Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Isi buku



Brak!


Densha melempar tubuh Fuu ke sudut tembok belakang restoran. Pria itu menyudutkan Fuu sampai gadis itu tidak punya jalan untuk menghindari Densha.


"Kenapa?"


"Kenapa??? Kau yang kenapa? Kenapa berteriak sekencang itu di tengah jalan?"


"Berteriak?"


"Ayo lakukan itu bersama Fuu! Tidak ingat??"


"Fuu, sungguh-sungguh!"


"Sungguh-sungguh??"


"Ayo lakukan itu.. sesuatu yang sama seperti yang di lakukan Moa dan Mod"


"Tapi cara bicaramu itu salah! Kau membuat semua orang yang mendengarnya salah paham"


"Eh??"


"Ehh??? Masih berani bilang Eh??"


"Ma.. Maaf" ucap Fuu menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau ingin melakukan sesuatu yang di lakukan Moa dan Mod"


"Itu..."


"Itu???"


"Itu.. karena.. Cinta"


"Cinta??"


"Moa mencintai Mod benar kan? Itu sebabnya Moa melakukan pendekatan! Fuu juga ingin melakukan pendekatan agar Fuu tahu bagaimana cinta itu!" Fuu berapi-api, ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Densha.


"Apa menurutmu kita berdua kurang dekat?"


"Iya.."


Hmm?? - Densha.


Densha memojokkan Fuu ke sudut dinding, mempersempit ruang gerak gadis itu, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Fuu.


"Apa seperti ini kurang dekat?" Bisik Densha lirih.


Deg!


Deg!


Deg!


Deg!


"Aku bahkan bisa mendengar detak jantungmu"


Apa?! Kenapa dengan jantung Fuu? - Fuu


Deg!


Deg!


Deg!


Deg!


"Anu.. Fuu.." gumam Fuu lirih.


Fuu mencoba mengalihkan pandangan dari pria tampan di depannya, namun itu tidak bisa merubah rona merah di pipinya. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang, ia bisa merasakan nafas pria itu. Mungkin jarak wajahnya dan wajah Densha hanya sekitar 5 cm.


"Kenapa Fuu? Kenapa kau mengalihkan pandanganmu dariku?"


"Fuu tidak mengalihkan pandangan!"


"Apa kau tidak berani menatapku?"


"Bu.. bukan, bukan begitu!" Fuu memberanikan diri untuk menatap mata Densha.


Jantung Fuu ingin meledak - Fuu.


"Bukan begitu??"


"Kenapa rumit sekali?!" Gerutu Fuu kesal.


"Haha, kau ini lucu sekali!"


"Lucu??"


"Tutup matamu!"


"Eh?? Ke.. kenapa?"


"Tutup saja!"


"Ba.. baik"


Fuu menutup kedua matanya, perlahan ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Sesuatu yang lembut dan hangat, karena terkejut Fuu memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Ia melihat Densha yang sedang memejamkan matanya, pria itu mencium bibir Fuu.


"Sudah ku bilang tutup matamu kan?!"


"Uhm.. baik!"


Cup!


Fuu suka saat Densha mencium Fuu.. - Fuu.


"Wah-wah sepertinya kau senang?"


"Fuu.. suka"


"Hah?! Dasar mesum!" Densha menepuk kepala Fuu pelan.


"Mesum?? Apa itu?"


"Sudahlah! Lupakan saja.. ayo pulang!" Densha menggandeng pergelangan tangan Fuu, senyum tipis terukir di wajah pria itu.


Apa itu mesum? - Fuu.


.


.


.


.


(Tata cara melakukan pendekatan terhadap seorang gadis menurut buku)


Ajak dia makan!


Pagi itu, Moa menelpon Mod.. dengan hati yang gugup ia memberanikan diri untuk mengajak Mod kencan, walaupun dia tidak bilang pada Mod bahwa ini kencan. Pria itu hanya bilang ingin menghabiskan akhir pekan bersama, sesuai kesepakatan Moa menjemput Mod di rumahnya lalu mereka pergi jalan-jalan di sekitar kota.


Kenapa canggung sekali.. - Moa.


"Umm.. apa kau lapar?"


"Tidak"


"Mau makan sesuatu?"


"Tidak"


Apa yang harus aku lakukan kalau dia cuma menjawab tidak?? - Moa.


"Kenapa kau tidak pergi dengan Densha?"


"Ah! Sepertinya Densha sedang bersama Fuu"


Begitu ya? Jadi aku hanya pengganti Densha di sini! - Mod.


Wajah Mod murung, ia berjalan sedikit menjauh dari Moa. Tentu Moa melihatnya, itu semakin membuat Moa takut untuk meneruskan aksi pendekatannya.


Baiklah! Akan aku coba sekali lagi!! - Moa.


"Yakin tidak ingin makan sesuatu?"


"Apa kau lapar??"


"Tidak juga sih!"


"Jika kau lapar, makan lah.. jangan pedulikan aku"


"Cih! Mana bisa seperti itu?"


"Kenapa tidak?"


"Aku ini pria sejati tau! Aku mengajakmu pergi, jadi semua kebutuhanmu satu hari ini aku yang tanggung!" Gerutu Moa kesal.


Eh?? Sejak kapan dia jadi begini? - Mod.


"Moa.." panggil Mod pelan.


"Apa?!"


"Baiklah! Aku ingin makan camilan"


Be.. Berhasil?? Yosh!! Akhirnya.. - Moa.


"Camilan ya? Emm.. bagaimana kalau cake?"


"Tidak mau! Terlalu banyak cream itu bisa membuatku gendut"


"Membuat gendut??"


"Iya, belum lagi jumlah kalori di base cake nya" jelas Mod tegas.


Terkadang aku tidak begitu paham apa yang di bicarakan para gadis.. - Moa.


"Ka.. Kalau begitu bagaimana dengan permen kapas?"


"Terlalu banyak gula"


Eh?? - Moa.


"Cumi bakar??"


"Terlalu berlemak"


"Ramen?"


"Aku bilang ingin camilan kan?"


"Oh iya! Aku lupa!!"


Ayo Moa berpikir lah.. - Moa.


"Aha! Bagaimana kalau kita ke restoran vegetarian?"


"Aku bukan vegetarian Moa"


"LALU KAU MAU MAKAN APA?!" Teriak Moa kencang, pria itu tengah frustrasi saat ini.


"Terserah Moa saja!"


Te.. Terserah katanya? Kalau begini aku bisa gila! - Moa.


"Aku rasa roh ku keluar dari tubuh" gerutu Moa pelan.


"Kau bilang apa?!"


"Tidak! Bukan apa-apa.."


"Ng.."


"Baiklah! Ayo ikut aku" Moa menggandeng Mod dengan erat, ia menuntun langkah gadis itu menuju suatu kedai, ia memasuki kedai itu dan memesan menu disana.


"Es krim?" Tanya Mod heran.


"Kau bilang terserah aku kan?"


"Benar juga!"


"Kenapa? Kau tidak suka?"


"Aku suka kok, tapi ini terlalu banyak porsinya untuk'ku"


"Makan saja sesuai porsi mu! Sisanya bisa kau tinggalkan di tempatnya"


"Tapi.. itu sama saja kau membuang uangmu"


"Kalau begitu habiskan!" Perintah Moa tegas.


"Kalau aku habiskan, ini akan membuatku gendut!!"


Ya Tuhan!! Apa semua gadis seperti ini?! - Moa.


"Dengar ya Mod, aku dari kecil sering makan Es krim dengan Densha.. Lihat?? Kami berdua tidak gendut!"


"Kau tidak mengerti, ini urusan perempuan"


"Tidak mengerti bagaimana? Memangnya kenapa kalau kau gendut?"


"Tentu itu akan merusak penampilanku kan? Sekarang saja aku sudah sebesar ini" omel Mod kesal.


"Hei, badanmu itu bagus!!"


"Apa?!"


Mata Moa membulat melihat reaksi buruk dari Mod, sepertinya Mod tidak senang dengan ucapan Moa.


"Dasar mesum!"


"Apa?!"


"Kenapa kau bilang badanku bagus?"


"Tapi badanmu memang bagus kan?"


"Moa!! Pikiranmu kotor sekali! Aku bukan Jennie yang selalu pamer badan"


"Ehh? Aku tidak bilang kau mirip Jennie"


"Moa menyebalkan!!"


Mod menghabiskan Es krim nya tanpa bicara pada Moa, wajah gadis itu tampak cemberut kesal. Ia tidak menatap Moa sama sekali.


"Kau sudah selesai?"


"...."


"Hei, aku bicara padamu Mod!"


"...."


Kenapa dia?? - Moa.


"Ayo pergi dari sini!" Moa berdiri dan menggandeng tangan Mod.


"Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!"


"Eh??"


Mod berjalan terlebih dahulu, di susul Moa di belakangnya. Moa nampak bingung dengan reaksi gadis di depannya ini. Perasaan Moa mengatakan bahwa ia tidak melakukan kesalahan apapun pada Mod, tapi kenapa reaksi gadis itu seperti ini.


(Tata cara melakukan pendekatan terhadap seorang gadis menurut buku)



Beri perhatian!



Moa mempercepat langkah kakinya agar mengimbangi jalan Mod, kini mereka berjalan beriringan.


"Hmm.. bagaimana cara memberi perhatian" gumam Moa pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


"Eh?? Tidak kok!"


Astaga! Bagaimana ini?! - Moa.


"Apa kau kedinginan?"


"Kau sudah gila ya? Cuaca sepanas ini kau bertanya padaku apa aku kedinginan?"


"Ah! Iya.. cuacanya panas. Hehe"


"Dasar bodoh!!"


Duh! Aku memang bodoh! - Moa.


"Emm.."


"Apa lagi?"


"Rambutmu indah"


"Benarkah?"


"Iya, sangat indah"


"Padahal pagi ini aku tidak menyisir rambutku sama sekali, dan aku belum mencuci rambutku tiga hari ini"


Jorok sekali.. - Moa mendelik karena terkejut dengan jawaban Mod.


"Ketahuan kan kalau kau sedang berbohong!" Sindir Mod ketus.


"Apa?! Aku tidak berbohong!"


"Moa bodoh!!"


"Hei, aku tidak bodoh!"


"Jangan bicara padaku!" Mod melangkah menjauhi Moa.


Aku ini kenapa sih? hiks.. hiks.. - Moa.


Moa mengejar Mod lagi, agar bisa berjalan di samping gadis itu.


"Cih! Kau ini cepat sekali jalannya"


"Kenapa?"


"Bagaimana kalau kau jatuh?"


Apa perhatianku akan berhasil? - Moa.


Mod menghentikan langkahnya, ia menatap Moa dengan penuh tanda tanya, gadis itu mendekatkan wajahnya pada Moa. Membuat Moa tersipu malu.


"Dengar ya? Aku sudah mulai berjalan dengan benar sejak usiaku dua tahun! Jadi aku tidak mungkin terjatuh"


"Apa?!"


"Hari ini kau aneh sekali Moa, sekali lagi bersikap bodoh! Aku akan menghajar mu!" Ancam Mod tegas.


Aku aneh?? - Moa.


(Tata cara melakukan pendekatan terhadap seorang gadis menurut buku)



Beri pelukan!



Moa memikirkan buku panduan yang ia pinjam dari Densha. Ia bingung, bagaimana cara memberi pelukan pada Mod dalam situasi seperti ini? Pria itu mengacak-acak rambutnya sendiri, ia tidak pernah berpikir akan sesulit ini mengajak seorang gadis pergi kencan.


"Kita mau kemana lagi?"


"Eh?? Uhm.. kemana ya? Kau mau kemana?"


"Aku tidak ada rencana kemanapun Moa"


Apa pergi ke bioskop ya? Menonton film horor, mungkin Mod akan memelukku karena takut.. Hahaha - Moa.


"Mau nonton?"


"Nonton??"


"Ya, nonton film"


"Boleh, aku sudah lama tidak ke bioskop"


"Baiklah! Aku yang akan pilih film nya ya?"


"Uhm, biar aku yang bayar tiketnya"


"Apa?! Tidak boleh! Bukan kah aku sudah bilang, aku yang akan menanggung biaya hidupmu hari ini"


Mod tersenyum tulus pada Moa, ini pertama kalinya dalam hidup Mod ada pria yang dengan gigih menolak untuk di ajak patungan.


Nah! Kalau tersenyum begitu kan kau jadi semakin cantik.. - Moa.


Di dalam gedung bioskop.


"Aakkhhh! Aaaakkkhh!"


"Apa itu?! Astaga! Menjauh lah dari sana!"


"Aaaakkkhh! Tidak! Tidak!"


Mod menggenggam erat tangan Moa, berusaha menenangkan pria di sampingnya itu.


"Moa tenanglah! Ini hanya film"


"Astaga! Lihat hantunya muncul!!"


"Moa.." bujuk Mod pelan.


"GYYAAHHH!!" Teriak Moa keras.


Keluar dari gedung teater, wajah Moa sangat pucat. Pria itu lemas dan duduk bersandar di dinding-dinding gedung bioskop. Matanya sama sekali tidak berkedip, wajahnya nampak berantakan saat ini.


"Tunggu di sini! Aku akan beli air" ucap Mod pelan.


Mod pergi meninggalkan Moa yang tengah ketakutan, ia membelikan Moa sebotol air mineral dingin. Saat kembali menemui Moa, ia melihat Moa yang sedang berbaring di kursi tunggu. Mata pria itu terpejam.


"Astaga! Apa Moa pingsan??" Karena terkejut Mod dengan cepat berlari menghampiri Moa, gadis itu menepuk-nepuk pipi Moa lembut.


"Moa??"


"Hmm???" Jawab Moa dengan mata yang masih tertutup.


"Ya Tuhan! Aku pikir kau pingsan!"


"Kenapa aku harus pingsan?"


"Yah, mungkin kau kehabisan tenaga karena berteriak sekencang itu di dalam sana. Hahaha" ledek Mod, gadis itu tertawa lepas mengingat reaksi Moa saat menonton film.


Cih! Sial! Bisa-bisanya aku lupa bahwa aku takut hantu!! - Moa.


"Hei, kenapa menutup matamu? Ini aku belikan air, minumlah"


"Tidak, aku baik-baik saja!" Moa menerima sebotol air yang di berikan oleh Mod, lalu meminumnya.


"Apa kau malu?" Goda Mod antusias.


"Berisik!" Wajah Moa bersemu merah.


"Hahaha, jadi benar ya? Kau malu?"


"Diam Mod!"


"Hahaha"


"Aku bilang diam!"


"Kau lucu sekali! Haha"


Ck! Memalukan.. - Moa.


"Ayo pulang!" Mod menggandeng tangan Moa pelan.


Eh?? Dia menggandengku duluan? - Moa.


Perlahan Moa membuka matanya, ia tidak berani menatap Mod gadis yang di sukai nya. Ia hanya menerima genggaman tangan Mod di tangannya, sepanjang perjalanan pulang Mod tidak berhenti untuk menggoda Moa.


"Sudah sampai.."


"Baiklah! Terima kasih untuk hari ini Moa" ucap Mod dan tersenyum.


"Tidak masalah! Kalau begitu aku pamit untuk pulang"


"Eh?? Tidak mau mampir??"


"Ehm, tidak usah! Kau pasti ingin langsung istirahat kan?"


"Yahh, aku tidak akan bisa istirahat jika ingat ekspresimu di bioskop tadi!"


"Mod! Jangan menggodaku!"


"Hahaha.. Moa si penakut!"


"Berisik!"


"Emm.. yakin tidak mau aku ganti semua uangmu?"


"Tidak usah! Sudah kewajiban'ku sebagai pria melakukan itu. Hehe"


"Baiklah! Sampai jumpa.. dan terima kasih" Mod melambaikan tangan ke arah Moa, lambaian tangannya di sambut oleh Moa. Pria itu berjalan pergi meninggalkan halaman rumah Mod.


"Haahhh.. aku tidak punya kesempatan untuk terlihat keren di depannya!" Ucap Moa kesal, ia menghela nafas panjang.


BRUK!


Moa menabrak seseorang di depannya, orang itu jatuh tersungkur di depan Moa. Merasa bersalah, akhirnya Moa membantu orang itu berdiri.


"Anda baik-baik saja?"


"Ah! Terima kasih!" Ucap orang itu dan meraih uluran tangan Moa.


"Ellis??"


"Moa?? Kenapa kau di sekitar sini?"


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu" sindir Moa kesal.


"Ah! Rumah temanku di sekitar sini"


"Rumah teman mu? Apa ayahku tahu hal ini??"


"Tidak! Kenapa ayahmu harus tau?"


"Bau apa ini? Kau habis mabuk-mabuk'an??" Moa refleks menutup hidungnya, bau alkohol dari mulut Ellis begitu kuat.


"Ck! Anak kecil tahu apa sih?!" Protes Ellis ketus.


"Ini sebabnya aku tidak pernah menyukaimu!"


"Eh? Kenapa? Aku cuma butuh ayahmu yang menyukaiku bukannya dirimu bocah!"


"Katakan padaku! Apa kau sungguh mencintai ayahku?"


"Moa sayang.. Aku wanita dewasa, cinta sudah tidak cocok untukku! Aku menyukai uang yang di berikan ayahmu"


"Wanita brengsek!! Beraninya kau!"


"Ssstt.." Ellis menyentuh bibir Moa dengan jari telunjuknya.


"Jauhkan tangan kotormu dariku!" Moa menepis jari Ellis dengan kuat.


"Astaga! Apa seperti itu caramu memperlakukan calon ibumu?"


"Dengar ya? Aku tidak sudi punya ibu sepertimu!!"


"Terserah! Sampai jumpa sayang.."


Ellis menyentuh pipi Moa lembut, tapi Moa menghindarinya. Wanita itu pergi melewati jalan yang berlainan arah dengan Moa. Sebenarnya Moa ingin sekali mengikuti Ellis, tapi ia juga tidak ingin mengambil resiko yang akan terjadi selanjutnya. Jadi Moa hanya memperhatikan Ellis sampai wanita itu hilang di ujung gang.


"Kenapa ayah bisa mencintai wanita seperti itu?" Gumam Moa heran.


Bersambung!


Jika kalian menyukai Novel ini! Mohon dukungannya untuk Like ❤️, Komentar 👇 dan Vote. Beri rating juga ya? Dukungan kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih.. 😉😘