Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Cerita Moa (part 2)




"Kenapa Moa menanyakan hal itu?" Tanya Fuu melanjutkan percakapan.


"Ah! Hampir lupa... Sebenarnya, beberapa hari yang lalu aku mengalami kejadian aneh"


"Kejadian apa? Kau kencing di celana ya?" Ledek Densha lalu tertawa.


"Brengsek! Aku serius tahu! Tiba-tiba ingatanku hilang"


"Kau hilang ingatan? Kenapa masih mengenal kami??" Celetuk Densha.


"Berisik! Dengarkan aku dulu!!"


"Hahaha, baik-baik"


"Jadi, begini.. Aku mengalami kejadian yang super aneh. Ingatan terakhirku aku berada di depan kedai Es krim tempatku dulu pergi kencan dengan Mod"


"Oh, kedai itu?"


"Iya, tapi... Saat aku bangun dari pingsan. Aku sudah berada di gang sempit, lebih tepatnya lorong antara dua bangunan"


"Bangunan??"


"Betul, aku berada di gang sebelah restoran"


"Restoran yang mana? Di kota kan banyak sekali restoran"


"Itu loh, Buckbucks!! Tempat kopi termahal"


"Itu kan jauh dari kedai Es krim??"


"Nah! Maka dari itu!! Aneh kan?? Aku tidak ingat apapun, kenapa aku bisa terbangun di tempat seperti itu"


"Kau yakin tidak sedang mengerjai kami??"


"Untuk apa aku melakukan hal tidak berguna begitu"


"Jadi... Moa kehilangan sebagian ingatan Moa. Begitu ya??" Tanya Fuu pelan.


"Iya! Betul!!" Moa menepuk tangannya sendiri saking gemasnya.


"Fuu juga pernah mengalami hal itu"


"Apa? Kapan??" Densha menoleh ke arah Fuu.


"Saat Densha datang ke sekolah pagi-pagi, dan akhirnya Fuu tidak jadi pergi ke sekolah"


"Eh?? Bagaimana ceritanya?"


"Fuu tidak ingat, yang Fuu ingat hanya seorang gadis bermata biru"


Gadis bermata biru?? - batin Moa dan Densha.


"Hei, matamu kan juga biru!" Moa menunjuk Fuu dengan jari telunjuknya.


"Tapi, Fuu yakin... Matanya jauh lebih biru dari Fuu"


"Eh??"


Fuu beralih menatap wajah Densha dengan seksama. Gadis itu memperhatikan mata Densha dengan sangat fokus.


"Fuu yakin matanya mirip dengan Densha!" Ucap Fuu mantap.


"Hah? Kenapa aku??" Tanya Densha bingung.


"Iya, gadis itu memiliki mata yang sama dengan Densha, hanya itu yang Fuu ingat. Itupun samar-samar"


"Apa menurutmu itu ulah duyung??" Tanya Moa antusias.


"Mungkin..."


"Kita harus mencari tahu hal ini" ajak Moa senang.


"Eh? Kenapa kau suka sekali hal merepotkan sih?!" Sindir Densha.


"Bagaimana lagi? Dia itu pencopet! Uangku habis begitu aku lihat dompetku, pasti dia punya ilmu hipnotis atau sejenisnya" gerutu Moa kesal.


Fuu memandang Moa serius, gadis itu masih melanjutkan makannya. Ia juga tengah berpikir, siapa gerangan gadis misterius itu.


"Masa sih ada duyung nakal berkeliaran di tengah kota??" Tanya Densha penasaran.


"Fuu tidak yakin, sepertinya ada sesuatu yang ia sembunyikan" jawab Fuu santai.


"Cih! Apa kau tidak bisa menangkal sihirnya itu?! Kau kan juga duyung??" Tanya Moa.


"Tidak tahu! Fuu bahkan tidak ingat jelas bagaimana kekuatannya itu bekerja"


"Begitu ya??" Gumam Densha pelan.


Sesaat kepala Densha terasa sakit, seakan ada banyak suara yang menghampiri isi kepalanya. Pria itu memegang kepalanya yang terasa nyeri.


"Eh? Kau kenapa??" Ucap Moa khawatir.


"Aakkhh... Sakit..."


Densha memegang kepalanya dengan kuat, wajah pria itu memerah seperti kepiting rebus. Dahinya berkerut menahan sakit.


Siapa aku itu tidak penting untukmu, benar kan??


Hei dengarkan aku~


Aku ingin bicara denganmu!


Warna mata kita benar-benar sama...


Aku kangen!


"Sialan!! Suara apa ini?! Pergi!!" Teriak Densha, pria itu bangkit dari duduknya dan berjongkok di lantai.


"Densha!" Teriak Fuu, ia menghampiri Densha dan berusaha menenangkan Densha.


"Hei bung! Kau ini kenapa? Buka matamu!!" Pinta Moa tegas, ia juga sama khawatirnya dengan Fuu. Pria itu menyentuh lengan Densha kuat.


Sial!! Suara siapa itu?? - Densha.


"Densha..." Fuu memeluk Densha erat, gadis itu bingung memperhatikan Densha.


"Fuu?? A... Aku... Aku baik-baik saja!"


"Baik-baik saja bagaimana? Kau hampir membuatku mati berdiri tahu!" Sindir Moa ketus.


"Aku mendengar suara seorang gadis" gumam Densha pelan.


"Hei, jangan bercanda!!" Moa mendekat ke arah Densha, ia memeluk lengan Densha kuat.


Densha melirik risih ke arah Moa, ia tahu bahwa sahabatnya mengira bahwa dirinya (Densha) membahas hantu.


"Bukan hantu!"


"Oh..." Moa melepas pelukannya pada Densha.


"Ada suara gadis di kepalaku, aku yakin itu bukan suara Fuu. Tapi aku tidak ingat"


"Kau selingkuh??"


"Minta di pukul ya??" Densha mengepalkan tangannya menghadap Moa.


"Hahaha, bercanda bung!"


"Densha? Apa itu selingkuh?"


"Cih! Jangan dengarkan Moa... Dia itu tidak waras!"


"Okay, baik!"


"Hei!!" Teriak Moa kesal.


"Hei, Fuu... Apa kau tidak bisa membantuku mengingat sesuatu?"


"Fuu tidak memiliki kemampuan seperti itu"


"Aku rasa Moa benar, ada seseorang yang memiliki kemampuan memainkan ingatan seseorang di dekat kita" ucap Densha yakin.


"Tuh kan! Kau juga mengalaminya??" Tanya Moa antusias.


"Aku tidak yakin sih! Tapi aku rasa... Aku juga pernah bertemu dengan gadis yang kalian maksud, entah kenapa kepalaku sakit sekali" pekik Densha dan menyentuh kepalanya.


"........"


"Ada apa Fuu??"


"Ng... Fuu tahu, siapa yang mungkin bisa membantu kalian"


"Siapa?" Tanya Densha dan Moa bersamaan.


"Katrina" jawab Fuu pelan.


"Apa?? Kenapa Katrina??"


Moa kesal sekali jika berurusan dengan Katrina, ia tidak ingin mengambil langkah itu. Lebih baik tidak tahu sama sekali daripada bertemu Katrina, begitu pikirnya.


"Katrina itu Hybrid, biasanya Hybrid di bekali kemampuan mengutuk atau menghapus ingatan"


"Nah! Bagaimana kalau ternyata dia tidak bisa memulihkan ingatan? Malah kita yang kena kutukan!!" Celetuk Moa kesal.


"Jika Katrina bisa menghapus ingatan, berarti Katrina juga mampu memulihkan ingatan" terang Fuu pelan.


"Tidak, tidak, aku tidak setuju!" Kata Moa tegas.


"Kenapa? Kalian ingin mengingat kembali kan??"


"Bukan itu masalahnya... Kalau aku sih tidak masalah, bagaimana dengan Densha??" Moa melirik sahabatnya itu.


"Eh?? Aku kenapa??" Tanya Densha heran.


"Dia kan menyukaimu! Bagaimana kalau benar dia punya kemampuan menghilangkan ingatan? Terus dia mencium'mu dan kau tidak mengingatnya. Coba bayangkan??" Ceplos Moa asal.


Astaga! Moa benar!! Aku tidak mau menyerahkan bibirku ini untuk gadis itu!! - Densha.


"Aku benar kan??"


"Iya, Moa benar!!" Sahut Fuu serius.


"Eh?? Kau mengerti apa yang aku katakan??" Tanya Moa serius.


"Tentu saja! Jika itu menyangkut ciuman, Fuu paham. Fuu tidak ingin berbagi Densha dengan siapapun" ucap Fuu polos.


"Apa??" Moa mendelik terkejut.


"Dasar bodoh!!" Densha menjitak kepala Fuu keras.


"Aduh! Sakit!!" Rengek Fuu manja.


Wajah Moa dan Densha memerah mendengar kalimat lugu dan tanpa malu tersebut keluar dari bibir Fuu.


Bahkan mereka sudah berciuman... - batin Moa.


Moa memandang Densha dengan malu, ia iri bahwa temannya yang satu ini sudah selangkah lebih maju dari dirinya. Pandangan Moa terhenti di sekitar leher Densha.


Tunggu dulu!! Apa itu c*pang?? - Moa.


Batin Moa berteriak dengan hebat, mata pria itu membulat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan dengan tetap terus menatap leher Densha.


"ASTAGA!!" Teriak Moa heboh.


"Duh! Bikin kaget, ada apa sih??"


"Lehermu!!" Moa menunjuk ke arah leher Densha, tepat di bekas gigitan Fuu.


"Kalian berdua masih berani mencari alasan untuk membohongiku hah?? Pertama botol minuman, kedua tanda cinta itu! Lalu apa lagi??" Celoteh Moa tidak karuan.


Ya Tuhan! Kenapa tidak kau bunuh saja aku?? - Densha.


"Bukan! Itu bukan tanda cinta!!" Bantah Fuu tegas.


Eh? Fuu membantah?? Syukurlah... - Densha. (Densha merasa di bela)


"Oh iya?? Lalu itu apa? Bisa kau jelaskan??"


"Itu bekas bibir Fuu!" Jawab Fuu mantap, gadis itu menganggukkan kepala dengan percaya diri.


Serius deh! Bunuh aku sekarang juga!! - Densha.


"Hah?! Serius?? Kalian berdua...."


"Fuu terpaksa"


"Apa?! Kau di paksa??"


Moa menatap Densha dengan geram, amarahnya mulai naik ke kepala. Ia bersiap untuk memaki Densha.


"Hei, hei, dengarkan dulu!"


"Sekarang siapa yang matang terlalu dini hah?!"


"Hei Fuu, coba jelaskan dengan benar!" Perintah Densha.


"Okay, baik! Begini Moa... Waktu itu Fuu meminum darah Densha, jika Fuu tidak melakukannya Fuu akan mati"


"Apa? Alasan apa lagi ini? Apa pabrik kebohonganmu sudah mulai aktif??"


"Dia jujur! Jadi dengarkan dia" pinta Densha.


"Fuu melemah, karena harus mengeluarkan banyak darah untuk kesembuhan ayah Mod. Jadi jalan satu-satunya Fuu harus meminum darah seseorang"


"Benar begitu??" Moa memicingkan matanya melirik Fuu dan Densha bergantian.


"Tentu saja benar!!" Sahut Densha kesal.


"Dih! Syukurlah kalau begitu..."


"Sekali lagi kau salah paham, akan ku seret kau keluar dari rumahku!" Ancam Densha tegas.


"Iya-iya... Maafkan aku!"


"Cih!"


Fuu tersenyum melihat tingkah lucu Moa dan Densha, ia senang hari ini Moa datang berkunjung ke rumah.


Bersambung!


Halo, terima kasih sudah membaca! Jika kalian menyukai novel ini. Tolong Like, komentar, follow, favorit dan rating ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘