
"Ng..."
Mod terbangun dari tidurnya, gadis itu terkejut karena ia tertidur sambil memeluk lengan Moa kekasihnya.
"Ya Tuhan! Kenapa aku memeluknya??"
Mod menyentuh kepalanya yang terasa begitu sakit dan berat, gadis itu memejamkan kedua matanya sambil mengingat kenapa dia bisa berada di rumah Densha.
"Sial! Kepalaku sakit sekali!!"
"Mmm... Ada apa ini?" Isabella mengucek-ucek kedua matanya. Wanita paruh baya itu berdiri lalu berjalan menuju dapur.
"Nona? Apa nona ingat kenapa kita bisa berada disini??"
Isabella memandang Mod serius, ia mengangkat kedua bahunya dan menggelengkan kepala.
"Aku tidak tahu, dan aku tidak peduli"
"Begitu ya?" Wajah Mod murung, ia menepuk pipi Moa pelan. "Moa?? Bangun!"
"Ck! Aku mengantuk, jangan ganggu"
Moa menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya, pria manis itu malah asyik melanjutkan aktivitas tidurnya.
"Dasar anak ini!! Kalau aku bilang bangun ya bangun!"
Saking jengkelnya Mod menarik paksa kedua tangan Moa agar pria itu kesakitan dan terbangun dari tidurnya.
"Aduh! Apa sih??" Moa terbangun. "Aw... Kenapa kepalaku sakit sekali?"
"Kenapa kita bisa berada disini?"
"Apa?" Moa menatap Mod yang kebingungan.
"Aku tanya, kenapa kita bisa berada disini? Tidur di rumah Densha?"
"Mana aku tahu! Aku tidak bisa mengingat kejadian kemarin, aku hanya ingat saat..." Wajah Moa memerah karena malu.
"Saat??"
"Itu loh..." Moa menundukkan wajahnya, ia mendekatkan mukanya pada Mod.
"Apa sih?"
Dengan ragu Moa memanggil Mod dengan gerakan tangannya agar gadis itu mendekatkan telinganya pada Moa.
"Valerie Hotel" bisik Moa pelan.
Raut dan warna wajah Mod berubah seketika. Ia sungguh malu karena hal terakhir yang ia ingat juga kejadian panas saat di hotel.
Astaga! Apa aku dan Moa betulan sudah melakukan nya? Kenapa aku tidak ingat?? - Mod.
Apa aku dan Mod sudah melakukannya?? - Moa.
Sepasang kekasih itu saling menatap bingung, secara bersamaan mereka membuang muka ke arah lain. Tak ingin memandang satu sama lain, kedua wajah manusia itu tersipu malu.
"Ng??" Densha membuka kedua matanya, ia membenarkan posisinya duduk.
"Eh!" Densha tersentak kaget melihat keberadaan Moa dan Mod di rumahnya. "Kalian?? Kenapa disini?"
"Kami juga tidak tahu, saat kami bangun! Kami sudah disini" sahut Mod ragu.
Densha mencari seorang gadis yang sangat berarti baginya, siapa lagi kalau bukan Fuu! Gadis duyung itu tertidur pulas di samping Densha.
"Hei! Kenapa senyum-senyum begitu?" Tegur Moa yang memperhatikan sahabatnya tersenyum menatap Fuu.
"Aku tidak tersenyum"
"Bohong! Aku melihatnya loh..." Ledek Moa gemas.
"Iya-iya!" Densha menghela nafas panjang. "Saat tertidur dia sangat cantik"
Densha menatap Fuu dengan pandangan yang hangat. Moa yang penasaran juga ikut-ikutan memandang wajah Fuu.
"Biasa aja tuh!"
"Dih!" Densha menyenggol lengan Moa kasar.
"Kau tidak ingin membangunkannya??" Tanya Mod polos.
"Tidak! Biarkan saja dia tidur, saat tidurnya sudah cukup aku yakin dia akan bangun"
Densha tersenyum menatap Moa dan Mod bergantian, pria itu berdiri dan menggendong tubuh Fuu untuk memindahkan gadis itu ke dalam kamar.
"Mod??" Densha menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa??"
"Kau bisa memasak kan? Ada beberapa bahan di lemari es, maukah kalian menemaniku makan malam hari ini?"
Hati Mod dan Moa terenyuh, mereka tersenyum bahagia. Tanpa sadar sepasang kekasih itu menganggukkan kepala senang.
"Wah! Ini pertama kalinya loh, kau yang menawarkan untuk makan malam terlebih dahulu" sindir Moa sinis.
"Kalau tidak mau, pulang saja sana!"
Wajah Densha memerah, ia segera buru-buru masuk ke dalam kamar sambil menggendong Fuu. Pria itu meletakkan tubuh Fuu dengan hati-hati ke atas ranjang tidurnya.
Setelah menyelimuti tubuh Fuu, ia mengusap wajahnya sendiri dengan gusar.
Densha mengusap kepala Fuu lembut, ia beranjak keluar kamar untuk menemui teman-temannya. Saat ia sudah sampai di pintu kamar, pria itu menoleh ke arah Fuu.
"Selamat tidur Fuu"
________________________________________
Samudera biru nan luas, banyak manusia yang tidak pernah tahu ada apa didalamnya. Misteri apa yang samudera sembunyikan dari dunia? Segerombolan ikan berenang memecah tanpa arah, menghindari sosok Ryn yang sedang berenang terburu-buru.
Ikan-ikan itu salah paham, gadis bermata biru itu tak berniat untuk memburu atau memangsa mereka. Ia hanya ingin pergi dari tempat ini dengan cepat. Semakin dalam ia berenang semakin dekat juga ia dengan sebuah kabut atau air laut berwarna keruh seputih susu.
Ryn menembus air itu berharap dirinya akan kembali ke masanya. Namun semakin ia berenang menjauh, bayangan tubuhnya seolah memudar. Gadis itu berenang memutar arah, ia memilih kembali ke masa lalu untuk berpikir. Di depan sebuah kabut ia berenang memutar.
Apa yang terjadi?? Kenapa aku tidak bisa kembali? - Ryn.
Tuing!
Dentuman keras menganggu pendengaran Ryn, ia merasakan rasa sakit luar biasa pada kedua telinganya. Gadis itu meringis kesakitan sembari menutup kedua telinganya.
"ADA APA INI??" Teriak Ryn kencang.
Dentuman itu datang sekali lagi, seperti gelombang suara yang mencoba menghubungi dirinya namun ia tolak. Jantung Ryn berdegup kencang merasakan getaran di sekujur tubuhnya.
Ryn...
Mata Ryn terbuka lebar, gadis itu menoleh ke belakang secara spontan. Iris matanya bergerak cepat mencari sumber suara yang seperti memanggil dirinya.
Ryn...
"Ya Tuhan! Apa aku sudah gila??" Gumam Ryn lirih.
Kau mendengar ku?
"Apa-apaan ini??" Ryn menggelengkan kepalanya kuat.
Ryn berenang menjauhi kabut, ia tak ingin berada di dekat sana untuk sementara waktu.
"Sialan! Kalau aku tidak bisa kembali, aku harus kemana??"
Ryn...
Suara itu lagi? - Ryn.
Ryn semakin ketakutan mendengar suara-suara di kepalanya, gadis itu berenang tanpa tujuan ke suatu tempat. Tempat yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya, hingga ia tiba pada suatu titik dimana ada mantra pelindung yang sengaja dibuat untuk membagi wilayah laut.
"Kenapa ada barrier disini? Siapa yang membuatnya?"
Gadis bermata biru itu menatap ke atas, sama seperti Katrina ia juga berpikir untuk melewati laut ini dari atas.
Jangan!! Jangan pergi ke sana!
Ryn menekuk dahinya, ia semakin penasaran dengan apa yang ada di atas sana.
"Memangnya kenapa?" Tanpa sadar Ryn membalas ucapan suara yang muncul di kepalanya.
Bahaya! Di sana bukan tempat untuk kau kunjungi.
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau mengajakku bicara? Kau tahu?! Jika aku seperti ini depan orang lain mereka akan menganggap aku gila!"
Ryn melipat kedua tangannya di depan dada, ia menuruti suara kepalanya agar tak berenang ke atas. Seperti yang kalian tahu, itu adalah wilayah laut milik Kraken, awal mula Katrina ke tempat itu juga karena terpengaruh rasa ingin tahunya akan barrier pelindung yang dibuat oleh Poseidon.
Aku Triton...
Gadis itu terhenti, ia menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal erat menahan emosi di dalam hatinya.
"Triton?? Ayahnya mama? Maksudku kakekku?? Kemana saja kau selama ini? Tidakkah kau tahu aku begitu kesusahan bertahan hidup?"
Maafkan aku... Aku tak dapat membantu banyak. Aku terjebak dalam sebuah kegelapan!
"Terjebak??" Ryn terkejut. "Dimana kakek sekarang??"
Tidak perlu memperdulikan aku, dan jangan khawatirkan aku. Ku mohon jangan pergi dari sisi putriku! Dia dalam bahaya.
"Apa?? Apa maksudnya??"
Fuu dalam bahaya...
Suara Triton samar-samar mulai menghilang, mungkin karena ia di belenggu oleh Poseidon ia tak bisa menggunakan kemampuannya secara sembarangan.
Bantu dia Ryn... Kau putrinya... Dan berhati-hatilah pada Kraken!
"Kraken?? Siapa itu??"
Ryn menunggu jawaban dari Triton namun suara itu tak muncul lagi dalam kepalanya. Gadis itu mengetuk-ngetuk kepalanya sendiri untuk mendapatkan koneksi namun hasilnya sia-sia, Triton benar-benar menghilang dari kepalanya.
"Halo? Kakek?? Kau dengar aku??" Panggil Ryn keras. "Sial! Kenapa tak memberi banyak informasi sih!"
Gadis itu terdiam di tempat, ia tengah memikirkan jalan keluar terbaik. Jika ia kembali maka tidak ada seorangpun yang akan mengenalnya, namun apa yang harus ia lakukan toh tanpa sebab ia juga tidak bisa kembali ke masa depan.
"Sebenarnya kenapa aku tidak bisa menembus kabut itu??"
Bersambung!!
Minta tolong ya? Jangan lupa Like, Komentar, Vote, Rating, Follow dan Favorit kalau kalian suka! Biar aku tahu kalau kalian itu ada dan semakin membuat saya semangat melanjutkan cerita ini 😊🙏 Terima kasih...