Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Carnivora



Sore itu sepanjang perjalanan pulang, Fuu terlihat sedang banyak pikiran. Sepertinya gadis itu berusaha memecahkan keanehan yang ia alami sejak kemunculan gadis misterius itu. Apalagi Densha bilang bahwa ia seperti tidak mengingat kejadian yang penting, kejadian apa yang ia alami sebelum dia berlari terburu-buru menemui Densha.


"Hahh! Bikin kepala Fuu sakit saja!" Rengek Fuu sambil mengacak-acak rambut panjangnya.


Astaga! Ternyata mereka berdua sama-sama tidak waras! - Moa.


Moa menggeleng-gelengkan kepalanya memperhatikan aksi Fuu, ia jadi teringat Densha saat di taman belakang sekolah siang tadi.


Mereka berdua memang aneh!! - Moa.


"Hei, kau mengatai aku?"


Sial! Apa Densha bisa membaca pikiran seseorang? - Moa.


"Kenapa melotot begitu?! Kau beneran mengatai aku di dalam hati ya??"


"Ti.. tidak kok! Haha.. kau ini kenapa sih?! Akhir-akhir ini gampang sekali tersinggung"


"Ya sudah kalau tidak"


Eh? Hanya begitu saja?? - Moa.


"Aaaakkkhh..." Teriak Fuu kencang, gadis itu melompat ke pelukan Densha. Bahkan dia sedikit mencakar-cakar punggung Densha.


"Eh! Apa? Kenapa?" Tanya Moa panik yang ikut-ikutan sembunyi di balik punggung Densha.


"Ya Tuhan! Kau ini kenapa? Bikin kaget saja!"


Densha menangkap tubuh Fuu dengan sigap, ia memeluk gadis itu dan mencoba memperhatikan apa yang sedang terjadi. Moa juga ikut mengintip dari balik punggung Densha.


Eh?? - Densha.


Hah?! - Moa.


Miauw!


Seekor kucing melintas di depan mereka bertiga dengan elegan. Kucing dengan bulu panjang berwarna abu-abu entah milik siapa, kucing itu menoleh menatap mereka bertiga dengan tatapan imutnya.


"Imutnya..." Gumam Moa pelan.


"Singkirkan hewan buas itu dari Fuu!! Singkirkan!!" Fuu meronta-ronta tidak karuan, ia semakin erat memeluk Densha. Bahkan lebih tepatnya mencekik Densha.


"Ya Tuhan! Astaga!! Kau ini kenapa? Kenapa mencekik'ku?" Densha berusaha melepas pelukan Fuu.


"Jauhkan dia dari Fuu! Jauhkan!! Dia itu karnivora, predator!!"


Tanpa sadar Fuu sudah menaiki tubuh Densha, gadis itu meminta Densha untuk menggendongnya saking takutnya dengan hewan berbulu lembut nan imut itu.


"Hah?! Kau takut dengan kucing ini?!" Moa mengambil kucing itu dan menggendongnya, lalu mengusap lembut kepala si kucing.


Miauw! Miauw! Prr.. Prr..


"Kucing??"


"Iya.. ini namanya kucing, dengan binatang selucu ini kau takut?!"


"Cih! Kau sendiri sembunyi di balik tubuhku kan?!" Sindir Densha ketus.


"Hei, aku kan tidak tahu kalau ternyata yang membuat gadis bodoh itu berteriak adalah seekor kucing!"


"Sama saja!"


"Singkirkan Moa! Fuu tidak suka"


"Kenapa?" Tanya Moa polos.


"Sudah Fuu katakan kan? Bahwa dia itu predator! Karnivora!!" Tegas Fuu.


"Cih! Kau juga karnivora tuh!" Sindir Moa ketus.


"Kenapa kau takut pada binatang sekecil itu Fuu?" Tanya Densha yang berusaha menurunkan Fuu dari gendongannya. Tapi Fuu menolak untuk di turunkan.


"Fuu tidak suka! Dia predator!! Berapa kali Fuu harus bilang?"


"Hahahaa.. aku baru sadar! Karena kau ikan kan? Jadi kau takut dengan kucing! Kucing kan suka makan ikan" ledek Moa dengan tawanya.


"Eh?? Benar begitu Fuu??"


"Uhm" Fuu menganggukkan kepala pelan.


"Astaga! Badanmu dan badan kucing itu jauh lebih besar badanmu! Kenapa kau takut? Dia tidak akan menyakitimu"


"Kalau Fuu bilang tidak suka berarti tidak suka!"


"Cih! Ayo turun!"


"Tidak mau!"


"Moa... Lepaskan kucing itu! Biarkan dia pergi" pinta Densha.


"Haha, oke-oke.."


Moa menurunkan kucing cantik itu, ia membiarkan kucing itu pergi berlari entah kemana.


"Sudah..."


"Huft! Hampir saja!" Fuu merenggangkan pelukannya dari tubuh Densha.


"Jangan di lepas!!" Perintah Densha tegas.


"Eh! Kenapa?"


"Sudah! Begini saja! Aku gendong sampai rumah"


Densha memalingkan wajahnya, wajah pria itu memerah, sangat merah. Sesekali ia memejamkan matanya untuk mengurangi rasa malunya.


"Dih! Sejak kapan kau semanis ini?" Sindir Moa sinis.


"Berisik! Jangan banyak bicara! Cepat jalan sana!!"


"Haha, baik-baik... Duh.. aku tidak menyangka sahabatku ini betulan menjadi Es yang hangat" Moa cekikikan menahan tawanya.


"Es yang hangat??" Gumam Fuu pelan.


"Berisik!!"


"Densha?"


"Apa?!"


"Bukankah Es itu dingin? Kenapa Moa bilang Es itu hangat??"


"Tidak usah memikirkan kata-kata si bodoh itu!"


"Fuu ingin tahu Es yang hangat"


"Cih! Gadis bodoh!" Ledek Moa kesal.


"Yang kau peluk itu Es yang hangat!! Kau tidak tahu ya? Dulu Densha itu sedingin Es.. dan sekarang dia meleleh"


"Mmm... Fuu tidak mengerti"


"Sudah aku bilang jangan dengarkan Moa kan?!"


"Okay, baik!"


"Umm.. ngomong-ngomong apa kau akan kesana?"


"Kemana?!"


"Rencanaku malam ini aku akan pergi menjenguk ayah Mod"


"Lalu?"


"Apa kau tidak mau ikut?!"


"Uhm.. bagaimana ya? Bagaimana Fuu apa kau mau pergi malam ini?!"


"Kemana?"


"Ke rumah sakit, ayah Mod sedang sakit" jawab Moa pelan.


Fuu benci rumah sakit... - Fuu.


"Tapi... Fuu tidak suka rumah sakit"


Benar juga! Waktu itu kan dia mati-matian menolak untuk kubawa ke rumah sakit - Densha.


"Aku juga akan bersamamu"


"Tapi..."


"Kalau kalian jadi ikut! Hubungi aku ya?!" Pinta Moa.


"Kalau begitu, aku pulang dulu! Sampai jumpa!!" Moa melambaikan tangan ke arah mereka berdua.


"Sampai jumpa Moa" Fuu menjawab lambaian tangan Moa.


Seperti biasa mereka berpisah di pertigaan jalan, karena arah rumah mereka yang berbeda.


"Kenapa kau takut ke rumah sakit?"


"Suntik... Fuu tidak suka semua orang yang berasal dari rumah sakit, kecuali nona Shanaz"


"Aku akan menutupi tubuhmu, aku berjanji akan melindungimu"


Jika rasa sukamu seakan kau ingin melindunginya... Bisa jadi itu adalah cinta.


Fuu teringat kalimat Moa yang mengajarinya tentang apa itu cinta. Waktu itu memang Fuu tidak memahami apa maksud Moa, tapi saat Densha mengatakan ingin melindunginya.. Fuu jadi mengingat kembali dan mengerti apa maksud dari kalimat yang di katakan oleh Moa, gadis itu merasa bahwa Densha menyukainya sama seperti dia menyukai Densha.


"Hehe"


"Kenapa tertawa?"


"Tidak apa-apa!"


"Bohong! Ada apa?"


"Bukan apa-apa"


"Cih! Sudah berani menyimpan rahasia ya?"


"Mmm... Begitulah"


"Dih! Ayo katakan! Atau ku banting kau disini?!" Ancam Densha.


"Turunkan saja! Fuu tidak keberatan kok!"


"Cih! Dasar!! Kalau aku menurunkanmu disini, bisa lama kita sampai dirumah"


"Eh! Kenapa?"


"Kakimu kan pendek, jadi langkah kakimu pasti sedikit"


"Kalau begitu biar Fuu patahkan kaki Densha agar langkah kita sama" ucap Fuu polos.


Mematahkan kaki?? - Densha.


"Dasar sinting! Gadis tidak waras!!" Ledek Densha ketus.


"Haha, Fuu bercanda kok!"


"Bercandamu tidak lucu!"


"......."


"Kenapa diam saja?"


"Fuu punya rahasia"


"Apa?!"


"Apa Densha ingin tahu?"


"Kalau memang tidak ingin memberitahu juga tidak masalah"


"Akan Fuu beritahu! Coba sini menunduk!"


Densha menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan Fuu, ia mengarahkan telinga kirinya pada Fuu.


Cup!


Eh?? - Densha.


"Apa'an sih?! Kenapa tiba-tiba..." Dengan cepat Densha menegakkan kepalanya lagi. Wajahnya benar-benar merah padam, karena Fuu secara tiba-tiba mencium pipi kirinya.


Fuu tersenyum manis memandangi wajah Densha yang memerah, gadis itu semakin mempererat pelukannya.


Jantung Fuu berdebar-debar, jantung milik Densha juga - Fuu.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa jam kemudian, setelah mandi-mandi bersih dan berganti pakaian.


Tut! Tut!


Tut! Tut!


"Halo?"


"Hoi! Kau dimana?"


"Aku di rumah.."


"Dasar sinting! Kau bilang akan menjenguk ayahnya Mod!!"


"Eh! Kau dimana??" Tanya Moa panik.


"Aku di depan rumah sakit bersama Fuu, aku tidak tahu dimana dan siapa nama ayah Mod itu!"


"Sudah aku bilang kan?! Jika kau jadi menjenguknya hubungi aku terlebih dahulu!"


"Berisik! Aku tunggu sepuluh menit, kalau kau belum tiba juga. Aku akan memukulmu!!"


"Eh! Bagaimana bisa.."


Tut!


"Ha.. Halo? Densha??"


"Sial! Dia mematikan ponsel nya!!"


Dengan buru-buru Moa yang belum mandi pun harus berganti pakaian dengan cepat. Ia hanya mengenakan setelan kaos lengan pendek dan celana jeans biru wash, untuk menutupi rambutnya yang acak-acakan ia mengenakan topi, tak lupa Moa juga memakai masker penutup mulut. Setelah lima belas menit berlari akhirnya Moa sampai juga di tempat Densha dan Fuu berada.


"Lho?? Fuu dimana?"


Bug!


Pukulan kecil mendarat di lengan Moa, itu hukuman yang di berikan oleh Densha karena Moa terlambat lima menit.


"Halo Moa..." Sapa Fuu pelan.


"Hah?! Kau kenapa?? Penampilan mu aneh!! Apa kau memakai baju Densha?"


"Berisik!! Aku yang menyuruhnya memakai itu"


Yaahhh... Hari ini Fuu memakai jaket Hoodie milik Densha dan celana jeans pendek di atas lutut, karena tubuhnya yang mungil. Jaket itu nampak seperti dress bagi Fuu, tidak lupa Densha juga memakaikan Fuu topi dan juga masker penutup mulut sama seperti Moa, agar tidak ada yang melihatnya.


"Ya.. ya terserah kau saja! Bukannya penampilannya itu malah semakin membuatnya mencolok?"


"Cih! Tidak mungkin.. Ayo kita masuk saja!"


"Oke!! Ayo... Ikuti aku!" Perintah Moa.


Sesampainya di depan ruangan kamar ayah Mod, mereka bertiga nampak ragu untuk memasuki ruangan. Karena sepertinya di dalam sedang ada orang lain selain Mod.


"Mod sedang bicara dengan siapa?"


"Entahlah!! Aku kan disini bersamamu kenapa kau malah bertanya padaku?"


"Astaga! Kau benar..."


"Kenapa tidak kau ketuk saja pintunya?"


"Aku merasa tidak enak"


"Kita sedang menunggu apa disini?" Tanya Fuu polos.


Seketika tatapan Moa dan Densha beralih menatap Fuu, mereka berdua sama-sama tersenyum licik memandang Fuu.


"Ada apa?"


"Begini, Fuu... Coba kau ketuk pintunya!"


"Di ketuk?"


"Iya..." Ucap Moa dan menganggukkan kepala.


"Okay, baik!"


Tok!


Tok!


Tok!


Fuu membuka pintu perlahan-lahan, gadis itu memunculkan kepalanya dari balik pintu. Matanya seakan-akan mencari seseorang yang ia kenali, merasa menemukannya.. Fuu pun tersenyum bahagia.


"Mod?? Selamat malam.." sapa Fuu pelan.


Mod dan seseorang itu terkejut dengan sapaan Fuu, mereka berdua langsung menoleh ke arah pintu secara bersamaan.


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini, tolong bantuannya untuk klik Like ❤️, Komentar, rating dan Vote.. jangan lupa di favorit and Share ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih...