
Dua gadis remaja berjalan beriringan menyusuri jalanan kota. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua, tak ada yang berniat untuk membuka percakapan terlebih dahulu.
Mod melirik ke arah Ryn, gadis itu mengusap lengannya sendiri untuk menghilangkan rasa kurang nyaman pada dirinya saat ini.
"Haaahhh...." Mod menghela nafas panjang.
Ryn melirik Mod dan langsung membuang muka. Ia tak berniat menanyakan apapun pada Mod.
Sial! Padahal sudah aku kode, kenapa cuek sekali? Mirip dengan ayahnya (Densha) - Mod.
"Ehem!" Mod berdeham untuk mencairkan suasana, namun lagi-lagi Ryn tak memberi reaksi apapun yang di harapkan oleh Mod.
Ya Tuhan! Bikin jengkel!!! - Mod.
"Hei Ryn??"
"Apa?" Tanya Ryn datar.
"Kapan kau akan mengatakan siapa dirimu yang sebenarnya?"
Ryn menatap Mod ragu, gadis itu memejamkan kedua matanya lalu berjalan sedikit menjauh dari Mod.
"Aku tidak berniat mengatakan yang sebenarnya"
"Apa?! Kenapa seperti itu?" Mod mengangkat sebelah alisnya bingung.
"Karena ini harusnya menjadi rahasia" ungkap Ryn sedih.
Aku tak menyangka berkat yang di miliki Hybrid bernama Katrina itu jauh lebih besar dari dugaan'ku - Ryn.
Mod menggelengkan kepalanya, ia berjalan menyusul Ryn. Gadis itu mencoba mendekati Ryn dengan lembut.
"Mau tidak mau kau harus mengatakannya" pinta Mod lembut.
"Jika memang di butuhkan aku pasti akan mengatakannya kok"
"Benarkah?? Nah! Begitu dong!" Mod merangkul lengan Ryn senang.
Ryn memandangi wajah Mod yang nampak lusuh, masih ada sisa debu jalanan atau luka di sekitar pelipisnya akibat injakan kaki Katrina di wajah gadis itu.
"Mama, wajahmu" ucap Ryn pelan.
"Apa?? Kau memanggilku apa?"
"Ah! Maaf... Aku terlalu terbawa suasana"
"Hahaha, tidak apa-apa. Saat berdua saja kau boleh memanggilku begitu, tapi saat ada mereka, jangan panggil aku mama ya??"
"Eh?? Boleh??" Mata Ryn terlihat berbinar-binar.
"Ah... Tentu saja!" Ucap Mod ragu.
Seketika Ryn memeluk Mod erat, gadis itu tersenyum bahagia. Merasa kasihan pada Ryn, Mod membalas pelukan Ryn dengan lembut.
Sebenarnya apa yang sedang terjadi? - Mod.
"Aku senang sekali! Aku kangen sekali sama mama" ungkap Ryn senang.
"Tunggu! Apa aku di duniamu sudah mati??" Mod terlihat begitu panik.
Ryn menggelengkan kepala pelan, ia tertawa kecil melihat wajah Mod yang lucu.
"Tidak! Bukan begitu, aku sudah terlalu lama tinggal disini, aku belum pernah kembali ke tempat asal'ku. Jadi aku sangat merindukan mama"
"Sejujurnya... Aku ragu! Apa aku harus mempercayai ceritamu? Karena ini semua terlalu tiba-tiba!"
"Aku berkata jujur mama..." Raut wajah Ryn terlihat murung.
"Baiklah, aku akan berusaha mempercayaimu pelan-pelan, Oke??"
"Mama tidak perlu memaksakannya, karena suatu saat nanti ingatan itu akan aku hapus" ucap Ryn santai.
"Kau benar..."
"......."
"Tunggu! Dimana Densha dan Fuu?? Kenapa aku menjadi orangtuamu??" Tanya Mod tiba-tiba.
Ryn terkejut dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Mod. Gadis itu gelagapan, sejujurnya ia tak ingin menceritakannya pada Mod. Tidak sama sekali!
"Ah... Bukankah aku bilang aku tak bisa menceritakan semuanya? Jika aku melakukannya, bisa saja masa depan akan berubah? Benar kan??"
"Duh! Aku penasaran!!" Mod mengacak-acak rambutnya dengan gemas.
Ia (Mod) melirik ke arah Ryn sekilas, gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada lalu menoleh ke arah Ryn.
"Apa tujuanmu datang kemari??"
"........."
"Kau lebih banyak diam ya??"
"Tidak juga kok!" Bela Ryn lembut.
"Cepat! Katakan! Apa tujuanmu kemari?"
"Aku hanya ingin merubah takdirku dan menyelamatkan banyak orang"
Mod mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Ia memutar kedua bola matanya dengan kesal.
"OMG!! Pakailah kata-kata yang mampu ku pahami" perintah Mod tegas.
"Dengarkan aku mama! Aku harus menjaga kebenaran ini, ya oke! Aku memang bisa dengan leluasa menceritakannya pada semua orang. Tapi siapa yang akan menanggung resiko keselamatan ku??" Jelas Ryn panjang lebar.
"Maksudnya??"
"Semakin banyak yang tahu, semakin banyak juga aku akan menggunakan kemampuanku untuk menghapus ingatan mereka"
"Memangnya apa resiko yang akan kau hadapi?"
Mod menutup mulutnya rapat-rapat, ia terkejut dengan kalimat Ryn.
Apa maksudnya dia akan mati?? - Mod.
"Baiklah, tak perlu memberitahuku kebenaran yang kau jaga! Tapi... Apa kau akan tetap tinggal bersama Moa?" Tanya Mod penasaran.
"Apa mama cemburu padaku??" Tanya balik Ryn.
"Ti... Tidak! Kenapa aku cemburu?!" Bantah Mod tegas.
Tentu saja aku cemburu!! Moa kan tidak tahu bahwa kau anak sahabatnya!! Lagipula aku dan Moa belum ke tahap yang serius - Mod.
"Apa mama mau menampungku di rumah mama??" Goda Ryn manja.
"Rumahku tak sebagus rumah milik Moa, aku rasa kau tidak akan betah tinggal di rumahku"
"Eh? Kata siapa?! Setiap minggu aku selalu berkunjung ke rumah kakek Roosevelt (ayah Mod) tahu!"
"Benarkah??" Mod terdengar antusias.
"Iya... Mama selalu mengajakku ke rumah nenek cantik Isabella, kakek Roosevelt dan kakek yang membenciku..." Gumam Ryn pelan.
"Kakek yang membencimu??"
"Hahaha, tak perlu di bahas mama! Yang penting aku senang. Sudah ada yang mengerti aku" ujar Ryn dengan tawanya.
Sejujurnya Mod tidak tahu bagaimana perasaanya saat ini, ingin sekali dia tidak mempercayai keberadaan Ryn yang mengaku sebagai putri Densha, tapi ia juga tidak bisa untuk tidak percaya begitu saja. Jika Fuu ada di dunia ini dan jika memang dewa benar-benar ada, bukan tidak mungkin portal menuju masa depan tersedia di dunia ini, benar kan? Pikiran Mod begitu kacau, yang pertama Katrina dengan sihirnya, yang kedua Ryn putri kandung Densha dan Fuu, lalu identitas Ryn yang belum di ketahui jenis makhluk apakah dia.
"Mama melamun??" Ryn menyentuh bahu Mod lembut.
"Ah! Maaf... Banyak sekali kebingungan di otakku" Mod tersenyum sambil mengusap kepalanya sendiri pelan.
"Maafkan aku mama..."
"Lho?? Kenapa??"
"Mama pasti banyak pikiran karena aku, apa aku terlalu menyusahkan mama?"
"Tidak kok! Bukan begitu, aku baik-baik saja" Mod mencoba membohongi Ryn.
".........."
"Mengenai pertanyaan'mu tadi..." Ucap Mod ragu.
"Pertanyaan apa??"
"Soal aku bersedia menampung'mu atau tidak? Mmm... Aku bersedia" Mod tersenyum tulus memandang Ryn.
Ryn tersentuh dengan kalimat Mod, ia tertegun beberapa saat sebelum akhirnya tertawa lepas dan memeluk Mod erat.
"Terima kasih mama! Aku akan segera mengemasi barang-barang'ku dari rumah keluarga Collin itu!!" Ujar Ryn bahagia.
"Apa perlu ku temani??"
"Tidak perlu mama, aku akan datang ke rumah mama nanti malam"
"Baiklah, aku akan memasak yang enak untukmu" Mod tertawa senang.
"Apa aku akan satu kamar dengan mama??"
Mod terdiam sejenak, bagaimana mungkin ia akan satu kamar dengan Ryn, sedangkan kamar Mod hanya memiliki satu tempat tidur untuk satu orang.
"Mmm... Itu, tempat tidurku kecil" Wajah Mod terlihat sedih.
"Aku bisa tidur di lantai mama"
"Mana bisa seperti itu, bagaimana pun juga kau ini kan putri konglomerat" sindir Mod asal.
"Tidak kok! Mama selalu mengajariku untuk hidup sederhana" puji Ryn senang.
"Kita pikirkan saja nanti, sekarang kita harus berpisah! Kau ke sana dan aku ke sana" Mod menunjuk jalanan di depan mereka.
Ryn nampak ragu untuk meninggalkan Mod seorang diri, ia takut kejadian yang sama akan terulang lagi. Bagaimana jika nanti Katrina menyakiti Mod lagi? Melihat Ryn yang terdiam, Mod menggenggam tangan Ryn gemas.
"Ada apa Ryn??"
"Anu, apa aku bisa mengantar mama terlebih dahulu??" Pinta Ryn imut.
"Kenapa? Aku bisa pulang sendiri kok!"
"Aku takut, Katrina akan menyerang mama lagi"
"Tidak akan! Jalanan disini ramai, jadi Katrina tidak akan berani melakukannya. Jika dia melakukannya itu sama saja dia membuka identitasnya sendiri kan??" Mod mencoba untuk berpikir logis.
"Mama yakin??"
"Iya, aku akan baik-baik saja!"
Ryn memberi pelukan perpisahan untuk Mod lalu ia mengusap punggung tangan Mod. Dahi Ryn bersinar lembut, ia memejamkan kedua matanya dan menyenandungkan sebuah nada.
Mulut Mod menganga melihat punggung tangannya sendiri, terdapat sebuah gambar kecil berbentuk panah samar-samar terlihat disana. Setelah cahaya di dahi Ryn menghilang, gambar itupun juga ikut pudar.
"A... A... Apa ini??" Tanya Mod heran.
"Usap punggung tangan mama saat mama membutuhkan aku, dan aku akan tahu mama berada dimana" jelas Ryn lembut.
Merasa bahagia di perhatikan oleh seseorang, Mod tak mampu menahan air matanya untuk tidak keluar. Gadis itu mengusap-usap matanya namun bibirnya memasang senyuman paling manis.
Inikah yang dinamakan menangis karena bahagia?? - Mod.
"Jaga diri mama baik-baik ya??" Pinta Ryn khawatir.
"Iya, pasti!!" Mod menganggukkan kepala pelan.
Bersambung!!!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya?? Dukungan dari kalian akan membantu saya agar lebih bersemangat!! 😘🙏 Mohon bantuannya!!