Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Festival (H - 2) bag.1



Mod memandang dirinya di depan cermin, mencoba beberapa mini dress yang baru saja ia beli kemarin bersama Ryn.


"Cantik sekali yang ini... Tapi tidak cocok digunakan untuk malam hari"


Mod cemberut, ia menggembungkan pipinya. Percayalah dia terlihat sangat imut saat melakukan hal itu, gadis itu mengambil dress berwarna kuning muda pilihan Fuu dan mencobanya.


"Wah, ini jauh lebih cantik! Siapa yang memilihkan ini untukku ya??"


Tak mau ambil pusing dan memikirkan hal yang hanya akan membuatnya terlihat buruk di depan Moa, gadis itu lantas berlari ke kamar mandi. Untuk membersihkan diri dan mencukur bulu-bulu di kakinya, ia ingin tampil mulus di depan Moa malam ini.


Mod bercermin menatap wajahnya sendiri, ia tengah melatih cara tersenyum yang membuat pria akan terpesona saat pertama kali melihat dirinya. Gadis itu mengangkat kedua tangannya ke atas untuk memeriksa bulu ketiaknya.


"Ini juga harus di cukur deh! Untung tidak gelap" gumam Mod lirih. "Ah... Aku akan pakai lulur juga"


Hari ini Mod menghabiskan banyak waktu di dalam kamar mandi, ia senyum-senyum sendiri sambil membayangkan wajah lucu Moa nanti malam.


"Apa Moa akan terlihat tampan?? Hmm... Sebenarnya Moa itu tampan! Karena di sebelahnya ada Densha, jadi ketampanannya tertutupi oleh Densha yang jauh lebih sempurna"


Gadis itu cekikikan di dalam kamar mandi sambil sibuk melulur tubuhnya sendiri, ia senang karena pada akhirnya dia bisa menghabiskan waktu bersama Moa.


Tring!


(Bunyi ponsel)


Pesan masuk di ponsel Mod membuyarkan aktivitas nya saat ini. Gadis itu terburu-buru mengambil ponselnya dan melihat beberapa pesan masuk di dalamnya. Salah satu pesan itu dari Moa, pria yang sangat ia sukai.


From : Moa❤️


- Hari ini aku sudah memesan kamar di Valerie Hotel, aku harap kau bisa tepat waktu! Aku akan menunggumu di depan pintu masuk taman hiburan -


Wajah Mod memerah, ia cengengesan membaca pesan singkat dari Moa. Gadis itu sampai melompat-lompat kegirangan seperti memenangkan sebuah lotre.


"Oh, astaga... Astaga... Aku benar-benar akan melakukannya dengan Moa! Ya ampun! Hanya memikirkannya saja bisa membuatku gila, Uhhh" Mod menggigit bibir bawahnya sendiri kesenangan.


Tring!


"Eh?? Pesan masuk lagi?" Mata Mod beralih ke arah layar ponsel yang ia pegang, gadis itu membaca pesan singkat yang ternyata dari Moa lagi.


From : Moa❤️


- Jangan terlalu cantik ya? Aku tidak ingin ada orang lain yang memperhatikanmu! 😁😁 -


"Apa-apaan si brengsek ini?" Mod menekan papan tombol di ponselnya untuk membalas pesan Moa.


To : Moa❤️


- Kalau aku tidak cantik, aku akan terlihat seperti pelayanmu nanti! Kau mau begitu?? -


Tring!


(Pesan masuk)


From : Moa❤️


- Tidak! Ya sudah, terserah kau saja! Sampai jumpa nanti 😘 -


To : Moa❤️


- Oke, sampai jumpa! -


Mod meletakkan ponsel miliknya agar jauh dari air, gadis itu kembali meneruskan aktivitasnya untuk membersihkan diri dan mempercantik diri. Ia melakukan pijatan-pijatan lembut di sekitar tangan dan kedua kakinya.


"Sialan! Jantungku berdegup dengan kencang sekali" Mod menggelengkan kepalanya dengan kuat.


.


.


.


.


Malam pun tiba, Mod berdandan dengan sangat cantik! Ia keluar dari kamarnya sambil menenteng sepatu berhak tinggi, karena Moa jauh lebih tinggi darinya ia memilih sepatu berhak tinggi untuk menyamakan tingginya dengan Moa.


Sebenarnya bukan itu alasan terkuatnya, Mod telah menonton beberapa serial TV dan drama Asia, disana menjelaskan akan sangat kesulitan jika melakukan ciuman dengan pasangan yang lebih pendek. Gara-gara itu ia (Mod) jadi membayangkan akan seperti apa dirinya dan Moa nanti, jadi untuk berjaga-jaga Mod memakai sepatu dengan hak tinggi.


"Wah, putri ayah cantik sekali" puji tuan Roosevelt saat melihat Mod memasang sepatunya.


"Ah... Ayah, jangan membuatku malu!"


"Mau kencan ya??"


Mod menganggukkan kepala pelan, gadis itu tersipu malu dan menatap ayahnya dengan sayu.


"Semoga berhasil ya?? Hmm... Jadi begini ya rasanya melihat seorang anak sudah tumbuh dewasa"


"Ayah ini bicara apa?? Aku tetap anak ayah kok, meskipun sudah menikah nanti aku tak akan meninggalkan ayah"


Mod menghampiri ayahnya dan memeluk beliau dengan erat, ia mengecup pipi dan kening tuan Roosevelt sebelum beranjak pergi melalui pintu utama keluarga itu.


"Aku pergi dulu ayah..." Mod melambaikan tangannya pada sang ayah.


"Hati-hati sayang" tuan Roosevelt tersenyum bahagia melihat Mod.


KLAP!!


(Pintu tertutup)


Taksi yang di pesan Mod sudah tiba, gadis itu duduk di kursi belakang dengan anggun. Sesekali ia menatap cermin yang ia bawa di dalam tas kecilnya, untuk melihat tatanan rambut dan riasan wajahnya yang nampak natural.


Supir taksi tersenyum ramah memperhatikan Mod dari kaca depannya, ia lantas melajukan mobilnya untuk memecah jalanan kota yang tidak terlalu ramai.


Sekitar dua puluh menit berkendara, Mod sudah sampai di gerbang depan sebuah taman hiburan. Gadis itu turun dari taksi kemudian membayarnya sesuai harga, ia mengedarkan pandangannya mencari sosok pria yang ia kenal.


Duh! Kenapa jantungku berdetak kencang sekali sih?! Rasanya hampir sama saat aku menyatakan cintaku pada Densha waktu itu... - Mod.


Mata gadis itu tertuju pada sosok pria berambut pirang yang berdiri membelakanginya, kedua tangan pria itu disembunyikan di balik badannya dan membawa sebuket bunga mawar merah. Tentu saja Mod bisa melihatnya karena posisi berdiri Moa yang membelakangi gadis itu.


Pria bodoh! - Mod.


Pelan-pelan Mod berjalan mendekati Moa, ia berdiri beberapa langkah di belakang pria itu. Dengan senyum manisnya ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ehem! Sedang menunggu seseorang ya kakak?" Goda Mod nakal.


Merasa panik Moa membalikkan tubuhnya dengan cepat, saat tahu siapa gadis di belakangnya ia segera buru-buru menyembunyikan mawar merah dibalik badannya.


"Sudah ketahuan kok!" Ucap Mod sambil tersenyum.


"Hah?" Moa membuka matanya lebar-lebar, ia menundukkan kepala malu. "Nih... Untukmu!" Ucap Moa lirih sambil menyodorkan bunga yang ia beli.


"Cih! Dasar... Tidak seru, padahal ini untuk kejutan" Moa menggerutu kesal, memaki dirinya sendiri.


Wajah Moa memerah, ia menggaruk belakang kepalanya sendiri. Ia menatap Mod dari ujung kaki hingga ujung kepala, pria itu sangat terpesona dengan penampilan Mod kali ini.


"Kau... Kau..." Ucap Moa terbata-bata.


"Apa??"


"Kau... Cantik" puji Moa dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Ng...." Wajah Mod tak kalah merahnya mendengar pujian dari Moa. "Terima kasih"


Moa memperhatikan Mod yang membawa buket bunga ukuran besar itu, ia lalu mendekati Mod dan mengambil bunga tersebut.


"Lho? Kenapa??"


"Taruh saja di mobil! Masa kau mau mengelilingi taman hiburan sambil membawa ini?"


"Kalau begitu... Kenapa kau bawa kesini bunganya? Kenapa tidak di letakkan di mobil saja dan berikan padaku saat pulang??" Cerocos Mod asal.


Benar juga ya?! Kenapa tidak terpikirkan olehku? - Moa.


Mod mengikuti Moa yang berjalan menuju parkiran, ia membuka mobilnya dan meletakkan buket bunga itu di kursi belakang.


"Kau bawa mobil sendiri?" Tanya Mod penasaran.


"Iya, kenapa??"


"Ti... Tidak, bukan apa-apa!" Mod kembali memalingkan wajahnya.


Selama ini dia kemana-mana selalu jalan kaki, ternyata dia punya mobil sendiri?? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Ini bukan mobil ayahnya kan?? Tidak mungkin mobil sekeren ini di kendarai bapak-bapak - Mod.


"Ng... Anu... Ini mobil siapa?" Mod ragu dengan pemikirannya sendiri.


"Serius kau menanyakan itu??"


"Iya"


"Ini mobilku, saat usiaku 17 tahun. Ayah membelikannya sebagai hadiah" ucap Moa senang sambil mengusap atap mobilnya.


Gila! Keren banget!! - Mod.


"Ngomong-ngomong, ini kembaran dengan punya Densha... Jadi jangan kaget ya saat kau tahu nanti" ucap Moa melanjutkan.


"Apa?? Kembar?? Aku tak pernah melihat mobil di rumah Densha!"


"Tentu saja! Mobilnya di rumah Isabella, kau tahu kan keluarganya sekaya apa? Tidak mungkin dia tidak punya"


Mod menutup mulutnya sendiri karena terkejut, kedua mata gadis itu membulat. Bahkan ia sampai menggelengkan kepalanya pelan karena dibalik sifat Densha dan Moa yang seperti orang-orang biasa saja, ternyata mereka berdua seorang konglomerat.


Kenapa selama ini mereka berdua terlihat seperti gembel?? - Mod.


"Ayo pergi!" Moa menggandeng tangan Mod dengan lembut, ia menuntun gadis yang akan jadi kekasihnya malam ini dengan bahagia.


"Oh iya?? Boleh matikan ponselnya??" Pinta Moa tegas namun tak memaksa.


"Eh?? Untuk apa??" Mod mengangkat ponselnya sendiri.


"Agar tidak ada yang mengganggu waktu kita"


Mod tersenyum bahagia, ia menuruti permintaan Moa untuk mematikan ponselnya. Gadis itu menyimpan ponsel ke dalam tas kecil yang ia bawa.


Moa manis sekali... - Mod.


Setelah membeli tiket, Moa menuruti segala permintaan Mod. Gadis itu senang sekali, ia bersorak-sorai seperti anak kecil yang memasuki taman hiburan.


Mod ingin menaiki semua wahana di taman hiburan, tentu saja Moa menuruti permintaan gadis itu. Asal Mod bahagia, Moa juga akan ikut senang. Namun saat Mod meminta naik ke wahana rollercoaster Moa menolaknya. Ia tak mau naik wahana menakutkan itu.


"Kalau kau ingin sekali, naik saja sendiri! Aku akan menunggumu" ujar Moa lembut.


"Ng...." Mata Mod sedih memandang wahana rollercoaster di sampingnya, gadis itu menggelengkan kepala pelan.


"Tidak... Kalau Moa tidak naik, aku juga tidak naik"


"Sungguh! Aku tidak apa-apa"


Mod tersenyum dan menggandeng kedua tangan Moa, ia menarik Moa agar menjauh dari wahana rollercoaster tersebut.


"Tidak apa-apa Moa, masih ada wahana lain kan??" Ucap Mod senang.


Sudah beberapa jam mereka berdua mencoba setiap wahana mainan di tempat itu, kini sudah saatnya di tengah acara. Moa berlutut di depan Mod dengan tatapan mata yang tenang, jantung Mod berdegup amat kencang sampai rasanya ia mau pingsan.


Tubuhku melemas secara tiba-tiba - Mod.


"Mod... Maukah kau jadi pacarku?"


Kalau di film, ini bagian kerennya kan?? Harusnya aku tak perlu menjawab dan langsung mencium bibirnya kan?? Agar terlihat keren gitu! Hihi - Mod.


Mata Mod menyusuri wajah tampan Moa, tatapannya terhenti di bibir merah muda milik Moa. Ia berkedip menatap bibir Moa berulang-ulang.


Sial! Aku tak bisa melakukannya... - Mod.


"Mod?? Kau dengar??"


"Ah!" Mod terbangun dari lamunannya, ia menepuk kedua pipinya sendiri dengan gemas. "Berdirilah Moa, jangan berlutut seperti itu" pinta Mod lembut.


"Baik" Moa berdiri berhadapan dengan Mod.


Pelan-pelan Mod memberanikan dirinya, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Moa. Meskipun ia sudah mengenakan sepatu berhak tinggi, tetap saja! Moa masih lebih tinggi darinya. Setidaknya gadis itu tidak sependek Fuu.


Padahal sudah memakai hak tinggi! - Mod.


Cup!


Mod menempelkan bibirnya pada bibir Moa, gadis itu memejamkan kedua matanya menunggu gerakan dari Moa. Pria itu terkejut setengah mati melihat reaksi Mod terhadapnya.


Ja... Jantungku!! - Moa.


Oke Moa... Tenang! Jangan panik! - Moa.


Moa membalas ciuman Mod di bibirnya dengan lembut, pria itu memeluk pinggang Mod yang ramping dan mendekatkan tubuh gadis itu pada dirinya.


Sial... Aku bisa melakukannya... Yippie... - Moa.


Pria berambut pirang itu memejamkan kedua matanya untuk lebih merasakan apa yang selama ini belum pernah ia rasakan.


Ciuman pertamaku! - batin Moa dan Mod secara bersamaan.


Bersambung!!


Berikan cinta kalian dengan cara Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih!! 😘🙏