Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Hari H (part.3)



Matahari semakin meninggi, waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Menandakan acara akan segera dimulai, para pengunjung mulai memadati kursi yang telah di sediakan.


Sebagian kecil pengunjung memilih untuk berwisata kuliner di kios-kios makanan yang berjejer rapi disana. Ramai? Bukan hanya ramai, ini sangat ramai. Ratusan manusia berkumpul dalam satu tempat.


"Ck! Dimana mereka??" Isabella celingak-celinguk mencari keberadaan Densha, Mod dan Moa atau salah satu diantara mereka.


Mata Isabella terus fokus menatap setiap orang yang berpapasan dengan dirinya. Jika ponselnya tidak kehabisan baterai mungkin Isabella bisa menghubungi mereka.


TRAK!!


KLANG!!


Isabella menoleh ke sumber suara, suara tersebut berasal dari belakang layar proyektor. Seperti suara benda berat yang sedang di pasang ke suatu pengait.


Ada apa disana? - Isabella.


Karena jalan di tutup untuk umum, dan hanya pegawai Festival yang boleh masuk. Isabella mengurungkan niatnya untuk ke tempat itu, wanita paruh baya itu pergi menuju arah sebaliknya.


Di lain tempat, Mod dan Moa sudah bersama. Mereka juga sedang mencari keberadaan Isabella dan Densha, kedua insan itu menyerah mengetahui fakta bahwa Fuu tidak berada di tempat ini.


"Gosip yang beredar, mereka bilang putri duyung nya palsu"


"Iya itu benar! Saat aku menyusup masuk, aku melihat banyak kostum mermaid di dalam ruangan tak permanen itu" Moa menunjuk ruangan tempat ia masuk.


Wajah Mod nampak lesu, gadis itu berjalan sambil menyeret kakinya. Bahkan ia tak berselera untuk sekedar mencicipi sate tusuk yang ia beli dengan cara terpaksa. Padahal mereka tak betul-betul mengetahui bahwa Edmund sengaja menghapus semua bukti keberadaan duyung nya.


"Kau tidak mau makan itu?" Moa menatap sate tusuk milik Mod.


"Kau mau? Ambil saja!"


"Eh?? Kebetulan! Aku belum mengisi perutku sejak tadi pagi"


Moa menerima makanan dari Mod dengan senang, seperti gembel yang tak makan berhari-hari.


"Ini enak! Kau yakin tidak ingin mencoba?" Moa mencoba menyuapi Mod namun gadis itu menepis tangan Moa dengan lembut.


"Makanan itu mengingatkanku pada Fuu, kau tahu kan? Gadis itu sangat suka sate seafood" ucap Mod murung.


Moa yang asyik mengunyah makanannya langsung berhenti melakukan aktivitasnya setelah mendengar Mod berbicara seperti itu.


"Aku jadi merasa tidak enak" Moa berbicara dengan mulut yang masih penuh makanan.


"Telan dulu makanan'mu Moa!" Mod tersenyum tipis menyaksikan tingkah Moa.


***


Ngung...


Ngung...


"Tes! Tes!"


Suara Sir Edmund terdengar serak dan kurang jelas saat mencoba mic. Rupanya ia sedang melakukan cek sound agar suara yang ia keluarkan terdengar jelas dan lancar.


"Ehem!" Edmund berdeham, pria itu nampak gugup berdiri di depan banyak orang. "Se... Selamat datang!"


Katrina melengos mendengar gaya bicara Edmund yang sedikit ragu-ragu. Gadis itu memasang wajah kesal sambil terus memperhatikan Edmund dari bangku pengunjung.


Mata Katrina menangkap sosok Densha yang sedang duduk di barisan paling depan. Gadis itu tersenyum senang, namun senyumnya berubah saat ia tahu bahwa Densha tidak sendiri. Ia juga melihat Moa dan Mod yang sibuk mencari bangku kosong di barisan belakang.


Kenapa mereka disini?? - Katrina.


"Apa kau melihat Densha??" Mod mengedarkan pandangannya, ia berjinjit agar bisa melihat orang-orang yang duduk di depan.


Moa memicingkan kedua matanya, ia juga tak menemukan siluet tubuh Densha diantara kerumunan banyak orang.


"Sial! Dimana anak itu?" Gerutu Moa kesal.


"Hei, kalian sudah disini?"


Moa dan Mod terkejut saat bahu mereka di tepuk Isabella dari belakang. Mod sampai menghela nafas panjang, ia bersyukur bukan Katrina yang menepuk bahunya.


"Nona Isabella membuatku kaget" Mod mempersilahkan Isabella untuk duduk disampingnya.


"Apa kalian melihat Densha?"


"Kami juga sedang mencarinya" Mata Moa terus menatap ke depan.


"Aku ingin segera mengajaknya pergi dari sini!" Gumam Mod lirih.


"Eh?? Kenapa??" Isabella menoleh pada Mod bingung.


"Kita hanya membuang waktu di tempat ini, Fuu tidak berada disini! Beredar gosip bahwa duyung yang akan di tampilkan itu palsu"


Isabella terdiam, ia mengerutkan dahinya. Wanita itu sedang berpikir jalan keluar terbaik.


"Aku juga tidak tahu apa Fuu ada disini atau tidak! Tapi... Aku takut, jika kita pergi meninggalkan tempat ini. Ternyata Fuu ada disini" ucap Isabella lirih.


Mod menatap Moa sendu, ia mengharapkan pembelaan dari Moa untuk meyakinkan Isabella bahwa Fuu tidak di tempat ini.


"Saat aku menyusup masuk, aku melihat banyak kostum mermaid" terang Moa kemudian.


Isabella melipat kedua tangannya di depan dada. Matanya fokus menatap Edmund yang berdiri tepat di depan aquarium raksasa.


"Jika duyung nya palsu! Lalu untuk apa aquarium dan truk katrol di belakang layar itu?!"


Kedua remaja itu menatap langsung arah yang di tatap Isabella, mereka terdiam dan tidak tahu harus menjawab pertanyaan Isabella dengan apa.


"Baiklah nona"


Edmund berbicara panjang lebar, membacakan pidatonya yang sangat membosankan. Banyak pengunjung menguap lelah mendengar Edmund yang banyak bicara. Sadar akan hal itu, Edmund menghela nafas panjang dan menyentuh dadanya pelan.


"Baiklah... Mari kita lihat rekaman bukti nyata bahwa duyung itu memang ada!"


Para pengunjung menatap layar proyektor dengan serius. Moa terbatuk-batuk saat video rekaman dirinya dan Fuu di putar pada acara itu.


Video itu memperlihatkan ketika Fuu dalam wujud duyung nya keluar dari tangki air untuk menolong Moa. Rekaman itu memang tidak begitu jelas memperlihatkan wajah siapa yang ada disana, tapi Moa sangat yakin bahwa itu dirinya.


"Bukankah itu belakang sekolah kita?" Mod menatap layar dengan serius.


"Benar! Itu aku dan Fuu" ucap Moa setengah berbisik. "Ya Tuhan! Sir Edmund beneran menculik Fuu??" Ucap Moa tak percaya.


Tepuk tangan dan sorakan dari para pengunjung semakin memeriahkan acara Festival tersebut.


"Dimana duyung nya?? Keluarkan!" Teriak salah seorang pengunjung.


"Benar!! Kami ingin bukti! Video kan bisa di edit" timpal salah seorang lagi.


Isabella melirik orang-orang bodoh yang berteriak-teriak tidak jelas tersebut. Sementara disampingnya ada dua jantung manusia yang berdegup dengan kencang.


Kenapa dadaku terasa sesak! - Moa.


"Baiklah... Kita saksikan bersama-sama! Duyung asli yang saya temukan" teriak Edmund kencang.


Pria bertubuh tinggi itu sedikit menggeser posisinya berdiri, ia menengok ke belakang. Tangan kirinya menunjuk ke atas seolah ingin memberitahu lautan manusia di depannya bahwa ia sudah menemukan harta.


Densha menatap wajah Edmund dengan tajam. Kedua tangannya mengepal bersiap untuk menghajar habis Edmund jika benar yang ia pertontonkan saat ini adalah Fuu. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Densha pikirkan sekarang.


Deru mesin truk pengait menyala kencang, katrol itu bergerak turun menuju balik layar proyektor. Terdengar bunyi nyaring disana saat pengait menangkap sebuah benda berat di balik layar.


Deg!


Deg!


Deg!


Densha menyentuh bagian dadanya dengan kuat. Perasaannya begitu kacau, antara siap dan tidak siap melihat sesuatu di depannya.


KLANG!!


(Bunyi besi bertabrakan)


Dari balik layar terlihatlah sebuah kotak tertutup kain tebal berwarna putih. Perlahan kotak itu terangkat ke atas melewati papan layar proyektor. Kini benda itu bergantung tepat di atas kaca aquarium ukuran besar.


Nampak dua orang pegawai mendekati aquarium, mereka memutar keran besar untuk mengisi Aquarium dengan air laut asli. Sambil menunggu aquarium itu terisi penuh, Edmund menatap para pengunjung dengan bangga.


"Maaf, duyung ini hanya berubah dengan air laut asli" ucap Edmund dengan senyumnya.


Merasa tak tahan lagi, Moa berdiri dari duduknya. Ia sangat geram dengan perlakuan seorang guru yang dianggap baik di sekolahnya.


"DASAR KEPAR*T!! SINTING!! BISA-BISA NYA ADA MANUSIA SEPERTIMU!!" Teriak Moa kencang.


Sebagian pengunjung menatap Moa dengan sinis. Mereka bahkan mengolok-olok Moa, agar pria berambut pirang itu duduk dan menyaksikan pertunjukan dengan tenang.


Katrina menaikkan salah satu ujung bibirnya, ia menyeringai menatap kelakuan konyol Moa.


Idiot!! - Katrina.


"Moa! Duduk!!" Mod menarik lengan kekasihnya kasar.


"Lepaskan! Guru itu sudah gila!" Moa merutuki Edmund dari kejauhan.


Air di dalam aquarium sudah terisi penuh, Edmund tertawa senang. Dari wajahnya terpancar kebahagiaan tiada tara, ia mendekatkan bibirnya ke dekat mic.


"Nah... Tanpa menunda-nunda lagi, mari kita lihat duyung yang menjadi bintang tamu kita hari ini!"


Pupil mata Isabella bergetar menyaksikan Edmund yang perlahan menarik kain penutup kandang besi dengan hati-hati. Semua pengunjung terdiam, menunggu Edmund memperlihatkan isi kandang tersebut.


Seakan mengalami mati suri, jantung Densha, Moa, Mod dan Isabella berhenti berdetak secara bersamaan ketika melihat seorang gadis terkurung di dalam sebuah kandang jeruji besi.


"Hah? Itu kan manusia??" Teriak seorang wanita yang menonton acara itu.


"Benar! Katanya putri duyung?!" Teriak seorang lagi.


Edmund tersenyum, ia mengangkat kedua tangannya untuk menyuruh pengunjung diam dan tenang.


BUAK!!


BUG!!


GABRUK!!


Pukulan keras mendarat di wajah mulus Edmund, tanpa sepengetahuan dirinya seorang pria sudah berlari mendekatinya. Ia menindih tubuh Edmund dan mencekik leher Edmund dengan kuat, dari sorot matanya terlihat bahwa ia benar-benar ingin membunuh Edmund.


Mata Fuu mencoba melihat kejadian di bawah sana. Ia merangkak ke sisi kanan kandang, gadis itu tersenyum melihat wujud Densha yang sudah ia rindukan.


"Densha?" Gumam Fuu lirih sambil mengeluarkan salah satu tangannya melewati celah jeruji besi.


Bersambung!!


Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! 😘🙏