Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Pulang ke rumah.



"Apa benar Fuu boleh berdandan seperti ini?"


"Tentu saja! Memangnya siapa yang akan memarahi mu? Aku yakin akan banyak pria yang memperhatikanmu!" Ucap Mod yang begitu antusias dengan penampilan berbeda dari Fuu.


Bersamaan dengan itu, Jennie memasuki ruang kelasnya. Ia mendapati Mod dan Fuu tengah berbicara bersama. Jennie tidak melepaskan pandangannya pada Fuu sejak ia melangkahkan kaki memasuki ruang kelasnya.


Cantik sekali.. - Jennie.


"Selamat pagi kalian.." sapa Jennie dengan senyum terbaiknya.


"Pagi" Mod menjawab dengan wajah kecut tanpa menatap Jennie.


"Selamat pagi Jennie.." jawab Fuu dengan lambaian tangannya.


"Kau cantik sekali, yaahh.. walaupun tidak secantik aku sih!"


"Benarkah? Jadi Fuu terlihat cantik?"


Apa-apa'an cara bicara nya ini?! - Jennie.


"Yahh, begitulah.. tapi itu tidak akan merubah apapun! Kau dan aku beda kelas"


"Fuu dan Jennie memang beda kelas kan? Fuu di sana! Dan Jennie di sini" jawaban Fuu yang polos itu membuat Mod terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Kau ini berasal darimana? Aku tidak pernah bertemu gadis sebodoh kau sebelum ini?"


"Fuu tidak bodoh!"


"Jelas sekali kau ini bodoh!" Jennie menatap Fuu dingin, gadis itu mendengus kesal dan berjalan menuju tempat duduknya.


"Haha, kau keren Fuu!" Puji Mod setengah berbisik.


"Keren?? Apa itu??"


Ya Tuhan! Aku lupa dengan siapa aku bicara! - Mod.


"Ng.. Keren itu.. bagus!"


"Umm.."


"Sekarang kembalilah ke kelas mu, dan tunjukkan penampilan barumu pada Densha"


"Okay, baik"


Di sepanjang perjalan menyusuri lorong kelas, banyak mata yang memandang kecantikan Fuu. Gadis itu sungguh cocok jika rambutnya di kuncir kuda atau di kepang. Dia akan lebih cantik dengan berbagai gaya kuncir rambut.


"Oi! Itu bukannya Fuu?" Moa menunjuk ke arah gadis cantik tak jauh dari hadapannya.


"Mana?" Densha mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Fuu.


"Itu loh!"


"Kau benar, itu Fuu"


"Ya Tuhan.. Cantik sekali!"


Bug!


Pukulan kecil mendarat di lengan kiri Moa, pria itu cekikikan melihat reaksi sahabatnya yang tengah cemburu.


"Hei, dia memang cantik kan? Lihat gaya rambutnya yang baru itu? Kenapa tidak dari dulu dia berdandan begitu?"


Berani-beraninya dia tidak menuruti kata-kataku - Densha.


Fuu melihat Densha dan Moa dari kejauhan, kedua pria itu terdiam menatap Fuu. Perlahan gadis itu mendekati dua pria tersebut.


"Selamat pagi kalian.." kata Fuu yang tengah menirukan Jennie, gadis itu memberikan senyum terbaiknya.


"Oh.. Se.. selamat pagi Fuu.." Moa kebingungan melihat tingkah Fuu yang seperti bukan biasanya.


Ada apa dengan kepala gadis ini? - Moa.


"Densha.. Hari ini kau tampan sekali, yahh.. setiap hari memang tampan sih?" Fuu mendekati Densha dan merangkul lengan pria tinggi itu.


Astaga! Gaya bicaranya berubah?? - Moa


"Bagaimana? Aku cantik kan?" Fuu menatap ke arah Moa untuk meminta jawaban.


"I.. i.. itu.. anu, ca.. cantik sih" jawab Moa terbata-bata, ia membuang pandangan ke arah lain. Wajah Moa tersipu malu dengan pertanyaan Fuu, namun itu tidak mampu menutupi rasa bingung terhadap gaya bicara Fuu.


Biasanya dia menyebut namanya sendiri, bukan dengan kata 'aku' sepertinya Fuu sedang kekurangan oksigen air laut! - Moa.


Densha menatap Fuu dengan dingin, namun Fuu tidak memperhatikan tatapan Densha, lebih tepatnya ia tidak tahu bahwa dirinya saat ini tengah dalam bahaya.


"Anu, sepertinya kau harus berendam!" Moa berbicara sesantai mungkin agar Densha tidak mengerti maksudnya.


"Berendam?"


"Iya Fuu.. berenang.. ke sana" Moa menunjuk arah pantai dengan goyangan kepalanya.


"Untuk apa? Aku tidak ingin berenang!" Jawab Fuu dengan senyum yang dibuat-buat agar sama persis dengan Jennie, sesekali Fuu juga menegakkan bahunya agar dadanya nampak terangkat.


Astaga! Gadis ini benar-benar harus kembali ke laut! - Moa.


"Ikut aku!" Densha menarik tangan Fuu dengan paksa.


"Eh?? Kemana?"


"Ikut saja!!" Densha berbicara dengan tegas, ia mencengkram pergelangan tangan Fuu dengan kuat, dari wajahnya bisa di lihat jelas bahwa saat ini ia tengah murka.


"Sampai jumpa Moa.." Fuu melambaikan tangan ke arah Moa.


Cih! Dandanan mu itu.. - Densha.


Densha sama sekali tidak melepaskan cengkeraman nya dari pergelangan tangan Fuu, tidak peduli Fuu merasa kesakitan atau apa. Ia tetap memegang tangan Fuu dengan kuat, mereka melewati kelas Mod dan itu di saksikan oleh banyak siswa-siswi yang berada di luar kelas. Jennie yang tengah berada di luar kelas juga dapat melihat pemandangan langkah sepupunya itu.


Wah, wah, wah.. - Jennie menggeleng-gelengkan kepala pelan. Seperti ada pikiran licik yang menyerang kepalanya.


BRAK!!


Densha membuka pintu menuju atap sekolah dengan paksa, ia menempelkan tubuh Fuu ke dinding sebelah pintu, pria itu tetap memegang satu tangan Fuu dan menariknya ke atas. Ia menatap Fuu dengan sangat tajam, seperti ingin memaki Fuu dengan puas. Dengan sigap ia menarik kuncir rambut yang di gunakan oleh Fuu dengan tangan kirinya, Densha juga membuat rambut Fuu jadi terurai berantakan.


"Eh?? Kenapa? Apa yang Densha lakukan?" Fuu mencoba mempertahankan rambutnya.


"Sekarang kau bicara seperti biasanya!" Ledek Densha dengan senyum tipis di wajahnya.


"Apa maksud Densha?"


"Kau sedang meniru siapa? Dan ini.. bukankah sudah ku bilang bahwa kau ini jelek jika rambutmu seperti ini!" Densha menyentuh kuncir rambut Fuu dan menunjukannya di depan mata Fuu.


"Ta.. ta.. tapi.. Mod dan Moa bilang bahwa Fuu cantik"


Dasar bodoh!! Kau tidak memahami sinyal yang aku berikan? - Densha.


"Mod dan Moa berbohong padamu!"


"Bo.. bohong? Tidak, Mod tidak mungkin berbohong!!"


Jadi.. Jennie benar, bahwa Fuu dan Jennie sungguh berbeda jauh. Fuu tidak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Jennie - Fuu.


Mata Fuu berubah menjadi sedih, keceriaan di wajah gadis itu hilang seketika. Dengan sesaat wajahnya terlihat murung.


"Kenapa dengan wajahmu itu?!"


"....."


"Apa.. Densha sebegitu sukanya pada Jennie?" Fuu memberanikan diri untuk bertanya, hatinya terasa sesak saat ini. Ia menundukkan kepala, Fuu tidak memiliki cukup keberanian untuk menatap Densha dengan pertanyaan itu.


"Ya.. Aku menyukai Jennie.." ceplos Densha tanpa berpikir panjang.


Mata Fuu terbuka dengan lebar, ia sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Tanpa di sadari matanya berkaca-kaca seolah menahan sesuatu, menahan genangan air yang ingin keluar. Perlahan ia menengadahkan kepalanya untuk menatap Densha.


"Apa itu benar?" Tanya Fuu sekali lagi, untuk memastikan.


Oh.. kau ini sedang meniru Jennie? Kita lihat! Kau memikirkan seseorang tanpa sepengetahuanku dan sekarang.. bagaimana reaksi mu jika tau aku menyukai orang lain! - Densha.


Densha tidak tahu bahwa langkah untuk membuat Fuu cemburu adalah kesalahan terbesar di hidupnya. Tanpa menjawab pertanyaan Fuu, pria itu menganggukkan kepala dengan ragu.


"KALAU BEGITU KENAPA DENSHA DENGAN SEENAKNYA MENYENTUH FUU!!" Teriak Fuu dengan keras, yang refleks membuat Densha melepas cengkraman tangannya dari gadis itu. Densha menutup kedua telinganya rapat-rapat, ia memperhatikan mata Fuu yang saat ini di banjiri air mata.


Eh?? Dia menangis?? - Densha.


"Hiks.. hiks.." Fuu mencoba menghapus setiap bulir air mata yang menetes di pipi lembutnya itu.


"Kenapa mencium Fuu jika menyukai orang lain? Ke.. kenapa memeluk Fuu? Hiks.. hiks.. ke.. kenapa begitu baik pada Fuu?" Fuu terisak-isak mengatakan apa yang ia rasakan di dalam hatinya.


"Di sini.. Fuu.. Fuu selalu melihat Densha.. Kepala Fuu penuh dengan wajah Densha.. hiks.. hiks.. Fuu tidak tahu.. hiks.. hiks.. apa yang sedang terjadi di.. di.. di dalam.. sini" Fuu menunjuk ke arah kepalanya sendiri.


Densha diam membisu, mendengar semua kalimat yang di katakan oleh Fuu, pria itu mencoba mendekati Fuu lagi dan berusaha menyentuh tubuh gadis itu. Namun dengan sigap Fuu menepis tangan Densha dengan kasar.


"Tidak! Jangan menyentuh Fuu!! Jika.. hiks.. hiks.. Jennie tahu, Jennie akan sedih.."


"Hei, tenanglah.. aku.. aku hanya.."


"DENSHA BODOH!!"


Fuu berteriak sekencang mungkin, ia menuruni anak tangga dengan cepat. Gadis itu masih menangis tersedu-sedu, melihat Fuu yang nampak kacau, Moa berusaha mendekat dan bertanya ada apa namun Fuu hanya memberikan tatapan membunuh pada Moa. Gadis itu mengambil tas sekolahnya dan berlari pergi! Melihat itu Moa berusaha menghentikan langkah Fuu.


"Lho.. Fuu kau mau kemana?"


"Fuu ingin pulang.." jawab Fuu pelan.


"Pu.. pulang? Ini bahkan belum bel masuk?"


"Fuu tidak ingin sekolah.." Fuu menoleh ke arah Moa dan melambaikan tangan dengan pelan padanya, ia lalu bergegas pergi keluar dari ruang kelasnya.


Beberapa detik setelah Fuu pergi, Densha dengan tergopoh-gopoh berhasil memasuki ruang kelasnya, ia mencari keberadaan Fuu namun gadis itu tidak ada di tempat duduknya. Moa juga tidak ada di dalam kelas, entah kemana Moa pergi. Ia mencoba mencari Fuu dan Moa ke ruang kelas Mod namun Mod bilang bahwa mereka tidak datang ke kelasnya.


"Hoi Densha!! Kau ini kemana saja? Aku mencari mu!" Moa berhasil menemukan Densha di depan kelas Mod.


"Justru aku yang mencari mu!!"


"Ada apa? Kenapa gadis bodoh itu menangis?"


"Bukan apa-apa, ini salahku! Sekarang dia dimana?"


"Katanya ingin pulang"


"Pulang??" Densha terkejut dengan jawaban Moa, ia berjalan dengan cepat menuju kelasnya dengan di ikuti Moa dari belakang.


"Hei, tenang saja! Memangnya kau mau kemana?"


"Aku juga akan pulang!"


"Apa?! Tidak boleh.. kau belum pernah bolos sebelum ini, kau hanya tidak pergi ke sekolah jika sakit kan?"


"Hatiku sekarang terasa sakit.."


"Hei, kau mau Isabella membunuhmu?"


"Kau benar, lalu aku harus bagaimana?" Densha terduduk lemas di bangkunya, pria itu mengacaukan rambutnya sendiri.


Ternyata.. Fuu menyukaiku.. - Densha.


"Bersabarlah! Fuu bilang padaku, bahwa dia akan pulang.. mungkin dia saat ini sedang di rumah" Moa berusaha menenangkan perasaan Densha.


"Kau benar! Dia pasti dirumah"


****


Fuu mengganti pakaian seragamnya dengan mini dress tanpa lengan motif bunga, ia juga membawa topi pantai pemberian Densha. Gadis itu menata semua kebutuhannya saat menjadi manusia dengan rapi, tidak lupa! Sebagai balas budi pada Densha ia membersihkan seluruh rumah Densha dan menatanya dengan rapi, ia merobek selembar kertas dan menuliskan kata Maaf di atasnya. Matanya sangat sembab karena terlalu banyak menangis, gadis duyung itu menyayikan sebuah nada lagu yang indah. Fuu tengah bersenandung saat ini, membuat dahinya bersinar terang. Perlahan ia membuka mulutnya dan mengambil sebuah mutiara dari sana, yahh.. mutiara kerang asli yang hanya dibuat oleh duyung. Ia meletakkan mutiara itu di atas surat yang ia tulis, Fuu berharap mutiara itu cukup untuk mengganti semua kerugian Densha saat Fuu tinggal bersamanya.


"Maafkan Fuu nona dan tuan Mikaelson.."


Fuu melangkahkan kakinya keluar rumah, ia mengunci pintu rumah dan meletakkan kuncinya di bawah pot bunga sebelah pintu. Fuu menuju ke tebing tempat pertama yang ia kunjungi bersama Densha, ia bersantai sebentar disana untuk menghirup udara laut yang segar. Matanya berkaca-kaca mengingat semua kenangan yang ia ciptakan di daratan ini, Fuu takut ingatan indah ini akan memudar dan menghilang perlahan-lahan saat tubuhnya mulai masuk ke dalam air.


Fuu akan melupakan semuanya.. - Fuu.


Susana tebing saat itu sangat sepi karena ini adalah hari sibuk. Fuu berjalan memutar, ia melewati hutan kecil untuk menuruni tebing. Fuu menyimpan topi pemberian Densha di batuan karang yang membentuk cekungan, sangat tidak mungkin ada manusia yang datang kesini. Begitu pikirnya, ia tidak melepas pakaiannya. Dengan cepat Fuu berjalan memasuki air lalu merendam seluruh tubuhnya di dalam air laut nan biru itu.


Perubahan tubuhnya sangat mengagumkan, kakinya menyatu dan membentuk sebuah sirip panjang dengan duri di bagian belakang hingga punggung, tangannya berlapis selaput tipis. Semua pakaian yang ia kenakan robek menjadi kecil-kecil dan hilang di bawa arus laut. Matanya dengan tajam memperhatikan sekitar, giginya berubah menjadi taring-taring tajam. Fuu berenang dengan cepat dalam wujud duyung nya, ia berenang menjauhi lokasi tebing itu, berenang tanpa arah dan tidak tahu harus kemana. Ia berusaha mencari duyung-duyung yang menempati kawasan laut itu untuk menemaninya bermain di dalam air.


Mereka pasti sedang tidur.. Fuu terbiasa tidur di malam hari, jadinya sekarang Fuu tidak mengantuk - Fuu.


Fuu berenang ke dasar lautan, semakin dalam ia berenang semakin banyak ia melihat para duyung yang tengah tertidur, ia pun segera mencari tumbuhan laut, karang atau apapun itu untuk alas tidurnya. Ia tersenyum memandang teman-temannya yang tengah tertidur pulas.


Kau pulang??


Eh?? Suara ini lagi??


Hei, kau kan putriku. Setidaknya panggil aku ayah..


Ayah.. apa kau benar ayah Fuu?


Iya putriku. Aku ayahmu.. senang kau kembali.


Bagaimanapun juga Fuu ini seekor duyung, Fuu tidak akan melupakan itu.


Kenapa? Apa kau sudah tidak menyukai teman manusia mu itu?


Maksud ayah? Densha? Bagaimana ayah tau?


Aku bisa melihat semua aktifitas mu, dan para duyung di lautan maupun di daratan.


Di daratan? Bukankah hanya ada Fuu di daratan?


Kau tidak sendiri sayang..


Apa?! Jadi ada lagi duyung yang tinggal di daratan??


Iya.. kau hanya belum beruntung untuk bertemu dengannya.


Ayah.. apa ingatan Fuu di daratan akan hilang?


Jika kau berusaha mengingatnya kau akan selalu mengingatnya..


Benarkah?


Tentu..


Terima kasih ayah..


Fuu memejamkan matanya, ia menikmati dinginnya air lautan dalam yang ia rindukan selama ini. Gadis itu tersenyum mengingat perbincangan yang ia lakukan di dalam pikiran bersama ayahnya.


"Ayah.. Fuu ingin bertemu denganmu.. Fuu ingin tahu wajah ayah.." gumam Fuu pelan dalam tidurnya.


Bersambung