsel pribadi miliknya, ia menekan tombol home pada layar ponselnya cukup lama. Setelah terdengar bunyi 'kling' Isabella mendekatkan layar ponsel tersebut pada bibirnya.
"Oke gugel, laut terdekat!!"
TRING!!!
Bertahanlah sebentar lagi siapapun kamu... - Isabella memandang Ryn dari kaca kecil di dalam mobilnya.
Bersambung!!
Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! 😘😊🙏