Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Darah Densha



"Ayah, bagaimana??"


Mod berdiri di depan pintu kamar ayahnya, tangannya menggenggam sebuah gelas yang telah kosong. Hari ini adalah hari terakhir bagi Fuu untuk mengobati ayah Mod.


"Ayah merasa sangat baik!" Ayah Mod berdiri dari ranjang, ia tengah meregangkan tubuh dan melakukan sedikit pemanasan.


"Wah! Benarkah?"


"Iya! Lihat! Ayah bisa lompat-lompat, haha" ayah Mod melompat-lompat kegirangan.


"Syukurlah..."


Mod tersenyum lebar, gadis itu berlari kecil menghampiri ayahnya lalu memeluknya.


"Aku pikir, aku akan kehilangan ayah, Tapi... Aku senang sekali, ternyata ayah bisa sembuh!"


"Hmm.... Kau tidak akan kehilangan ayah sayang" ucap tuan Roosevelt lembut, ia mengusap punggung putrinya.


Dari luar ruangan, sepasang makhluk memperhatikan kedekatan antara ayah dan anak tersebut. Mereka ikut terharu atas kesembuhan ayah Mod.


"Wah, syukurlah ya?"


"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. Tubuhnya sedikit menggigil seperti kedinginan, Densha yang melirik Fuu sedari tadi mengetahui hal tersebut.


"Eh! Kau kenapa?" Tanya Densha dan menyentuh bahu Fuu pelan.


"Aduh! Jangan menyentuh Fuu!!"


"Eh?? Kenapa? Aku kan tidak memukulmu? Apa sesakit itu?"


"......" Gadis itu menundukkan kepala, ia tidak berani menatap Densha.


"Hei, aku bertanya padamu, cepat jawab!" Perintah Densha.


"Iya...." Jawab Fuu pelan.


"Apa?!"


"Iya, sakit..."


Merasa ada yang tidak beres, Densha menarik lengan Fuu dengan paksa. Ia membalikkan tubuh Fuu, agar punggung Fuu mengarah padanya. Densha mencoba menggulung baju Fuu ke atas.


"Tu... Tunggu! Densha mau apa?"


"Diam!"


"Eh? Tidak, hentikan!"


"Aku bilang diam kan??" Maki Densha kesal.


Dengan cepat Densha mengangkat sweater tebal yang di gunakan Fuu ke atas. Sangat jelas di tubuh Fuu tersebar bercak biru seperti lebam yang entah datang darimana, banyak ruam merah kecil-kecil di sekitar leher Fuu. Wajah Densha terlihat begitu kesal, ia seakan sedang menahan amarahnya.


"Apa ini?"


"Itu..." Ucap Fuu ragu.


"AKU TANYA APA INI?! CEPAT JAWAB!!" Bentak Densha mengagetkan Fuu.


Mod yang mendengar kegaduhan mereka berdua segera berlari untuk menemui mereka, gadis itu terkejut saat melihat tangan Densha yang sedang membuka bagian belakang baju Fuu ke atas.


"Ada apa ini??" Tanya Mod penasaran, ia segera berlari menuju Fuu. Lalu melepaskan tangan Densha dari baju Fuu.


"Lepaskan tanganmu! Dasar tidak sopan!!"


"Tidak sopan??? Siapa kau beraninya mengatai aku tidak sopan!"


"......" Mod yang bingung dengan kambuhnya sifat dingin Densha hanya bisa terdiam dan melirik Fuu yang juga dalam keadaan murung.


"Kau tidak lihat?? Lihat tubuh gadis ini dengan jelas!! Buka matamu lebar-lebar!!"


Densha mendorong tubuh Fuu kepada Mod, gadis itu menangkap tubuh Fuu dengan sigap. Ia memeluk Fuu lembut, matanya berusaha memandang mata indah milik Fuu namun Fuu tidak ingin menatap mata Mod.


"Ada apa Fuu??"


"......"


"Boleh aku lihat??" Pinta Mod pelan.


Fuu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat agar Mod tidak melihatnya.


"Tidak apa-apa... Tenanglah!" Pinta Mod sekali lagi.


Perlahan Mod mengangkat baju Fuu, matanya mendelik tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Keadaan tubuh Fuu sangat buruk, seperti membusuk atau apapun itu. Lukanya sangat biru, seperti habis di pukuli dengan benda keras.


"Ya Tuhan!" Mod menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangan, ia melirik ke arah Densha dan Fuu secara bergantian.


"Kau... Kau kenapa Fuu? Siapa yang melakukan ini? Siapa yang memukulmu?" Tanya Mod bertubi-tubi.


"Cih! 'Siapa yang melakukan ini? Siapa yang memukulmu?' bla.. bla.. bla.." Sindir Densha ketus, ia meniru ulang kalimat Mod yang tengah memberi Fuu perhatian.


Dia ini kenapa sih?? - Mod.


"Jawab aku Fuu..." Pinta Mod lembut.


"Fuu, tidak apa-apa"


"Tidak apa-apa bagiamana?? Lihat tubuhmu ini!"


"Dasar bodoh! Kau itu bodoh atau bagaimana? Jelas dia jadi seperti itu karena menolong mu!!" Sahut Densha cepat.


Jantung Mod seolah berhenti berdetak, ia terpaku memandang Fuu yang hanya menunduk menyembunyikan wajahnya.


"Apa itu benar Fuu??"


"Mod tidak usah khawatir, Fuu baik-baik saja"


"Kau telah menyembuhkan ayahku, apa yang harus aku lakukan untuk menolong mu?"


"Mod, Fuu baik-baik saja"


"Sial! Kenapa aku tidak sadar bahwa kau kesakitan juga selama ini? Hiks... Hiks... Maafkan aku"


"Tidak! Ini bukan salah Mod, jangan menangis" pinta Fuu pelan.


Fuu memeluk Mod dengan erat, walaupun tubuhnya terasa nyeri saat bersentuhan dengan tubuh Mod. Densha yang sudah di makan emosi, menarik lengan Fuu dengan kuat.


"Ayo pergi!"


"Tunggu! Fuu kan sedang sakit!" Cegah Mod.


"Aku tahu! Memangnya kalau dia disini kau bisa mengobatinya? Aku akan membawanya pergi, agar dia bisa mengobati dirinya sendiri"


"Apakah Fuu bisa sembuh??"


"Jangan bertanya kalau kau merasa bersalah!!" Sindir Densha dan pergi meninggalkan rumah Mod sesegera mungkin.


Mod merasa bahwa dirinya bersalah, ia terlalu minta banyak pada Fuu, bahkan ia tidak menyadari bahwa setiap gadis itu mengobati ayahnya, ia (Fuu) juga akan mengalami rasa sakit yang sama di setiap darah yang keluar dari tubuhnya.


.


.


.


.


.


.


"Duh! Pelan-pelan..."


"Kau harus cepat masuk ke dalam air!"


"Fuu tahu! Tapi tidak usah menarik Fuu begini kan?"


"Berisik!"


Densha menarik lengan Fuu cukup kuat, membuat gadis mungil itu menyeret-nyeret langkah kakinya. Nafas Fuu semakin berat begitu juga langkah kakinya, tubuhnya melemah dengan cepat.


"Densha..."


"Hmm??" Jawab Densha sewot, ia tidak menoleh ke belakang sama sekali untuk menatap Fuu.


"Fuu... Fuu lelah"


"Tunggu sebentar lagi, kita akan sampai ke tujuan kita"


"Uhm..."


"Hei, kenapa langkah kakimu melambat?"


Fuu tidak menjawab pertanyaan Densha, ia sedang menundukkan wajahnya dan melindungi diri dari sinar matahari yang terik. Kulit tubuh Fuu memerah karena kepanasan, kandungan air yang tersimpan dalam kulitnya menguap ke udara.


"Anu... Fuu..."


Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Fuu jatuh ke depan tepat di punggung pria di depannya. Densha panik dan terkejut karena Fuu tiba-tiba jatuh pingsan di belakangnya.


"Hei, kau kenapa?? Apa kau pingsan??"


"Hah?! Tidak pingsan? Tapi tubuhmu lemah begini?"


"Air... Fuu perlu air"


"Cih! Sial!! Jadi aku harus menggendongmu sampai ke bawah tebing?"


"......."


"Ya sudah! Ayo!"


Densha menggendong tubuh mungil Fuu di belakang punggungnya. Pria itu memastikan agar Fuu merasa senyaman mungkin di punggungnya, ia mempercepat langkah kakinya untuk ke bawah tebing sesegera mungkin.


"Hmm~ Hmm~ Hmm~"


"Kau bernyanyi?"


"Bernyanyi apa? Hehe"


"Barusan kau menyenandungkan sebuah nada kan?"


"Ah... Seperti ini.. Hmm~ Hmm~"


"Iya, kenapa kau begitu?"


"Kenapa ya? Fuu tidak tahu tuh!" Gumam Fuu pelan.


Perlahan Fuu mengendus-endus leher putih milik Densha. Nafasnya memburu di sekitar belakang leher pria itu, ia juga menempelkan lidahnya disana.


"Hei, apa-apa'an kau ini?!" Densha menggeleng-gelengkan lehernya, ia berusaha menjauhi bibir Fuu.


"Hehe, manis... Densha manis"


Aku manis?? - Densha.


"Hentikan! Atau ku banting kau disini!!"


Fuu tidak menghiraukan ancaman Densha, gadis itu masih terus mengendus-endus bagian belakang leher Densha.


"Haa... Baunya wangi sekali, Hehe"


"Astaga! Gadis ini benar-benar sinting!!"


"Sinting? Siapa yang Densha bilang sinting??"


"Tentu saja kau! Siapa lagi??"


"Hehe, Fuu sinting??"


Kenapa reaksinya seperti sedang mabuk begini? - Densha.


Gadis itu masih saja memandang leher putih milik Densha, ia (Fuu) tersenyum riang. Tangannya tidak tahan untuk tidak menyentuh leher bersih pria itu, perlahan tapi pasti Fuu mendekatkan bibirnya pada leher Densha.


Hap!


"Aaakkkhhh... Apa yang kau lakukan??"


Densha terkejut karena Fuu menggigit leher sebelah kanannya. Bukan hanya Densha yang terkejut, tapi gadis bermata biru yang tengah menguntit mereka berdua juga sama terkejutnya. Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat agar suaranya tidak keluar.


Ya Tuhan! Apa yang sedang dia lakukan? - batin gadis itu.


Glek!


Glek!


Glek!


Glek!


"Sakit!! Lepaskan!!"


Densha meronta-ronta tapi dia juga tidak bisa melepaskan Fuu dari gendongannya. Pria itu mengernyitkan dahi dan memejamkan matanya untuk menahan rasa sakit, ia juga bersandar pada sebuah pohon besar di hutan taman kota yang ia lewati saat ini.


Glek!


Glek!


Glek!


Glek!


"Ya Tuhan!! Kau menggigit leherku??"


Fuu menganggukkan kepala pelan, tapi ia tidak menghentikan aksinya untuk menghisap darah Densha. Merasa tidak tahan, Densha jatuh terduduk di atas tanah. Tangannya mengepal menahan rasa sakit, namun juga tidak melawan.


Di.. dia.. dia.. meminum darahku?? - Densha.


"Haahhh..."


Fuu mengusap mulutnya dengan sweater yang ia kenakan, masih ada sedikit bercak darah Densha di sekitar bibirnya. Gadis itu tersenyum menatap Densha yang tengah menahan rasa sakit.


Sial! Apa aku akan jadi vampir? Atau aku akan jadi duyung juga?? - Densha.


"Sudah selesai" ucap Fuu lirih.


"Kau sudah kenyang??"


"Kenyang???"


"Kau mengambil darahku terlalu banyak!!"


"Eh?? Fuu hanya mengambil secukupnya saja kok!"


"Sekarang apa yang akan terjadi padaku?? Apa aku juga akan berubah menjadi duyung??" Tanya Densha yang saat ini sedang panik.


"Tidak, Densha tetap menjadi Densha" jawab Fuu polos.


"Cih! Bagaimanapun juga, aku sudah terkontaminasi"


"Terkonta apa??"


"Sudah lah! Aku tidak ingin menjelaskan apapun padamu!!"


Densha mencoba berdiri dengan kedua kakinya, namun tubuhnya seakan terhuyung tidak seimbang. Ia merasakan rasa sakit di bagian kepalanya.


"Apa yang terjadi?? Pandanganku kabur??"


"Densha baik-baik saja??" Fuu berdiri, gadis itu menahan tubuh Densha agar tidak jatuh.


"Setelah kau minum berliter-liter darahku, kau masih berani menanyakan keadaanku??" Sindir Densha.


"........"


Densha menyentuh kepalanya yang terasa sakit, pria itu memilih duduk di bawah pohon tempatnya bersandar. Ia benar-benar pusing saat ini, pandangannya terasa berkunang-kunang.


Jelas sekali aku anemia (kekurangan darah) - Densha.


"Kau pergilah ke laut sendiri, aku akan menunggumu disini"


"Tapi... Jika terjadi sesuatu pada Densha bagaimana?"


"Maka dari itu cepatlah!!" Perintah Densha tegas.


"Okay, baik!"


Walaupun ragu, Fuu tetap meninggalkan Densha seorang diri. Dalam hatinya ia berniat akan menyembuhkan luka-lukanya secepat mungkin dan segera kembali menemui Densha setelahnya. Fuu merasa cukup sehat berkat darah Densha yang ia minum, hanya tinggal melakukan penyembuhan atau regenerasi sel nya di dalam air sekali lagi, maka tubuh Fuu akan kembali normal seperti dulu lagi.


"Wah-wah... Kau sangat mencintainya?? Sampai tidak melawan saat gadis itu meminum darahmu??"


Suara seorang gadis membuyarkan istirahat Densha.


Densha yang saat itu sudah memejamkan matanya terpaksa bangun, ia mencari ke sekeliling untuk menemukan sumber suara namun tidak berhasil.


"Di atas sini bodoh!!" Maki gadis itu kesal.


Densha menengadahkan kepalanya ke atas, menatap seorang gadis yang duduk di atas pohon. Gadis itu menatap Densha dengan dingin, tapi tidak untuk Densha. Mata pria itu terbuka lebar, ia bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Karena tubuhnya sedang lemah, Densha hanya bisa memandangi si gadis dari bawah. Ia (Densha) juga tidak berniat untuk mengejar gadis itu.


"Siapa kau??"


"Aku??? Sungguh kau ingin tahu??"


"Kenapa wajahmu itu??"


"........"


Gadis itu terdiam sejenak, ia memejamkan matanya lalu menghela nafas panjang sebelum berbicara dengan Densha.


"Memangnya kenapa dengan wajahku??"


"........." Densha terdiam, ia terus memandangi wajah gadis yang ia lihat saat ini.


"Bukan apa-apa" gumam Densha pelan.


"Cih! Dasar!!" Sindir gadis itu.


Bersambung!!


Jika kalian menyukai Novel ini, mohon bantuannya untuk klik Like ❤️, komentar, follow, vote dan rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih... 😘