Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Mind



Masih di dalam ingatan Moa, pria itu memandangi gadis kecil yang melambaikan tangan ke arahnya. Moa berjalan mengikuti kemana mereka akan pergi, hingga suatu kabut datang menghampiri Moa dan menghalangi pandangan Moa.


Moa mengusap-usap wajahnya sendiri dan membuka mata perlahan, namun anehnya ia terbangun pada sebuah rumah. Rumah yang sangat ia kenali, ini adalah rumahnya. Namun sedikit berbeda dengan rumah yang ia tinggali sekarang.


Tap!


Tap!


Tap!


(Suara langkah kaki)


"Moa?? Bisa kesini sebentar? Keran air di rumah ini bocor" panggil seorang wanita.


Mendengar ada suara seseorang memanggilnya, Moa mendatangi si sumber suara. Langkahnya terhenti di dapur milik keluarganya, keluarga Collin. Seorang wanita dengan perut yang besar membungkuk berusaha menahan air yang bocor.


"Mama... Biar aku bantu"


"Tidak usah sayang! Kau jangan dekat-dekat dengan air ya??" Ucap wanita itu lalu tersenyum.


"Tapi... Aku ingin membantu" gadis kecil itu merajuk, ia memajukan bibirnya karena ngambek.


"Baiklah... Bisa bantu mama panggilkan papamu? Mungkin dia ada di kamar"


"Oke, baik!"


Gadis kecil itu berjalan tepat di samping Moa, tapi anehnya ia tidak melihat keberadaan Moa di rumah itu. Moa masih fokus menatap si wanita yang tengah hamil saat ini, ia sungguh tidak mengenali wanita itu. Pengelihatan Moa selalu kabur saat menatapnya.


"Ada apa sayang??"


Suara pria dewasa di belakang Moa membuat pria itu terkejut, ia menoleh ke belakang untuk menatap pria yang ia tahu bahwa itu dirinya sendiri.


"Keran air di rumah ini bocor, bisa kau benarkan?"


"Apa sih yang tidak bisa aku lakukan? Hahaha"


"Baiklah, tolong ya? Nanti aku masakan yang enak untukmu"


Pria dewasa itu berjalan menembus badan Moa yang terdiam, ia mendekati istrinya yang sedang hamil dan mencium kening wanita itu dengan lembut.


Astaga! Itu istriku?? Aku benar-benar tidak mengerti situasi macam apa ini? - Moa.


"Hei, nanti putri kita melihatnya..."


"Biarkan saja!"


Cup!


Cih! Jika aku sudah dewasa nanti, aku tidak akan melakukannya di depan anak kecil - Moa.


"Papa! Aku ingin bermain di luar ya?"


"Baik sayang, jangan jauh-jauh ya?" Pinta Moa dewasa pada gadis kecil itu.


"Baik, papa!"


Tanpa seizin Moa, tubuh pria itu seolah tertarik ke suatu tempat. Seperti kekuatan sihir yang memanggil, tubuh Moa terseret dengan cepat, ia berusaha meraih apapun untuk pegangan namun sia-sia.


"Hei, siapapun! Tolong aku!! Leah!! Hentikan semua ini" pekik Moa yang sudah merasa ketakutan.


Tubuh Moa terpelanting jauh dari rumahnya, ia seolah melayang dalam kehampaan. Melayang dalam sebuah tempat yang gelap, tiba-tiba tetesan air membasahi wajah Moa. Saat ia mengerjapkan matanya, ia telah sampai di sebuah lobi. Lobi rumah sakit, yang mana ini adalah rumah sakit tempat ayah Mod dulu di rawat.


Ya Tuhan! Apa-apa'an ini?? - Moa.


"Leah?? Kau dengar aku?? Keluarkan aku dari sini? Ini bukan ingatanku! Ku mohon!! Dengarkan aku" Moa memanggil-manggil nama Leah, tapi tidak ada jawaban.


"Leah?? Tolong..." Mata Moa berkaca-kaca, ia takut, takut pada pikirannya sendiri.


Ia benci kehampaan tiada ujung seperti ini, bukan! Lebih tepatnya ia merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi di rumah sakit ini.


Moa... (Suara Leah)


"Leah? Itu kau?? Keluarkan aku!! Cepat! Aku tidak ingin disini!"


Kau yakin? Tidak ingin melanjutkannya?


"Tidak! Tentu saja aku tidak, aku tidak ingin melanjutkannya!" Maki Moa kesal.


Baiklah... (Suara Leah mulai memudar)


"Sialan! Aku bahkan tidak ingat bahwa punya ingatan seperti ini" Moa mengacak-ngacak rambutnya sendiri dengan gemas.


Ini... Bukan ingatanmu Moa!


"Apa?? Apa maksudmu??"


Suara Leah benar-benar menghilang, dengan sekejap tubuh Moa berpindah ke ruang gelap tiada ujung itu lagi. Ia membuka matanya berkali-kali, tapi ia tetap berada disana. Moa mencoba mengatur nafasnya agar lebih tenang seperti saat ia ingin Leah mengembalikan ingatannya.


~ Kembali ke dunia nyata ~


Nafas Moa terengah-engah, mata pria itu berkedut dan keringat bercucuran dengan deras di wajahnya. Bahkan telapak tangan Moa juga basah karena keringat.


"Hah! Hah! Hah!"


"Moa? Hei, buka matamu!" Pinta Leah lembut, ia menepuk wajah Moa berkali-kali untuk membangunkan pria itu.


"Astaga! Ya tuhan! Hentikan ini..." Gumam Moa pelan, ia masih memejamkan matanya.


"Oh my... Apa yang terjadi? Aku sudah menghentikannya kok!"


Leah panik, ia melepas kedua tangannya dari pipi Moa namun Moa tetap memejamkan kedua matanya. Pria itu mengernyitkan dahinya seperti ketakutan, Leah menyentuh kedua tangan Moa dan menyanyikan sebuah nada indah. Nyanyian duyung!


Hmm~ Hmm~ Hmm~


"Moa bangun..."


"Moa, kau dengar aku??" Panggil Leah lagi.


Moa terperanjak kaget, nafas pria itu terengah-engah. Ia menatap Leah dengan bingung, sesaat Moa menyentuh dadanya tepat di sebelah jantung. Entah kenapa ia merasakan rasa sakit di sebelah sana.


"Ya Tuhan... Aku... Aku..." ucap Moa terbata-bata.


"Tidak apa-apa Moa, tenanglah..."


Leah memeluk Moa dengan erat, ia mengusap punggung Moa lembut untuk menenangkan pria itu.


"Itu tadi... Ingatan apa?"


"Hmm? Memangnya kau lihat apa?" (Masih dalam posisi memeluk Moa)


"Keluarga, aku melihat diriku yang sudah dewasa, gadis kecil dan seorang wanita yang sedang hamil besar" ujar Moa lirih.


Tanpa sadar Moa membalas pelukan Leah, dan itu berhasil membuat Leah tersenyum senang. Tentu saja Moa tidak tahu bahwa Leah tersenyum karena ia membalas pelukan gadis itu.


"Kenapa ada ingatan seperti itu?" Tanya Moa penasaran.


"Sudah aku katakan sebelumnya, bahwa aku bisa meramal kan?" Leah memundurkan tubuhnya dan melepas pelukannya dari tubuh Moa.


"Waktu di kedai es krim, kau bilang aku punya anak laki-laki... Tapi yang aku lihat anak perempuan tuh!"


"Itu karena kau tidak mau melanjutkannya! Istrimu mengandung bayi laki-laki yang super lucu" Leah tertawa lebar, ia bertingkah imut untuk menggambarkan bayi lucu.


"Cih! Ramalan itu tidak bisa di percaya, dan anehnya aku tidak bisa melihat wajah istriku!"


"Mmm... Mungkin karena kau belum memutuskannya"


"Memutuskan apa??"


"Memutuskan untuk menikah dengan siapa? Umurmu kan masih jauh untuk ke sana" ujar Leah tenang.


Apa iya begitu? - Moa.


"Harusnya bukan begitu kan cara kerjanya?" Moa mengangkat sebelah alisnya karena ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia lihat di dalam pikirannya.


"Duh! Banyak tanya... Kepalaku pusing nih gara-gara mengembalikan ingatanmu" Leah menyentuh kepalanya yang terasa sakit.


"Oh iya... Aku lupa, kau tinggal dimana? Akan aku antar kau pulang. Ini sudah sangat malam" Moa memandang jam di layar ponselnya.


Leah membisu, ia tidak mampu mengatakan pada Moa dimana ia tinggal, ia melirik ke arah Moa seakan ragu untuk memberitahu tempat tinggalnya.


"Aku... Aku tidur di dalam laut"


"Apa? Dimana keluargamu?"


"Mereka tidak disini..." Gumam Leah pelan.


"Kau tidak punya ayah dan ibu? Tunggu! Waktu itu kau bilang kau punya orang tua kan??"


"Iya... Aku punya kok"


Moa memutar kedua bola matanya, ia menebak bahwa Leah saat ini sedang dalam masalah dan tak ingin pulang ke rumah, yahhh... Itu hanya tebakan asal dari Moa saja.


"Masalah keluarga?" Tanya Moa tegas.


"Aku di usir dari rumah..." Ucap Leah tenang.


"Jadi, kau tidak punya tempat untuk tinggal?"


Leah menggelengkan kepala pelan, namun gadis itu tetap tersenyum dengan ceria.


"Tidak apa-apa Moa, aku bisa tidur di dalam air"


"Tidak! Jangan lakukan itu, aku tidak tega mendengarnya" Suara Moa terdengar sedih saat mengetahui Leah tidak memiliki tempat untuk pulang.


Moa menyentuh dagunya dan manggut-manggut tidak jelas, ia saat ini sedang berpikir keras, memikirkan nasib Leah teman barunya.


"Aku punya Ide, tinggal lah di rumahku! Rumahku cukup besar, ada banyak kamar kosong"


"Rumahmu?? Kenapa?? Aku sungguh tak apa-apa"


"Hei, seorang gadis berkeliaran malam-malam itu tak baik, cobalah tinggal sebentar! Kalau memang tidak betah kau boleh pergi kok" pinta Moa lembut.


Sialan! Tentu saja aku akan betah tinggal di rumahmu!! - Leah.


"Bagaimana??" Moa mendekatkan wajahnya pada Leah, membuat pipi gadis itu bersemu merah.


"His! Jangan sesekali mendekatkan wajahmu secara tiba-tiba!!"


Leah mendorong wajah Moa dengan kedua tangannya. Ia tersipu malu dengan kelakuan Moa yang kekanak-kanakan.


"Jadi, mau tinggal di rumahku untuk sementara??"


WTF!! Dia beneran tulus menolongku... - Leah.


"Okay, baik! Ups..." Leah menutup mulutnya rapat-rapat, ia menggelengkan kepala cepat. Memaki mulutnya sendiri di dalam hati.


"Sudahlah, aku sudah terbiasa mendengar kalimat itu! Siapapun bisa memakai kalimat itu kan?" Moa mengusap kepala Leah pelan.


"Terima kasih sudah mau mengerti..."


"Baiklah... Ayo pulang!"


Moa berdiri dari tempatnya duduk, ia menarik lengan kaos Leah agar gadis itu mengikutinya.


"Hei, tidak usah di tarik begini dong!"


"Hahaha, maaf-maaf"


Aku... Aku... Aku sangat bahagia! Sangat.. sangat bahagia. Ketulusan'mu padaku membuatku tersentuh, maaf... Aku harus berbohong padamu. Soal nama, keluarga dan lain sebagainya... Maafkan aku... Dan yang kau lihat tadi itu ingatanku, bukan ramalan yang aku buat untukmu - Leah.


Bersambung!!


Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, komentar, Follow, Vote, rating dan Favorit ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘✌️