
Fuu meraih kedua tangan tuan Shawn dengan lembut, gadis itu terkejut bukan main. Kedua tangan tuan Shawn terasa begitu dingin, mata Fuu membulat dengan lebar, ia beralih memandang Densha di sampingnya.
"Ada apa sih??"
Nafas Fuu terengah-engah, ia menuntun tubuh tuan Shawn agar masuk ke dalam rumah Densha, merasa ada yang tidak beres. Densha menutup pintu rumahnya dan menguncinya dari dalam.
"Hei Fuu kenapa kau begitu panik??" Densha mendekati Fuu dan menyentuh bahu gadis itu.
Fuu terus menggenggam kedua tangan tuan Shawn, pria paruh baya itu meneteskan air matanya di depan Fuu. Cahaya kuning keemasan memancar dari dahi Fuu, gadis duyung itu juga ikut menangis.
Perlahan ia melepaskan genggamannya pada tangan tuan Shawn. Fuu memejamkan kedua matanya dan dengan cepat cahaya di dahi Fuu menghilang, Densha terdiam seribu bahasa, ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedang di lakukan oleh dua duyung di rumahnya saat ini.
Krak!
Apa yang... - Densha.
Mata dan mulut Densha terbuka lebar, pria itu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia segera bersembunyi di balik tubuh Fuu, merasa ngeri dengan apa yang di lihatnya Densha meraih rambut indah milik Fuu untuk menutup kedua matanya.
Krak!
Krak!
(Seperti suara batu yang retak)
Tubuh tuan Shawn perlahan berubah menjadi batu, dan dengan sekejap batu itu memecah dirinya sendiri menjadi beberapa bagian yang kecil. Yaah... Menjadi pasir, pasir yang begitu halus! Kini ruang tamu Densha di penuhi dengan pasir pantai atau lebih tepatnya jasad tuan Shawn.
Ya Tuhan! Ya Tuhan! - Densha.
Setelah tubuh tuan Shawn benar-benar menjadi pasir, Fuu menyenandungkan sebuah nada, seperti lagu sendu. Suaranya begitu menyakitkan dan membuat siapapun yang mendengarnya tahu bahwa gadis ini sedang mengalami rasa sakit hati yang begitu sakit.
Densha menutup kedua telinganya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya pada pasir-pasir di ruang tamunya. Pria itu memasang wajah bingung, ia terkejut saat tiba-tiba Fuu menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan jasad tuan Shawn.
Ayah Katrina mati?? - Densha.
(Jika kalian lupa! Di episode-episode awal sudah di jelaskan ya? Bahwa duyung akan berubah menjadi pasir saat mereka mati! Dengan begitu jasad mereka tidak pernah di temukan oleh manusia - teori David si pembunuh orang tua Densha)
"Hiks... Hiks... Hiks..."
Di saat seperti ini? Apa yang sebaiknya aku lakukan?? - Densha.
Densha ikut berlutut di samping Fuu, ia menggenggam jemari Fuu dengan lembut. Tanpa berkata apapun! Pria itu hanya tersenyum memandang Fuu, gadis itu tak mampu menahan tangisnya lagi. Ia memeluk Densha dengan erat, sangat erat! Wajah Fuu memerah saking banyaknya ia menangis.
"Semuanya pasti baik-baik saja!" Densha mengusap punggung Fuu lembut.
.
.
.
.
.
πFLASHBACK ONπ
(Ingatan tuan Shawn yang dilihat oleh Fuu)
Di sore hari yang cerah, pria paruh baya bernama Shawn tergesa-gesa dalam perjalanan pulangnya. Ia baru saja selesai bekerja di perusahaan milik keluarga Mikaelson.
Sesampainya di rumah ia meletakkan tas kerjanya ke atas sofa, ia segera menuju kamar putrinya. Hari ini ia akan mengajak putrinya untuk menyelam ke dalam laut lagi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Katrina?! Kau di dalam??"
"......."
"Katrina?? Apa ayah boleh masuk?"
"......."
Merasa tak ada jawaban dari putrinya, tuan Shawn kembali turun dan menemui istrinya. Ia mencari keberadaan istri tercintanya di manapun namun tidak ia temukan, merasa ada yang ganjil tuan Shawn menaiki anak tangga lagi dan menuju kamar putrinya.
"Katrina??"
Dengan ragu tuan Shawn membuka kamar putrinya secara perlahan. Ia menemukan Katrina yang duduk membelakanginya, sekilas tuan Shawn melihat sekelebat asap hitam mengitari tubuh Katrina.
"Katrina?? Apa kau tahu dimana ibumu?"
Katrina tak menjawab pertanyaan ayahnya dengan kata-kata. Gadis itu menggelengkan kepala nya sebagai jawaban yang ia berikan.
Merasa curiga dengan putrinya, tuan Shawn berjalan mendekati Katrina. Ia menyentuh bahu Katrina dengan lembut, namun entah kenapa justru tubuh pria paruh baya itulah yang terpental hingga menabrak dinding kamar Katrina.
GUBRAKK!!
"Ada apa ini??" Ujar tuan Shawn terkejut.
Katrina berdiri dari duduknya, ia memiringkan kepalanya ke kiri. Seperti gerakan orang yang ingin melemaskan otot-otot kaku di leher. Ia memutar tubuhnya dan menghadap ke arah ayahnya.
"Katrina? Apa yang terjadi?!" Tuan Shawn berusaha berdiri dari tempatnya terjatuh.
Tuan Shawn terkejut karena ini pertama kalinya ia melihat Katrina dengan kedua bola matanya yang menghitam, Katrina tertawa cekikikan. Ia mengacungkan jari telunjuknya kepada tuan Shawn.
"Kikiki... Istrimu?? Kau mencari istrimu kan??"
"Katrina! Kau ini kenapa??"
Tuan Shawn berlari mendekati Katrina, namun dengan sigap Katrina membuat tuan Shawn agar tak mampu menggerakkan tubuhnya. Seketika mata Katrina kembali menjadi normal, gadis itu memandang ayahnya dengan bingung.
"Ayah??"
"Katrina?? Apa yang sebenarnya terjadi??"
"A... Aku... Aku..."
Dengan gugup Katrina mendekati ayahnya, ia berusaha melepas mantra yang mengikat tubuh ayahnya. Gadis itu berhasil melepas mantra tersebut, ia memeluk tubuh sang ayah dengan hangat.
"Katrina? Dimana ibumu? Kenapa kelakuanmu seperti ini?" Tuan Shawn menyentuh bahu putrinya lembut.
"Ibu... Ibu..."
"Katrina??" Panggil tuan Shawn lembut.
"Ibu... Aku..."
Belum sempat Katrina mengucapkan kalimatnya, kedua bola mata gadis itu kembali menjadi hitam. Ia tersenyum menyeringai memandang ayahnya, Katrina memutar tubuhnya dan berjalan dengan centil. Gadis itu duduk di ranjang tidurnya dengan gaya yang elegan.
"Hahahaha"
Apa yang terjadi?? - tuan Shawn.
"Katrina! Ada apa denganmu?!" Tuan Shawn melangkahkan kakinya menjauhi Katrina.
"Istrimu ada disini! Hahaha"
Katrina tersenyum, ia mengangkat tangan sebelah kirinya. Gadis itu menjentikkan jemarinya dan secara ajaib pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Katrina terbuka.
Jantung tuan Shawn seolah berhenti menyaksikan pemandangan di dalam kamar mandi putrinya, begitu banyak darah disana. Dan yang membuat pria dewasa itu semakin terpukul adalah tubuh istrinya berada disana dengan leher yang sudah terkoyak.
Tuan Shawn berteriak histeris, ia menutup kedua matanya karena merasa ngeri. Dengan tertawa yang cekikikan Katrina kembali menutup pintu kamar mandinya.
"Bukankah kau mencarinya?" Katrina menatap wajah ayahnya dengan kesal.
"Siapa kau?! Kau bukan putriku!!"
"Aku putrimu ayah... Aku terlahir dengan kekuatan baru! Menyenangkan bukan?! Dan... Kabar bahagianya adalah aku tak perlu tinggal di dalam laut selama tiga tahun! Ayah senang??"
"Apa menurutmu wajahku mengatakan bahwa aku sekarang sedang bahagia?" Tuan Shawn menunjuk wajahnya sendiri.
"Mmm... Tidak! Sama sekali tidak! Jadi... Apa yang membuatmu memasang raut wajah seperti itu?"
"Katrina! Hentikan semua ini! Apa yang sudah kau lakukan pada ibumu?!"
Katrina tertawa cekikikan, ia menatap kedua mata ayahnya dengan dua bola mata hitam miliknya, gadis itu berjalan menjauhi sang ayah.
"Apa ayah tidak ingat?? Hybrid harus meminum darah kedua orangtuanya kan??"
"Apa?? Jadi kau?? Meminum darah itu bukan yang seperti itu Katrina!" Tuan Shawn mengusap wajahnya sendiri dengan kesal.
"Aku tahu! Harusnya aku cukup meminum setetes saja kan??" Katrina memutar badannya agar menghadap sang ayah.
"Tapi... Aku tak menyangka darah itu begitu enak!" Ujar Katrina dengan senyum liciknya.
Tuan Shawn menyentuh dadanya yang begitu sakit, ia tak tahu apa yang terjadi dengan putrinya saat ini, kenapa Katrina bisa berubah jadi seperti ini? Saat ini Katrina tidak terlihat seperti putrinya. Seperti ada seseorang yang sedang mengendalikan tubuh Katrina.
Mata Katrina kembali normal, gadis itu jatuh lemas ke atas lantai. Ia menundukkan wajahnya, tubuh Katrina bergetar, ia menangis sambil terus menatap lantai kamarnya.
"Ayah... Maafkan aku" gumam Katrina lirih.
"......."
Katrina mencoba berdiri dengan kedua kakinya, gadis itu berjalan perlahan mendekati sang ayah. Ia menengadahkan kepalanya menatap mata sang ayah, raut wajah Katrina benar-benar terlihat sedih.
"Ayaaahhh...."
"Jangan mendekat!" Cegah tuan Shawn tegas.
Meskipun tuan Shawn melarangnya untuk mendekat, Katrina justru berlari mendekati ayahnya. Gadis itu memeluk tubuh sang ayah dengan erat, ia menangis di dalam pelukan ayahnya.
"Maafkan aku ayah... Maafkan aku..." Pinta Katrina memelas.
"Apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa kau melakukan itu pada ibumu?"
"Aku... Aku... Aku tidak tahu ayah! Kumohon percayalah padaku!" Ujar Katrina terbata-bata.
Bagaimanapun juga gadis itu adalah putrinya, tuan Shawn membalas pelukan hangat yang diberikan oleh Katrina. Ia mengusap punggung Katrina lembut, tanpa sepengetahuan tuan Shawn warna mata Katrina kembali berubah menjadi hitam. Gadis itu tersenyum jahat, ia cekikikan dan menyentuh kepala sang ayah dengan lembut.
"Aku sangat menyayangimu ayah"
"Apa?!"
Katrina menggigit leher ayahnya dengan kuat, ia meminum darah tuan Shawn sangat banyak. Membuat pria dewasa itu berteriak kesakitan.
Setelah puas meminum darah ayahnya sendiri, gadis itu tersenyum lebar dengan sisa-sisa darah segar yang masih menempel di sekitar bibirnya. Katrina memberi sebuah kutukan pada ayahnya sendiri, gadis itu membisikkan sebuah mantra di telinga sang ayah.
"Berjalanlah pergi sesuai keinginanmu! Dan hancurlah menjadi butiran pasir, hahaha"
Katrina tertawa terbahak-bahak, ia menjentikkan jemarinya dengan lentik. Seketika luka di leher tuan Shawn sudah menghilang, tubuh pria itu kosong pandangannya juga kosong. Ia berjalan sesuai pikirannya sendiri, tanpa sepengetahuan Katrina rupanya tuan Shawn memilih pergi untuk menemui Fuu.
π FLASHBACK END π
Dan itulah alasan kenapa tuan Shawn bisa sampai di rumah Densha, ia hendak memberitahukan segalanya pada Fuu.
Dan inilah alasan kenapa Ryn waktu itu bicara pada dirinya sendiri, mengenai rumah indah Katrina yang tiba-tiba kosong tak berpenghuni (baca Episode 71 dengan judul Awalnya atau Kutukan)
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Fuu berjalan mendekati ranjang tidur Densha.
"Densha?? Hari ini Fuu ingin tidur di dekat Densha"
"Mmm... Aku baru ingin memintanya padamu!"
"Meminta apa??" Fuu menatap Densha dengan serius.
"Aku baru ingin memintamu untuk tidur denganku" wajah Densha memerah tersipu malu.
"Benarkah?? Jadi Fuu boleh tidur disini?"
"Hei, ingat batasan mu ya!" Pinta Densha tegas.
"Oke, baik!"
Densha menatap Fuu yang sedang membereskan bagian tempatnya untuk tidur, pria itu tersenyum dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menarik selimut sampai menutupi bagian kepalanya.
Padahal dia yang membaca cerita horor! Kenapa jadi aku yang takut?! Apa karena tragedi yang menimpa tuan Shawn hari ini?? Jadi begitu ya cara duyung mengalami kematian - Densha.
Densha menurunkan selimut yang menutupi wajahnya, ia melirik ke arah Fuu di sampingnya. Gadis itu tidur dengan membelakangi dirinya, ia sama sekali tidak bisa menatap wajah Fuu.
Apa yang kau pikirkan Fuu?? - Densha.
Bersambung!!
Jangan lupa Like, Follow, Komentar, Vote, Favorit dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih ππ