
Ryn memesan pelayanan khusus untuk tiga orang yakni pijat, lulur dan masker wajah. Sebenarnya Mod tak ingin meneruskan niat mereka untuk melakukan perawatan diri di salon saat mengetahui harga yang perlu di bayar cukup mahal.
Hanya dia satu-satunya orang yang menggelengkan kepala ketika melihat daftar harga berbagai perawatan di salon tersebut. Fuu yang tak tahu apa-apa dan bahkan tidak membawa uang sepeserpun hanya menurut mengikuti kedua gadis yang mengajaknya.
Mod sudah melarang Ryn untuk membatalkan acara salon-menyalon ini, tapi Ryn bersikeras ingin melanjutkannya dan gadis itu berjanji bahwa semua biaya salon hari ini dia yang tanggung.
"Baiklah! Silahkan ikuti saya, kita ganti baju dulu ya?" Ucap seorang kakak cantik yang ternyata pegawai salon tersebut.
Ketiga gadis yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke salon cuma bisa menganggukkan kepala sambil menuruti apa yang dikatakan oleh pelayan salon.
Dua gadis merasa malu-malu melepaskan pakaiannya sedangkan satu gadis tanpa sungkan melepas seluruh pakaiannya, menampilkan bentuk tubuhnya yang ideal.
"Anu... Permisi, apa ada acara mandi-mandi nya??" Ryn membalut tubuhnya dengan handuk putih yang diberikan oleh kakak pelayan.
"Tentu saja! Kita akan berendam susu terlebih dahulu, agar kulit kalian lebih bersih ternutrisi dan kenyal" ungkap pelayan dengan senyum manisnya.
Gawat!! - Ryn.
"Ah... Begini, dia alergi susu! Bisakah dia tidak ikut acara berendam nya?" Sahut Mod cepat.
"Tapi saat berendam, tubuh kalian akan di pijat loh! Itu bagus untuk kulit kalian"
"Kulitku sudah bagus! Jadi tak perlu hal seperti itu, tenang saja! Aku akan tetap bayar penuh" ujar Ryn senang.
"Baiklah... Mari yang dua ikut saya"
Mau tak mau, pelayan salon itu mengikuti kemauan Ryn. Bisa gawat jika Ryn berubah menjadi duyung di tempat seperti ini.
Kedua mata Fuu tak berhenti menatap Ryn, sorot matanya penuh dengan kebingungan. Mod menyadari hal tersebut, namun ia tak ingin menanyakannya. Ia takut semuanya akan menjadi rumit.
"Kenapa Ryn tidak ikut?" Fuu beralih menatap Mod.
Mod dan Fuu sudah mulai berendam di bak mandi dengan air yang berwarna putih susu dan beraroma madu. Tak lupa pegawai salon menaburi bak mandi tersebut dengan banyak kelopak mawar merah.
"Dia... Ng... Alergi susu. Hehe" jawab Mod asal.
Kenapa aku jadi bohong sih?! Kenapa aku tak rela jika Fuu tahu bahwa Ryn itu putrinya! Kenapa aku memiliki perasaan seperti ini? Perasaan yang ingin mengakui Ryn seorang diri - Mod.
Mod larut dalam lamunannya, tangan-tangan pegawai yang bertugas memijat mereka mulai menyentuh kulit kedua gadis itu. Mulai dari pijatan leher hingga punggung, semuanya enak dan sedikit menghilangkan kejenuhan pada diri mereka masing-masing.
Fuu memperhatikan Mod yang menundukkan wajahnya, seakan ia tahu bahwa gadis di depannya ini sedang berbohong.
Ryn itu Hybrid... Fuu merasakannya, tapi ada hal lain yang Fuu rasakan namun tak Fuu mengerti, seperti lebih dari sekedar Hybrid - Fuu.
"Mod??"
".........." (Melamun)
"Mod??"
"..........."
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari Mod, Fuu menendang kaki Mod pelan. Membuat gadis berkulit kuning langsat itu terperanjat kaget.
"Eh! Apa kenapa?"
Fuu menatap tajam pada Mod, ia terus-terusan memberi tatapan mencurigakan pada teman perempuannya.
"Mod sedang memikirkan apa??"
"Memikirkan??" Mod menekuk dahinya bingung. "Aku tidak sedang memikirkan apa-apa"
"Benarkah??"
"Ng... Iya..."
Entah apa yang terjadi dengan perasaan Mod, melihat Ryn yang sedari tadi berusaha mendekati Fuu membuat hatinya perlahan teriris meski ia tahu bahwa Ryn itu putri Fuu dan Densha.
Apa aku sedang cemburu? - Mod.
Mod menggelengkan kepalanya kuat-kuat, ia tengah melawan rasa iri di dalam hatinya. Melihat klien nya seperti kurang nyaman, pegawai salon itu mengurangi tekanannya pada tubuh Mod.
"Maaf... Jika terlalu kuat, anda bisa bilang pada saya" ujar pegawai salon lembut.
"Oh... Maaf, aku hanya sedikit pusing! Lebih keras lagi juga tidak apa-apa"
"Baik!"
Sekitar 30 menit mereka mandi susu dan melakukan pemijatan, sekarang saatnya untuk masker wajah dan lulur. Mod dan Fuu keluar dari pemandian secara bersamaan, namun Ryn langsung mendekati Fuu dan merangkul lengan Fuu dengan wajah senang. Seperti anak anjing yang bertemu majikannya setelah sekian lama.
Tuh kan?! Dia cuma memandang Fuu - batin Mod sedih.
"Nah silahkan berbaring, kami akan memakaikan masker wajah terlebih dahulu ya?"
"Baik!" Jawab Ryn senang.
Ryn menarik tubuh Fuu agar selalu berada di dekatnya, gadis itu banyak bergurau dengan Fuu ketimbang Mod.
"Ehem! Seru ya bicaranya?" Sindir Mod dengan nada kesal.
"Eh... Ma.. maksudku, Mod! Iya nih, seru sekali" Ryn tersenyum lebar.
"Fuu tidak tahu bahwa Ryn sebaik ini, maaf sudah mengira Ryn adalah orang jahat"
"Tidak apa-apa Fuu, memang sebaiknya begitu jika bertemu orang yang tak kau kenal untuk pertama kali. Hehe"
"Oke, baik!"
Pelayan salon memasangkan masker wajah berbahan dasar lumpur pada ketiga gadis itu, Fuu yang paling rewel dan meronta-ronta karena merasakan rasa geli dan aneh di wajahnya.
"Hentikan! Apa ini?!" Fuu menggenggam tangan kanan kakak pelayan yang memegang kuas.
"Ini masker lumpur, bagus untuk kulit wajah"
"Tidak mau! Fuu tidak mau! Rasanya aneh saat benda itu menempel di wajah Fuu" rengek Fuu kesal.
"Tapi... Tidak seburuk itu kok rasanya"
Ryn tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu ibunya, ia menggelengkan kepala sambil menertawakan Fuu. Sesekali ia juga melihat ke arah Mod yang tenang menerima setiap pelayanan pegawai salon.
"Tidak apa-apa Fuu, tahan saja!" Ucap Ryn menyemangati.
"Aku dan Mod juga memakai itu kok"
"Oke, baik! Fuu juga ikut"
Dengan sangat hati-hati, kakak pelayan menyapukan masker lumpur pada wajah mulus nan putih milik Fuu. Ia tercengang melihat kulit Fuu yang sangat bagus tanpa noda sedikit pun.
"Apa anda rajin melakukan perawatan?"
"Ng??" Fuu menatap bingung.
"Apa anda rajin pergi ke salon atau dokter?"
"Ini pertama kalinya Fuu pergi ke salon" ucap Fuu polos.
"Tidak mungkin! Di lihat bagaimanapun, kulit anda sangat bagus seperti memakai perawatan yang super mahal" bantah pegawai salon tak percaya.
"Fuu berkata jujur"
"Wah, pasti operasi ya? Atau perawatan secara alami di rumah?"
Orang ini bicara apa? Fuu tidak mengerti - Fuu.
"Dia berkata jujur, dari kecil wajahnya memang seperti itu" sahut Ryn dingin.
Ia (Ryn) tak senang jika ada orang yang menjatuhkan atau menghina anggota keluarganya, sepertinya sifat dingin Ryn menurun dari Densha.
"Wah! Benarkah? Maaf... Saya sudah lancang" ucap pegawai salon malu-malu.
"Cih!!"
____________________________________________
SKIP~
Rutinitas mereka di salon telah usai. Ryn membawa kedua mamanya ke pusat perbelanjaan, padahal baru beberapa hari yang lalu ia pergi ke tempat itu bersama Mod.
"Kenapa kesini lagi? Mau apa? Bukankah kita sudah membeli beberapa pakaian??" Mod berusaha menasehati Ryn.
"Iya... Tapi, aku ingin membelikan Fuu dress yang lucu-lucu dan aku ingin membelikan Mod gaun yang indah, untuk acara besok!"
"Acara apa??" Sahut Fuu bingung.
"Besok Mod akan kencan loh..." Ryn berbisik pada Fuu sambil tertawa cekikikan.
"Kencan?" Fuu menatap Mod, menunggu jawaban gadis itu. "Dengan Moa??"
"Memangnya dengan siapa lagi?" Tanya Mod setengah meledek.
"Pasti menyenangkan! Fuu juga ingin memilihkan baju untuk Mod"
"Duh... Kalian kenapa sih? Ini cuma kencan loh"
"Sudahlah! Ayo ikut!"
Dengan sangat antusias Ryn menarik tubuh Mod agar mau mencoba beberapa pakaian yang telah ia pilih bersama Fuu, semuanya cantik apalagi Mod yang memakainya.
"Jadi, mau beli yang mana?" Mod menenteng empat gaun dengan panjang selutut.
"Hmmm... Yang hijau muda bagus!" Ucap Ryn ragu.
"Kuning, Fuu suka kuning! Tapi biru juga bagus"
"Bukankah yang pink jauh lebih bagus?" Ryn menoleh pada Fuu.
"Iya..." Fuu menganggukkan kepala pelan.
"Oke, baik! Kita beli semuanya" Ryn tertawa lebar sambil merampas empat gaun yang di pegang oleh Mod.
Kalimat itu?? - Fuu.
"Kenapa Fuu??"
Melihat Fuu yang melamun memandang Ryn membuat Mod menyenggol siku gadis cantik itu, perlakuan Mod sukses membuat Fuu gelagapan plus terkejut.
"Anu... Kalimat yang di ucapkan Ryn..." Ucap Fuu ragu.
"Kalimat??" Mod mengangkat sebelah alisnya.
"Ah! Tidak, bukan apa-apa"
Gadis duyung itu melangkahkan kakinya menjauh dari Mod, ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat sambil menepuk kedua pipinya sendiri.
Pasti salah dengar!! - Fuu.
"Hmm..."
Mod menarik nafas dalam-dalam lalu mengeluarkannya perlahan, ia menyandarkan tubuhnya pada sebuah dinding di mall tersebut.
Bagaimana reaksi Fuu jika mengetahui Ryn adalah putrinya? Apa hubunganku dengan Ryn akan terpengaruhi? - Mod.
"Sst! Mama??" Bisik Ryn pelan, gadis itu sudah kembali dengan membawa beberapa kantung belanjaan.
"Apa?"
"Dimana ibuku??"
"Tuh, disana!" Mod menunjuk Fuu yang berdiri di depan sebuah toko mainan.
"Hehe, dia imut ya??" Puji Ryn senang, semenjak mulai bertemu Fuu pagi ini senyum Ryn tak pernah hilang dari wajahnya.
Bukan imut tapi cantik! Tunggu dulu... Apa Ryn pernah memuji penampilanku sebelumnya? - Mod.
Batin Mod terasa membuncah, ia hanya menjawab obrolan Ryn dengan anggukkan kepala. Terkadang ia sedikit melirik sinis saat Ryn terlalu dekat dengan Fuu.
Bersambung!!
Berikan cinta kalian dengan cara klik Like, Komentar, Follow, Vote, Favorit dan Rating! Thank you 😘🙏