
"Siapa kau??"
"Siapa aku itu tidak penting untukmu! Benar kan??"
"........"
Densha duduk bersandar pada sebuah pohon, tangan kanannya menyentuh leher nya yang masih terasa nyeri bekas gigitan Fuu.
"Hei, dengarkan aku??" Pinta gadis itu.
"Untuk apa? Kau sendiri kan yang bilang bahwa kau itu tidak penting untukku!!"
"Dih! Jangan terlalu dingin padaku!"
"........"
"Sudah kubilang! Hiraukan aku!! Aku ingin bicara denganmu" rengek gadis itu memohon.
"Kenapa dengan matamu itu..." Gumam Densha lirih, tanpa memperhatikan gadis itu.
"Apa? Aku tidak dengar loh"
"Cih! Sial!! Kenapa matamu itu mirip sekali denganku??"
"Eh?? Mirip?? Darimana nya??"
Gadis ini berpura-pura bodoh di depanku! - Densha.
Densha membuang muka kesal, ia sama sekali tidak menggubris dan tidak menganggap keberadaan gadis cantik yang sedang berusaha mengajaknya bicara.
"Hei"
"........."
"Hei..."
"........."
"Duh! Benar-benar ya?? Hei bung! Aku bicara padamu!" Ucap gadis itu kesal.
Ia (gadis itu) melompat turun, kini ia berada tepat di depan Densha. Ia duduk berjongkok menatap Densha dari dekat, matanya seolah berkaca-kaca. Densha yang risih hanya memandang gadis itu sekilas lalu membuang muka.
"Sial!" Gumam gadis itu lirih, ia berdiri dan mengucek-ucek kedua bola matanya yang indah itu.
Srokk!
Srokk! (Suara ingus)
"Jorok! Minggir sana!!" Maki Densha kesal, ia mendorong kaki si gadis dengan kakinya.
"Aduh! Sakit bodoh!!"
Densha terdiam, ia memandangi wajah gadis di depannya. Kini wajah gadis itu memerah, matanya terlihat sembab.
"Kau menangis?? Menangis lah di tempat lain! Jangan disini!!"
"Dih! Siapa yang menangis??"
"Jangan bohong!"
"Iya-iya... Kau benar! Aku menangis, aku tidak menyangka. Warna mata kita benar-benar sama"
"........"
"Hei, jangan diam dong!"
"Aku tidak punya urusan dengan mu! Jadi pergilah!!"
"Kenapa gadis itu mau tinggal dengan pria sedingin ini ya??"
"Apa?"
"Gadis cantik itu, yang menghisap darahmu! Kenapa ia mau tinggal bersama seorang pria dingin sepertimu?!"
Gadis itu berjongkok di depan Densha, ia masih terus saja memandangi wajah tampan milik Densha. Seakan tidak ingin melewatkan waktu sedetik pun.
"Bicara apa kau ini? Jelas kau tidak mengenalku! Jadi jangan banyak bicara dan pergilah!"
"Aku mengenalmu..."
"Apa katamu??"
"Aku mengenalmu... Sangat...." Gumam gadis itu lirih.
"Pergilah dari hadapanku sekarang juga!"
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan tentangku?"
"Tidak ada! Kau gadis penguntit yang berkeliaran di sekitar rumahku waktu itu kan?"
"Iya, dari dulu... Aku ingin melihat kalian berdua"
"Apa? Kau ini bicara apa?? Kenapa bicaramu bertele-tele??"
Gadis itu menundukkan kepala ia termenung, tubuhnya bergetar kecil seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang sudah ia pendam sangat lama, sepertinya sesuatu yang menyakitkan.
"Hiks... Hiks...."
Sialan! Kenapa si bodoh ini menangis?? - Densha.
"Hiks... Hiks...."
"Hei, pergilah!! Jangan buang air matamu disini!!"
"Apa kau membenciku??"
"Jika kau pergi sekarang aku tidak akan membencimu!!" Sindir Densha ketus.
"Bolehkah aku memelukmu??"
"Apa?? Sudah gila ya?! Jangan berani-berani kau melakukannya!!"
Gadis itu beralih menatap Densha, ia mengusap-usap sisa air matanya. Bibirnya bergerak menyenandungkan sebuah nada, nada yang mampu menghipnotis seorang manusia.
Tubuhku?? Kenapa tidak bisa bergerak?? Bahkan suaraku tidak keluar... - Densha.
Hmm~ Hmm~ Hmm~
"Biarkan aku memelukmu"
Apa?? Tidak!! Jangan!! Ku bilang jangan!! Sialan!! - Densha.
Gadis cantik itu memeluk tubuh Densha yang telah terhipnotis agar tidak mampu bergerak, ia menangis sesenggukan di bahu pria yang ia peluk.
"Aku merindukanmu! Hiks... Hiks... Sebenarnya apa salahku??" Gumam gadis itu lirih.
Apa?! Dia ngomongin apa sih? - Densha.
"Aku... Aku... Aku benar-benar kangen"
Benar-benar sudah hilang akal ya?? Memeluk orang asing sembarangan. Dan lagi, sepertinya dia bukan manusia... Siapa dia sebenarnya?? - Densha.
"Hei, lihat mataku?" Pinta gadis itu lembut, ia menyentuh wajah Densha dengan kedua tangannya. Mengarahkan wajah pria itu agar berhadapan dengan wajahnya.
Tunggu!! Apa yang mau dia lakukan padaku?? - Densha.
"Kau akan melupakan pertemuan kita hari ini..." Ucap gadis itu pelan, ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Kita akan bertemu lagi, jika aku sudah siap... Aku akan mengatakan siapa diriku sebenarnya"
Apa?? - Densha.
BRUUKK!!!
"Maafkan aku..." Gumam gadis itu lirih.
Gadis cantik itu celingak-celinguk, pandangannya lurus ke arah laut. Ia memutuskan untuk bersembunyi di atas pohon, menunggu Fuu kembali.
Kenapa lama sekali?? - batin si gadis.
Selang beberapa jam kemudian Fuu datang, dengan rambutnya yang masih basah ia terkejut melihat Densha tidak sadarkan diri. Gadis cantik itu berlari menghampiri Densha, ia duduk dan menepuk-nepuk pipi Densha dengan lembut.
Ah! Itu dia datang... - gadis.
"Densha?? Apa yang terjadi??" Panggil Fuu pelan, tapi pria itu belum bangun juga.
"Densha!"
"Densha! Bangun!!"
"Ng..." Densha mengedipkan matanya lambat, ia berusaha memfokuskan pengelihatannya pada seorang gadis di hadapannya.
"Densha baik-baik saja??"
"Ah! Iya... Aku ketiduran ya?? Duh! Kepalaku sakit sekali" pria itu menyentuh bagian kepalanya yang terasa sakit.
"Ketiduran?? Apa gara-gara Fuu meminum darah Densha terlalu banyak??"
"Darah?? Ah! Iya... Kau meminum darahku ya??" Densha beralih menyentuh lehernya, masih ada luka yang belum kering disana.
"Hehe, maaf... Ini" Fuu menyodorkan tangan kanannya pada Densha.
"Untuk apa??"
"Densha akan pulih jika meminum darah Fuu, Fuu sudah kembali seperti biasanya kok"
"Cih! Lalu saat kau kekurangan darah lagi, kau akan menghisap darahku lagi begitu???"
"Eh! Tidak kok, Mmm... Mungkin"
"Dasar!!" Densha menjitak kepala Fuu pelan.
"Jadi... Mau atau tidak??"
"Tidak! Dengan rutin makan sayuran, sel darahku pasti akan kembali"
"Ah! Begitu ya?? Andai saja Fuu bisa makan sayuran"
"Ya kau benar! Andai saja kau bisa makan sayuran, pasti pengeluaranku lebih sedikit. Secara harga ikan dan sayur berbeda jauh!"
"Ng... Fuu tidak mengerti"
"Dih! Ya.. ya.. ya.. aku paham itu"
"Hehe"
"Ayo pulang!"
"Okay, baik! Apa Densha bisa berjalan dengan benar?"
"Tidak! Rasanya aku di serang anemia. Kepalaku sakit sekali"
"Mau Fuu tuntun??"
"Hei, itu kan memang kewajibanmu setelah membuatku seperti ini!!"
"Hehe, ayo..." Fuu membopong tubuh Densha yang jauh lebih besar dari badannya, ia berjalan pelan-pelan agar Densha tidak jatuh.
.
.
.
.
.
.
.
Pria manis berambut pirang melamun menatap layar ponselnya yang redup, pikirannya jauh ke belakang. Berusaha mengingat pecahan-pecahan ingatan yang samar-samar.
"Hish!! Bisa gila aku!!" Gerutu Moa, ia mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
"Kenapa waktu itu aku bangun tidur di sebuah gang sempit?? Dan kenapa aku tidur disana?? Apa yang terjadi sebelum itu??"
Moa menutup matanya, dahinya berkerut menandakan pabrik ingatannya mulai aktif, tidak ada ingatan akan hari itu di otaknya. Yang ia ingat hanya ia (Moa) ingin makan Es krim di tempat ia dan Mod pertama kali kencan.
Ingatanku berhenti sampai disitu?? Jelas tempat itu jauh dari gang sempit tempatku terbangun - Moa.
"Apa yang sebenarnya terjadi?? Jangan-jangan ada yang mau menculik aku waktu itu?!" Gumam Moa pelan.
Tok!
Tok!
Tok!
Tuan Collin mengetuk pintu kamar putranya, ia yang sedari tadi khawatir melihat Moa bertingkah seperti orang gila. Bicara sendiri, marah sendiri, dan bingung sendiri, akan jadi apa anak itu jika tidak di sadarkan? Begitu pikirnya.
"Eh? Ayah?? Ada apa??"
"Boleh ayah masuk?"
"Tentu saja!" Moa menggeser tempat nya di ranjang, membiarkan ayahnya duduk di dekatnya.
"Kau kenapa?" Tanya tuan Collin, dan duduk di samping putranya.
"Apa maksud ayah??"
"Maaf, dari tadi ayah memperhatikanmu, kau bicara seorang diri??"
"Ah! Itu... Aku sedang mengingat sesuatu ayah"
"Benarkah?? Apa itu??"
"Itu masalahnya, aku belum berhasil mengingatnya"
"Jika kau mau, kau bisa cerita pada ayah. Mungkin ayah bisa membantu"
"........." Moa memandang sinis ayahnya, ia seakan tidak suka dengan keberadaan ayahnya yang terlalu ikut campur.
"Moa... Ayah ingin memperbaiki hubungan kita"
"Hubungan yang mana??"
"Ayolah! Kau tahu itu, ayah salah... Ayah minta maaf"
"Aku memaafkan ayah! Jadi ayah jangan khawatir"
"Benarkah?? Kalau begitu mau mulai dari awal?? Kau bisa cerita apapun pada ayah. Jangan di pendam sendiri"
"Mmm... Aku rasa untuk masalah ini aku tidak bisa cerita pada ayah, maafkan aku"
Tuan Collin tersenyum, ia mengusap kepala Moa dengan lembut lalu bergegas berdiri menuju pintu kamar Moa.
"Moa, kau putra ayah satu-satunya... Kau berhak akan diri ayah seutuhnya" ucap Tuan Collin lalu pergi meninggalkan kamar Moa.
Cih! Sekarang bilangnya begitu! - Moa.
"WTF!! Mengingat kejadian itu sama saja mengingat seseorang yang belum pernah aku kenal!! Bisa botak aku mikirin hal ini terus!!"
Bersambung!!
Halo, terima kasih sudah membaca. Jangan lupa Like, Komentar, favorit, rating dan Follow ya?? 😘 Dukungan dari kamu sangat berarti bagi saya!