Are You A Mermaid?

Are You A Mermaid?
Seminggu



Fuu melamun di meja belajar Densha, gadis cantik itu menyandarkan punggungnya ke kursi, ia menatap langit-langit kamar Densha yang luas. Pandangannya kosong.


"Ng.."


Mata Fuu membulat, seketika Densha sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu mengerutkan dahinya menatap Fuu, dengan cepat Densha memutar kursi yang di duduki oleh Fuu. Ia mencoba membuat gadis itu berhadapan dengannya.


"Ada apa Densha?"


"Cih! Seharusnya aku yang bertanya begitu?!"


"Eh??"


Densha menyentuh dahi Fuu dengan jari telunjuknya, ia mendorong kepala Fuu dengan lembut, membuat mata Fuu bertemu dengan mata indah miliknya.


"Hufft.."


"Kau sudah berjanji kan akan cerita padaku?"


"Fuu tidak mau mengingatnya!"


"Apa?! Kau mengingkari janjimu?"


"Fuu tidak mengingkari.."


"Jelas ini namanya mengingkari!!"


"Fuu tidak mengingkari, hanya tidak jadi berjanji"


"Heh?! Tidak jadi berjanji?? Belajar darimana kalimat itu?"


"Kenapa? Memangnya tidak boleh?"


"Tentu saja tidak boleh!! Perjanjian tidak bisa di batalkan!!"


"....."


"Kenapa diam??"


"Itu kan sudah satu minggu yang lalu, apa Densha sungguh ingin tahu?"


"Kalau aku tidak bersungguh-sungguh mana mungkin aku mau menunggu selama satu minggu?!"


"Ah! Benar juga!"


"Cepat! Katakan!!"


"Hehe"


"Jangan tertawa!! Cepat katakan!"


"Kalau Fuu bilang itu rahasia bagaimana?"


"Minta di cium ya?"


"Eh!!!" Fuu menutup mulutnya dengan kedua tangan, gadis itu menggelengkan kepala kuat-kuat. Seketika wajahnya bersemu merah.


"Cih! Kau menolak tapi tubuhmu ingin tuh!"


"Tidak!"


"Kau merona loh!"


"Fuu tidak merona!!" Bantah Fuu meyakinkan.


"Jelas kau merona! Lihat saja di cermin!" Ledek Densha dengan senyum sinis nya.


"TIDAK!!" wajah Fuu semakin memerah.


"Haha, kata-kata dan reaksi tubuh berbeda ya?" Goda Densha, ia mengusap kepala Fuu lembut.


"Cih!"


"Kau bilang Cih??!"


"Tidak"


"Bohong! Aku barusan mendengarnya loh"


"Densha salah dengar"


"Tidak mungkin!" Densha mengorek-ngorek lubang telinganya sendiri.


Aku sudah membersihkan telingaku kok! - Densha.


"Hahahaa" Fuu tertawa, gadis itu memegangi perutnya yang terasa aneh. Ia geli melihat reaksi Densha yang sangat polos.


"Ada apa?"


"Tidak apa-apa! Densha lucu"


"Lucu??"


"Uhm" Fuu menganggukkan kepalanya, ia berdiri di depan Densha. Gadis itu menatap mata Densha lekat-lekat.


"Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?"


"Tidak kok"


"Lalu?"


"Seminggu yang lalu di kolam renang..."


"Kenapa?"


"Saat Fuu di dorong Katrina, Fuu seolah melihat seseorang"


"Siapa?"


"Fuu tidak tahu! Seperti Fuu sudah pernah mengalami kejadian yang sama sebelumnya"


"Ah! Kau mengalami Dejavu?"


"Apa itu?"


"Seolah-olah kau pernah mengalaminya, jadi saat kau berkunjung ke suatu tempat. Seolah-olah kau sudah pernah ke sana"


"Dejavu ya?"


"Mungkin kau pernah di dorong seseorang sebelum kejadian itu"


Benar! Dan orang itu orang yang sama!! Yaitu Katrina - Fuu.


"Iya, mungkin memang Dejavu.. Hehe"


"Lalu, kenapa kau tidak berubah menjadi duyung?"


"Awalnya Fuu juga bingung. Tapi sepertinya Fuu hanya bisa berubah jika terkena air laut"


"Jadi, air tawar tidak ada efek apapun untukmu?"


"Benar!"


"Haa.. syukurlah"


"Kenapa? Sepertinya Densha lega sekali?"


"Tentu saja! Gara-gara tragedi itu, aku jadi tidak bisa tidur!"


"Maaf ya?"


"Ya kau memang harus minta maaf"


"Dih! Apa sih?!"


Cara bicaranya semakin hari, semakin normal. Seperti manusia pada umumnya.. Tapi, dia kan memang manusia. Di lihat bagaimanapun dia nampak mirip seperti manusia - Densha.


Perlahan Fuu mendekati Densha dan memeluk pria itu, Fuu tersenyum. Ia membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Densha.


"Kenapa tiba-tiba..."


"Entahlah! Fuu tidak tahu"


"Memeluk seseorang tanpa alasan? Itu bisa dibilang tindakan kriminal loh"


"Fuu tidak peduli! Asal orang itu Densha"


"Apa?!" Wajah Densha tersipu malu.


"Apa kriminal itu termasuk sebuah dosa? Karena di bangsa Fuu tidak ada kata-kata kriminal"


"Ya begitulah, semua tindakan kriminal itu berdosa"


"Apa hukuman bagi kriminal itu?"


"Tergantung tindak kejahatannya"


"Kalau begitu Fuu tidak ingin menjadi orang baik, Fuu ingin menjadi orang jahat. Agar bisa melakukan tindakan kriminal seperti memeluk seseorang tanpa alasan seperti ini"


"....."


Ya Tuhan! Belajar darimana dia kata-kata seperti itu? - Densha.


"Dan..." Fuu menengadahkan kepalanya menatap Densha yang tersipu malu. Gadis itu tetap memeluk pria itu dengan gemas.


"A.. Apa??"


"Densha adalah dosa termanis buat Fuu, Hehe"


Hah?! - Densha.


Kata-kata Fuu barusan berputar-putar di kepala Densha, pria itu sedang mencerna kalimat Fuu dengan benar. Pupil matanya seolah bergetar karena terkejut dengan kalimat aneh dari Fuu.


Densha adalah dosa termanis buat Fuu..


Densha adalah dosa termanis buat Fuu..


Densha adalah dosa termanis buat Fuu..


Densha adalah.. - Densha.


"Aduh! Sakit.."


"Itu hukuman untukmu! Karena bicara tanpa berpikir!"


"Eh? Fuu berpikir kok!"


"Halah.. berpikir apanya? Menurutmu Dosa manis itu ada? Jika kau bilang donat manis aku percaya. Tapi ini.. Dosa manis hah?!" Ledek Densha ketus.


"Padahal Densha sendiri yang bilang bahwa pelukan itu sebuah tindakan kriminal, dan itu termasuk dosa" gumam Fuu pelan, gadis itu tengah menggerutu seorang diri.


"Kau bilang sesuatu?"


"Tidak"


"Jelas kau bilang sesuatu?!"


"Tidak kok!" Fuu cemberut, ia melepaskan pelukannya. Gadis itu berjalan keluar kamar Densha.


"Mau kemana?"


"Membuang beban kehidupan milik Fuu"


"Beban kehidupan?" Densha mengangkat sebelah alisnya tanda bahwa ia tidak mengerti.


Dengan kesal Fuu yang tengah berdiri di depan pintu kamar berbalik memandang Densha. Gadis itu mengusap-usap perutnya dengan lembut. Tanpa bicara apapun ia pergi meninggalkan kamar Densha.


"A.. apa maksudnya??" Gumam Densha pelan.


"Astaga!!" Wajah Densha merah padam, ia menutup wajahnya dengan bantal empuk miliknya.


Membuang beban kehidupan itu maksudnya ada urusan di WC ya?? Jadi yang dia maksud beban kehidupan itu kotoran di perutnya? - Densha.


"Sumpah deh! Bisa gila aku!! Belajar darimana dia kata-kata seperti itu?"


Dasar gadis aneh!! - Densha.


.


.


.


.


.


Sementara itu, Moa dan Mod sedang pergi kencan untuk kedua kalinya. Walaupun disini hanya Moa yang menanggap bahwa mereka sedang kencan. Karena Mod sungguh tidak tahu bahwa Moa menyukainya.


"Eh? Toko baju?"


"Ya.. aku mau kau pilihkan baju untukku! Aku memang sedang ingin membeli baju baru"


"Kalau hanya membeli baju, harusnya dengan Densha kan bisa"


"Cih! Densha itu tidak pernah membeli pakaian untuk dirinya sendiri..."


Mod melirik ke arah Moa, ia menunggu Moa untuk menyelesaikan kalimatnya. Tangan gadis itu juga bergerak untuk memilih-milih pakaian yang cocok untuk Moa.


"Semua gaya fashion nya di atur oleh si nenek sihir"


"Maksudmu nona Isabella?"


"Ya, benar! Densha itu hidupnya enak sekali.. semua kebutuhannya tercukupi sampai dia tua nanti. Mungkin bahkan sampai beberapa generasi"


"Apa kau iri?"


"Tidak juga, aku kadang kasihan.. karena dari kecil dia sudah di tinggalkan kedua orangtuanya"


"Bagus deh!"


"Eh? Kenapa?"


"Bagus kalau kau mengingat hal itu, mungkin menurutmu hidupnya itu enak. Tapi kau tidak tahu kan? Penderitaan apa yang ia alami sampai dia tumbuh dewasa"


"Aku rasa kau benar Mod!"


"Dan lagi..."


"Hmm?"


"Kenapa kau harus iri? Bukankah keluargamu dan keluarga Densha sama kaya raya nya?"


"Hei, keluargaku jauh di bawah keluarga Mikaelson tau!! Jika ayah Densha itu bosnya, ayahku hanya pegawai. Dan ayahku termasuk beruntung, karena berteman dekat dengan ayahnya Densha"


"Kau juga beruntung karena masih memiliki ayah, sedangkan Densha tidak" ucap Mod lalu memberikan beberapa pakaian yang ia pilih pada Moa.


"Hanya tiga??"


"Memang kau mau membeli semuanya? Lalu kenapa menyuruhku memilih?!"


"Dih! Begitu saja pakai marah"


"Aku tidak marah! Cepat kau coba dulu sana!"


"Kau juga belilah beberapa"


"Tidak usah!"


"Ini hadiah dariku, ku mohon belilah beberapa setel pakaian"


"Moa.. apa menurut mu aku begitu miskin? Sampai harus kau belikan baju?"


"Eh? Kenapa kau jadi salah paham?"


"Salah paham bagaimana? Sejak aku bawa kau ke rumahku waktu itu.. Tidak! Lebih tepatnya sejak kau tahu rumahku dan ayahku, kau jadi mendekatiku dan membelikan aku hal-hal yang bahkan tidak perlu. Kau juga tidak mau di ajak patungan? Kau ingin membayar semua kebutuhanku? Apa menurutmu aku ini tidak mampu??"


"Mod.. ada apa dengan isi kepalamu?"


"Isi kepala?? ISI KEPALAKU BAIK-BAIK SAJA BODOH!!" Teriak Mod keras. Gadis itu menepuk wajahnya sendiri, karena malu Mod pergi meninggalkan Moa. Ia keluar dari toko itu dan berjalan menyusuri trotoar. Di belakang, Moa berusaha mengejarnya.


"Hoi! Mod tunggu!!"


"....."


Cih! Gadis ini!! - Moa.


"Duh! Cepat sekali sih?! Aku bilang tunggu!!"


Dengan cepat Moa menarik tangan Mod membuat gadis itu tersentak ke belakang, Moa memutar tubuh Mod agar berhadapan dengannya.


"Kau kenapa?"


"Hiks.. hiks.." Mod menangis.


"Jika aku salah aku minta maaf"


"Kenapa kau baik sekali? Sebenarnya apa tujuanmu?"


"Aku tidak bermaksud menghinamu"


"Tidak bermaksud?" Mod menatap Moa sayu.


"Iya, aku melakukan semua itu karena aku ingin membuatmu bahagia. Aku tidak pernah ada niat untuk menghinamu sama sekali, aku tahu bahwa ayahmu sangat menyayangimu. Jadi ke depannya, aku tidak akan pernah mempermainkan'mu"


Apa? Apa maksudnya itu?? - Mod.


"......"


"......"


Mata Mod membulat, ia nampak terkejut. Bahkan gadis itu tidak mampu untuk berkedip.


"Aku menyukaimu.."


"....."


"A.. aku.. Aku.. mencintaimu" ucap Moa tersipu malu.


"....."


"Mod??"


"I... I... I..."


"Mod? Kau kenapa?" Moa menyentuh bahu Mod lembut.


"I.. ibu??"


Apa maksudnya ibu? - Moa.


Karena bingung, Moa menatap mata Mod dengan lekat. Ia mengikuti arah pandang Mod dari balik tubuhnya, pria itu membalikkan badan, ia mengedarkan pandangan berusaha mencari sesuatu di sebrang jalan. Mencari seseorang yang di perhatikan oleh Mod.


"Ayah?" Gumam Moa pelan.


Mod menoleh ke arah Moa, matanya bergetar. Air mata mengalir deras di pipinya. Tangan dan kaki gadis itu nampak gemetar tidak karuan, kaki nya melemas. Ia jatuh ke tanah. Tangannya mengepal berusaha menggenggam sesuatu.


"Eh?? Mod.. ada apa?" Tanya Moa khawatir.


"Ka.. kau kenal mereka?" Mod menunjuk ke arah wanita dan pria di seberang jalan.


"Yang itu?? Itu ayahku dan pacarnya"


"....."


Mata Mod semakin membulat hampir mau keluar rasanya. Gadis itu tidak percaya dengan apa yang ia lihat hari ini, ia menangis sejadi-jadinya. Ia berusaha menghapus air matanya di depan Moa. Namun air matanya terus mengalir dengan sendirinya.


Sebenarnya ada apa ini? - Moa.


Lampu penyebrangan berwarna hijau, meskipun kakinya terasa lemas. Mod memaksakan diri untuk berdiri, gadis itu berlari menyebrangi jalan. Karena panik melihat Mod dalam kondisi seperti itu, Moa pun mengikuti langkah kaki Mod yang sepertinya ia tahu kemana arah yang di tuju oleh gadis ini.


PPLLLAAKKK!!


Bersambung!


Jika kalian menyukai novel ini, tolong bantu dukungannya dengan cara klik Like ❤️, komentar dan beri rating! Jangan lupa favorit juga ya? Terima kasih.. dukungan kalian sangat berarti bagi saya 😊🙏