Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
TRIBRID



"Tribrid!!"


"Apa??" Ryn menurunkan buku yang menghalangi wajahnya, gadis itu menatap wajah Mod serius.


"Kau adalah Tribrid!"


"Oke, aku tak faham maksud mama" Ryn meletakkan bukunya di atas meja belajar milik Mod.


"Lihat ini"


Mod menyodorkan sebuah buku mitologi Yunani kuno, ia membalik salah satu halaman di dalamnya dan menunjukkannya pada Ryn.


Di dalam buku itu tertulis, Tribrid adalah gabungan dari tiga elemen yang berbeda. Atau lebih tepatnya gabungan dari tiga jenis makhluk yang berbeda, biasanya Tribrid tidak akan bertahan hidup lama karena tubuhnya tidak di ciptakan untuk menampung ketiga gabungan itu. Kelahiran Tribrid begitu langkah, sehingga tak banyak buku yang menjelaskan tentang mereka.


"Jadi... Aku adalah Tribrid??" Ryn menunjuk tubuhnya sendiri.


"Benar! Kau setengah manusia, setengah duyung dan setengah dewa kan??"


"Tapi di buku ini tertulis bahwa Tribrid itu hampir mustahil untuk dilahirkan"


"Hampir mustahil tapi bukan berarti mereka tidak ada kan??" Mod mengangkat kedua bahunya penuh percaya diri, gadis itu senang menemukan identitas Ryn yang sesungguhnya.


"Tribrid ya??" Ryn menganggukkan kepala pelan.


"Dan... Lihat ini!" Mod kembali membuka halaman selanjutnya.


Ryn membaca halaman kedua yang di tunjuk oleh Mod. Bibir gadis itu terbuka lebar, ia sungguh terkejut dengan apa yang tertulis di dalam sana.


"Darahmu sama seperti Fuu" ucap Mod lirih.


"I... I... Ini... Ini tidak mungkin!"


"Kenapa kau berpikir begitu??"


"Hanya darah duyung murni yang mampu menyembuhkan luka dan penyakit! Buku ini pasti salah" bantah Ryn tegas.


"Kau benar! Buku ini bisa saja salah, tapi bisa saja benar kan?? Darah Tribrid mampu menyembuhkan segala luka dan penyakit! Kau itu bukan Hybrid!!"


Ryn terdiam, gadis itu melamun. Memang benar selama ini ia belum pernah mengobati siapapun dengan darahnya, karena waktu itu ia berpikir bahwa dirinya tidak mungkin bisa melakukan hal itu dan lagi statusnya yang bukanlah seekor duyung murni.


"Mau mencobanya??" Mod meraih kedua tangan Ryn dengan cepat.


"Apa?! Apa mama serius? Bagaimana caranya??"


"Aku akan melukai diriku sendiri, dan berikan darahmu!"


"Tidak! Apa mama sudah gila?!" Ryn menarik tangannya secepat kilat.


"Jika kita tidak mencobanya, kita tidak akan pernah tahu bukan?"


"Hentikan pembicaraan ini mama!" Ryn beranjak berdiri dari duduknya, ia berjalan menjauhi Mod.


"Ayolah Ryn... Kita harus mengetahui kekuatanmu! Apa kau tidak lihat kemampuan Katrina waktu itu?! Bahkan dia bisa menggunakan sihir" sindir Mod ketus.


"Aku bukan penyihir mama"


"Katrina juga bukan penyihir!! Lalu kenapa dia bisa seperti cling cling cling" Mod menjentikkan jarinya untuk memperagakan gerakan Katrina waktu itu.


"Aku tidak tahu mengenai itu... Aku sendiri sedang mencari jawabannya" gumam Ryn pelan.


"Ngomong-ngomong apa mama tidak ke sekolah?" Imbuh Ryn kemudian.


"Astaga! Aku lupa!! Sial... Jam berapa ini??"


Mod terburu-buru berlari ke kamar mandi, ia hanya membawa handuk mandinya saja.


"Mama! Seragam'mu ketinggalan tuh!"


"Bisa bawakan kesini?!" Teriak Mod dari arah kamar mandi.


"Dasar mama ini!!"


Ryn memunguti seragam sekolah Mod dan menghampirinya, ia meletakkan seragam sekolah Mod persis di depan pintu kamar mandi.


"Aku gantung di gagang pintu ya?"


"Iya, terima kasih Ryn!!" Sahut Mod cepat.


Ryn keluar menuju ruang tamu, ia melangkahkan kakinya pelan-pelan. Gadis itu celingak-celinguk menoleh ke kanan dan ke kiri, ia berharap agar tidak bertemu dengan kakeknya (ayah Mod).


"Sedang mencari apa??"


"OMG!! Aku tidak sedang mengendap-endap kok!" Ceplos Ryn asal.


"Aku tidak menuduhmu mengendap-endap tuh!" Tuan Roosevelt melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Ryn dengan serius.


"Ah... Tuan, bikin kaget saja!"


"Kenapa kau berjalan sambil menatap sekitar??"


Tuan Roosevelt mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumahnya. Lalu ia beralih menatap Ryn.


"Ah! Tidak kok!! Hehe aku hanya ingin menonton TV" ujar Ryn bohong.


"Wah, kebetulan sekali! Aku juga ingin menonton televisi"


Tanpa permisi tuan Roosevelt menggandeng tangan Ryn dengan lembut, ia mengajak Ryn untuk menonton TV bersama.


Entah kenapa? Aku merasa nyaman dengan anak ini... - tuan Roosevelt.


Kenapa jadi begini sih?? - Ryn.


"Apa saja! Siaran berita juga boleh"


"Wah, kau suka info-info seputar dunia ya?? Aku juga suka"


Hehe, aku kan tahu apa yang kakek sukai! Dari aku bayi juga kakek tidak pernah mengajakku menonton kartun! - Ryn.


"Begitu lah..." Jawab Ryn santai.


Tuan Roosevelt memindahkan channel TV ke siaran berita. Mereka berdua terlihat serius menonton televisi, hingga sebuah berita disiarkan.


"Hari ini ditemukan sebuah kapal kosong mengapung di lautan negara, kapal yang mampu menampung dua puluh orang tersebut di temukan oleh seorang nelayan yang sedang mencari ikan di tengah lautan" (suara TV)


"Ini merupakan kejadian kedua semenjak kapal wisata beberapa bulan lalu juga di temukan mengapung tanpa seorangpun di dalamnya, di duga seluruh kru dan penumpang kapal tewas tenggelam karena badai atau cuaca buruk yang menyerang mereka di tengah laut" (suara TV)


Tuan Roosevelt meletakkan remote TV di dekat Ryn, ia menyandarkan bahunya dengan santai di sofa yang ia duduki.


"Aneh sekali ya Ryn??"


"Eh?? Apa??"


"Sebuah kapal mengapung dengan santai tanpa kru" tuan Roosevelt menekuk dahinya bingung.


"Mungkin mereka betulan kena cuaca buruk di lautan sana"


"Tidak mungkin! Lalu kenapa kapalnya baik-baik saja? Kenapa kapal itu tidak karam?"


"Mana aku tahu! Keajaiban mungkin" Ryn cengengesan menjawab pertanyaan kakeknya.


"Dan anehnya, jika mereka semua mati! Kenapa tidak di temukan jasad satupun! Harusnya kan ada yang di dalam kapal"


Kakek benar! Apa yang terjadi ya?? - Ryn.


"Jangan-jangan...." Tuan Roosevelt beralih menatap Ryn.


"Apa??"


"Ini ulah monster, hahaha" tuan Roosevelt tertawa lebar menggoda Ryn yang sedang serius.


"Tidak ada monster tuan!"


"Benarkah?? Lalu orang pembuat film-film itu dapat inspirasi darimana??"


"Mmm... Imajinasi mungkin!" Ryn mengangkat bahunya tidak peduli.


Tuan Roosevelt menatap Ryn tajam, pria itu menghela nafas panjang. Ia mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari telunjuknya pada Ryn.


"Dengarkan aku Ryn..." Pinta tuan Roosevelt lembut.


"Apa??"


"Aku selalu bilang pada Mod bahwa lautan ini luas"


"Itu memang benar kan??"


"Diam dan dengarkan saja!"


"Oke, baik!" Ryn menatap tuan Roosevelt serius.


"Di dalam lautan seluas itu, kau tidak akan pernah tahu siapa saja yang tinggal di dalam sana"


Tentu saja ikan kan? Dan sejenisku - Ryn.


"Lalu?? Apa hubungannya denganku?" Ryn menunjuk dirinya sendiri.


"Aku yakin itu ulah ikan raksasa" senyum menyeringai terukir jelas di wajah tuan Roosevelt.


"Tuan ini seperti anak kecil! Teori macam apa itu?"


"Hah... Memang sulit sekali bicara dengan remaja yang tidak suka petualangan" sindir tuan Roosevelt kesal.


Kakek ini maunya apa sih? Justru pengalamanku dalam berpetualang jauh lebih banyak! - Ryn.


Tap!


Tap!


Tap!


(Suara langkah kaki mendekat)


Mod berjalan dengan terburu-buru melewati kedua orang yang sedang menonton televisi, rambut gadis itu terlihat acak-acakan.


"Mama tidak menyisir rambut??" Ryn refleks berdiri dari duduknya dan mendekati Mod.


"Aku sisir di sekolah saja!" Sahut Mod cepat.


"Tunggu! Kau memanggil putriku dengan sebutan mama??" Tuan Roosevelt berdiri dari duduknya, ia memasang wajah curiga.


Ya Tuhan! Aku lupa ada kakek - Ryn.


Tuan Roosevelt terdiam menunggu Ryn dan Mod menjelaskan kebingungannya.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Rating dan Vote ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 😘🙏