Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Minum



Malam ini di rumah Densha kedatangan tamu yang sangat istimewa, ia adalah Isabella Mikaelson, satu-satunya anggota keluarga inti yang Densha miliki, hari ini Isabella tidak terlalu sibuk jadi ia menyempatkan waktu untuk menemui keponakan satu-satunya itu.


"Cih! Padahal tidak perlu repot-repot kesini?!" Sindir Densha ketus.


"Apa kau bilang?! Dasar keparat!! Bibimu ini kangen tahu!!"


"Kan bisa telpon! Kenapa musti kesini sih?!"


"Dasar cecunguk sialan! Tidak tahu di untung! Kalau suatu saat aku mati, kau akan kesepian tahu!!"


"His!! Kenapa bibi berbicara seperti itu? Mengerikan tahu!!"


"Makanya jangan cerewet kalau bibimu ini datang! Benar kan Fuu?"


"Iya, Fuu senang nona Isabella datang berkunjung"


"Duh! Calon istri keponakanku yang super imut ini"


Cup!


Cup!


Cup!


Isabella memeluk tubuh mungil Fuu dengan erat, ia mencium pipi kiri dan kanan Fuu secara bergantian saking gemasnya.


"Ck! Memalukan!!"


"Kau iri kan?! Karena aku bisa menciumnya seperti ini?!"


"Apa?! Tidak tuh!!"


"Halah! Bilang saja kau cemburu!!"


"Tidak! Dasar sok tau!!"


"Heleh... Bilang tidak tapi wajahnya memerah"


Isabella beranjak menuju dapur dengan beberapa kantong belanjaan. Ia memang baru dari supermarket sebelum datang ke rumah Densha, ia membelikan keponakannya itu beberapa bahan masakan untuk ia simpan di lemari es.


"Bibi ini cerewet sekali!!" Densha menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


"Anu, biar Fuu bantu!" Fuu mengambil sisa kantong plastik di ruang tamu dan mengantarnya ke dapur tempat Isabella berada.


"Hei bocah! Kenapa isi kulkasmu hanya ikan-ikanan begini?!" Tanya Isabella yang terkejut saat membuka pintu lemari Es milik Densha.


"Bibi kan tau aku tinggal dengan siapa?! Tuh orangnya..." Densha menunjuk Fuu dengan tatapan matanya.


"Tapi... Apa ini tidak berlebihan?! Sarden kaleng, cumi kering, sekotak ikan salmon. Cih! Semuanya serba ikan!! Apa kau juga akan jadi duyung?!"


"Yaahh... Mau tidak mau aku ikut-ikutan jadi duyung palsu karena makan ikan setiap hari"


"Hahaha, uangmu kan banyak. Kenapa tidak beli makan saja di kantin??"


"Aku sudah melakukannya kok! Tapi aku bosan jika harus makan donat setiap hari"


"Ck! Gunakan otak pintarmu itu?! Kau kan bisa memesan makanan untuk di kirim kerumah. Istilahnya itu katering!! Apa kau tidak tahu?!"


"Aku tidak suka membuang-buang uang untuk hal percuma!" Bantah Densha, ia pergi meninggalkan dapur. Meninggalkan Isabella dan Fuu disana.


Ck! Hal percuma apa?! Untuk makan dia sendiri, dia bilang hal percuma?! Rasa pelitnya benar-benar harus di atasi - Isabella.


"Nah! Kau mau makan apa?! Biar aku masakan"


"Eh? Nona Isabella bisa memasak?"


"Tentu saja! Walaupun tidak sejago Shanaz sih"


"Ehm.. Fuu mau makan apa saja asalkan terbuat dari ikan" ucap Fuu senang.


"Oke, akan aku masakan!"


"Hore!"


"Eh? Apa aku bisa meminta bantuan mu?"


"Bantuan apa?!"


"Bisakah kau pergi ke minimarket di ujung gang sana?!"


"Kalau hanya pergi ke sana Fuu bisa kok"


"Bukan hanya pergi, belilah sesuatu disana"


"Membeli sesuatu?!"


"Aku akan memberikanmu catatan. Lalu berikan catatan itu ke kasir minimarket, dia akan memberikan barang sesuai catatan itu! Kau mengerti?!"


"Oke, baik!"


Fuu tersenyum menerima uang dari Isabella beserta catatannya, gadis itu dengan riang pergi keluar rumah menuju minimarket di ujung gang.


"Selamat datang!"


Astaga! Cantik sekali... - kasir.


"Fuu ingin membeli sesuatu di kertas ini dengan selembar kertas ini"


Fuu menyodorkan kertas catatan dan selembar uang kertas kepada kakak kasir, melihat catatan itu kakak kasir tersenyum memandang Fuu.


Cara bicaranya imut! Tapi... Kenapa yang ia beli malah ini?! - kasir.


"Ini nona, dan ini kembaliannya"


"Eh? Semudah ini?! Wahh.." Fuu tersenyum menerima kantung plastik berisi dua botol minuman.


"Sampai jumpa kembali kakak!"


"Oke, baik!"


Fuu melangkah keluar minimarket, ia tersenyum senang karena ini pertama kalinya ia ke minimarket seorang diri dan berhasil membeli sesuatu seorang diri. Gadis itu merasa bangga dengan aksinya malam ini.


Zrassshhh!!


Eh?? Hujan?? - Fuu.


Fuu berlari ke tepi jalan mencari-cari sebuah toko yang tutup lalu berteduh disana. Ia menatap jalanan yang tiba-tiba sepi karena semua orang memilih berteduh di kedai yang telah tutup untuk menghindari hujan.


Bagaimana ini?! Fuu memang bisa menghentikan hujan. Tapi... Jika Fuu melakukannya, dahi Fuu akan bersinar dan semua orang disini akan memperhatikan Fuu. - Fuu.


Fuu bingung, ia hanya menatap ke langit malam itu dan berharap agar hujan segera reda. Ia takut, bagaimana jika Isabella sudah menunggunya.


"Bibi! Fuu dimana?"


"Aku menyuruhnya ke minimarket ujung gang sana!"


"Apa?! Kau menyuruh Fuu apa?!"


"Aku menyuruhnya membeli sesuatu! Memangnya kenapa?"


"Bagaimana jika terjadi sesuatu? Fuu tidak pernah pergi ke minimarket seorang diri"


"Jika kau khawatir, sana pergi jemput dia!" Tegas Isabella.


"Cih! Bibi ini selalu saja seenaknya!!"


Densha berjalan menuju pintu keluar, ia membuka pintu dan mendapati cuaca di luar sedang turun hujan yang cukup lebat bahkan sedikit berangin.


Hujan?? - Densha.


Pria itu mengambil sebuah payung, tidak lupa ia juga memakai jaket tebal agar tubuhnya tetap hangat. Setelah menutup pintu, Densha pergi menyusuri jalan untuk mencari Fuu.


Apa Fuu terjang saja ya hujannya?! Pasti nona Isabella sudah menunggu... - Fuu.


Fuu duduk berjongkok karena kakinya pegal berdiri, gadis itu memainkan kantung plastik bawa'an nya. Dengan cemberut Fuu memaki-maki hujan yang turun di dalam hatinya. Makiannya berhenti saat seketika ia pikir hujan telah berhenti. Gadis itu menengadahkan kepala ke atas menatap sesosok pria tampan yang ia kenal.


"Densha?"


"Ayo pulang!"


"Bagaimana Densha tahu Fuu ada di sini?!"


Fuu berdiri dan mengangkat kantung belanjaan miliknya, ia berlari kecil menuju Densha yang membawa payung. Fuu mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Densha.


"Kenapa?"


"Air hujannya dingin sekali"


"Coba kau pegang payungnya sebentar!" Perintah Densha.


"Oke, baik!"


"Pegang yang benar!! Aku kehujanan loh! Kenapa sih kau pendek sekali" omel Densha ketus.


"Maaf..."


"Cih! Besinya terkena kepalaku tuh!"


"Iya-iya" Fuu mengangkat gagang payung tinggi-tinggi agar bagian kubah payung tidak membentur kepala Densha.


Dia yang tinggi, malah Fuu yang di salahkan! - Fuu.


"Sudah sini! Biar aku yang pegang, kau pakai jaketku"


"Eh??"


"Oke, baik!"


Fuu menyerahkan kantung belanjaan nya pada Densha, gadis itu memakai jaket milik Densha yang super kebesaran di badannya yang kecil.


"Kau tenggelam! Hahaha"


"Tenggelam??"


"Seolah-olah jaket itu memakanmu!"


"Jaketnya kebesaran"


"Itu kan memang ukuranku! Dan aku memang suka yang sedikit longgar untuk jaket"


"Uhm"


"Ini! Bawa kantung plastiknya!!" Densha menyerah kan kantungnya pada Fuu.


"Okay, baik"


.


.


.


.


.


.


"Kami pulang...."


"OMG!! Kalian berdua ini lama sekali?" Omel Isabella kesal.


"Lama darimana?"


"Masakan buatanku hampir dingin loh! Ayo kita segera makan!"


"Baik!!" Ucap Densha dan Fuu bersamaan.


Fuu menyerahkan pesanan Isabella lalu duduk di kursi samping Densha untuk makan malam.


"Memangnya itu apa?!" Tanya Densha penasaran.


"Ini minuman"


"Minuman??"


"Alkohol!!" Jawab Isabella singkat.


"Bibi minum-minum??"


"Bibi bukan pecandu! Jadi tenang saja! Hari ini bibi cuma pingin saja"


"Awas jika jadi pecandu! Aku akan menguliti bibi"


"Cih! Kejam sekali bocah ini?! Oh iya! Apa kau mau mencobanya?"


"Mencoba apa?!"


"Minuman ini!! Apa lagi?"


"Bibi, aku belum cukup umur"


"Fuu mau mencobanya. Sepertinya enak" sahut Fuu antusias.


"Wah? Benarkah!! Duh senangnya punya keponakan pengertian seperti ini" Isabella memandang Fuu gemas.


"Hei, kau tidak boleh minum itu! Bisa repot nanti!!" Larang Densha.


"Kenapa?!"


"Kau belum cukup umur!"


"Hei keparat kecil! Dia kan duyung, tidak ada batasan umur untuknya!"


"Tapi bibi... Fuu belum pernah minum-minum sebelumnya"


"Jadi ini akan jadi yang pertama untuknya, ah! Tidak sabar aku!"


"Ck! Bisa gila aku kalau berbicara dengan bibi! Aku sudah selesai makan!" Ucap Densha kesal lalu meninggalkan meja makan.


"Tidak apa-apa Fuu, nanti juga hilang tuh ngambeknya"


"Mmm" Fuu menyantap ikan masakan Isabella, walaupun masakannya rasanya aneh. Tidak seenak masakan yang dibuat oleh Densha.


Selesai makan dan membersihkan peralatan makan. Isabella mengambil dua gelas kecil dan menuangkan minuman kedalamnya, satu untuk Fuu dan satu untuknya.


"Minumnya pelan-pelan ya?!"


"Okay, baik"


Fuu meneguk minuman yang di berikan Isabella padanya. Sesaat setelah meminum minuman itu mata Fuu terbelalak kaget akan rasanya. Sungguh! Rasanya betul-betul aneh, mungkin karena Fuu adalah seorang duyung jadi ini sangat tidak cocok untuknya. Namun karena ia menghormati Isabella, Fuu jadi meminumnya dengan ekspresi yang tidak karuan.


"Kau kenapa?"


"Tidak! Tidak apa-apa. Hehe"


Apa ini racun?? - Fuu.


"Mau lagi?? Kau bisa menghabiskannya dalam sekali teguk? Hebat sekali" puji Isabella.


Sebenarnya Fuu tidak ingin menghabiskannya tapi jika tidak di habiskan maka acara minum-minum ini tidak akan cepat selesai. Begitulah yang ada di dalam pikiran Fuu.


"Wah! Kau kuat ya? Sudah tiga gelas loh"


"Fuu sangat suka! Hehe, Fuu ingin lagi" ucap Fuu dengan senyumnya.


Serius!! Fuu ingin muntah!! - Fuu.


"Wah! Wah! Anak ini benar-benar hebat!"


"Hehe"


"Hei Fuu apa menurutmu aku cantik?!"


Eh?? - Fuu.


"Nona sangat cantik!"


"Benarkah?!"


"Iya, memangnya kenapa nona bertanya begitu?"


"Aku kadang suka kesal dengan nasibku, kenapa aku tidak kunjung menikah juga"


"Menikah??"


"Hari ini temanku yang katanya jomblo abadi itu dan bakal jomblo seumur hidup menemaniku ternyata menikah"


Apa itu jomblo?? - Fuu.


"Aku sedih sekali, hanya aku yang belum menikah.. hiks.. hiks.."


"Nona jangan menangis, Fuu memang tidak mengerti. Tapi Fuu yakin suatu saat nona Isabella akan menikah!"


"Cih! Aku tidak akan menikah! Aku sudah berjanji pada kakakku akan merawat Densha seumur hidupku, dan aku tidak akan menikah!!"


Katanya ingin menikah? Sekarang tidak akan menikah?? - Fuu.


"Wah minumannya habis. Apa kau mau lagi? Aku akan membuka botol yang satunya.."


"Ah! Nona tidak perlu melakukan nya... Fuu juga sudah mengantuk. Hehe"


Bisa mati, kalau Fuu minum lagi - Fuu.


"Ah! Baiklah.. pergi lah ke kamar dan tidur, aku ingin melamun sebentar!"


"Okay, baik"


"Hei Fuu!" Panggil Isabella.


"Iya nona??"


"Wajahmu merah sekali! Kau yakin tidak mabuk? Kau minum hampir setengah botol loh?! Ini dosisnya tinggi"


"Ah! Haha, tidak... Fuu tidak merasakan apapun kok nona"


Pusing! Fuu merasa pusing! - Fuu.


"Ck! Hebat sekali duyung ini!!"


"Selamat malam nona!"


Fuu berjalan sempoyongan menuju kamar tidurnya. Sesekali ia sedikit menabrak dalam perjalanan nya menuju kamar.


Katanya tidak mabuk? Kenapa sempoyongan begitu?? - Isabella.


Bersambung!!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like, favorit, rating dan Vote ya? Bisa juga di share ke teman kamu 😘🙏 dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😉🙏