
"Ini...." Gumam Fuu pelan.
Mata Fuu berkaca-kaca memandangi ruangan bawah tanah yang penuh dengan debu dan terawat, ia mengingat betul tempat apakah ini. Gadis itu berlari menuju sebuah aquarium besar yang telah kosong dan di penuhi oleh sarang laba-laba.
Tangan mungil Fuu mengusap cermin aquarium dengan lembut, tentu saja gadis itu merasakan tebalnya lapisan debu yang menempel pada kaca itu. Ia (Fuu) merasakan rasa sakit yang luar biasa pada dadanya, terasa sesak dan begitu menyakitkan.
"Kau tahu tempat apa ini?" Densha berjalan mendekati Fuu dari belakang.
"Iya... Fuu ingat tempat ini..."
Fuu melangkahkan kakinya menapaki anak tangga yang berjejer di samping aquarium untuk mencapai bagian atas atau pintu masuk dirinya dulu di dalam aquarium.
"Hei, awas jatuh! Di dalam sana tidak ada airnya"
Fuu menoleh menatap Densha dengan sayu, dengan cepat gadis itu berlari dari tempatnya berdiri lalu memeluk Densha dengan erat.
"Oh, ada apa ini??"
".........."
"Kau baik-baik saja? Hei, Fuu??"
"Hiks... Hiks... Hiks..."
"Lho??"
Apa aku salah membawanya ke tempat ini?? - Densha.
Fuu semakin mempererat pelukannya pada tubuh pria itu, ia menangis tersedu-sedu tanpa henti. Kaos Densha pun sampai basah di buatnya.
"Ada apa sih?"
"Tidak tahu! Tiba-tiba Fuu ingin menangis"
"Apa ada sesuatu hal yang buruk pernah terjadi disini??"
Benar! Densha kan belum tahu keseluruhan ceritanya!! - Fuu.
"Anu..." Fuu melepas pelukannya, gadis itu memundurkan tubuhnya dua langkah dari Densha.
"Apa??"
"Fuu... Fuu ingin mengakui sesuatu"
"Mengakui??"
"Mengenai orang tua Densha..." Ucap Fuu lirih.
"Kenapa dengan orangtua ku?"
Fuu membuka mulutnya untuk menceritakan semua hal yang ia alami di masa lalu, dari kelahirannya di tempat ini hingga misteri kematian tuan dan nyonya Mikaelson yang terbunuh secara tragis di depan matanya.
Tak lupa Fuu juga mengatakan bahwa Isabella sudah mengetahui hal ini, Fuu juga meminta maaf karena tidak menceritakan hal ini pada Densha dari dulu padahal Densha sudah mengetahui identitas Fuu yang sebenarnya.
"Maafkan Fuu..."
"........"
Densha mengepalkan kedua tangannya erat, pria itu menghela nafas berat dan membuang muka ke arah lain. Ia melangkahkan kakinya mendekati Fuu, membuat Fuu panik ketakutan.
"Anu... Tidak masalah jika Densha ingin marah... Tapi..."
Hug!
Densha memeluk Fuu erat, bahkan pria itu mencium kening Fuu dengan lembut. Membuat Fuu bingung menghadapi reaksi Densha yang diluar bayangan Fuu. Pria itu menatap mata Fuu lekat-lekat dengan kedua mata indahnya itu.
"Densha... Fuu... Itu..."
"Yang mereka lakukan benar!"
"Eh?"
"Seorang anak kecil berusia tiga tahun tidak akan mampu menerima cerita itu dengan baik! Tapi..." Densha menghela nafas pelan.
"Seorang remaja berumur delapan belas tahun, akan mengerti bahwa yang mereka lakukan adalah tindakan yang benar!" Imbuh Densha dengan suara yang terdengar tercekat.
Pria itu (Densha) memeluk Fuu semakin erat, hatinya sakit benar-benar sakit. Selama ini ia selalu membenci kedua orangtuanya yang mati begitu cepat, tapi Densha juga tidak terlalu menyalahkan Fuu akan kejadian ini. Semua ini sudah takdir begitu pikirnya, malahan ia akan benar-benar membenci kedua orangtuanya jika menyerahkan Fuu pada seseorang bernama David itu.
Fuu membalas pelukan Densha dengan murung, gadis itu mengusap punggung Densha dengan lembut. Ia tahu bahwa saat ini Densha sedang menangis tanpa suara di dalam pelukannya.
Densha... Menangis... - Fuu.
"Nah! Sekarang mari kita bersihkan tempat ini!"
Densha mengusap kedua matanya dengan lembut, pria itu tertawa riang memandang Fuu. Sebenarnya mata dan hidung Densha masih terlihat merah, terlihat jelas bahwa ia habis menangis.
"Kenapa melihatku begitu?"
"Tidak! Bukan apa-apa..."
"Halah! Aku tampan kan??" Goda Densha senang.
Fuu memandang Densha dengan sudut matanya, ia tertawa kecil lalu berjalan meninggalkan Densha dan membersihkan bekas meja kerja nyonya Mikaelson.
"Cih! Kebiasaan, kalau ada orang bertanya itu di jawab!"
"Iya, Densha tetap tampan walaupun sedang menangis" Fuu tersenyum lebar memandang Densha.
"Menangis?? Siapa??"
"Tentu saja Densha, Fuu tahu kok!"
"Dih! Siapa juga yang menangis? Saking banyaknya debu di tempat ini mataku sampai berair tahu!"
"Eh? Benarkah? Jadi Fuu salah paham?"
"Maaf... Fuu tidak tahu"
"Ya sudahlah, aku mau ambil sapu dan kain lap dulu di atas"
"Okay, baik!"
Densha pergi meninggalkan Fuu untuk mengambil beberapa alat kebersihan di lantai atas (posisi gudang di bawah tanah/basemen) ia juga mengambil dua minuman kaleng untuk dirinya dan Fuu.
Fuu terlihat begitu rajin membersihkan ruang kerja nyonya Mikaelson, bagaimanapun juga di tempat inilah Fuu dilahirkan. Terlalu banyak kenangan yang walaupun sebentar, terjadi di tempat ini.
"Haahh..." Fuu mengelap dahinya yang penuh dengan keringat.
Densha sibuk mengelap cermin aquarium hingga bersih, pria itu hanya membersihkan bagian luar aquarium saja. Ia tidak bisa masuk ke dalam aquarium, jika ia bisa masuk maka Densha tidak akan pernah bisa keluar. Tidak ada tangga untuk keluar dari dalam sana.
"Hei, Fuu!!"
"Apa?"
"Bagaimana cara membersihkan bagian dalam aquarium ini?" Densha menunjuk aquarium di depannya.
"Hmm..." Fuu menyentuh pipinya sendiri dengan tangan yang penuh debu tebal.
"Hei, pipimu kotor tuh!!"
"Ah! Fuu tidak ingat kalau tangan Fuu kotor"
"Cih! Ceroboh sekali..." Dengus Densha kesal.
"Maaf..."
"Jadi... Bagaimana cara masuk ke dalam sana! Oh tidak, maksudku aku tahu aku bisa masuk ke sana, lalu bagaimana caraku keluar??"
"Jalan satu-satunya untuk keluar adalah mengisi tempat itu dengan air, jadi Densha bisa berenang ke permukaan toples itu" ucap Fuu manggut-manggut.
"Toples??"
"Iya, ruang kaca itu!" Fuu menunjuk aquarium di depan Densha.
"Ya Tuhan!" Densha menggelengkan kepala pelan menatap Fuu.
"Apa?"
"Hei, ini namanya aquarium! Ingat di kepalamu dengan benar A Q U A R I U M" maki Densha kesal.
"Aqua??"
"AQUARIUM!!" jelas Densha.
"Hehe, aquarium! Begitu kan??"
"Gadis pintar!" Puji Densha senang.
Densha berjalan memandangi aquarium besar di depannya, melihat sambungan pipa-pipa yang mengitari aquarium. Mencoba mencari tahu bagaimana sistem air pada aquarium ini bekerja.
"Hei, bagaimana cara mengisi air pada toples besar ini!"
"Toples?? Kata Densha nama tempat itu aquarium?" Fuu menggembungkan sebelah pipinya kesal.
"Ah! Maaf... Terlalu lama dekat denganmu, aku jadi sama bodohnya denganmu!" Sindir Densha ketus.
"Fuu kan tidak sebodoh itu..."
"Hahaha, iya-iya... Jadi... Apa kau tahu bagaimana cara mengisi aquarium ini dengan air??"
"Untuk apa?"
"Tentu saja untuk membersihkan bagian dalamnya"
"Fuu tidak tahu soal itu..."
"Kalau begitu kita biarkan saja bagian dalamnya. Bersihkan yang bisa di bersihkan dan tinggalkan yang sulit di bersihkan!" Perintah Densha tegas.
"Okay, baik!"
Yah... Sore itu adalah hari bersih-bersih bagi Densha dan Fuu, walaupun hanya membersihkan basemen saja namun karena tempat itu luas. Mereka memerlukan waktu yang sangat panjang untuk membersihkannya.
~BEBERAPA JAM KEMUDIAN~
"Astaga! Lelah sekali aku..."
Densha membanting kain lap dengan kasar, ia mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Pria itu beralih menatap Fuu yang masih sibuk membersihkan debu di dinding-dinding ruangan itu.
"Hei, kita sudah terlalu lama disini... Ayo kembali ke atas! Aku lelah sekali..."
"Lelah darimana? Bukankah Densha hanya mengelap aquarium itu saja sedari tadi"
"Matamu buta ya? Aquarium ini besar banget tahu!" Ledek Densha kesal.
"Justru lebih besar ruangan ini ketimbang aquarium itu! Lihat... Fuu yang membersihkan semuanya"
Densha tersenyum malu memandang Fuu, ia akui bahwa Fuu yang mendapat tugas paling banyak dalam membersihkan ruangan itu. Karena sebenarnya Densha malas bersih-bersih.
"Oke-oke, tidak perlu marah begitu! Sebagai gantinya aku akan masakan ikan yang banyak deh!"
"Benarkah??" Fuu tersenyum lebar.
"Iya" jawab Densha datar.
Mereka berdua kembali ke lantai atas atau ruang utama keluarga Mikaelson untuk membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam.
Bersambung!
Halo, Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa Like, vote, rating, favorit dan follow ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏