
Mod menempelkan bibirnya pada bibir Moa, gadis itu memejamkan kedua matanya menunggu gerakan dari Moa. Pria itu terkejut setengah mati melihat reaksi Mod terhadapnya.
Ja... Jantungku!! - Moa.
Oke Moa... Tenang! Jangan panik! - Moa.
Moa membalas ciuman Mod di bibirnya dengan lembut, pria itu memeluk pinggang Mod yang ramping dan mendekatkan tubuh gadis itu pada dirinya.
Sial... Aku bisa melakukannya... Yippie... - Moa.
Pria berambut pirang itu memejamkan kedua matanya untuk lebih merasakan apa yang selama ini belum pernah ia rasakan.
Ciuman pertamaku! - batin Moa dan Mod secara bersamaan.
Moa memperdalam ciumannya di bibir Mod, pria itu benar-benar mempraktekkan apa yang ia tonton beberapa hari lalu di rumah Densha.
Merasa tidak kuat menahan nafasnya, Mod mendorong dada Moa dengan pelan. Wajah Mod benar-benar memerah seperti kepiting rebus, gadis itu menundukkan kepalanya berusaha menyembunyikan wajah super malunya dari Moa.
Merasa gadis yang dicintainya sedang tidak tenang, Moa meraih dagu Mod untuk menengadahkan kepala gadis itu. Ia menatap mata Mod dalam-dalam, pria berambut pirang itu tersenyum dengan sangat manis di depan wajah Mod.
"Jangan sungkan! Sekarang aku pacarmu kan??"
Tak menjawab pertanyaan Moa, gadis itu langsung memeluk tubuh Moa dengan erat. Ia tersenyum di balik punggung Moa, rupanya Mod tidak mampu menyembunyikan kebahagiannya dengan baik.
Aku senang sekali Moa... - Moa.
Jantung Moa semakin berdetak kencang, ia mendekatkan bibirnya di telinga Mod dan berbicara dengan sangat lirih di sana.
"Mau melanjutkannya di Valerie hotel?"
Ya Tuhan!! Aku seperti om-om berhidung belang!! Bunuh saja aku!! Bunuh sekarang juga!! Pliss - Moa.
Moa memang mengatakan kalimat itu, tapi hati dan pikirannya memberontak. Ia benar-benar malu telah melontarkan kalimat bodoh itu pada Mod, pria itu memerah tersipu malu, sangat malu.
"Mmm..." Mod menganggukkan kepala pelan namun tak menatap Moa.
Hah?? Di... Dia... Dia setuju?! Duh! Rasanya aku akan pingsan - Moa.
Entah bagaimana caranya, kedua makhluk berbeda gender itu sudah berada di depan Valerie hotel. Moa menyerahkan kunci mobilnya dan beberapa lembar uang tips pada pelayan hotel, ia melangkahkan kakinya dengan berat memasuki hotel mewah tersebut.
WTF!! Serius di hotel ini?? Bukankah ini terlalu berlebihan?? Kebanyakan temanku melakukannya di rumah sih sama pacarnya - Mod.
"Ja... Jangan takut!" Ucap Moa kaku, ia menggandeng tangan Mod untuk masuk ke hotel itu.
Tangan Moa bergetar!! Justru kau kan yang takut?? - pandangan mata Mod menatap Moa dengan tajam.
Kini mereka berdua sudah berdiri di depan pintu kamar yang sudah di pesan, tangan Moa seakan mati rasa saat menekan tombol password pintu hotel itu.
Sumpah! Seperti ikut uji nyali - Moa.
"Kau baik-baik saja Moa??" Mod menyentuh pundak Moa lembut.
"Ah... Aku... Aku tentu baik-baik saja!"
Bohong! Keringat dingin mengalir deras dari dahi Moa, bahkan kedua tangan pria itu bergetar pun terlihat oleh kedua mata Mod.
Kau bisa Moa, kau bisa! - Moa.
CEKLEK!!
(Pintu terbuka)
"Ya Tuhan! Pintunya terbuka..." Ceplos Moa karena kaget. "Ah... Maaf..."
Mod tersenyum kecil melihat Moa yang keceplosan, ia ragu untuk melangkahkan kakinya ke dalam kamar besar itu.
Moa memperhatikan kekasihnya yang nampak bingung, ia menghela nafas panjang dan meraih tangan kanan Mod lalu mengajak Mod masuk ke dalam ruangan tersebut. Entah kenapa Moa terkejut saat pintu hotel tertutup dengan sendirinya.
Eh?? Otomatis ya?? - Moa.
Mod mengedarkan pandangannya menatap ranjang tidur super besar di depan matanya, meja rias di bagian kiri dan pemandangan luar yang sangat cantik. Moa memang sengaja memilih kamar ini karena saran dari pengguna Gugel! Katanya pemandangan disini cukup romantis untuk pasangan.
Sekarang apa yang harus aku lakukan?? - Moa.
Mata Moa curi-curi pandang pada Mod, ia melirik pacarnya dengan bingung. Sesekali ia menengadahkan kepalanya ke atas menatap langit-langit kamar, Mod berjalan menyusuri kamar hotel dengan senang! Ini pertama kalinya ia menginap di hotel. Mata gadis itu terhenti saat melihat Moa berdiri diam mematung di depan pintu.
"Kenapa Moa??" Mod melangkahkan kakinya mendekati Moa.
"Aku... Aku... Aku..."
Sadar bahwa Moa sedang gugup, Mod lantas memeluk tubuh Moa erat. Ia mengusap punggung kekasihnya dengan lembut.
"Aku sangat menyayangimu Moa..."
Deg!
Seperti kejatuhan barbel di atas kepalanya, Moa mendadak pusing. Ia sangat bahagia mendengar Mod mengatakan kalimat itu, nafas Moa mulai tidak beraturan. Ia meraih kepala Mod dengan kedua tangannya dan mengarahkan bibir Mod pada bibirnya.
Ciuman demi ciuman ia berikan pada Mod, awalnya ciuman yang hangat lalu semakin lama ciuman itu semakin panas dan penuh dengan keinginan yang kuat.
Mod membalas ciuman Moa di bibirnya, ia sedikit membuka bibir indahnya agar Moa mampu menyusuri bagian dalam rongga mulut gadis itu.
Merasa sudah kepanasan, Moa menggendong tubuh Mod dengan mudahnya, namun mereka tak melepas ciuman panas di bibir mereka. Pria itu merebahkan tubuh Mod di atas ranjang tidur sedangkan kedua tangannya sibuk melepas jaket jeans yang ia kenakan.
Moa menghentikan ciumannya, ia dan Mod saling pandang dengan kebingungan. Mod menaikan sebelah alisnya, seolah bertanya 'Ada apa?' pada Moa.
"Kenapa di saat seperti ini, jaket ini susah sekali di lepas?" Moa masih berusaha melepas jaket jeans di tubuhnya.
"Kenapa kau memakai jaket kecil begitu??" Sindir Mod gemas.
"Agar badanku terlihat semakin bagus! Duh!! Daripada menertawakan aku, bisa bantuin gak?" Moa membentangkan kedua tangannya di depan Mod yang sudah terbaring di bawahnya.
Dengan senyum yang menawan, kedua tangan Mod meraih bahu Moa dan membantu pria itu melepas jaketnya. Gadis itu kembali menyusuri wajah Moa, mulai dari kening, pipi hingga bibir pria tampan itu.
Hal itu sukses! Membuat Moa bangkit lagi, ia melepas kaos yang ia kenakan. Memperlihatkan tubuhnya yang atletis karena rajin lari pagi, otot-otot di kedua tangan Moa sangat indah. Jika di perhatikan ukurannya lebih besar dari milik Densha.
Tanpa meminta ijin terlebih dahulu, Moa melepas dress yang digunakan oleh Mod. Wajah gadis itu memerah, namun ia tak menolak apapun yang dilakukan Moa. Pria itu mencium leher Mod dengan nafas yang memburu, membuat jantung Mod semakin berdegup kencang merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
"Moa... Ng..." Mod memejamkan kedua matanya, tangannya meraih wajah Moa agar pria itu melihat dirinya
"Ada apa??
"Anu... Kau sudah membawa itu kan?" Bisik Mod dengan suara yang sudah mulai serak.
"Itu?????" Moa memicingkan kedua matanya bingung, ia menengadahkan kepalanya. Matanya seolah menerawang jauh. "ITU????"
Moa melompat dari ranjang tidur, pria itu membenarkan tatanan rambutnya. Dan mengenakan kaosnya lagi, bahkan kaosnya sampai terbalik karena terburu-buru.
"Moa! Bajumu terbalik" Mod membalut tubuhnya sendiri dengan selimut tebal yang di sediakan hotel.
"Maafkan aku! Aku sungguh-sungguh minta maaf, itunya tertinggal di dalam mobil" Moa kembali mengenakan kaos nya yang sudah ia benarkan. "Aku akan segera kembali! Janji"
KLAP!!
Moa meninggalkan kamar dengan cepat, pria itu berlari terburu-buru melewati lorong-lorong hotel. Ia menuju parkiran mobil yang berada di lantai paling bawah.
"Bisa-bisanya tertinggal!!" Gerutu Moa kesal.
Mod menghela nafas panjang di dalam kamar hotel, ia nampak cemberut. Gadis cantik itu berdiri dan mengambil segelas air untuk minum, ia menyentuh bibirnya sendiri yang sudah di sentuh oleh Moa berulang kali.
Bibir Moa lembut sekali... - Mod.
Setelah meminum air yang ia tuang ke dalam gelas, kepala Mod terasa sangat berat. Gadis itu menyentuh kepalanya sendiri dengan kasar, ia meraih apapun yang bisa ia raih untuk pegangan.
Apa yang terjadi?? Pandanganku buram! - Mod.
Bruk!! (jatuh pingsan)
.
.
.
.
.
"Ng..."
Densha terbangun dari tidurnya, ia menggeliat dan menguap dengan lebar. Pria itu menggosok-gosok wajahnya sendiri dan berjalan menuju kamar tidurnya.
"Sudah berapa lama aku tidur? Kenapa badanku pegal semua??"
Densha memasuki kamar tidurnya, ia tak melihat Fuu di dalam sana. Ia beralih ke dapur dan kemanapun di dalam rumah itu untuk mencari Fuu namun tak ia temukan.
Merasa curiga, Densha melihat layar ponselnya. Matanya terbelalak kaget saat melihat jam dan tanggal yang tertera di ponsel miliknya.
"Apa ponsel ini rusak??" Gerutu Densha kesal.
"Aku tidur selama dua hari penuh??" Densha menekan nomor Isabella di ponselnya, ia berjalan keluar rumah. Tangannya meraih gagang pintu rumahnya. "Lho?? Kenapa tidak bisa di buka??"
Ceklek!
Ceklek!
Ceklek!
Sudah mencoba berulang kali Densha masih tidak berhasil membuka pintunya dari dalam, pria itu terkunci di dalam rumahnya sendiri. Dengan gemas ia menghubungi Isabella.
"KAU YANG MENGUNCIKU YA?? CEPAT BUKAIN!!"
Di ujung telepon, Isabella mendelik mendengar suara keponakannya yang sangat keras itu.
"BOCAH KEP*R*T!! TELEPON ORANG TUA TERIAK-TERIAK!!"
"Aku terkunci di dalam rumah, cepat datang kemari!"
"Mungkin kunci'mu di bawa Fuu"
"Tidak! Sudahlah cepat kemari! Firasatku buruk!! Jangan terkejut, tapi aku tertidur dua hari. Cepatlah kemari, sepertinya akan ada masalah"
Tut!
Densha mematikan ponselnya, ia mondar-mandir di balik pintu rumahnya sambil berharap semuanya akan baik-baik saja.
Bersambung!!
Berikan cinta kalian dengan cara Like, Follow, Favorit, Vote, Rating dan Komentar ya?? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih!! 😘🙏