Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Cumi bakar & Donat




Teng! Teng! Teng!


Suara lonceng sekolah berbunyi, menandakan sekolah telah usai. Murid-murid keluar dari gedung sekolah dengan senangnya.


"Moa?"


"Eh! Mod.. Ada apa?"


"Dimana Densha?"


"Dia buru-buru pulang, hari ini aku piket jadi dia pergi duluan!"


"Oh.. baiklah. Terima kasih"


"Ya"


Moa melanjutkan tugasnya menghapus tinta spidol di papan tulis kelasnya. Mod berlari sekencang mungkin berharap Densha belum jauh dari sekolah, namun sia-sia, gadis itu tidak menemukannya.


Apa aku langsung ke rumahnya? - batin Mod.


Ah! Tidak-tidak.. aku takut menganggu mereka, lebih baik aku meminta ijin dulu saat hendak kerumahnya. Tunggu.. apa aku bilang tadi? Takut mengganggu? Memang mereka akan melakukan apa? Duh.. Dasar otak mesum ini!


Mod menggelengkan kepalanya sendiri, ia menepuk-nepuk pipinya gemas, berusaha menghilangkan pikiran kotor di otaknya.


"Hei, Fuu? Mau makan di luar?"


"Makan?"


"Iya.. waktu itu aku kan berjanji akan membelikan mu ikan, tapi kita berdua malah basah kuyup" Densha mengingat-ingat kejadian saat ia nekad melompat dari atas tebing, pria itu langsung menggelengkan kepala dengan cepat.


"Ikan? Fuu suka" ucap Fuu tersenyum.


"Kalau begitu mandi lah! Aku juga akan bersiap-siap!"


"Okay, baik"


"Fuu?"


"Ya?"


"Hanya okay atau baik, jangan pakai keduanya. Mengerti?" perintah Densha tegas.


"Ng.. baik" gadis itu tersenyum dan berlari senang ke kamar mandi.


"Ikan.. ikan.. ikan.. ikan.." Fuu bersenandung mengucapkan kalimat ikan berulang-ulang, ia benar-benar seperti anak kecil.


Kau manis sekali - Densha.


Densha berjalan menuju ke kamarnya, sesaat pandangannya terhenti dengan sebuah tas asing di meja ruang tamunya.


"Bukankah ini punya bibi?" gumam Densha lirih.


"Kenapa bisa tertinggal disini?" Kata Densha heran, ia memeriksa isi tas Isabella. Matanya berhenti berkedip saat menemukan sebuah buku, buku yang ia kenali.


"Lebih baik ku simpan saja tas ini! Nanti jika bibi datang akan aku kembalikan"


Fuu memakai setelan kaos lengan pendek dan rok pendek di atas lutut yang di belikan oleh Katrina waktu itu. Gadis itu menyisir rambutnya sendiri perlahan-lahan.


"Hei! Apa-apa'an itu?" Ucap Densha di belakang Fuu, yang membuat gadis itu terlonjak kaget.


"Densha"


"Apa ini?" Densha menyentuh rok mini yang di kenakan oleh Fuu.


"Baju" jawab Fuu polos.


"Aku tau ini baju, tapi kenapa segini?"


"Segini? Apa kepanjangan?" Tanya Fuu polos, Fuu bingung memperhatikan rok yang ia kenakan.


"Apa? Kepanjangan katamu?! Dasar bodoh! Cepat lepas!"


"Le.. lepas? Bu.. bukankah itu tidak baik?"


"Astaga! Apa yang kau pikirkan?" Densha menepuk wajahnya sendiri.


"Densha membuat Fuu takut"


"Apa?! Takut? Justru aku yang takut. Jangan keluar dengan rok sependek itu!" Pinta Densha dengan tegas.


Aku tidak mau pria lain memperhatikanmu! - Densha.


"Apa Fuu tidak boleh memakai rok? Jadi Fuu tidak boleh pakai bawahan?"


"Fuu.. seberapa bodohnya kau?"


"Ng... Tidak berubah" jawab Fuu polos, gadis itu tidak sadar bahwa Densha sedang meledeknya.


Aku rasa aku akan terkena serangan darah tinggi di usia muda jika sering berhadapan dengan keluguan Fuu! - Densha.


"Begini Fuu, pakailah celana pendek atau rok di bawah lutut, mengerti?"


"Okay, baik" Fuu berjalan menuju kamar Densha, ia mengganti roknya dengan rok yang sedikit panjang, kali ini di bawah lutut. Dia tampak anggun dengan pakaiannya saat ini, bahkan Densha sampai takjub melihatnya.


Jadi ingat. Saat dia pertama kali ku bawa kesini, aku bahkan tidak menganggapnya cantik. Ternyata jika di rawat dengan benar, dia cantik sekali - Densha.


"Apa aku benar-benar mulai menyukainya ya?" Gumam Densha pelan.


"Ada apa? Densha menyukai siapa?"


"Eh! Tidak.. tidak.. Aku tidak bilang suka kok" ucap Densha canggung.


"Fuu salah dengar ya?"


"Ya, kau salah dengar! Telingamu itu perlu di periksakan!"


Fuu cemberut mendengar kata-kata Densha.


Telinga Fuu baik-baik saja tuh! - Fuu.


"Ayo.." Densha menggandeng tangan Fuu dengan canggung, pria itu berjalan tanpa memperhatikan Fuu sama sekali.


"Densha kenapa?"


"Ah.. haha tidak apa-apa kok!" Wajah Densha bersemu merah.


"Densha aneh"


Aneh? Aku bertingkah begini karena kau tahu! Jantungku berdetak cepat sekali - Densha.


"Ng.. anu.. kau mau makan di mana?" Tanya Densha saat mereka sudah sampai di jalan trotoar, di samping jalan berjejer banyak kedai makanan, toko roti dan toko pakaian. Pria itu melepas pegangan tangannya.


"Eh! Kenapa di lepas?"


"Apa?"


"Tangan Fuu, ayo pegang lagi" Fuu tersenyum menyodorkan tangannya pada Densha.


"Hei.. apa-apa'an kau ini?!" Wajah Densha benar-benar memerah.


Jelas kau tidak tahu apa yang kau ucapkan! - Densha.


"Kenapa? Fuu suka saat Densha memegang tangan Fuu"


"Fuu.. Aku mohon, jangan menggodaku! Aku ini agresif! SANGAT AGRESIF!!" Densha menekankan kalimat di bagian akhir. Tanpa dia sadari banyak pejalan kaki yang memperhatikan tingkah laku mereka berdua.


"Eh! Apa dia bilang? Dia Agresif??"


"Wahh.. memang sih, dengan wajah tampan begitu mana mungkin dia pria baik-baik!"


"Kyaa!! Aku jadi iri dengan gadis itu!"


"Benar-benar. Di apa-apakan pria tampan pasti menyenangkan!"


Sekumpulan remaja yang tengah berjalan saling melirik ke arah Densha. Mereka berbisik-bisik membicarakan Densha, membuat pria itu tersipu malu.


Apa yang aku katakan sih! - Densha.


"Ayo pergi.." Densha berjalan terlebih dahulu, tanpa menggandeng tangan Fuu.


"Densha.. Tunggu"


"Cepat! Kau ini lambat sekali!"


Fuu berlari mengikuti Densha di belakangnya, entah kemana pria itu ingin pergi.


"Hei Fuu.. coba ceritakan tentang dirimu! Apa kau benar-benar tidak punya keluarga? Sanak saudara mungkin?"


"Tidak, Fuu tidak punya. Fuu di lahirkan sendirian"


Sendirian? Mungkin maksudnya dia anak tunggal - Densha.


"Tidak mungkin kan kalau ibumu melahirkan mu tanpa seorang ayah?"


"Ayah?"


"Ayah itu pasangan ibu, jika ayah dan ibumu saling mencintai maka lahirlah kau!" Densha mengingat wajah kedua orang tuanya yang samar-samar, karena saat mereka tiada dia masih sangat kecil. Selama itu juga Densha tidak pernah melihat foto orang tuanya.


"Ayah ya? Apa maksud Densha itu adalah pejantan?"


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"


Di.. dia.. dia bilang pejantan kan? - Densha mengorek-ngorek telinganya, dia memastikan apa dia tidak salah dengar.


"Densha.. Ada apa?"


"Ah! Haha... tidak, tidak apa-apa. Dengarkan aku Fuu, hanya ada pria dan wanita. Darimana kata-kata pejantan itu?"


"Pria ya? Ah! Fuu baru ingat!" Fuu tidak menjawab pertanyaan Densha.


"Apa?"


"Ng... itu... apa Densha memiliki batang?" Tanya Fuu polos, ia menatap tubuh Densha dari belakang. Karena saat ini Densha berjalan di depannya, pria itu menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik menghadap Fuu.


"Batang?" Alis Densha terangkat sebelah.


"Ya, Fuu dengar itu dari Katrina. Katrina bilang itulah perbedaan pria dan wanita" Dengan sangat senang Fuu yang tidak tahu apa-apa menjelaskan itu kepada Densha.


"Astaga Fuu!! Pikiranmu itu kotor sekali!" Densha menyentil dahi Fuu keras. Wajah Densha seketika memerah, sangat merah.


"Eh!"


"Apa? Tidak terima?!" Densha memaki Fuu.


"Fuu kan hanya memberitahu saja" gadis itu cemberut, ia menundukkan kepalanya.


"Sudah! Lupakan! Jangan membahas hal itu!!" Densha kembali berjalan dengan cepat mendahului Fuu.


Ya Tuhan! Kenapa aku jadi malu sendiri - Densha.


"Okay, baik"


Densha memperhatikan kanan dan kiri jalanan, ia tidak menemukan tempat yang cocok untuk makan malam. Banyak kedai yang berjejer namun tidak ada satupun yang membangkitkan nafsunya untuk makan, apalagi di setiap kedai selalu ada pasangan anak muda yang sedang jatuh cinta.


Hah?! Aku iri dengan mereka.. - Densha


Ia memandang sepasang kekasih yang sedang duduk berdua menikmati makanan mereka. Pria itu sadar dari lamunan nya dan menggelengkan kepala dengan kencang.


Tidak.. tidak.. itu sama saja secara tidak langsung aku ingin punya pacar. Apalagi kalau pacarku sebodoh Fuu! Astaga! - Densha melirik ke arah Fuu, namun ia tidak menemukan Fuu di sampingnya.


"Ho? Dimana Fuu?" Densha celingak-celinguk mencari keberadaan Fuu. Ia menemukan Fuu sedang mengendus-endus sebuah kedai cumi bakar, tingkahnya sangat lucu saat ini.


"Hei Fuu! Kau sedang apa?"


"Densha... ini apa? Baunya enak sekali" Fuu menunjuk ke arah cumi-cumi yang sedang di bakar.


"Ini cumi-cumi nona" ucap si penjual.


"Wah! Cumi-cumi? Di laut baunya tidak seenak ini"


"Eh! Di laut? Apa maksud nona?"


"Ah! Haha.. maksud Fuu saat masih mentah"


"Oh.. begitu ya? Nona mau beli berapa?"


"Beli?"


"Fuu, jika kau ingin beli sesuatu bilang padaku. Aku akan membelikannya!" Densha mendekati Fuu, ia memesan dua porsi cumi bakar.


"Okay, baik"


"Wahh! Nona ini pacar anda?"


"Pacar?" Fuu mengernyitkan dahi tidak mengerti.


"Ah! Dia.. bu.. bukan. Dia bukan pacar saya" Densha tersipu malu.


"Wah, sayang sekali.. padahal kalian cocok. Bayi kalian pasti lucu-lucu, si pria tampan si wanita cantik" puji bapak pemilik kedai. Ia memberikan pesanan Densha kepada Fuu.


"Terima kasih!" Densha tersenyum mendengar pujian itu.


"Enak!!" Fuu tertawa senang.


"Kau suka?"


"Iya, sangat suka"


"Untukmu saja semuanya"


"Eh! Densha tidak mau?"


"Aku tidak terlalu lapar..."


"Tidak lapar?"


"Iya..."


Kruyuk! Kruyuk!


Fuu menatap perut Densha. Gadis itu kini beralih memandang wajah pria tampan itu dengan tegas.


"Densha lapar?"


"Ah! Tidak kok!"


"Itu bunyi perut kan?"


Perut bodoh! - Densha.


"Ini..." Fuu memberikan seporsi cumi bakar di tangannya.


"Te.. terima kasih" Densha menerimanya dengan canggung, ia tidak menatap Fuu sama sekali.


"Hehe... Densha lucu sekali" Fuu tertawa riang memperhatikan sikap Densha yang aneh.


Eh! Dia tertawa? - Densha.


"Terima kasih"


"Untuk apa?"


"Karena Densha sudah memberi Fuu ini" ucap Fuu dan melanjutkan acara makannya.


"ASTAGA!! LIHAT ITU!!" Densha berteriak dengan keras, memperhatikan tulisan di kedai sebrang jalan.


"Ada apa?" tanya Fuu terkejut.


"Fuu, ayo ke sana! Kita harus cepat!"


"Memangnya ada apa?"


"Sudah, ayo ke sana dulu!" Densha menggandeng tangan Fuu dengan semangat, menyebrangi jalanan yang tidak terlalu ramai.


"Apa yang tertulis di sana?" Fuu menunjuk ke arah pamflet di depan toko.


"Eh! Kau tidak bisa baca?"


Fuu menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah belajar membaca sebelumnya.


"Itu adalah keajaiban!"


"Keajaiban?"


"Ya, beli satu gratis satu! Donat kesukaanku sedang melakukan diskon" Densha tertawa dengan senang, ia tengah mengantri untuk menunggu giliran.


"Donat?"


"Kau tidak pernah makan donat?"


"Tidak"


"Wah, kalau begitu kau harus mencobanya"


"Okay, baik"


"Ck! Semoga tidak kehabisan, antriannya panjang sekali"


Fuu tersenyum memperhatikan pria tampan yang sedang kesal di sampingnya itu.


"Densha?"


"Ya?"


"Apa itu pacar?"


Densha terkejut dengan pertanyaan Fuu, ia menoleh ke arah Fuu. Terdiam sejenak, lalu mengambil nafas dalam-dalam.


Aku bahkan belum pernah pacaran! Bagaimana caraku menjelaskannya - Densha.


"Ng.. anu.. pacar itu.."


"Apa?"


"Pacar itu..."


"Densha tidak tahu ya?"


"Pacar itu orang yang kau sukai"


"Jadi... Fuu adalah pacar Densha?"


"Hei! Bagaimana bisa?"


"Karena Fuu menyukai Densha" gadis itu tersenyum manis sekali, ia senang dengan kata-katanya barusan.


"Dasar bodoh!" Densha menjitak kepala Fuu pelan.


"Eh! Kenapa Fuu bodoh?"


"Tidak semudah itu! Pacar itu adalah sebuah hubungan yang sedang di jalankan oleh kedua orang yang saling mencintai"


"Cinta lagi ya?"


"Ya.. begitulah. Kenapa?"


"Fuu tidak tahu soal cinta"


"Suatu saat kau juga akan merasakannya" Densha tersenyum, ia mengacak-acak rambut Fuu gemas.


Cinta, cinta dan cinta. Fuu benar-benar tidak mengerti - Fuu.


"Eh tunggu!"


"Apa?"


"Densha bilang jika ayah dan ibu Fuu saling mencintai maka lahirlah Fuu"


"Ya.. Lalu?" Densha menatap Fuu serius, menunggu gadis itu bicara.


"Jadi... Jika Densha dan Fuu saling mencintai maka lahirlah siapa?"


Aku rasa nyawaku hilang sepuluh tahun - Densha.


"Fuu.. kenapa pikiranmu sampai ke sana?"


"Fuu hanya menanyakan hal yang membuat Fuu bingung"


"Aku yang di buat bingung tahu!"


"Eh?"


"Ah eh ah eh!! Sudah! jika kau benar bingung, tanya pada anak perempuan! Jangan menanyakan hal yang memusingkan padaku!"


Densha memasang wajah kesal, ia bahkan belum pernah tidur dengan wanita manapun. Dan lagi Fuu bilang bahwa ia dan Fuu saling mencintai, gadis itu bahkan tidak mengerti apa itu cinta. Densha menyadari bahwa hidupnya berubah setelah bertemu dengan Fuu, gadis aneh dan bodoh yang entah datang darimana.


"Silahkan kakak!"


"Ah! Saya mau beli donatnya"


Kyaa.. tampan sekali - pegawai toko.


"Mau beli yang mana?"


"Ng... Fuu kau mau yang mana?"


"Yang itu..."


Yah.. sepertinya sudah punya pacar. Bahkan pacarnya sangat cantik - pegawai toko.


"Yang itu? Kau yakin? Itu krim mint?"


"Ya" Fuu menganggukan kepalanya pelan.


"Baik, saya mau yang matcha dan mint masing-masing satu"


"Baik kakak!! Ini silahkan..." Pegawai itu menyerahkan paper food berisi empat buah donat pesanan Densha.


"Terima kasih" Densha tersenyum ke arah pegawai itu.


"Kyaa.. Sama-sama"


Densha memberi satu buah donat dengan cream mint pada Fuu.


"Kyaa..." (Tanpa ekspresi)


"Kau kenapa?"


"Perempuan tadi bicaranya aneh. Kyaa.. kyaa.. kyaa.." Fuu menirukan cara bicara pegawai donat tadi.


"Kau lebih aneh dari dia!"


"Eh! Tidak kok" Fuu merengut dan memakan donat pemberian Densha.


"Huwek! Apa ini? Lidah Fuu dingin"


"Kenapa? Kau kan yang pilih"


"Fuu tidak suka. Ini tidak enak!"


"Sini aku coba!" Tanpa permisi Densha mengigit donat yang di pegang oleh Fuu, kepala mereka hampir bersentuhan saking dekatnya. Fuu saja sampai di buat terkejut atas tingkahnya.


"Ini enak!" Densha tersenyum ke arah Fuu.


"Densha mau? Makan saja!" Fuu menyodorkan donatnya kepada Densha.


"Makan saja?"


"Iya, ini makan saja milik Fuu"


Makan saja milik Fuu? - Densha.


Densha tersenyum tulus melihat Fuu, pria itu menyerahkan paper food berisi sisa donat kepada Fuu, agar gadis itu membawanya. Entah kenapa matanya melirik melihat sekeliling, di cuaca malam yang dingin Densha melepas jaket yang ia kenakan, ia menutup setengah bagian tubuhnya mulai dari kepala sampai ke pundak dengan jaket itu. Dengan sekejap ia mendekati Fuu, menutupi kepala Fuu dengan jaketnya.


Cup!


Densha mencium Fuu di tempat umum, banyak orang yang memperhatikan mereka. Namun ia menutupinya dengan jaket yang ia kenakan. Bibir mereka bertemu, seperti biasa Fuu selalu saja terkejut saat Densha mencium bibirnya.


"Bernafas lah" ucap Densha lembut.


"Ng..." mata Fuu berkedip, pelan-pelan ia memejamkan kedua matanya.


Densha mengembalikan jaketnya ke posisi semula, ia menatap Fuu. Wajah Fuu benar-benar merah saat ini.


"Wajahmu memerah tuh!"


"Ini kan Densha yang buat"


"Eh? Aku? Kau yang menyuruhku!"


"Apa?! Kapan Fuu bicara seperti itu?"


"Ingat tidak? Ini makan saja milik Fuu" Densha cengengesan, ia berkedip ke arah Fuu.


"Makan milik Fuu?"


"Ya.. aku sudah memakan milikmu"


"Tapi kata-kata itu untuk donat ini" Fuu menunjuk ke arah donat yang ia pegang.


"Kau tidak bilang kalau untuk donat"


"Um... Densha benar" kata Fuu polos.


"Tapi kan.. sepertinya Fuu menyerahkan donat ini tuh!" imbuhnya.


"Benarkah? Aku tidak ingat tuh!"


Haha pendek sekali pikirannya! - Densha.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, favorit, komentar, follow, rating dan Vote 😘 dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih!!