Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Nightmare



Fuu berjalan dengan lambat menuju sekolah karena hari ini Densha tidak ikut pergi bersamanya. Ia menemui Moa di pertigaan jalan seperti biasanya, Moa melambaikan tangannya pada Fuu namun gadis itu hanya menatapnya sekilas.


"Kau kenapa?"


"Tidak tahu! Sedikit kurang semangat saja"


"Eh?? Tidak seperti biasanya kau begini" ledek Moa dingin.


"......." Fuu menarik nafas panjang, ia curi-curi pandang menatap Moa.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku??"


"Tidak!" Fuu menggelengkan kepala cepat.


"Lalu kenapa? Ada masalah ya?? Apa Densha baik-baik saja?"


Fuu menghentikan langkah kakinya sejenak, ia beralih memandang Moa lalu meneruskan perjalanan nya lagi.


"Kenapa sih? Jangan membuat orang penasaran!"


"Densha baik-baik saja" ucap Fuu pelan.


"Syukurlah..." Moa mengelus dadanya sendiri lega.


"Moa..."


"Apa?"


"Bagaimana kalau Fuu adalah nasib buruk untuk Densha?"


"Hah?! Kau ini bicara apa?"


"Moa tahu sendiri kan? Kalau Fuu ini berbeda dengan kalian" Fuu terlihat begitu sedih.


"Lalu? Hei dengarkan aku! Apapun yang akan kau katakan, aku rasa Densha tidak akan menyukai pembicaraan ini"


"Fuu tahu itu... Semalam Fuu melihat sesuatu saat Fuu tidur"


"Kau bermimpi??"


"Benar! Fuu memimpikan Densha yang sedang dalam bahaya"


"Itu kan hanya mimpi!" Jawab Moa santai.


"Moa tidak mengerti, kecelakaan kemarin membuat Fuu jadi bimbang. Apa sebaiknya Fuu kembali saja ke laut??"


"Nah! Sudah aku bilang kan tadi! Densha tidak akan suka pembicaraan ini!"


"Fuu tidak akan memberitahu Densha" gumam Fuu pelan.


"Kau takut?? Gara-gara kecelakaan kemarin kau menyalahkan dirimu sendiri? Kau terpukul?? Kau tidak bisa menerima jika suatu saat Densha akan mati?? Begitu kan??" Moa menghardik Fuu dengan beberapa pertanyaan.


"Iya, Fuu harus bagaimana??" Fuu menutup wajahnya dengan kedua tangan, saat ini ia ingin menangis.


"Fuu... Semua makhluk hidup pasti akan mati"


"Tidak dengan Fuu! jika tidak ada yang membunuh Fuu, Fuu akan terus hidup"


"Apa kau abadi??" Moa mengulang pertanyaan yang sama seperti Densha yang dulu pernah menanyakan hal ini.


"Fuu tidak abadi, Fuu bisa mati jika di dalam sini terluka" Fuu menyentuh bagian kepalanya sendiri.


"Oke, aku tidak paham!"


"Selama bagian dalam sini baik-baik saja, maka Fuu akan baik-baik saja!"


Oh... Jadi selama otaknya tidak mati, maka dia akan terus hidup? - Moa.


"Repot juga ya?? Saran'ku jangan tinggalkan Densha! Untuk pertama kalinya dia membuka dirinya untuk orang lain"


"........."


Fuu memejamkan kedua matanya, ia menarik tangan Moa. Membuat pria itu terkejut, karena Fuu tiba-tiba menyentuh tangannya.


"A... A... Apa yang kau lakukan?"


Dahi Fuu bersinar mengeluarkan cahaya lembut, selembut mentari pagi. Ia mengusap punggung tangan Moa dengan lembut dan menyenandungkan nyanyian sendu.


"Hei, kau mau apa Fuu??"


"Sssttt!!" Bisik Fuu pelan.


Dalam keadaan mata terbuka, seolah-olah Moa melihat kejadian kecelakaan kemarin yang menyerang kedua temannya. Moa terlihat begitu terkejut ketika melihat kedua tangan Densha berlumuran darah, mata Moa semakin terbuka lebar saat ia mengenali sosok gadis yang sedang duduk di kursi dengan tenang.


"Astaga! Katrina???" Pekik Moa kaget.


Fuu menganggukkan kepala pelan, ia melepaskan genggaman tangannya dari Moa.


"Tunggu! Kau bisa memunculkan ingatanmu seperti itu??"


"Fuu juga baru menyadarinya, sepertinya berkat dari ayah begitu banyak, namun Fuu tidak pernah mempelajarinya"


"Apa kau bukan duyung murni??"


"Sejujurnya... Ayah Fuu adalah dewa penguasa laut"


"OMG!! Beneran?? Astaga!! Aku pernah membaca buku tentang itu, jadi itu sungguh nyata??" Moa menepuk kedua pipinya sendiri saking senangnya.


"Benar!"


"Ah! Maaf... Aku sampai lupa pembicaraan kita!" Moa tersenyum menatap Fuu.


"Tidak apa-apa" ujar Fuu datar.


"Jadi... Katrina ya??"


Fuu menganggukkan kepala pelan, Fuu sudah menyadari semuanya. Bahwa kecelakaan kemarin bukanlah murni kecelakaan, itu semua ulah Katrina.


"Kau tidak boleh menuduh orang sembarangan loh!"


"Apa?! Jadi dia memiliki berkat seperti itu?? Astaga!! Ini bisa gawat!!"


"Katrina menyukai Densha... Jika Fuu menjauh dari Densha, maka semuanya akan baik-baik saja"


"Baik-baik saja katamu?! Siapa yang akan baik-baik saja??" Maki Moa kesal.


"........." Fuu menundukkan kepalanya semakin dalam.


"Dengar ya? Mau itu kau atau Densha, tidak akan ada akhir yang bagus untuk kalian berdua!!"


Mendengar kalimat Moa, Fuu menengadahkan kepalanya menatap Moa. Pria itu benar! Pada akhirnya... Ia ataupun Densha tidak akan merasa bahagia, tapi... Jika ia (Fuu) terus bersama Densha, ia takut tidak akan bisa terus melindungi Densha.


"Lalu, Fuu harus bagaimana??"


"Ceritakan semuanya pada Densha! Kau tidak sendirian Fuu, masih banyak temanmu yang akan membantumu melewati ini semua"


"Tapi... Kutukan Hybrid itu mengerikan"


"Patah hati itu lebih mengerikan tahu!!" Dengus Moa kesal.


"Patah hati?? Apa itu??" Fuu mengernyitkan dahinya.


"Jika kau mencintai seseorang lalu kau terluka akan cintanya, itu namanya patah hati! Apa kau ingin Densha merasakan itu lagi? Pertama kedua orangtuanya dan sekarang kau??"


"Tidak! Fuu tidak ingin Densha merasakan hal itu" Fuu menggelengkan kepalanya pelan.


"Bagus!! Berjuanglah ya?? Kau mencintai nya kan??" Goda Moa nakal.


"Itu....."


Jika rasa sukamu sampai ingin melindunginya dengan seluruh hidupmu! Itu bisa di namakan cinta! (Kalimat Mod)


"Aku benar kan??" Tanya Moa sekali lagi.


"Benar, Fuu mencintai Densha... Jadi... Fuu tidak akan menyerah untuk melindungi apa yang Fuu sukai"


"Nah! Begitu dong!! Hehe" Moa mengusap lembut kepala Fuu, mereka berjalan bersama menuju sekolah.


Dari kejauhan Leah sengaja mengikuti mereka dan mendengar semua pembicaraan mereka. Gadis itu tersenyum tulus, ia sangat bahagia.


Imutnya... - Leah.


"Aku rasa aku bisa pergi dengan tenang kalau seperti ini" gumam Leah lirih.


"Oh tidak! Aku belum melihat Moa memiliki pacar, akan aku tunggu sedikit lebih lama lagi! Lalu aku akan menghapus ingatan semua orang dan pergi begitu saja!" Imbuh Leah dengan senyum manisnya.


~



Blup!


Blup!


Blup!


(Suara gelembung-gelembung air)


Kraken duduk santai di atas bebatuan, ia memejamkan matanya dan mempertajam Indra penciumannya. Ia mengendus bau seseorang yang sedang menuju ke arahnya, mengetahui siapa yang datang berkunjung ia tertawa cekikikan.


"Kikikiki... Sudah membutuhkan bantuan'ku??"


"Tidak! Tidak akan!! Aku tidak akan meminta bantuan apapun pada iblis" bantah Katrina tegas.


Kraken menatap Katrina tajam, ia berenang secepat kilat lalu mendorong tubuh Katrina. Membuat gadis itu terpental jauh dari tempatnya semula.


"Hybrid bodoh!!" Ledek Kraken.


"Kau tahu! Kemarin aku hampir saja membunuh seseorang gara-gara kalimat'mu yang terngiang-ngiang di ingatanku!!"


"Kau sendiri yang menginginkannya... Benar kan?? Jadi jangan menyalahkan aku!"


"Itu semua karena kau bilang aku akan mati!!"


"Kau sungguh akan mati sayang... Jadilah jahat, waktumu sudah tidak banyak!"


"Penipu!! Kau bohong!! Waktuku memang sudah tidak banyak di daratan, karena mulai bulan depan aku akan tinggal disini selama tiga tahun!"


"Kikikiki... Aku tahu kau tidak ingin melakukannya"


"Apa?!"


Katrina terkejut bukan main saat Kraken mengatakan hal yang telah ia pendam dalam-dalam di hatinya. Sejujurnya... Katrina tidak ingin menghabiskan waktunya selama tiga tahun di dalam air, ia masih ingin hidup di darat seperti orang normal.


"Aku benar kan?? Kau ingin menjadi normal" imbuh Kraken lagi.


"........"


"Aku bisa membantumu, kau tak perlu mematuhi perintah Poseidon! Dengan begitu kau tidak perlu membuang waktumu di dalam air"


Katrina berpikir sejenak, sesungguhnya ia tidak begitu mempercayai keberadaan Poseidon, tapi Kraken juga mengaku bahwa ia putri Poseidon. Apakah benar Poseidon nyata adanya?? Batin Katrina sedang di serang rasa bimbang, ia sungguh tak ingin menghabiskan waktu tiga tahunnya di dalam air.


"Apa yang kau inginkan dariku??"


"Kikikiki.... Gadis pintar! Kau sudah tahu cara kerjanya ya? Kikikiki"


"Aku sudah sering membaca buku tentangmu! Walaupun sebagian buku itu tidak benar, tapi sebagian lagi pasti benar adanya" Katrina memberanikan diri berbicara dengan Kraken secara terang-terangan.


"Bagus! Akan aku kabulkan keinginanmu! Tapi... Kau harus menuruti perintahku!" Pinta Kraken tegas.


"Apapun akan aku lakukan!"


"Kikikiki.... Membunuh atau dibunuh??" Kraken tertawa terbahak-bahak, ia menatap Katrina dengan wajah jeleknya yang mengerikan.


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Share, Rating dan Vote ya?? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! 😘 Plisss... Jangan lupa Like!