
"Hiks.. hiks.. hiks.."
"No.. nona kumohon tenanglah.." Mod menggenggam jemari Isabella dengan lembut, ia merasakan kesedihan yang di rasakan oleh Isabella.
Malam itu setelah mendapat kabar buruk dari Jennie, Isabella Mikaelson segera menuju ke lokasi terakhir keberadaan Densha. Sebelum itu ia telah menjemput Moa, bahkan Moa juga menghubungi Mod untuk membantu pencarian Densha. Moa tahu bahwa ini sudah sangat malam bagi Mod tapi gadis itu ternyata tetap datang memenuhi permintaan Moa. Saat ini mereka bertiga dan beberapa detektif sudah berada di pantai tepi kota, tempat terakhir Moa melihat Densha.
"Cih! Sial!! Apa kita tidak bisa melaporkan Jennie??"
Isabella tidak menjawab pertanyaan Moa, wanita itu hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Ayolah!! Ini tindakan kriminal! Kita tidak tahu Densha sekarang berada dimana? Dan di satu sisi Jennie sedang berusaha menemui pengacara keluargamu untuk pengalihan kekayaan perusahaan yang seharusnya untuk Densha!!"
"Moa! Kau tidak lihat nona Isabella sedang dalam keadaan terpuruk?" Mod berdiri membantah Moa dengan tegas.
"Sampai kapan dia harus terpuruk? Jennie sudah bergerak saat ini! Kalau kita diam saja, kita malah hanya mempermudah rencananya bodoh!!"
"KALIAN BERDUA HENTIKAN!!"
Isabella berteriak dengan kencangnya, wanita itu berdiri dan menarik telinga Mod dan Moa secara bersamaan, dengan masih menangis Isabella menatap kedua remaja di depannya dengan geram.
"No.. nona?"
Apa-apa'an suaranya itu? - Mod.
"Aku juga sedang memikirkan cara untuk menggagalkan rencana Jennie, tapi ini sangat sulit! Dia sudah mendapatkan cap jari Densha" Isabella kembali tenang.
"Cap jari??" Tanya Moa yang kebingungan.
"...."
"A.. apa maksudnya? Bukankah di dalam surat warisan harus menggunakan tanda tangan orang yang sudah di tentukan?" Mata Mod bergetar memikirkan kemungkinan yang sudah terjadi.
"Hei ada apa ini? Aku tidak mengerti maksud pembicaraan kalian"
"....."
Isabella membisu, ia menatap kebawah menatap kakinya sendiri. Matanya berkaca-kaca, kedua tangannya mengepal dengan keras. Tubuh wanita itu bergetar menahan tangis.
"Ti.. tidak mungkin!!" Mod menutup kedua matanya, air mata mengalir pelan di pipi gadis cantik itu.
"Hei Mod ada apa? Kalian berdua jangan membuatku bingung!!" Moa menepuk bahu Mod pelan, pria itu menatap wajah Mod dengan serius.
Gyut!
Mod memeluk Moa dengan erat, gadis itu terisak-isak. Mod menangis dengan kencang, pelukannya semakin erat di tubuh Moa.
"Eh?? Kau ini kenapa??"
"Mo.. Moa.. hiks.. hiks.."
"Ada apa sih?"
"Jika.. jika Jennie mendapatkan cap jari Densha dan bukannya tanda tangan Densha, itu.. Densha.."
"Apa? Katakan dengan jelas Mod?"
"Hiks.. hiks.. Cap jari tidak akan berfungsi jika pemilik cap jari itu masih hidup"
"????"
Mata Moa membulat tidak percaya, pupil matanya seakan mengecil, untuk sesaat Moa terdiam, tangannya bergetar dengan hebat. Pria itu menatap Isabella, menunggu wanita itu berbicara sesuatu.
"No.. nona Isabella.. apa itu benar?"
"...."
"Jawab aku!"
"...."
"HEI ISABELLA MIKAELSON JAWAB PERTANYAANKU?!" Moa berteriak dengan keras.
"Itu.. benar"
"Apa?!"
"Yang di katakan teman perempuanmu itu benar"
"No.. nona.."
"SEMUANYA BENAR!! APA KAU TIDAK DENGAR HAH?!" Isabella menutup wajahnya dengan kedua tangan, wanita itu menangis dengan kencang.
"Hiks.. hiks.. hiks.."
"Tidak, itu tidak benar! Densha tidak mungkin.." Moa menyentuh kedua bahu Mod yang tengah memeluknya sedari tadi.
"Moa??"
"Itu tidak benar Mod.."
"Moa.." Mod menyentuh pipi Moa dengan lembut, pria itu menitihkan air matanya di tangan Mod, ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Kepalanya tertunduk, ia menyandarkan kepalanya di pundak gadis cantik itu.
"Hiks.. hiks.. itu tidak benar.. Densha.. tidak mungkin mati"
"Moa.. hiks.. hiks.." Mod memeluk Moa dengan erat, berusaha menenangkan pria yang disukainya itu.
Isabella merogoh tas jinjingnya, ia mengaktifkan ponselnya untuk mencari lokasi Densha, namun tetap saja tidak berubah. Lokasi terakhir Densha yang terlacak hanya di sekitar pantai yang saat ini ia datangi, kemungkinan besar seseorang telah mematikan ponsel milik Densha di sekitar pantai ini.
"Anu, maaf menganggu!" Ucap salah seorang detektif yang saat ini mendekati Isabella.
"Ada apa pak?"
"Sebaiknya.. kalian bertiga pulang! Ini sudah sangat malam, bahkan hampir pagi. Biar kami yang mengurus masalah ini"
"Tapi.." Isabella bersikukuh ingin mencari keponakannya, Densha adalah satu-satunya harta berharga yang di tinggalkan oleh Derick kakaknya.
"Nona.. nona juga perlu istirahat" Mod merangkul lengan Isabella dengan lembut. Isabella menoleh ke arah Mod yang saat ini tengah tersenyum menenangkannya.
Gadis ini.. mirip dengan Shanaz - Isabella.
"Hah.. baiklah"
"Apa ada tanda-tanda keberadaan tuan Densha? Apa lokasinya sudah bisa di lacak dengan ponsel anda nona?"
"Tidak, lokasinya masih saja di sekitaran pantai ini. Kemungkinan seseorang mematikan ponselnya sebelum menghabisinya" Isabella menatap kosong ke layar ponselnya.
"Hei!!" Moa membantah dengan kesal, satu-satunya yang percaya bahwa Densha masih hidup hanyalah Moa seorang.
"Jangan bicara seolah-olah sahabatku itu sudah mati!! Densha tidak mungkin mati secepat itu!" Moa menatap tajam ke arah Isabella.
"Aku harap juga begitu.." Isabella terdiam sejenak.
"Jadi.. apa kau dan teman perempuanmu ini.. umm.. bisa menemaniku di rumah Densha?"
Suara Isabella terdengar pelan, ia berharap agar Moa dan Mod mau menemaninya di rumah Densha. Wanita itu takut jika ia sendirian maka ia akan semakin sedih memikirkan keponakannya yang hilang saat ini.
"Tenanglah nona Isabella. Tanpa di minta pun, aku akan dengan senang hati menemani nona.. benar kan Moa?" Mod tersenyum memeluk Isabella dengan erat. Membuat Isabella terkejut dengan pelukan Mod yang tiba-tiba.
Kau benar-benar mirip dengannya.. - Isabella tersenyum tipis melirik ke arah Mod.
"Yahh, aku juga ingin tahu kabar Densha secepatnya. Jadi kami berdua akan tinggal di rumah Densha sementara waktu!"
Secara gamblang Moa mengatakan kata-kata yang membuat Mod tersipu malu, gadis itu tersenyum senang. Ia merasa bahwa Moa tidak akan menyukai Jennie karena mengetahui bahwa gadis bernama Jennie itu telah melakukan tindakan kriminal, jadi inilah saatnya agar dia bisa lebih dekat dengan Moa.
Mereka bertiga pulang ke rumah Densha dengan mobil Isabella, sementara itu beberapa detektif masih terus bekerja menemukan titik terang keberadaan Densha saat ini, di lain sisi Isabella telah bersekongkol dengan pengacara keluarganya agar memperlambat pengesahan ahli waris terhadap Jennie, bagaimanapun juga ini adalah hal yang salah.
"Apa kita benar-benar tidak bisa melaporkan Jennie?" Tanya Moa sesampainya di rumah Densha.
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku takut.."
"Hah?! Bukankah selama ini kau tidak takut dengan apapun?!"
"Kelemahan ku adalah Densha, aku takut.. jika ternyata Densha masih hidup dan Jennie menyembunyikannya. Lalu kita melaporkan Jennie dengan sedikit bukti, aku takut Jennie akan melakukan hal yang lebih jauh kepadanya"
"Kenapa rumit sekali sih?!" Moa mengacak-ngacak rambutnya, ia merebahkan tubuhnya di sofa milik keluarga Mikaelson.
"Uhm.. anu, apa aku boleh tidur sebentar? Kepalaku sakit sekali menahan kantuk"
"Maafkan aku karena merepotkan mu, kau bisa tidur di kamar tamu sebelah sana!"
"Ah! Nona Isabella tidak perlu minta maaf, seharusnya saya yang minta maaf karena bukannya membantu malah merepotkan nona saja"
"Tidak apa-apa!" Isabella tersenyum, namun senyumannya itu tetap tidak bisa menutupi raut wajahnya yang tengah bersedih.
Nona Isabella.. anda kuat sekali.. - Mod.
~
Crasshh..
Crasshh..
Crasshh..
Karena kelelahan Fuu yang berenang dengan membawa tubuh Densha hampir pingsan di tengah-tengah perjalananya menyelamatkan Densha, namun gadis duyung itu menguatkan tubuhnya demi Densha, ia mengerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk membawa Densha ke daratan terdekat, walaupun sebenarnya daratan yang dia tuju cukup jauh dari lokasi tenggelamnya Densha.
"Hah! Hah! Hah! Hah!"
Nafas Densha terengah-engah, ia cukup banyak meminum air laut yang sangat asin saat Fuu secara tiba-tiba menyelam, mau tidak mau karena dia tidak siap, Densha jadi sering meminum air laut selama perjalananya menuju pulau ini. Sekarang pria itu kelelahan hingga nafasnya tidak beraturan.
"Fuu.. Hehe Fuu.." Densha bergumam dalam ketidaksadarannya.
Jari duyung itu berkedut, sebelum ia benar-benar tidak sadarkan diri. Mereka berdua pingsan di bibir pantai, setengah tubuh mereka di terjang ombak secara terus menerus.
"Densha.. tetaplah hidup" gumam Fuu pelan.
.
.
.
.
.
Matahari perlahan-lahan mulai terbit, menyinari wajah tampan Densha dengan lembut, pria itu mengerjapkan matanya dengan pelan mengumpulkan kesadarannya sebelum ia benar-benar bangun.
"Ng.."
Dimana ini? Apa yang terjadi? - Densha.
Crasshh..
Crasshh..
Crasshh..
Densha merasakan dingin di bagian bawah tubuhnya yang di tabrak ombak pantai berulang-ulang, pria itu mencoba mengingat kembali kejadian yang telah ia lewati hingga dia bisa sampai ke daratan ini. Matanya tertuju pada gadis duyung yang tengah tidak sadarkan diri di depannya. Tubuh duyung itu tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini, namun dengan kondisinya yang masih terikat rantai Densha tidak bisa mendekati gadis duyung itu.
"Fuu? Hei Fuu??"
Densha berusaha memanggil Fuu namun tidak ada jawaban ataupun tanda-tanda pergerakkan dari tubuh Fuu yang terlihat.
"Hoi! Fuu.. kau tidak apa-apa?"
"Fuu?? Kau dengar aku? Sial! Hei!!"
Mata Densha bergetar menatap tubuh Fuu yang sama sekali tidak menunjukkan pergerakan, bahkan ia tidak bisa melihat pergerakkan nafas Fuu karena posisi Fuu yang membelakangi tubuh Densha.
Sial!! Apa yang terjadi?! Kenapa dia diam saja?! - Densha.
"Hoi.. kau dengar aku? Fuu!!" Densha berteriak sekencang mungkin berusaha membangunkan gadis duyung itu.
Dengan sekuat tenaga Densha berusaha menyeret tubuhnya mendekati tubuh Fuu, namun itu sia-sia saja! Kursi besi yang terikat dengannya terlalu berat untuk ia seret, apalagi dengan keberadaan dirinya yang berada di pasir pantai yang basah membuatnya semakin sulit bergerak.
"Astaga! Apa yang terjadi padamu Fuu?"
Kumohon! Siapapun.. Selamatkan dia.. - Densha.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Ada apa dengan tubuhku? Kepalaku pusing sekali.. pandanganku jadi kabur begini? Apa yang terjadi? - Densha.
Fuu.. - Densha menutup kedua matanya pelan.
Pria itu sakit, bagaimanapun juga tubuh manusia biasa sepertinya pasti lemah, apalagi harus semalaman terkena air laut yang dingin. Badannya terkulai lemas, suhu badannya meninggi, yahh.. Densha tengah demam di situasi seperti ini.
Sampai matahari terbit dengan sempurna Isabella dan Moa tidak bisa tidur, lingkar hitam menghiasi kedua mata mereka, Isabella tetap di sibukkan dengan ponselnya. Wanita itu menunggu kabar baik dari para detektif yang sedang berusaha mencari keberadaan Densha, sedangkan Moa tidak bisa tidur dengan tenang di kondisi seperti ini, jadi dia memilih untuk tidak tidur dan tetap bergadang menemani Isabella.
"Kalian berdua tidak beristirahat sama sekali?"
Mendengar pertanyaan dari Mod, Moa hanya menggeleng-gelengkan kepala untuk menjawabnya.
Aku benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya aku tidur dalam situasi seperti ini?! Maafkan aku nona Isabella.. - Mod.
"Aku akan membuatkan sesuatu untuk kalian!" Ucap Mod pelan, gadis itu menuju dapur untuk membuatkan sarapan dan minuman hangat agar Isabella dan Moa tidak jatuh sakit, mereka harus tetap menjaga kesehatan sampai Densha benar-benar di temukan.
"Apa ponsel milik Densha tetap tidak aktif?"
"Tidak!"
"Ck! Sial! Apa kita hanya bisa menunggu seperti ini saja?!"
"Aku tidak tahu! Aku tidak menemukan titik terang keberadaan Densha, kalaupun mau mencarinya. Kita harus mencari kemana?"
"Kau benar! Aku jadi merasa tidak berguna disini"
"Moa.."
"Apa?!"
"Apa Fuu benar-benar pergi?"
Pertanyaan dari Isabella yang membuat Moa terkejut, ia ingat bahwa Densha waktu itu berbohong pada Isabella bahwa Fuu ada di rumah.
"Ehm.. ya begitulah.."
"Baru kemarin dia bohong padaku soal Fuu, sekarang dia yang menghilang"
"Mungkin Densha ada alasan tertentu untuk berbohong.. Jangan memarahinya, yang lebih penting sekarang kita harus berdoa agar dia baik-baik saja!"
"Aku tidak akan memarahinya, aku hanya takut.. takut mengalami hal yang sama kedua kalinya"
"Hal yang sama?"
"Kakakku dan istrinya juga menghilang di pantai, aku tidak ingin Densha dan Fuu juga mengalami hal yang sama.. hiks.. hiks.." Isabella mulai menangis lagi, ia mengingat kejadian yang menimpa Derick kakaknya.
"Itu tidak mungkin, Fuu hilang terlebih dahulu sebelum Densha"
Andai saja Fuu ada disini, mungkin Densha tidak perlu datang ke pantai itu untuk mencarinya.. - Isabella.
"Kenapa Fuu pergi?"
"Ng.. itu.. aku tidak tahu! Densha bilang bahwa itu salahnya"
"Salahnya??"
"Ya, aku rasa hanya masalah pribadi antara dirinya dan Fuu"
Kring.. kring.. kring..
Moa dan Isabella saling menatap ke arah telepon rumah keluarga Mikaelson, mereka berebut untuk mengangkat telepon itu, dan perebutan itu di menangkan oleh Isabella.
"Halo?"
"Halo.. selamat pagi nona, kami menemukan kapal yang sepertinya digunakan untuk menculik keponakan anda"
"Apa? Benarkah??"
"Iya, dan beruntungnya kami juga menangkan kedua pelaku yang di duga ikut dalam aksi penculikan itu, nona bisa datang ke kantor siang ini"
"Baik, saya akan datang!"
Tut!
"Ada apa nona?" Tanya Mod yang penasaran, gadis itu meletakkan sepiring roti bakar dan dua gelas susu hangat ke meja ruang tamu keluarga Mikaelson.
"Pelaku kejahatan yang bersekongkol dengan Jennie telah di tangkap!"
"Apa?! Syukurlah.." Mod terdengar sangat senang, saking senangnya ia merangkul lengan Moa di sampingnya.
"Ah! Maaf" wajah Mod memerah, perlahan ia melepaskan tangannya dari lengan Moa.
"Ng.. tidak apa-apa"
"Aku harus segera ke kantor polisi!"
"Nona, makanlah terlebih dahulu. Nona juga perlu menjaga kesehatan nona kan?"
"Kau baik sekali! tapi.. aku tidak merasa lapar"
"Meskipun nona tidak merasa lapar, nona harus makan atau minum sesuatu. Agar nona punya cukup tenaga mengurus semua hal ini"
Isabella menghela nafas panjang, ia mengambil sepotong roti bakar yang dibuatkan oleh Mod dan memakannya. Ia juga meminum susu hangat yang sudah di siapkan oleh Mod.
"Terima kasih.. ngomong-ngomong siapa namamu?"
"Ah! Kita belum berkenalan, maafkan saya nona.. nama saya Mod Roosevelt, nona bisa memanggil saya Mod"
"Nama yang bagus!"
Bersambung!
Jika kalian menyukai Novel ini! Jangan lupa Like, beri komentar dan Vote ya?? 😉🙏 Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih!