Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Collin's (2)




Moa menatap mata gadis di sampingnya lekat-lekat, ia menunggu gadis itu mengatakan sesuatu.


"Namaku...."


"Kenapa ragu begitu?"


"Ah! Maaf... Aku hanya gugup"


Sial! Aku harus bilang apa? - batin si gadis.


"Tinggal sebut nama doang apa susahnya? Memangnya ada hukuman khusus untuk Hybrid ya jika menyebutkan namanya?"


"Tidak, bukan begitu..."


"Lalu?"


"Oke-oke, namaku Leah! Puas??" Gadis itu menatap Moa dengan tajam, berharap Moa percaya kata-katanya.


"Leah?? Nama yang bagus, nama keluargamu?"


Mati aku! - Leah.


"Anu... Itu..."


"Kau Hybrid kan? Jadi salah satu orang tuamu pasti manusia? Apa kau tidak memiliki nama keluarga?"


"Tentu! Tentu aku punya"


Leah melirik ke kiri dan ke kanan, ia mencoba mencari jawaban yang pas untuk Moa. Sebenarnya nama gadis itu bukanlah Leah, ia berbohong pada Moa. Ia tidak ingin dibikin repot jika harus menghapus ingatan Moa secara berulang-ulang.


"Namaku Leah Hanzel"


"Leah Hanzel??" Moa mengangkat sebelah alisnya curiga.


"Iya, apa nama itu tidak asing untukmu?"


"Ibunya temanku dari keluarga Hanzel juga! Apa kau salah satu dari mereka? Apa kau mengenal Densha Mikaelson?"


"Tidak, aku tidak mengenalnya!" Leah membuang muka ke arah lain, untuk menghindari pandangan Moa.


Jelas kau mengenalnya! Kau ini tidak pandai berbohong ya?? Baiklah... Aku ikuti permainanmu! - Moa.


"Baiklah... Leah ya? Berapa umurmu?"


"Kau ini banyak bertanya ya?"


"Dan kau banyak menghindari pertanyaan!"


"Aku... Aku tidak ingin menjawab pertanyaan'mu itu! Hanya saja... Aku rasa saat ini aku sepantaran dengan dirimu"


"Delapan belas tahun??"


"Hampir, hampir delapan belas" Leah tersenyum tulus pada Moa.


Moa memandangi Leah dari ujung kaki hingga ujung rambut, ia kagum dengan kecantikan Leah. Gadis itu benar-benar sempurna, seperti kombinasi dua makhluk terkeren di dunia.


"Apa temanmu banyak yang tahu soal Hybrid??" Tanya Leah penasaran.


"Yahh... Hanya aku, Densha, Mod dan Fuu"


"Mod?? Fuu??"


"Ah! Mod itu nama gadis yang aku sukai, dan Fuu adalah gadis yang disukai Densha. Sebenarnya dia adalah duyung, saat kau bertemu dengannya kau pasti akan langsung tahu!"


"Ah! Kau tahu banyak soal duyung ya?"


"Haha, itu karena aku sering bergaul dengan Fuu"


"Jadi... Mod itu pacarmu?" Leah tertawa menggoda Moa.


"Jika dia mendengar kau menyebutnya pacarku saat ini mungkin kita akan dihabisinya, haha"


"Eh? Kenapa? Kalian itu berjodoh loh..."


"Ck! Jangan menghiburku!" Moa terkekeh mendengar kalimat Leah.


"Tidak percaya? Bukankah aku pernah memberimu ramalan?"


"Kapan? Kenapa aku tidak ingat!"


Leah lupa bahwa ia sudah menghapus ingatan Moa saat pria itu mengajak Leah makan di kedai Es krim beberapa hari yang lalu.


"Ah! Maaf... Aku baru ingat, aku sudah menghapus ingatanmu waktu itu"


"Apa kau bisa mengembalikan semua ingatanku yang kau hapus?"


"Tentu saja!" Leah tersenyum memandang Moa.


"Maaf... Apa boleh aku menyentuh wajahmu?"


"Kalau memang begitu caranya, lakukan lah!" Perintah Moa tegas.


"Baiklah, tutup matamu!"


"Eh??"


"Lakukan saja! Tutup matamu dan bernafas perlahan" pinta Leah lembut.


Moa menuruti kemauan Leah, perlahan ia memejamkan kedua matanya. Pria itu menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya secara perlahan, tanpa ragu Leah menyentuh kedua pipi Moa, gadis itu juga memejamkan kedua matanya untuk memunculkan ingatan Moa.


"Hirup... Keluarkan..."


"Hirup... Keluarkan..."


Moa semakin larut di dalam pikirannya, ia seakan jatuh ke tempat yang jauh. Tempat yang sepertinya belum pernah ia kunjungi, di dalam pikirannya Moa melihat saat ia pertama kali bertemu Leah di kedai Es krim waktu itu.


"Ini... Ingatan yang waktu itu..." Gumam Moa pelan.


"Fokus Moa... Fokus..." Pinta Leah lembut.


Pria itu masih terus memejamkan mata, melihat banyak memori yang terhapus dan samar-samar ingatan itu kembali lagi, seperti ingatan yang terkunci dan sekarang kuncinya telah di buka oleh Leah, gadis Hybrid dengan kemampuan mengendalikan ingatan seseorang.


~Di dalam pikiran Moa~


Moa terbangun di sebuah tempat yang kosong, gelap dan terasa hampa. Perlahan ia mengucek kedua matanya, ia melihat sebuah cahaya kecil di ujung lorong kegelapan tersebut. Pria itu berjalan menuju cahaya yang seolah memanggilnya.


"Dimana aku??"


Moa menoleh ke kanan dan ke kiri, ia bahkan berbalik badan tapi tidak ada apapun disana. Ia fokus pada cahaya terang di ujung lorong dan semakin mempercepat langkah kakinya untuk menuju tempat itu.


Angin berhembus sayup-sayup, siapa saja akan merasa ngantuk jika di hadapkan dengan hembusan angin ini. Begitu tenang dan begitu lembut, Moa sudah berada di tengah hamparan rumput yang luas. Matahari begitu cerah bersinar di atas sana, suara deburan ombak terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Aku tak yakin pernah ke tempat ini..." Gumam Moa pelan.


Pria itu duduk menikmati hembusan angin yang membuatnya merasa ngantuk, tanpa sadar Moa sudah berada di posisi terbaiknya untuk tidur. Sebelum ia betul-betul memejamkan matanya, suara langkah kaki seseorang seolah mendekati dirinya.


"Duh! Bikin kaget saja" pekik Moa kesal.


Moa memandang gadis kecil bermata biru di depannya, umurnya sekitar empat atau lima tahun. Dia sangat cantik untuk ukuran anak-anak, apalagi saat ini gadis kecil itu memakai baju berwarna merah muda bermotif bunga. Moa tersenyum tulus pada anak itu, tapi anak itu malah berlari entah kemana.


"Lho?? Apa dia tidak melihatku??"


Moa berdiri dari tempatnya, ia mencari keberadaan gadis kecil bermata biru itu dan ingin meminta maaf karena telah membuat gadis itu takut. Dari kejauhan Moa mendengar suara seorang gadis yang sangat ia kenali.


"Tunggu aku! Kalian ini cepat sekali!"


"Ayo mama... Di sebelah sana ada bunga yang sangat cantik!" Ucap gadis kecil bermata biru, yang tadi Moa lihat.


Anak kecil itu... - Moa.


"Hahaha, perutmu sudah semakin membesar ya?? Jadinya langkahmu sedikit lambat!" Ujar seorang pria dewasa yang tiba-tiba muncul entah darimana.


Moa yang menyaksikan pemandangan itu merasa bingung dan kacau, ia sungguh tidak ingat memiliki ingatan seperti ini. Dan siapa keluarga ini? Pikiran Moa sudah kemana-mana, ia mengikuti keluarga bahagia itu dari belakang. Bahkan Moa sudah mengerti bahwa keluarga ini tidak bisa melihat kehadiran Moa saat ini.


Siapa mereka? - Moa.


"Sayang... Jangan lari-lari!" Pinta pria dewasa itu, ia mengejar putrinya dan menggendong gadis kecil itu lalu tertawa bersama.


Moa duduk di dekat wanita yang tengah hamil besar, atau lebih tepatnya istri pria dewasa yang ia lihat saat ini. Moa sama sekali tak dapat melihat, siapa wanita itu. Wajahnya di tutupi oleh rambut indahnya yang terkena hembusan angin. Bahkan kepala Moa sangat sulit untuk di gerakkan, ia hanya ingin tahu siapa keluarga ini.


"Moa???" Panggil wanita yang tengah hamil itu.


Eh?? Dia memanggilku? Dia tahu namaku?? - Moa.


"Ada apa sayang?? Apa kau ingin pulang?"


Apa?? Dia bukan bicara padaku? Tapi sama si pria dewasa itu!! Apa-apa'an ini?? - Moa.


Mata Moa membulat dengan lebar, ingin sekali ia menatap wanita di sampingnya namun tidak bisa. Ia hanya berhasil melihat sosok pria dewasa di depannya, pria itu berjalan mendekati dirinya sembari menggendong gadis kecil yang sangat cantik.


Ayah?? Itu... Ayahku?? - Moa.


"Iya... Aku sangat lelah Moa, aku ingin istirahat" ujar wanita itu.


Itu... Itu bukan ayahku! Pria itu aku! Dia adalah aku... - Moa.


Keringat dingin membasahi wajah Moa, ia begitu bingung. Kenapa ia bisa terjebak di dalam pikirannya sendiri, dan apa pula ingatan ini. Ia tidak pernah bermimpi seperti ini sekali pun, nafas Moa mulai tidak beraturan. Keluarga bahagia yang ia lihat menghilang secara misterius, kini Moa bisa menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke kanan dan ke kiri.


Moa bangkit dari tempat duduknya, ia berusaha mengejar keluarga kecil itu. Langkah Moa terhenti saat gadis kecil yang di gendong pria itu menatap Moa dengan tajam. Ia tersenyum dan melambaikan tangan mungilnya pada Moa.


Ya Tuhan! Dia bisa melihatku?? - Moa.


Bersambung!!


Halo, terima kasih sudah membaca 😘 jangan lupa Like, Komentar, Follow, Rating, Vote dan Favorit ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😊