Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Memori



Malam itu setelah keluarga Mikaelson makan malam bersama, Derick memutuskan untuk pergi ke kamarnya mengecek beberapa tugas kantor yang belum ia selesaikan. Sesaat Shanaz, istri cantik Derick membawa selembar foto. Wanita itu memasuki kamar, mengambil sebuah buku jurnal miliknya lalu menempelkan selembar foto yang ia bawa.


"Apa itu?"


"Buku jurnal penelitian ku"


"Itu foto Fuu?"


"Ya memang benar ini Fuu, aku ingin mulai membuat catatan tentang mereka"


"Untuk apa? Kau bahkan bisa melihat mereka sekarang juga!"


"Jika suatu saat tiba waktunya untuk melepas mereka kembali ke lautan, aku memerlukan ini sebagai bukti bahwa aku pernah melihat duyung"


"Dasar!! Kau selalu memikirkan masa depan ya??" Derick mengacak-acak rambut Shanaz gemas.


"Ya.. kalau bukan aku siapa lagi" Shanaz meletakkan buku jurnal itu ke meja nya.


"Ayo sini!!" Derick menyuruh istrinya agar segera naik ke tempat tidur, Shanaz menurutinya dan merebahkan diri di samping Derick.


"Peluk aku!"


"Apa sih!!"


"Cepat peluk aku"


Tok!


Tok!


Tok!


(bunyi pintu di ketuk)


"Mama.. Sudah tidur?"


"Eh? Itu suara Densha kan?" Shanaz melirik ke arah pintu.


"Iya, itu putra kita. Biarkan dia tidur disini ya?"


"Oke, aku juga kangen sekali"


Derick berdiri dari tempat tidur, ia membukakan pintu untuk putra semata wayangnya itu.


"Apa Densha menganggu?"


"Tidak, kamu bebas keluar masuk kamar ini sayang.." ucap Derick lembut, ia menggendong putranya. Anak itu memeluk ayahnya senang, ia tertawa riang. Matanya terfokus ke arah buku jurnal di atas meja.


"Pa, itu apa?" Densha menunjuk ke arah buku jurnal penelitian Shanaz.


"Itu buku milik mama"


"Apa Densha mau melihatnya?" Shanaz antusias dengan keingintahuan putranya.


"Memang boleh? Itu kan buku kerja mama"


"Kau ini masih kecil, tapi sudah bersikap dewasa seperti ini. Jangan segan-segan dan berbuat nakal lah"


Shanaz gemas hingga ia mencium pipi Densha berulang-ulang. Wanita itu mengambil buku jurnal yang ia letakkan di meja, lalu menghampiri Derick dan Densha yang sudah duduk di atas tempat tidur.


"Ini sayang.. Lihatlah" Shanaz menyerahkan buku itu kepada Putranya. Dengan semangat Densha membuka buku itu perlahan-lahan, namun ia tidak mengerti apa saja yang tertulis di sana. Dia tidak bisa membaca tulisan dokter.


"Densha tidak mengerti ma..."


"Jelas kau tidak mengerti, ini buku penelitian mama. Tulisannya memang seadanya hehe"


"Ini ikan apa?" Tunjuk Densha di gambar nona duyung.


"Itu putri duyung"


Densha terdiam sejenak, anak kecil itu mencoba berpikir. Ia mengamati setiap foto di buku itu.


"Apa mereka nyata?"


"Tentu saja, jika tidak. Bagaimana mungkin mama bisa mengambil foto mereka"


"Putri duyung hanya dongeng, mama"


"Mereka sungguh ada, ini lihatlah.. ini anaknya" Shanaz membalik halaman di buku itu dan menunjukkan foto duyung kecil.


"Wajahnya buruk sekali" Densha meledek foto-foto itu.


"Eh? Ini cantik.. coba kau amati dengan benar"


"Tapi.. tubuh mereka aneh, banyak duri di sana-sini. Dan sedikit menjijikan"


"Sayang.. kau harus berbuat baik pada setiap makhluk di bumi ini ya?"


"Kenapa? Bagaimana kalau mereka jahat?"


"Tidak.. Mereka baik sekali, jika mereka kesusahan kau harus menolongnya"


"Menolong??"


"Iya, seperti mama dan papa. Kau ingat waktu kita jalan-jalan di pantai tadi pagi? Ingat tidak waktu mama mengendap-endap mencari sesuatu di balik pohon?"


"Iya. Densha ingat"


"Itu pertama kalinya mama menemukan duyung, kau harus percaya kalau mereka itu ada. Mengerti??"


"Densha mengerti" anak kecil itu mengangguk pelan.


Eh? Dimana aku? Itu.. itu bukannya aku? Dan mereka.. bukankah mereka itu Papa dan Mamaku?


Kenapa aku bisa berpindah secepat ini? Dan kenapa aku melihat diriku sendiri saat masih kecil? Apa yang terjadi.. Eh.. mau kemana lagi?


Tunggu! Bukannya itu aku? Kenapa aku menangis? Apa yang sedang aku lihat? - Densha


Pria itu mendekati anak kecil yang sedang mengintip ke arah ruang tamu, mengintip Isabella yang tengah berbicara serius, ia terkejut mendapati Isabella menangis tersedu-sedu.


"Saya.. Saya tidak sanggup mengurus perusahaan seorang diri"


"Tapi.. nona muda harus menjalankannya, setelah kematian tuan Derick.. ahli waris sesungguhnya adalah Tuan muda Densha, namun karena kondisi yang tidak memungkinkan dan umurnya yang masih terlalu kecil. Untuk sementara nona yang harus mengurus semua ini"


"Kau tidak lihat? Aku sedang berduka atas kematian kakakku yang sangat misterius itu?! Kenapa kau membicarakan hal ini?!"


"Saya mohon maaf nona, tapi begitulah isi wasiat yang di buat oleh Tuan Derick, bahwa saya harus segera mengurus ahli waris atau walinya jika Tuan Derick meninggal dunia. Dan saya harus segera menyelesaikan ini semua agar tidak terjadi konflik dalam keluarga cabang"


"Bisa tinggalkan aku sendiri? Aku janji.. besok aku akan menemui mu, untuk membahas hal ini"


"Baik nona, dan... nona jangan khawatir kami akan membimbing nona dengan baik, bagaimanapun juga semua karyawan sangat menyayangi Tuan Derick" Pria itu membungkukkan badan memberi hormat, lalu pergi meninggalkan rumah keluarga Mikaelson.


Ini.. yang waktu itu kan? - Densha.


"Hiks.. hiks.. hiks.." anak kecil itu menutup wajahnya rapat-rapat di sudut ruangan, ia tidak berhenti menangis. Dan terus memanggil nama kedua orang tuanya.


Aku.. hampir lupa akan ingatan ini? Terlalu menyakitkan saat aku tahu dengan telingaku sendiri bahwa kedua orangtuaku meninggal secara misterius. Bahkan sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana itu bisa terjadi.. - Densha.


"Densha??"


"Eh?"


"Densha?? Kau baik-baik saja?"


"Siapa yang berbicara padaku? Apa bibi sedang bicara pada anak kecil itu?"


"Aku memanggilmu... kau Densha kan?"


"Tunggu siapa itu?" Densha celingak-celinguk mencari suara yang sedang berbicara padanya.


Pria itu menoleh ke arah belakang, tempat suara itu muncul. Betapa terkejutnya dia saat menemukan sesosok orang yang ia kenal.


"Pa.. pa.. papa?? Itu kau??"


"Haha, kau sudah besar ya? Lihat dirimu! Kau mewarisi ketampanan ayah, haha..."


"Kau... kenapa kau masih bisa tertawa?" Mata Densha bergetar, matanya berkaca-kaca. Ini pertama kalinya ia bisa bicara dengan orang tuanya setelah sekian lama.


"Ah! Maaf.. aku hanya terlalu senang saja" Derick mendekati putranya.


"Jangan mendekat!! Kau tidak nyata!!"


"Lihatlah.. tinggi tubuh kita sama, aku sudah pernah membayangkan saat kau besar nanti kau akan jadi pria tampan sepertiku. Dan aku benar! Haha, Shanaz pasti senang mengetahui hal ini"


"Shanaz?"


"Ibumu.. apa kau lupa? Ibumu yang cantik itu! Kau sangat sempurna. Memang sih itu semua tidak lepas dari ketampanan papa dan kecantikan mama, haha"


"Sial! Berhenti tertawa!!"


"Dasar!! Bocah ini berani melawan ya? Kau mewarisi sifat ibumu yang keras kepala dan suka membantah ya?!"


"Berisik!! Aku tidak mau dengar!!" Densha menutup kedua telinganya.


"Hei nak! Dengarkan aku..."


"Tidak!!"


"Aku dan Shanaz, selalu menyayangimu.." ucap Derick lembut, sosok pria itu lalu hilang entah kemana.


"Eh? Pa.. pa.. papa?" Air mata Densha mengalir, ia berlari ke seluruh rumah mencari-cari keberadaan papanya namun tidak ia temukan. Pria itu menangis sedih.


"Sial! Papa?? Dimana kau??" Densha mengedarkan pandangan untuk mencari papanya. "Papa.. Hoi.. kau dengar aku?"


"PAPA?!" teriak Densha.


Cih! Sial!! Jangan bercanda?! - Densha.


"PAPA?!" Teriak Densha kencang, membuat pria itu kaget sendiri dan terbangun dari tidurnya. Jantungnya berdegup kencang, badannya penuh dengan keringat, padahal di kamarnya sudah terpasang AC.


"Ha.. hanya mimpi?" Densha menarik kakinya, ia memeluk lututnya sendiri.


Kenapa ingatan itu muncul lagi? Mama.. papa.. maafkan aku yang selama ini menolak untuk mengingat kalian. Aku ini anak yang buruk - Densha.


"Densha??"


"Ah! Hai Fuu..."


"Fuu sudah menyiapkan sarapan"


"Eh? Kau?? Memang bisa??"


"Fuu menemukan ini..." Fuu menunjukkan sebuah buku pada Densha.


"Cara agar jadi istri yang baik?? Astaga! Kau menemukan buku ini dimana??"


"Fuu menemukannya di rak buku ruang tamu"


"Kenapa kau baca itu?"


"Karena Fuu ingin jadi Istri yang baik. Tapi..."


"Apa?"


"Istri itu apa?"


"Bodoh!! Kau membaca tapi tidak tahu maksudnya?! Istri itu pasangan dari suami, jika pria dan wanita sudah menikah dan tinggal dalam satu rumah. Si pria akan di sebut suami dan si wanita akan di sebut istri"


"Jadi.. Fuu adalah Istri Densha? Karena Fuu dan Densha tinggal satu rumah"


"Ya Tuhan! Fuu.. ini masih pagi. Jangan membuatku bingung"


"Densha yang membuat Fuu bingung"


Oh Tuhan.. gapai lah hidupku! - Densha.


"Sana pergi! Eh.. maksudku keluar dari kamarku, aku mau bersiap-siap ke sekolah"


"Okay, baik. Fuu akan menunggu Densha"


Fuu meninggalkan kamar Densha, pria itu berdiri dan menata tempat tidurnya sebentar, ia mengambil seragam sekolahnya dan menuju ke kamar mandi. Sesaat ia berhenti, pandangannya tertuju pada sebuah buku di dalam tas Isabella yang tengah terbuka.


"Eh?"


Kalau tidak salah buku itu kan?? - Densha.


Mata pria itu membulat, ia baru paham bahwa buku itu sama persis dengan buku yang ada di mimpinya, bukan... bukan mimpi, lebih tepatnya memori yang hilang. Yang sengaja ia lupakan.


"Benar! Ini buku itu" Densha duduk di sofa kecil kamarnya, ia membuka buku itu dengan tangannya yang gemetar, jantung pria itu juga berdebar tidak karuan.


Astaga! Astaga! Astaga! Apa ini benar? - batin Densha.


Ia membalik setiap halaman di buku itu, melihat setiap foto yang tertempel disana. Dulu waktu ia masih kecil Densha tidak bisa membaca tulisan di buku itu, namun sekarang ia mulai memahami apa yang tertulis di buku jurnal milik ibunya.


"Fuu?" Matanya membulat, membaca tulisan di atas selembar foto duyung kecil yang menempel di buku itu.


Ya Tuhan?? Jadi Fuu.. Bagaimana bisa?? - Densha.


Pria itu mengingat semua kenangan saat Fuu pertama kali ia bawa ke rumahnya, dari Fuu yang tidak bisa berbicara, tidak mengenakan pakaian, sering kehilangan bajunya setelah dari laut, suka makan ikan mentah, tidak suka makan apapun selain ikan, sering bertanya setiap kalimat atau kata yang tidak Fuu pahami, cara jalannya yang aneh waktu itu, tingkahnya yang polos, senyuman dan tawanya yang tulus untuk Densha, dan luka di tubuhnya yang cepat sembuh dalam hitungan jam. Mata Densha bergetar saking tidak percayanya, ia telah melupakan kenyataan bahwa kedua orangtuanya percaya duyung itu ada. Densha memasukkan buku itu kembali ke dalam tas Isabella, ia berjalan sambil melamun menuju kamar mandi kamarnya. Pria itu masih berusaha mencerna semua kenyataan yang ia temukan saat ini.


Ingatannya sedang berpikir keras, kilas balik akan Fuu terngiang di dalam pikirannya.


Ini.. Fuu.. bukan nona..


Den.. Sha..


Bagaimana cara memakai ini?


Fuu lapar..


Densha cantik.


Densha? Apa itu imut?


Apa Fuu pacar Densha?


Huwek! Fuu tidak suka ini.


Maafkan Fuu..


Suara Fuu terbayang-bayang di dalam kepala Densha, ia betul-betul mengingat kata-kata yang di ucapkan Fuu selama gadis itu tinggal bersamanya.


Fuu.. apa benar kau duyung kecil itu? - Densha.


Pria itu menyalakan shower dan membasahi kepalanya, untuk mendinginkan kepala yang saat ini tengah panas gara-gara berusaha mengingat seluruh kejadian yang ia alami.


"Aku tidak akan percaya, sebelum aku melihatnya sendiri! Tapi apa yang harus aku lakukan setelah tahu bahwa dia adalah putri duyung?"


"Aisshh!! Sial.. sial.. aku tidak bisa berpikir dengan benar saat ini"


Apa yang harus aku lakukan? - Densha.


Bersambung!!


Berikan Cinta kalian dengan cara Like, Komentar, Follow, Favorit, Vote dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya 😘🙏 Terima kasih...